بيت / Fantasi / Legenda Dewa Racun / Bab 34 - Kedatangan Tetua Qin

مشاركة

Bab 34 - Kedatangan Tetua Qin

مؤلف: Murlox
last update تاريخ النشر: 2025-02-28 17:09:14

Di tengah suasana tegangan yang menggelayuti ruangan itu, tiba-tiba suara serak nan berat bergema dari arah samping.

"Ada apa ini?" suara itu langsung memecah keheningan.

Perlahan, seorang pria paruh baya berjalan dengan langkah anggun dan penuh wibawa mendekat ke arah mereka. Setiap gerakannya menunjukkan otoritas yang sulit dibantah, seakan hanya dengan kehadirannya saja, seluruh ruangan harus tunduk dan patuh.

Tatapan tajamnya menyapu seluruh orang yang berkumpul di tempat itu.

Mata beberapa
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (2)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
Makin seru
goodnovel comment avatar
Jumadil Susi
up yang banyak thor
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Legenda Dewa Racun   Bab 144 - Epilog

    Kemudian, cahaya yang semula bersinar lembut dari pola-pola inskripsi di atas altar, tiba-tiba meledak ke langit dalam wujud pilar energi yang menjulang menembus cakrawala. Sinar itu begitu terang, hingga memaksa Hu Jiu untuk menyipitkan mata dan mundur beberapa langkah dengan bulu meremang. Du Shen berdiri di tengah-tengah ledakan cahaya itu, tubuhnya tersapu angin liar yang berasal dari aliran energi spiritual luar biasa kuat. Jubahnya berkibar keras, rambut putih panjangnya terangkat ke udara seolah hendak tercabut dari kepalanya. Ia menggertakkan gigi kuat-kuat, mencoba menahan tekanan yang semakin menghimpit tubuhnya dari segala arah. "A-apa yang terjadi...?" gumamnya, nyaris tak terdengar di tengah deru badai energi yang menyeruak dari altar. Langit yang tadinya bersih perlahan berubah menjadi kelam. Awan hitam menggumpal dari berbagai arah, berputar-putar mengelilingi pilar cahaya seperti pusaran maut. Angin dingin dan aroma sengit logam memenuhi udara. Seolah-olah seluruh d

  • Legenda Dewa Racun   Bab 143 - Susunan Teleportasi

    Setelah menyerahkan benda yang menurutnya paling cocok dan bernilai kepada Lu Yan—Du Shen pun akhirnya melakukan perjalanan ke Hutan Kabut Ilusi. Tempat dimana susunan teleportasi kuno yang tersembunyi di balik lapisan kabut pekat dan ilusi mematikan tersembunyi.Du Shen tidak membawa siapa pun bersamanya. Lu Yan sempat menawarkan diri, bahkan tetua Zhao Lao, yang sudah mengenalnya cukup lama, bersikeras untuk turut serta. Tapi Du Shen menolak mereka dengan tenang namun tegas. Bukan karena ia meremehkan niat baik mereka, melainkan karena ia sadar sepenuhnya: perjalanan ini adalah perjalanan yang bersifat pribadi, dan ia lebih suka melakukan apapun sendiri.Perjalanan menuju Hutan Kabut Ilusi tidak sepwnuhnya mudah. Bahkan bagi seseorang sekuat Du Shen, hutan itu seakan-akan hidup, bergerak dan mengubah arah dengan kehendaknya sendiri. Terkadang ia merasa berjalan dalam lingkaran seperti tak tahu arah. Namun tekadnya terlalu kuat untuk dikalahkan oleh tipu daya ilusi dalam hutan itu.

  • Legenda Dewa Racun   Bab 142 - Peringatan Zhin Guyun

    Kabar kehancuran Sekte Kobaran Langit menyebar ke seluruh penjuru Benua Yin seperti badai tak kasat mata. Tak ada satu kota, klan besar, atau perkumpulan kultivator yang luput dari gemuruh berita ini. Dalam hitungan jam, berita itu menjalar seperti api yang melalap ladang jerami, menyusup ke setiap celah sekte, kota-kota besar.Orang-orang menyebutnya sebagai Hari Padamnya Langit, hari di mana salah satu sekte kuat dan berpengaruh di dunia kultivasi lenyap nyaris tanpa jejak.Di puncak gunung hijau yang menjulang di barat, sekte Pedang Bulan juga tampaknya dihebohkan dengan berita ini. Di aula paviliun utama sekte, para tetua dan murid utama berkumpul dalam keheningan yang berat.Di atas singgasananya yang menyerupai pedang hitam nan kokoh, Zhin Guyun, ketua sekte Pedang Bulan, duduk dengan mata tertutup. Ia baru saja menerima laporan langsung dari departemen intelijen sektenya. Setelah mendengarkan semua kronologi kehancuran sekte Kobaran Langit, ia menghela napas lega setelah mend

  • Legenda Dewa Racun   Bab 141 - Kehancuran Sekte Kobaran Langit II

    "Cih! Kau dan gurumu itu tak ada bedanya dengan iblis! Kalian adalah bencana berjalan, kutukan bagi dunia ini!" Xian Qinyun memuntahkan kata-katanya dengan amarah yang hampir menyatu dengan darah yang masih menetes dari bibirnya. "Jika kau tidak dibunuh hari ini... aku takut Benua Yin akan berakhir seperti neraka!" lanjutnya dengan nada serak dan tubuh bergetar.Namun ucapannya tak membuat pemuda di depannya itu goyah.Du Shen, berdiri di atas tanah yang retak dan hangus oleh gelombang energi Qi yang keluar dari tubuhnya, menatap pria tua itu dengan mata dingin bagai danau beku. Tatapan yang tak lagi menunjukkan belas kasihan—hanya penghakiman dingin dari seseorang yang sudah menapaki jalan yang tak dapat diputar kembali."Terserah... apa pun yang kau pikirkan," ucap Du Shen dengan suara tenang, namun mengguncang jiwa yang mendengarnya. "Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Dan kau… kau sudah tak berguna lagi. Tapi sebelum ini selesai, ada harga yang harus kamu bayar karena tel

  • Legenda Dewa Racun   Bab 140 - Kehancuran Sekte Kobaran Langit

    Beberapa hari kemudian, sebuah kejadian besar akan mengguncang seluruh penjuru daratan Benua Yin—kejadian yang sulit untuk dipahami dengan akal sehat. Atau lebih tepatnya, seorang pemuda dengan rambut putih bagai salju yang melangkah seperti badai dan menghancurkan segalanya di jalur yang ia lalui.Di wilayah pegunungan utara yang sunyi, tempat di mana langit selalu tampak berwarna merah oranye karena panas yang memancar dari gunung berapi yang menjulang tinggi, berdiri salah satu sekte paling tertutup di dunia kultivasi: ialah sekte Kobaran Langit. Selama berabad-abad, mereka menjaga jarak dari hiruk-pikuk dunia luar, kabarnya mereka hanya keluar dari persembunyian ketika perang besar antara manusia dan ras iblis beberapaa ratus tahun lalu. Sejak saat itu, mereka tak lagi terlihat muncul di dunia luar, menjadi legenda hidup yang diselimuti misteri.Namun pagi itu, langit di atas pegunungan tidak memancarkan sinar mentari yang agung, melainkan dihiasi awan kelam dan suara gemuruh pet

  • Legenda Dewa Racun   Bab 139 - Alasan Kedatangan Kembali

    Namun rasa getir itu tak mampu meredam kegelisahan yang perlahan menyelinap dalam hati Lu Yan. Ia menyembunyikannya di balik senyum anggunnya, namun matanya tak bisa membohongi batinnya yang penuh tanya. Seseorang yang mampu menekan sekte Pedang Bulan, dan bahkan membuat Zhin Guyun menyerahkan pusaka leluhur mereka... seberapa besar kekuatan pemuda ini? Pertanyaan itu berkecamuk tanpa jawaban dalam benak Lu Yan. Walaupun ia penasaran, namun Lu Yan tak berniat bertanya karena menurutnya itu tak sopan. Du Shen duduk bersandar pada kursi kayu tua di samping meja, tangannya memainkan cawan teh tanpa benar-benar meminumnya. Ketika cahaya pagi menyinari wajahnya dari balik awan, warna rambut putihnya yang kontras dengan wajah tampannya tampak semakin mencolok, menambah kesan dingin dan misterius yang sudah begitu melekat pada sosoknya. Keheningan sempat berlangsung selama beberapa detik sebelum Du Shen angkat bicara. "Dan kau pasti tahu alasan sebenarnya aku datang ke sini lagi, bukan?"

  • Legenda Dewa Racun   Bab 95 - Ikatan Jiwa

    Dengan gerakan tenang, Du Shen menggigit ibu jarinya, meneteskan setitik darah segar. Darah itu tidak jatuh ke tanah, melainkan melayang di udara, berpendar dengan cahaya merah tua yang samar dan dikelilingi aura Qi tipis yang berputar perlahan.Rubah itu, yang seolah memahami apa yang Du Shen laku

  • Legenda Dewa Racun   Bab 94 - Rekan Baru

    Setelah penjelasan panjang lebar dari Zhao Lao mengenai Hutan Kabut Ilusi dan Wilayah Dewa Leluhur, Du Shen hanya mengangguk tenang. Pandangannya dingin namun dalam, seakan memikirkan seribu langkah ke depan. Dengan gerakan pelan, ia memberi isyarat pada Zhao Lao dan muridnya untuk pergi."Terima k

  • Legenda Dewa Racun   Bab 93 - Permintaan Maaf dan Sedikit Informasi

    Dengan langkah yang terasa berat, Zhao Lao akhirnya memberanikan diri untuk melangkah maju. Wajahnya yang sebelumnya dipenuhi dengan ketegangan kini dipulas dengan ekspresi ragu dan penuh kehati-hatian. Ia sedikit menunduk hormat, lalu mengepalkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk pengho

  • Legenda Dewa Racun   Bab 92 - Bukan Tandingan

    Di sisi lain, Du Shen mengangkat kepalanya perlahan, menatap Han Jue dan Zhao Lao secara bergantian. Matanya tenang, tapi menyimpan kedalaman yang tak terjangkau."Beraninya kau menghindar dan meremehkan kekuatanku… mati saja kau!" teriak Han Jue, amarah semakin membara di matanya.Teriakannya meng

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status