Se connecterBab 7
"Attaya!" Suara cempreng menyapa Attaya yang baru saja memarkir motornya di halaman kafe. Wanita cantik itu pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati wanita seusianya itu mendekat. "Re...Reya! Ya Allah.... Kamu makin cantik aja." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Kamu apa kabar, Ta? Lama banget nggak ketemu?" "Baik, alhamdulillah selalu sehat. Kamu sendiri apa kabar? Masih kerja di Bina Karya?" Bina Karya adalah perusahaan properti tempat Reya bekerja, dan Attaya juga pernah bekerja di sana sebelum akhirnya resign karena dinikahi Satria. "Masih dong.... Memang mau kerja di mana lagi? Nyari kerja jaman sekarang susah, syai..." Attaya menepuk lengan Reya. "Kamu bisa aja, cewek sekelas kamu sih gampang nyari kerja. Eh, ngobrolnya dilanjut di dalam aja, yok! Di sini panas." Reya membuntuti langkah Attaya, mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Kamu dari mana? Jam kerja gini keluyuran ke kafe," Tanya Attaya kemudian. "Aku ada janji sama klien, beliau minta ketemuan di sini. Kamu sendiri ngapain di sini? Janjian juga? Janjian sama cowok ya...." Reya berkata tanpa beban, tanpa maksud apa-apa. Namun ucapannya membuat senyum yang sejak tadi tersemat di wajah Attaya pudar seketika. Attaya sendiri tidak tahu kenapa hatinya merasa tercubit, mendengar ucapan mantan rekan kerjanya itu. Padahal dia tahu betul Reya tidak punya maksud untuk menyinggung perasaannya. Mungkin karena Reya tahu kisah perjalanan cintanya dengan Satria, mereka bertiga pernah bekerja sekantor. "Nggak, lah, Re. Nggak mikirin cowok dulu, fokus sama anak dan diri sendiri. Aku kerja di sini." Attaya memasang kembali senyumnya, berusaha bersikap biasa. Bagaimanapun juga semua yang terjadi sudah menjadi takdir, bukan salah Reya. "Padahal di kantor lagi ada lowongan, lho. Tapi gak mungkin kamu kerja lagi di sana, kan? Secara ada Mas Satria." Attaya hanya mengangguk sebagai respon atas ucapan temannya itu. "Maaf ya, Ta. Aku nggak bermaksud menyinggung masalalumu," Sesal Reya setelah menyadari perubahan ekspresi Attaya. "Nggak papa, kamu mau pesen apa? Biar aku panggil waitress." "Nanti aja, kalau kliennya sudah datang. Kita lanjutin ngobrol aja. Exel sekarang sudah bisa apa?" Obrolan mereka beralih masalah anak karir dan kesibukan mereka, juga tentang kenangan saat masih kerja sekantor. "Sekarang Pak Bram jadi kepala cabang, dan mantan lho jadi manajer keuangan. Hebat gak mereka! Nggak rugi Satria nempel Pak Bram terus, kecripatan jabatan juga dia. Emang kamu nggak curiga sama kedekatan mereka berdua? Di kantor lho, sebelum kamu masuk. Mereka digosipkan punya hubungan spesial, tapi kabar itu hanya jadi kabar kabur aja, karena tidak ada bukti yang kuat. Dan makin kabur sejak Satria dekat, kemudian menikah sama kamu. Tapi kabar itu gosib itu akhir-akhir ini kembali berhembus. Mereka itu seperti sudah tidak peduli dengan omongan orang, kemana-mana berdua. Di mana ada Pak Bram, di situ ada Satria. Wes, sudah seperti suami istri." Yang namanya wanita kalau sudah ngobrol pasti arahnya kemana-mana, hingga akhirnya meng-ghibah. Begitu lah yang terjadi pada Attaya dan Reya. "Dan kabar terkini, Pak Bram sama istri mau cerai, tapi prosesnya alot karena si istri nggak mau dicerai, dan nuntut kompensasi yang nggak masuk akal," Sambung Reya penuh semangat. Bagai luka yang disiram garam, itu yang dirasakan Attaya saat ini. Usahanya untuk melupakan Satria dan luka yang ditinggalkan, terasa sia-sia mendengar ucapan Reya. "Pak Bram juga mau cerai?" Tanya Attaya heran, setahunya Pak Bram dan istrinya adalah goals couple. Mereka masih nampak romantis meski usia tak lagi muda. Ternyata, Bu Bram bernasib sama dengan dirinya. "Ya iyalah, biar bebas sayang-sayangan sama sugar boynya itu. Beberapa bulan yang lalu, istri Pak Bram pernah datang ke kantor, terus pas keluar dari ruangan suaminya matanya bengkak, kayak habis nangis gitu. Mungkin mereka ribut. Segitunya demi orientasi menyimpang, sampai istri mau diceraikan." Sebenarnya bukan sekali ini Attaya mendengar tentang hubungan spesial mantan suami dan atasannya itu, namun dia memilih menyangkal. Buktinya ada Exel di antara mereka. Selain nafkah lahir yang lebih dari cukup, Satria juga selalu memenuhi nafkah batin untuk Attaya. Meskipun jarang-jarang. "Memangnya kamu gak mencium gelagat aneh selama menjadi istri Satria?" Attaya menggeleng pelan. Semua nampak wajar dan normal, saat doa menjalani biduk pernikahan bersama Satria. "Hubungan kamu sama dia bagaimana setelah kalian cerai?" Tanya Reya lagi. "Baik, dia selalu transfer uang untuk kami berdua." "Bukan itu maksudku, kalian masih bersikap biasa atau musuhan?" Cecar Reya. Sebenarnya Attaya merasa tidak nyaman dengan yang mereka bahasan saat ini, tapi dia tidak bisa menghentikan Rena yang nampak masih bersemangat menggosip itu. "Kami tidak bertemu setelah bercerai, aku titipkan Exel di rumah ibunya. Jadi dia bisa kapan saja bertemu anaknya, tanpa ketemu aku," Jelas Rena hati-hati. "Re, tolong apa yang kita bahas ini jangan sampai menyebar. Seburuk apapun Mas Satria, dia tetap papanya Exel." Attaya tak mau di kantor tempat kerja Satria muncul gosip yang tidak-tidak dan menyeret dirinya. "Siip... Kamu nggak usah khawatir soal itu." Reya berdehem, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Attaya. "Tahu, nggak. Satria sekarang sudah tidak semacho dulu, sekarang dia sedikit kemayu. Kayaknya mantanmu itu makin parah." Reya memelankan suaranya saat berkata. Next....Bab 12 "What! Jadi selama ini kamu ditipu mentah-mentah sama boty itu?" Jelas Selin terkejut mendengar penuturan Attaya, tentang mantan suaminya. Yang ternyata seorang LaGiBeTe dan kini tengah mengajukan gugatan hak asuh dan harta gono gini. "Dan anehnya kamu sama sekali nggak nyadar, atau nggak curiga sama sekali, kalau si bang$@t itu belok." "Dimataku semua terlihat wajar, Sel. Nggak ada yang aneh. Dia.... Ya... kayak laki-laki pada umumnya." "Emang bisa berdiri, secara dia itu gak suka sama perempuan." Pipi Attaya memerah mendengar penuturan sahabatnya. Dia yang pernah menikah aja malu membicarakan masalah intim seperti ini, Selin yang masih perawan bisa-bisanya ngomong begituan tanpa saringan. "Kan, sudah aku bilang. Di mataku dia terlihat normal." "Ck! Pinter banget aktingnya. Gayanya sok macho, aku pikir dia jantan beneran, ternyata cuma laki jadi-jadian. Tapi kamu aman, kan? Nggak ada kena penyakit aneh-aneh? Secara dia suka main belakang, mana punya selingkuhan lagi. Apa
Bab 11Attaya memijat keningnya yang terasa nyeri akibat ulah mantan suaminya. Dia tak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu. Makin ke sini makin ke sana. Makin tak jelas juntrungannya. Satria gampang sekali tersinggung, mirip emak-emak PMS. Perkara diingatkan agar berpenampilan wajar di depan putra semata wayang mereka, berbuntut panggilan sidang dari pengadilan. Pria yang sekarang berpenampilan kemayu itu menggugat hak asuh dan pembagian harta gono-gini.Wanita single parent itu tahu Satria marah, tetapi sama sekali tidak menyangka mantan suaminya akan benar-benar membuktikan ucapannya. Padahal, beberapa saat setelah kejadian ribut dengan Satria waktu itu, dia sudah mengadu kepada mertuanya."Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti Ibu akan menasihati Satria. Lagipula, dia itu hanya menggertak kamu. Kalau sampai dia berani macam-macam, Ibu yang menghadapi dia." Begitu kata Bu Ani saat itu. Namun, apa yang terjadi sekarang? Satria tetap mengajukan gugatan. Apa omongan Bu An
Bab 10Attaya tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan Satria, ketika menjemput Exel pagi itu. Celana ketat menonjolkan area sensitifnya, dipadu croptop yang memamerkan pusatnya. Satria sudah seperti.... Dia jadi malu sendiri melihat penampakan ayah dari anaknya itu. Sepertinya Attaya harus bicara dengan Satria, agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Dia akan memohon pada mantan suaminya agar berpenampilan selayaknya laki-laki normal di depan Exel. "Pagi, Ta.... Exelnya sudah siap?" Ujar Satria seraya nyelonong masuk ke rumah, tanpa menunggu dipersilahkan. Dia merasa punya hak atas rumah yang dia beli dengan hasil keringatnya itu. "Waalaikumsalam, Mas.... Tolong biasakan salam dulu sebelum masuk rumah, biar dicontoh Exel." Attaya mengekor langkah mantan suaminya yang menuju ruang keluarga. Di sana Exel nampak anteng makan biskuit sambil nonton TV. Balita itu nampak bernyanyi riang mengikuti tokoh kartun idolanya. Sama sekali belum menyadari kehadiran papanya. Di sampingnya
Bab 9Ingin tertawa tapi takut dosa, begitulah kira-kira yang dirasakan Attaya saat ini. Alis dibabat habis hingga tinggal garis kecil menyerupai clurit. Eyeliner, dan bibir glosi warna merah muda. Bukan hanya itu, kulit Satria terlihat lebih mulus dan glowing. Terlihat lebih feminim dan ayu. Sungguh bukan Satria yang dia kenal selama ini. Entah kemana sosok jantan dan macho yang pernah Attaya nikahi tiga tahun lalu? Menyadari ekspresi Attaya yang menahan tawa, Satria segera bangkit dari duduknya. Dia berniat pergi dari rumah ini, namun sebelumnya dia berkata, "Besok aku bawa Exel jalan-jalan, sebelum magrib aku akan pulang. Kamu tidak keberatan, kan?" Attaya mengangguk setuju."Iya, Mas. Tolong jangan dibawa ke apartemenmu, ya? Aku.... Aku...""Iya, aku tahu. Besok kami hanya jalan-jalan berdua, ke tempat wisata dan arena bermain. Aku pulang dulu," Pamitnya buru-buru, kemudian mehampiri sang Ibu dan mencium punggung tangannya. Sementara pada Attaya dia hanya memberi anggukan. "Hh..
Bab 8Kabar tentang orientasi se**ual Satria yang menyimpang sebenarnya sudah lama berhembus kencang, namun Attaya mengabaikan karena terlanjur jatuh cinta. Apalagi setelah menikah, dan terbukti Satria mampu memenuhi nafkah batinnya, bahkan hingga hamil Exel. Namun saat mendengar cerita Selin barusan, menimbulkan kecurigaan dalam dalam hatinya, dan membuatnya ingin membuktikan. Apa iya suaminya sudah lama kelainan, dan sekarang semakin menjadi? Karena itulah dia sekarang minta ijin pulang awal, agar bisa berpapasan dengan Satria di rumah mertuanya nanti."Nggak boleh! Kamu nggak boleh membawa Exel menginap," Terdengar suara Bu Ani begitu jelas di telinga karyawan kafe itu. Selain karena datang lebih awal dari biasanya, Attaya juga tidak bawa motor meticnya kesayangannya yang kebetulan masih di bengkel. Dia naik taksi online, dan tidak berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Hingga kehadirannya tidak disadari oleh Bu Ani yang sedang ngobrol dengan putra kesayangannya itu. "Kenapa
Bab 7"Attaya!" Suara cempreng menyapa Attaya yang baru saja memarkir motornya di halaman kafe. Wanita cantik itu pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati wanita seusianya itu mendekat. "Re...Reya! Ya Allah.... Kamu makin cantik aja." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Kamu apa kabar, Ta? Lama banget nggak ketemu?" "Baik, alhamdulillah selalu sehat. Kamu sendiri apa kabar? Masih kerja di Bina Karya?" Bina Karya adalah perusahaan properti tempat Reya bekerja, dan Attaya juga pernah bekerja di sana sebelum akhirnya resign karena dinikahi Satria. "Masih dong.... Memang mau kerja di mana lagi? Nyari kerja jaman sekarang susah, syai..." Attaya menepuk lengan Reya. "Kamu bisa aja, cewek sekelas kamu sih gampang nyari kerja. Eh, ngobrolnya dilanjut di dalam aja, yok! Di sini panas." Reya membuntuti langkah Attaya, mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Kamu dari mana? Jam kerja gini keluyuran ke kafe," Tanya Attaya kemudian. "Aku ada janji sama







