Se connecterBab 5
"Silahkan duduk, Sel, Ta!" Suara ramah menyambut kedatangan Selina dan Attaya, yang malam itu berkunjung ke rumah Andri. Pria awal tiga puluhan itu mengulurkan tangan pada tamunya, seraya mempersilahkan mereka duduk. "Jadi, temanmu yang mau melamar jadi admin itu Attaya?" Andri bertanya, setelah kedua wanita cantik itu duduk di depannya. "Iya, Mas. Dia lagi butuh banget kerjaan, tolong jangan ditolak." Jawab Selin sementara Attaya hanya diam, sambil tangannya terus meremas ujung baju. "Hm!" Andri berdehem seraya memperbaiki posisi duduknya, tatapnya kini beralih pada Attaya yang dari tadi hanya menunduk tanpa bicara "Begini, Ta. Kafe ku ini baru selesai dibangun, masih tahap finishing. Rencana buka masih bulan depan, dan saya belum bisa kasih gaji gede karyawan. Mungkin kurang dari UMR. Apa kamu mau digaji segitu?" " Nggak papa, Mas. Yang penting kerja." Attaya menjawab dengan hati-hati. "Suami kamu ngijinin kamu kerja di kafe? Bukannya suami kamu jabatannya lumayan...." "Attaya sudah cerai dari suaminya, Mas. Masa iddahnya bahkan sudah selesai. Dia wanita bebas sekarang, apapun yang dia kerjakan tidak perlu ijin dari siapapun," potong Selin buru-buru, sebelum Andri menyelesaikan ucapannya. Bibir Andri mengerucut membentuk huruf O, kepalanya terangguk beberapa kali. "Oke kalau begitu. Gini, Ta. Meski baru bulan depan kafe baru mulai dibuka, tapi kamu bisa kerja mulai minggu depan, pas tanggal satu. Biar enak gajiannya, kamu bisa bantu saya mempersiapkan segala kebutuhan kafe." "Bagus itu, Mas. Aku setuju. Biar Attaya nggak melamun meratapi nasib aja kerjanya." Lagi-lagi Selin yang menjawab. Di bawah meja, kaki Attaya menginjak kaki Selin, hingga Selin meringis kesakitan. "Apaan, sih, Ta. Memang benar apa yang kubilang, kan!" "Malu, Ta.... " Desis Attaya dengan mata melotot ke arah sahabatnya. Sementara di depan mereka, Andri hanya bisa tersenyum seraya menggeleng beberapa kali. Sudah lama tak jumpa, ternyata kelakuan dua sahabat itu tidak berubah sama sekali. "Kamu bisa bantu aku menyeleksi karyawan, cari kriterianya yang cocok sama kamu. Biar nanti kerjanya enak. Namanya kerja tim, harus bisa saling melengkapi." "Wah.... Enak bener jadi Attaya, dianak emaskan sama bosnya, sampe rekan kerja disuruh milih sendiri. Auw...!" Selin kembali mendapat hadiah berupa cubitan. "Lho, aku bener, kan. Di mana-mana bos yang memilih karyawan, bukan...." "Sudah-sudah. Kalian berdua jangan salah paham dulu. Karyawan kafe ini nanti kebanyakan perempuan, tahu sendiri perempuan itu seperti apa. Jadi, aku minta Attaya buat milih karyawan sesuai kriteria dia biar tidak banyak drama. Aku mau kafe ini jadi tempat yang kondusif untuk bekerja, kalau karyawannya bekerja dengan senang hati, otomatis pelayanan kepada pelanggan juga maksimal. Kalian ngerti, kan." "Ngerti, Mas. Ngerti... " Lagi-lagi Selin yang menyahut. Andri menggeleng melihat kelakuan sepupunya, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Kerjamu nanti mencatat pemasukan dan pengeluaran kafe, ngitung gaji karyawan, ya... Seperti admin pada umumnya. Berhubung ini bukan perusahaan besar, yang punya banyak divisi, kamu nanti juga merangkap bagian keuangan. Jadi gimana, Ta? Kamu mau bekerja dengan job desc dan gaji yang saya sebutkan tadi?" "Iya, Mas. Saya mau. Maaf, Mas. Outfitnya gimana? Pakai seragam atau...?" "Pakai seragam, Ta. Termasuk admin, saya sudah mendesain seragam, nanti kamu bisa lihat kira-kira kurangnya di mana. Perempuan biasanya paling pinter memadu padankan warna." "Iya, Mas. Oh ya, Mas. Ini CV saya." Attaya menyerahkan amplop coklat yang dia ambil dari tasnya. "Nggak usah, Ta. Kamu simpan saja, nanti data karyawan, kan jadi urusan kamu. Pokoknya soal administrasi aku serahkan sepenuhnya sama kamu." Andri berkata tanpa mengalihkan pandangannya pada Attaya. "Iya, Mas. Makasih, jadi mulai tanggal satu saya mulai masuk kerja. Ngantornya di mana, Mas? Langsung di kafe, atau di mana dulu?" Tanya Attaya, yang mulai berani membalas tatapan Andri. Meski tak lama menunduk kembali, karena sorot mata Andri begitu dalam. "Di kafe langsung, Ta. Ruangannya sudah seratus persen selesai, bisa langsung ditempati." Tatap Andri tak pernah beralih pada Attaya, bahkan saat Selin menimpali dia hanya melirik sekilas. Bertemu dan ngobrol panjang lebar dengan Attaya seperti ini adalah mimpinya sejak dulu. "Mmm.... Mas. Berhubung ini sudah malam, saya pamit pulang. Anak saya menunggu di rumah," Pamit Attaya hati-hati. Dia masih canggung berada satu ruangan dengan laki-laki yang pernah dia buat patah hati. "Aku minta nomormu, Ta. Biar aku bisa hubungi kamu nanti." Attaya menyebutkan sederet angka, yang kemudian disimpan Andri dalam ponselnya. "Ok, makasih, Ta." "Sel, ayo pulang." Attaya mencolek bahu sahabatnya yang tengah asik bermain ponsel. "Hah, pulang? Sudah selesai interviewnya? Kirain mau lanjut ke mana.... Gitu. Aku rela kok pulang sendiri. Sstt...." Selin mendesis kesakitan, karena Attaya kembali menginjak kakinya. "Mas, hati-hati punya karyawan Attaya. Dia sering KDRT, lihat saja belum lama di sini aku sudah dianiaya beberapa kali. Nanti kalau dia melakukan kekerasan di kafe, langsung pecat aja. Biar dia tahu rasa." Sungut Selin yang disambut tawa oleh sepupunya. "Kalau aku di KDRT, aku bakal dia ke KUA." "Wah.... Kode itu, Ta... Eh! Eh!" Selin tak sempat menyelesaikan ucapannya, karena Attaya menyeretnya keluar dari rumah Andri. Dia benar-benar sudah tidak punya muka, karena mulut tanpa saringan sahabatnya. "Kalian hati-hati di jalan!" Ujar Andri seraya menggeleng-nggeleng, melihat Selin yang tertawa ngakak meski diseret dan diomeli Attaya. Next.... Jangan lupa beri ulasan bintang 5 di cover depan. Terimakasih....Bab 12 "What! Jadi selama ini kamu ditipu mentah-mentah sama boty itu?" Jelas Selin terkejut mendengar penuturan Attaya, tentang mantan suaminya. Yang ternyata seorang LaGiBeTe dan kini tengah mengajukan gugatan hak asuh dan harta gono gini. "Dan anehnya kamu sama sekali nggak nyadar, atau nggak curiga sama sekali, kalau si bang$@t itu belok." "Dimataku semua terlihat wajar, Sel. Nggak ada yang aneh. Dia.... Ya... kayak laki-laki pada umumnya." "Emang bisa berdiri, secara dia itu gak suka sama perempuan." Pipi Attaya memerah mendengar penuturan sahabatnya. Dia yang pernah menikah aja malu membicarakan masalah intim seperti ini, Selin yang masih perawan bisa-bisanya ngomong begituan tanpa saringan. "Kan, sudah aku bilang. Di mataku dia terlihat normal." "Ck! Pinter banget aktingnya. Gayanya sok macho, aku pikir dia jantan beneran, ternyata cuma laki jadi-jadian. Tapi kamu aman, kan? Nggak ada kena penyakit aneh-aneh? Secara dia suka main belakang, mana punya selingkuhan lagi. Apa
Bab 11Attaya memijat keningnya yang terasa nyeri akibat ulah mantan suaminya. Dia tak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu. Makin ke sini makin ke sana. Makin tak jelas juntrungannya. Satria gampang sekali tersinggung, mirip emak-emak PMS. Perkara diingatkan agar berpenampilan wajar di depan putra semata wayang mereka, berbuntut panggilan sidang dari pengadilan. Pria yang sekarang berpenampilan kemayu itu menggugat hak asuh dan pembagian harta gono-gini.Wanita single parent itu tahu Satria marah, tetapi sama sekali tidak menyangka mantan suaminya akan benar-benar membuktikan ucapannya. Padahal, beberapa saat setelah kejadian ribut dengan Satria waktu itu, dia sudah mengadu kepada mertuanya."Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti Ibu akan menasihati Satria. Lagipula, dia itu hanya menggertak kamu. Kalau sampai dia berani macam-macam, Ibu yang menghadapi dia." Begitu kata Bu Ani saat itu. Namun, apa yang terjadi sekarang? Satria tetap mengajukan gugatan. Apa omongan Bu An
Bab 10Attaya tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan Satria, ketika menjemput Exel pagi itu. Celana ketat menonjolkan area sensitifnya, dipadu croptop yang memamerkan pusatnya. Satria sudah seperti.... Dia jadi malu sendiri melihat penampakan ayah dari anaknya itu. Sepertinya Attaya harus bicara dengan Satria, agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Dia akan memohon pada mantan suaminya agar berpenampilan selayaknya laki-laki normal di depan Exel. "Pagi, Ta.... Exelnya sudah siap?" Ujar Satria seraya nyelonong masuk ke rumah, tanpa menunggu dipersilahkan. Dia merasa punya hak atas rumah yang dia beli dengan hasil keringatnya itu. "Waalaikumsalam, Mas.... Tolong biasakan salam dulu sebelum masuk rumah, biar dicontoh Exel." Attaya mengekor langkah mantan suaminya yang menuju ruang keluarga. Di sana Exel nampak anteng makan biskuit sambil nonton TV. Balita itu nampak bernyanyi riang mengikuti tokoh kartun idolanya. Sama sekali belum menyadari kehadiran papanya. Di sampingnya
Bab 9Ingin tertawa tapi takut dosa, begitulah kira-kira yang dirasakan Attaya saat ini. Alis dibabat habis hingga tinggal garis kecil menyerupai clurit. Eyeliner, dan bibir glosi warna merah muda. Bukan hanya itu, kulit Satria terlihat lebih mulus dan glowing. Terlihat lebih feminim dan ayu. Sungguh bukan Satria yang dia kenal selama ini. Entah kemana sosok jantan dan macho yang pernah Attaya nikahi tiga tahun lalu? Menyadari ekspresi Attaya yang menahan tawa, Satria segera bangkit dari duduknya. Dia berniat pergi dari rumah ini, namun sebelumnya dia berkata, "Besok aku bawa Exel jalan-jalan, sebelum magrib aku akan pulang. Kamu tidak keberatan, kan?" Attaya mengangguk setuju."Iya, Mas. Tolong jangan dibawa ke apartemenmu, ya? Aku.... Aku...""Iya, aku tahu. Besok kami hanya jalan-jalan berdua, ke tempat wisata dan arena bermain. Aku pulang dulu," Pamitnya buru-buru, kemudian mehampiri sang Ibu dan mencium punggung tangannya. Sementara pada Attaya dia hanya memberi anggukan. "Hh..
Bab 8Kabar tentang orientasi se**ual Satria yang menyimpang sebenarnya sudah lama berhembus kencang, namun Attaya mengabaikan karena terlanjur jatuh cinta. Apalagi setelah menikah, dan terbukti Satria mampu memenuhi nafkah batinnya, bahkan hingga hamil Exel. Namun saat mendengar cerita Selin barusan, menimbulkan kecurigaan dalam dalam hatinya, dan membuatnya ingin membuktikan. Apa iya suaminya sudah lama kelainan, dan sekarang semakin menjadi? Karena itulah dia sekarang minta ijin pulang awal, agar bisa berpapasan dengan Satria di rumah mertuanya nanti."Nggak boleh! Kamu nggak boleh membawa Exel menginap," Terdengar suara Bu Ani begitu jelas di telinga karyawan kafe itu. Selain karena datang lebih awal dari biasanya, Attaya juga tidak bawa motor meticnya kesayangannya yang kebetulan masih di bengkel. Dia naik taksi online, dan tidak berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Hingga kehadirannya tidak disadari oleh Bu Ani yang sedang ngobrol dengan putra kesayangannya itu. "Kenapa
Bab 7"Attaya!" Suara cempreng menyapa Attaya yang baru saja memarkir motornya di halaman kafe. Wanita cantik itu pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati wanita seusianya itu mendekat. "Re...Reya! Ya Allah.... Kamu makin cantik aja." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Kamu apa kabar, Ta? Lama banget nggak ketemu?" "Baik, alhamdulillah selalu sehat. Kamu sendiri apa kabar? Masih kerja di Bina Karya?" Bina Karya adalah perusahaan properti tempat Reya bekerja, dan Attaya juga pernah bekerja di sana sebelum akhirnya resign karena dinikahi Satria. "Masih dong.... Memang mau kerja di mana lagi? Nyari kerja jaman sekarang susah, syai..." Attaya menepuk lengan Reya. "Kamu bisa aja, cewek sekelas kamu sih gampang nyari kerja. Eh, ngobrolnya dilanjut di dalam aja, yok! Di sini panas." Reya membuntuti langkah Attaya, mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Kamu dari mana? Jam kerja gini keluyuran ke kafe," Tanya Attaya kemudian. "Aku ada janji sama







