LOGIN
"Apaan sih, Arka? Nggak usah sok tahu, deh!"
Lianara menyingkirkan tangan Arka dari ponselnya dengan kasar. Sore itu, ruang kelas 11 IPA 2 sudah nyaris kosong, hanya menyisakan mereka berdua dan debu yang menari-nari di sela cahaya matahari senja.
Arka mendengus, membenarkan letak kacamatanya. "Aku cuma bilang, strategi itu inti dari Lanyuan Game World. Kamu fokus cerita mulu, ya jelas kalah."
"Kalah apanya? Aku udah sampai level lima belas, lho! Kamu baru level dua belas!" Lianara memegang ponselnya erat, seolah Arka akan merebutnya kapan saja.
"Level itu cuma angka, Lianara. Tanpa strategi yang matang, kamu bakal stuck di misi utama. Game ini bukan visual novel, ini strategi kerajaan." Arka melipat tangan di dada, nada suaranya selalu datar tapi penuh keyakinan yang menyebalkan.
"Ih, apaan! Justru ceritanya yang bikin nagih! Dinasti Tianyu, perebutan kekuasaan, intrik-intrik istana, itu yang seru!" Lianara membanting tasnya ke meja. "Kamu tuh cuma bisa lihat angka, statistik, mana serunya?"
"Serunya itu saat kamu bisa mengalahkan musuh dengan taktik cerdas, membangun aliansi yang kuat, bukan cuma ngikutin alur kayak anak TK yang lagi nonton kartun."
"Anak TK? Kamu yang kayak robot! Nggak ada emosi, nggak ada perasaan!" Lianara melotot. "Ini game Tiongkok kuno, Arka. Romansa dan drama itu bagian tak terpisahkan!"
Arka menghela napas panjang, seolah sedang berhadapan dengan makhluk paling tidak masuk akal di dunia. "Dengar, ya. Lanyuan Game World itu dirancang untuk pemain strategis. Developer-nya bahkan menekankan fitur simulasi perangnya."
"Dan aku menekankan fitur ceritanya! Kenapa Putra Mahkota Pangeran Li Zhen bisa jatuh cinta sama selir yang statusnya rendah? Kenapa Jenderal Han Wei bisa berkhianat? Itu yang bikin penasaran!" Lianara menunjuk-nunjuk layar ponselnya.
"Itu cuma bumbu, Lianara. Bumbu untuk menutupi kelemahan pemain yang nggak bisa mikir strategi."
"Hah? Maksudmu aku lemah?!"
"Kalau kamu terus-terusan mengabaikan kekuatan unit, formasi pasukan, dan ekonomi kerajaan, ya iya." Arka tersenyum tipis, senyum yang selalu membuat Lianara ingin melempar kamus ke kepalanya.
"Pede banget, sih! Aku bisa kok main strategi! Sini, aku tunjukkin kalau aku lebih jago!" Lianara mengulurkan ponselnya, tapi dengan tatapan menantang.
"Oh, ya? Coba saja. Tapi jangan nangis kalau nanti kerajaanmu langsung hancur di tangan musuh." Arka maju selangkah, sorot matanya berkilat kompetitif.
"Nangis? Aku? Jangan harap! Kamu yang bakal nangis karena kerajaanku lebih maju!"
Lianara membuka menu utama game. Ia sudah siap membuktikan diri.
"Oke, coba kamu mainkan misi penaklukan kota pelabuhan. Itu misi yang cukup tricky kalau nggak pakai formasi yang pas." Arka menunjuk layar. "Lihat, unit pemanahmu itu kurang efektif di medan terbuka."
"Apaan sih? Aku tahu sendiri! Pemanahku itu punya bonus serangan jarak jauh!"
"Bonus serangan jarak jauh nggak akan berguna kalau mereka langsung diserbu kavaleri lawan. Kamu harus pakai unit tombak di depan."
"Nggak, aku mau pakai taktikku sendiri!" Lianara menggeser unit di layar.
"Itu bunuh diri namanya!"
"Bukan bunuh diri, ini namanya inovasi!"
Arka mendengus. "Inovasi yang bakal bikin pasukanmu jadi santapan musuh."
"Kamu itu selalu negatif, ya! Aku cuma butuh sedikit adaptasi!"
"Adaptasi atau ngeyel?"
"Arka!"
Lianara sudah siap memencet tombol 'Mulai Misi' ketika Arka tiba-tiba meraih ponselnya.
"Sini, biar aku tunjukin cara yang benar."
"Eh, apa-apaan?!" Lianara terkejut, mencoba merebut kembali ponselnya. "Ini akunku! Jangan sentuh!"
Tangan mereka berdua berebut ponsel. Lianara menarik, Arka menahan. Jari-jari mereka saling beradu di layar sentuh.
"Lepasin, Arka!"
"Nggak! Kamu cuma bakal bikin kacau!"
"Aku nggak bakal bikin kacau! Kamu yang sok tahu!"
Lianara mengerahkan seluruh tenaganya. Ponsel itu terlepas dari genggaman Arka, tapi juga terlepas dari tangannya sendiri.
Bukan karena terlempar ke lantai, tetapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.
Layar ponsel yang semula menampilkan peta kerajaan Dinasti Tianyu itu, tiba-tiba memancarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan.
Cahaya itu begitu terang, begitu kuat, hingga memenuhi seluruh ruang kelas.
Lianara memejamkan mata, merasakan panas yang aneh.
Suara berisik kota, deru kendaraan, tawa siswi di koridor, semua menghilang. Digantikan oleh dengungan frekuensi tinggi yang membuat telinganya berdenging.
Ruangan itu. Meja, kursi dan papan tulis, bahkan Arka yang berdiri di depannya berubah. Semuanya tampak seperti piksel-piksel yang pecah, seolah dunia di sekitar mereka adalah layar yang diretas, lalu mulai runtuh kemudian pecah menjadi jutaan fragmen cahaya yang menyebar di udara.
Lianara merasakan kakinya tidak lagi menapak lantai, tubuhnya begitu ringan dan akhirnya terjatuh.
Ia tidak tahu apa yang terjadi. Yang ia tahu, saat cahaya itu menelannya, ia mendengar suara Arka, samar-samar, seperti dari kejauhan.
"Lianara...!"
Lalu, kegelapan total yang dingin dan sunyi.
"Nona Lianara, punggungmu harus lurus. Senyummu harus lebih lembut, jangan seperti ingin menantang berkelahi," Mei Ling menegur, suaranya sabar tapi tegas. Ia menata kembali rambut Lianara yang terlepas dari sanggul sederhana. Mereka berada di sebuah ruangan kecil di belakang panggung Rumah Anggrek Merah, tempat para gadis bersiap.Lianara mendengus. "Aku nggak bisa senyum palsu, Mei Ling. Rasanya aneh. Lagipula, kenapa harus senyum begitu? Aku kan bukan model iklan pasta gigi."Mei Ling tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Di sini, senyum adalah topeng terbaik kita, Nona. Ini menunjukkan keramahtamahan, bukan kelemahan. Para tamu suka melihat gadis yang ceria, yang bisa membuat mereka lupa akan masalah mereka.""Masalah mereka? Aku juga punya masalah! Masalahku lebih besar dari masalah mereka!" Lianara memprotes, melipat tangan di dada. Hanfu merah muda yang dikenakannya hari ini terasa sedikit lebih nyaman daripada yang merah menyala, tapi tetap saja membatasi gera
Arka berjalan menuju rak-rak yang berisi catatan geografi. "Baiklah, Arka," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya pelan di antara tumpukan buku. "Ini bukan lagi game. Ini nyata. Dan aku adalah Pangeran Li Zhen." Ia menyentuh sebuah gulungan perkamen yang sudah menguning. "Tapi aku punya keuntungan. Aku tahu alurnya."Ia mulai menarik gulungan-gulungan peta kuno, membentangkannya di meja. Peta Dinasti Tianyu terhampar di depannya, dengan nama-nama kota dan wilayah yang sangat ia kenal dari layar ponselnya."Qingzhou. Kota pelabuhan yang ramai, pusat perdagangan ilegal, dan lokasi Rumah Anggrek Merah," Arka menunjuk sebuah titik di peta. "Dalam game, ini adalah titik awal untuk beberapa misi sampingan yang melibatkan korupsi dan penyelundupan. Dan juga, tempat Gadis Bordil Tak Bernama itu."Ia menarik napas panjang. "Lianara, apakah kau benar-benar ada di sana?""Jika deskripsi Kasim Zhao benar, gadis unik yang berbicara aneh dan menarik perhatian saudagar kaya itu sangat mirip den
Tidak mungkin. Lianara tidak mungkin berakhir di tempat seperti itu, Arka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia terlalu keras kepala, terlalu cerewet. Dia pasti bisa menghindari situasi itu.Akan tetapi, ia juga tahu betapa kejamnya dunia Dinasti Tianyu ini, terutama bagi wanita tanpa status."Rumah Anggrek Merah," Arka mengulang, nada suaranya sedikit berubah. "Apakah ada gadis baru yang menarik perhatian di sana?"Kasim Zhao tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia segera menjawab dengan hormat. "Hamba tidak memiliki informasi detail mengenai hal itu, Yang Mulia. Tapi ada desas-desus bahwa ada seorang gadis baru yang cukup unik, sering berbicara hal-hal aneh, dan menarik perhatian beberapa saudagar kaya. Namun, itu hanya desas-desus."Unik? Berbicara hal-hal aneh? Menarik perhatian? Itu sangat mirip dengan Lianara. Arka merasakan dingin menusuk hatinya. Ia harus mencari tahu, ia harus memastikan."Kasim Zhao, siapkan keretaku. Aku ingin pergi ke perpustakaan istana
Arka terbangun dengan sensasi aneh, seolah kepalanya baru saja ditarik keluar dari air es yang dalam. Bukan dinginnya kegelapan yang menelan mereka, melainkan kehangatan yang lembut, ditemani aroma cendana dan bunga sakura yang samar. Matanya terasa berat, tetapi saat ia memaksakan diri membukanya, yang pertama kali menyambutnya adalah kemewahan yang tak terbayangkan.Langit-langit ruangan dihiasi ukiran naga emas yang meliuk-liuk di antara awan, dicat dengan detail yang menakjubkan. Tirai sutra berwarna merah marun menjuntai anggun dari jendela besar, menyaring cahaya pagi yang lembut. Perabotan di sekelilingnya terbuat dari kayu jati berukir halus, bertahtakan giok dan mutiara. Ia terbaring di atas ranjang yang begitu empuk, dengan selimut sutra yang terasa seperti sentuhan awan."Ugh!" Arka mengerang pelan, tenggorokannya kering. Gerakan kecilnya itu segera menarik perhatian.Dari sudut ruangan, sekelompok orang yang tadinya berdiri diam seperti patung, kini bergerak cepat mendekat
Lianara terbangun dengan kepala berdenyut. Bukan lagi dingin dan kosong, melainkan kehangatan yang menyesakkan, bercampur dengan aroma dupa, arak, dan sesuatu yang manis, seperti melati busuk. Ia mengerjap, matanya terasa berat, kelopak matanya seperti direkatkan lem. Cahaya redup menembus celah tirai tipis, melukiskan pola samar di dinding kayu yang usang."Ugh..." Sebuah erangan lolos dari tenggorokannya yang kering. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangan tangannya terasa kaku. Seluruh tubuhnya sakit, seolah habis dipukuli."Arka?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba memanggil nama itu, nama satu-satunya orang yang bersamanya saat dunia mereka runtuh. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang dibelah oleh suara musik tradisional yang mengalun sendu dari kejauhan, diiringi tawa renyah yang terdengar asing.Ia memaksakan diri membuka mata sepenuhnya. Pandangannya buram sesaat, lalu perlahan fokus. Ini bukan ruang kelas, bukan kamarnya dan bukan juga r
"Apaan sih, Arka? Nggak usah sok tahu, deh!"Lianara menyingkirkan tangan Arka dari ponselnya dengan kasar. Sore itu, ruang kelas 11 IPA 2 sudah nyaris kosong, hanya menyisakan mereka berdua dan debu yang menari-nari di sela cahaya matahari senja.Arka mendengus, membenarkan letak kacamatanya. "Aku cuma bilang, strategi itu inti dari Lanyuan Game World. Kamu fokus cerita mulu, ya jelas kalah.""Kalah apanya? Aku udah sampai level lima belas, lho! Kamu baru level dua belas!" Lianara memegang ponselnya erat, seolah Arka akan merebutnya kapan saja."Level itu cuma angka, Lianara. Tanpa strategi yang matang, kamu bakal stuck di misi utama. Game ini bukan visual novel, ini strategi kerajaan." Arka melipat tangan di dada, nada suaranya selalu datar tapi penuh keyakinan yang menyebalkan."Ih, apaan! Justru ceritanya yang bikin nagih! Dinasti Tianyu, perebutan kekuasaan, intrik-intrik istana, itu yang seru!" Lianara membanting tasnya ke meja. "Kamu tuh cuma bisa lihat angka, statistik, mana s







