Se connecterBab 6.
"Bagaimana interviewnya tadi? Kamu diterima?" Tanya Bu Ani antusias, menyambut Attaya yang datang menjemput Exel. Seperti yang Bu Ani bilang sebelumnya, kalau Attaya kerja, atau urusan di luar Exel bisa dititipkan padanya daripada pada Attaya membayar pengasuh. Cara ini lebih baik, karena dengan begitu Satria bisa bebas mengunjungi Exel tanpa canggung bertemu Attaya. Bu Ani tahu betul Attaya butuh menjauh dari putra kesayangannya itu, agar bisa cepet move on. "Alhamdulillah, Bu, diterima. Minggu depan sudah mulai kerja." "Alhamdulillah.... Ibu seneng dengernya. Kamu kerjanya normal, kan? Nggak pakai shift-shift an?" "Normal, Bu. Berangkat pagi pulang sore. Paling kalau lagi ada event, atau acara-acara tertentu saya harus lembur." "Baguslah kalau begitu. Exel sudah tidur, apa tidak sebaiknya kalian nginep sini aja? Ini sudah malam, kasihan Exel kalau diajak motoron." Bu Ani menghela nafas, sebelum melanjutkan ucapannya. "Harusnya mobilnya buat kamu, biar Exel nyaman kalau diajak kemana-mana. Satria kan laki-laki gak masalah kemana-mana motoran." Attaya terkekeh mendengar ucapan mertuanya. Sebaik itu Bu Ani sebagai mertua, sepanjang menjadi menantu dia diperlakukan dengan baik. Tak pernah ada drama mertua ngrecokin kehidupan rumah tangga anak dan menantunya. Yang ada Bu Ani selalu siap siaga membantu jika terjadi sesuatu. Ah... Andai saja pernikahannya baik-baik saja hingga saat ini, tentulah Attaya adalah wanita yang paling bahagia. "Mobil itu kan dibeli Mas Satria sebelum menikah dengan saya, Bu. Biar saja dia yang bawa, lagi pula saya kurang suka jenis mobil seperti itu." Attaya cukup tahu diri untuk tidak banyak menuntut. Satria sangat baik, dengan tetap memberinya nafkah untuk Exel dan dirinya sendiri. Setelah dari rumah Attaya beberapa bulan yang lalu, Bu Ani langsung mendatangi Satria di kantornya, melabrak anak sulungnya itu karena berani menceraikan Attaya tanpa berembug dulu dengan orang tua. "Bu, ini kantor, Bu. Malu, Bu, Malu," Ujar Satria berusaha meredam amarah sang Ibu. Wajah Satria nampak merah padam, diomeli Bu Ani di lobi kantor. Mengungkit kesalahannya tanpa tedeng aling. Jelas dia malu, karena aibnya dibongkar di depan teman sekantornya. Padahal dia sengaja diam tidak cerita pada siapapun tentang perceraiannya, agar tidak jadi bahan ghibahan. "Oh.... Masih punya malu kamu! Harusnya kamu bersyukur punya istri seperti Attaya, dia wanita nyaris sempurna, masih banyak yang mau sama dia. Demi la---" Melupakan sopan santun, Satria membungkam bibir sang Ibu dengan tangannya. Satria tidak mau ibunya keceplosan, hingga aib yang selama ini dia tutupi dari semua orang akan terbongkar. Bukan hanya nama baik dan karirnya akan jadi taruhan. "Bu, please.... Kita bicarakan nanti di rumah. Saya janji tidak akan menuntut hak asuh Exel, saya janji menyerahkan rumah pada Attaya. Saya janji akan tetap menafkahi mereka berdua." Wajah Satria nampak melas saat berkata. Dia benar-benar frustasi menghadapi sang Ibu yang sedang kalap ini. "Baik! Ibu pegang kata-katamu!" Ujar Bu Ani, setelah berhasil menghempas tangan Satria dari bibirnya. "Ibu tunggu kamu malam ini di rumah! Jangan coba-voba lari dari tanggung jawab, atau Ibu bakal buat kamu nggak punya harga diri lagi!" Usai melontarkan ancamannya, Bu Ani meninggalkan Satria yang nampak frustasi itu, Dan hasil dari sikap frontal Bu Ani, Attaya mendapat hal asuh Exel, rumah beserta isinya, motor, uang iddah dan nafkah bulanan. Seandainya bukan Bu Ani yang jadi mertuanya, mungkin nasib Attaya terlunta-lunta sekarang. "Laki-laki harusnya bawa badan saja saat meninggalkan rumah, dia bisa cari uang lagi. Sementara kamu? Masih harus ngurus Exel." Attaya jadi melo mendengar ucapan Bu Ani. Semoga kelak jika dia diberi jodoh lagi, bukan hanya dapat suami yang baik dan bertanggung jawab, tapi juga dapat mertua sebaik Bu Ani. Doa Attaya dalam hati. "Maaf, Bu. Saya bawa Exel pulang dulu, biar nggak kemalaman di jalan." Ujar Attaya seraya menghampiri anaknya yang tertidur di kasur depan TV. "Lho, nggak nginep aja?" "Saya nggak bawa baju ganti, Bu." Ucapnya seraya mengangkat pelan tubuh putranya. "Kamu bisa pakai baju Sita dulu." Bu Ani berkata sambil membantu Attaya menggendong Exel dengan gendongan ranselnya. "Apa nggak repot motoran bawa anak tidur begini?" "Nggak papa, Bu. Sudah biasa." Ya memang harus biasa, namanya juga single mom. Dia harus mandiri, karena sudah tidak ada yang bisa diandalkan lagi selain dirinya sendiri. "Ya sudah, kalian hati-hati di jalan. Jangan lupa berkabar kalau sudah sampai rumah." Attaya mengangguk seraya meraih tangan mantan mertuanya untuk dicium. Sebenarnya Attaya merasa sungkan terus-terusan merepotkan Bu Ani, tapi mau bagaimana lagi? Di kota ini dia sendiri, orang tuanya tinggal di kampung yang jauh. Lagipula Bu Ani sendiri yang mau dan maksa agar Exel dititipkan padanya. Attaya mengendarai motor meticnya dengan berderai air mata. Dia yang biasa diperlakukan bak ratu, kini harus lintang pukang mencari nafkah. Bukan karena uang dari Satria kurang, tapi dia tidak boleh terlena, dia harus bangkit. Bagaimana kalau tiba-tiba Satria berhenti menyokong hidupnya? Next.... Jangan lupa ulasan bintang lima di cover depan. Tengkyu...Bab 12 "What! Jadi selama ini kamu ditipu mentah-mentah sama boty itu?" Jelas Selin terkejut mendengar penuturan Attaya, tentang mantan suaminya. Yang ternyata seorang LaGiBeTe dan kini tengah mengajukan gugatan hak asuh dan harta gono gini. "Dan anehnya kamu sama sekali nggak nyadar, atau nggak curiga sama sekali, kalau si bang$@t itu belok." "Dimataku semua terlihat wajar, Sel. Nggak ada yang aneh. Dia.... Ya... kayak laki-laki pada umumnya." "Emang bisa berdiri, secara dia itu gak suka sama perempuan." Pipi Attaya memerah mendengar penuturan sahabatnya. Dia yang pernah menikah aja malu membicarakan masalah intim seperti ini, Selin yang masih perawan bisa-bisanya ngomong begituan tanpa saringan. "Kan, sudah aku bilang. Di mataku dia terlihat normal." "Ck! Pinter banget aktingnya. Gayanya sok macho, aku pikir dia jantan beneran, ternyata cuma laki jadi-jadian. Tapi kamu aman, kan? Nggak ada kena penyakit aneh-aneh? Secara dia suka main belakang, mana punya selingkuhan lagi. Apa
Bab 11Attaya memijat keningnya yang terasa nyeri akibat ulah mantan suaminya. Dia tak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu. Makin ke sini makin ke sana. Makin tak jelas juntrungannya. Satria gampang sekali tersinggung, mirip emak-emak PMS. Perkara diingatkan agar berpenampilan wajar di depan putra semata wayang mereka, berbuntut panggilan sidang dari pengadilan. Pria yang sekarang berpenampilan kemayu itu menggugat hak asuh dan pembagian harta gono-gini.Wanita single parent itu tahu Satria marah, tetapi sama sekali tidak menyangka mantan suaminya akan benar-benar membuktikan ucapannya. Padahal, beberapa saat setelah kejadian ribut dengan Satria waktu itu, dia sudah mengadu kepada mertuanya."Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti Ibu akan menasihati Satria. Lagipula, dia itu hanya menggertak kamu. Kalau sampai dia berani macam-macam, Ibu yang menghadapi dia." Begitu kata Bu Ani saat itu. Namun, apa yang terjadi sekarang? Satria tetap mengajukan gugatan. Apa omongan Bu An
Bab 10Attaya tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan Satria, ketika menjemput Exel pagi itu. Celana ketat menonjolkan area sensitifnya, dipadu croptop yang memamerkan pusatnya. Satria sudah seperti.... Dia jadi malu sendiri melihat penampakan ayah dari anaknya itu. Sepertinya Attaya harus bicara dengan Satria, agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Dia akan memohon pada mantan suaminya agar berpenampilan selayaknya laki-laki normal di depan Exel. "Pagi, Ta.... Exelnya sudah siap?" Ujar Satria seraya nyelonong masuk ke rumah, tanpa menunggu dipersilahkan. Dia merasa punya hak atas rumah yang dia beli dengan hasil keringatnya itu. "Waalaikumsalam, Mas.... Tolong biasakan salam dulu sebelum masuk rumah, biar dicontoh Exel." Attaya mengekor langkah mantan suaminya yang menuju ruang keluarga. Di sana Exel nampak anteng makan biskuit sambil nonton TV. Balita itu nampak bernyanyi riang mengikuti tokoh kartun idolanya. Sama sekali belum menyadari kehadiran papanya. Di sampingnya
Bab 9Ingin tertawa tapi takut dosa, begitulah kira-kira yang dirasakan Attaya saat ini. Alis dibabat habis hingga tinggal garis kecil menyerupai clurit. Eyeliner, dan bibir glosi warna merah muda. Bukan hanya itu, kulit Satria terlihat lebih mulus dan glowing. Terlihat lebih feminim dan ayu. Sungguh bukan Satria yang dia kenal selama ini. Entah kemana sosok jantan dan macho yang pernah Attaya nikahi tiga tahun lalu? Menyadari ekspresi Attaya yang menahan tawa, Satria segera bangkit dari duduknya. Dia berniat pergi dari rumah ini, namun sebelumnya dia berkata, "Besok aku bawa Exel jalan-jalan, sebelum magrib aku akan pulang. Kamu tidak keberatan, kan?" Attaya mengangguk setuju."Iya, Mas. Tolong jangan dibawa ke apartemenmu, ya? Aku.... Aku...""Iya, aku tahu. Besok kami hanya jalan-jalan berdua, ke tempat wisata dan arena bermain. Aku pulang dulu," Pamitnya buru-buru, kemudian mehampiri sang Ibu dan mencium punggung tangannya. Sementara pada Attaya dia hanya memberi anggukan. "Hh..
Bab 8Kabar tentang orientasi se**ual Satria yang menyimpang sebenarnya sudah lama berhembus kencang, namun Attaya mengabaikan karena terlanjur jatuh cinta. Apalagi setelah menikah, dan terbukti Satria mampu memenuhi nafkah batinnya, bahkan hingga hamil Exel. Namun saat mendengar cerita Selin barusan, menimbulkan kecurigaan dalam dalam hatinya, dan membuatnya ingin membuktikan. Apa iya suaminya sudah lama kelainan, dan sekarang semakin menjadi? Karena itulah dia sekarang minta ijin pulang awal, agar bisa berpapasan dengan Satria di rumah mertuanya nanti."Nggak boleh! Kamu nggak boleh membawa Exel menginap," Terdengar suara Bu Ani begitu jelas di telinga karyawan kafe itu. Selain karena datang lebih awal dari biasanya, Attaya juga tidak bawa motor meticnya kesayangannya yang kebetulan masih di bengkel. Dia naik taksi online, dan tidak berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Hingga kehadirannya tidak disadari oleh Bu Ani yang sedang ngobrol dengan putra kesayangannya itu. "Kenapa
Bab 7"Attaya!" Suara cempreng menyapa Attaya yang baru saja memarkir motornya di halaman kafe. Wanita cantik itu pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati wanita seusianya itu mendekat. "Re...Reya! Ya Allah.... Kamu makin cantik aja." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Kamu apa kabar, Ta? Lama banget nggak ketemu?" "Baik, alhamdulillah selalu sehat. Kamu sendiri apa kabar? Masih kerja di Bina Karya?" Bina Karya adalah perusahaan properti tempat Reya bekerja, dan Attaya juga pernah bekerja di sana sebelum akhirnya resign karena dinikahi Satria. "Masih dong.... Memang mau kerja di mana lagi? Nyari kerja jaman sekarang susah, syai..." Attaya menepuk lengan Reya. "Kamu bisa aja, cewek sekelas kamu sih gampang nyari kerja. Eh, ngobrolnya dilanjut di dalam aja, yok! Di sini panas." Reya membuntuti langkah Attaya, mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Kamu dari mana? Jam kerja gini keluyuran ke kafe," Tanya Attaya kemudian. "Aku ada janji sama







