Share

Bab 1144

Author: Pujangga
last update Last Updated: 2026-01-01 21:19:17

Beralih kepada Lintang.

Setelah berhasil menguasai diri dari ketidak berdayaannya dalam membantu semua lini pasukan.

Lintang akhirnya sadar bahwa sesungguhnya perang ini bukan hanya untuk kehidupan.

Tetapi juga untuk kehormatan, untuk kebanggaan sebagai kesatria, serta untuk membuktikan diri bahwa tidak ada satu pun mahluk yang dapat merubah keyakinan seseorang.

Selama dia yakin dengan dirinya, yakin dengan tujuan hidupnya, yakin dengan apa yang ditempuhya, maka mati pun tidak lagi menjadi masalah.

Dan semua pasukan Lintang memiliki keyakinan seperti itu, dimana mereka sejatinya bukan perang dengan pasukan Nawadurja atau pasukan Dewa Kegelapan, tetapi perang dengan dirinya sendiri.

“Kakek?”

Lintang bertanya kepada Raden Buana yang kondisinya saat itu sudah mulai melampaui ambang batas ketahanan tubuh manusia. Namun Raden Buana tetap gigih membimbing setiap kelompok pasukan pada langkah yang telah ditetapkan.

“Ayahmu benar anakku, sedari awal kami memang mengharapkan kehadiranmu. Tetap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1147

    Untuk sesaat Nawadurja terlihat pucat seperti seorang yang telah kehilangan haparan.Namun tepat ketika Lintang akan membentuk segel tangan, tanpa di duga mahluk itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.Bukan tawa biasa, melainkan sebuah tawa yang dapat merusak seluruh segel pelindung alam, membuat Madyapada mulai mengalami keretakan panjang.Bahkan samudara selatan nyaris kering dibuatnya karena semua air di atasnya tersedot ke dalam retakan.Sontak saja Lintang, Galuh, dan semua orang menjadi panik.Bahkan seluruh pasukan Dewa Kegelapan juga bercucuran keringat entah mengapa, membuat Lintang merasakan firasat yang begitu buruk.“Celaka! Garu cepat masukan semua orang kedalam dunia dimensi kekal!” teriak Lintang lantang, membuat Garu dan Mayang dengan cepat menggabungkan energi, menyebarkan cahaya terang ke berbagai arah yang dapat menembus seluruh unsur alam, termasuk air, tanah, dan bebatuan sehingga semua mahluk hidup yang ada di Madyapada terkena cahaya tersebut tanpa pandang bulu,

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1146

    “Apa?” Lintang semakin terkejut.Ternyata apa yang Galuh katakan sungguh terjadi, dimana setiap orang memiliki tanggungjawabnya masing-masing.Sehingga ketika Lintang berikan kepercayaan, maka mereka jadikan kepercayaan itu sebagai semangat untuk terus kembang.Tanggungjawab membuat semua orang menjadi semakin kuat, membuat mereka berhasil membuka potensi dirinya masing-masing.Termasuk divisi pemulihan, dimana bersamaan dengan orang lain berjuang, mereka juga bekerja keras untuk meningkatkan kemampuannya.“Jangan hiraukan kami ayah, biarkan Jinggo urus sisanya,” Suara Jinggo juga turut terdengar di kepala Lintang.“Hihihi, Anjeli juga,” ujar Anjeli terkekeh.“Percayakan kepada kami,” teriak Nayaka penuh percaya diri.“Kami baik-baik saja kak,” tutur Putri Arum dengan kelembutannya.“Masih ada aku, adik. Jangan khawatir,” ungkap Balada.“Kwii, kwii!” seru Limo.“Oweeee,” ujar Si Petung.“Pii, piii, Piii,” Si Bodas dan Si Hawuk juga ikut berteriak secara bersamaan.Mereka telah dipulih

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1145

    Melihat Jagat pergi dengan membawa tubuh Cantika Ayu, Nawadurja pun tentu tidak membiarkannya begitu saja.Monster kerdil tersebut lantas melesat berniat menghadang Jagat.Namun Lintang langsung menciptakan tubuh bayangan untuk menghadapinya.Sehingga pertarungan jarak dekat antara Nawadurja dan tubuh bayangan Lintang pun terjadi tak terelakan.Sedangkan Jagat barhasil lari menjauhi Nawadurja.Tongkat semesta segera menghampiri Lintang agar dapat langsung diperiksa.Dia mengira Cantika Ayu sedang sekarat, atau bahkan mungkin sudah tewas akibat serangan Nawadurja.Akan tetapi keanehan lain pun terjadi, dimana secara ajaib, tubuh Cantika Ayu ternyata mampu pulih dengan sendirinya.Hal ini tentu tidak hanya mengejutkan Jagat, tetapi juga mengejutkan Lintang.Lintang terpana menyaksikan proses pemulihan tubuh Cantika Ayu.Dia melihat terdapat energi tipis yang merambat dari kedua bola mata gadis muda itu, menjalar ke dalam lubang luka dan meregenerasinya dari dalam.Sebuah pemandangan ane

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1144

    Beralih kepada Lintang.Setelah berhasil menguasai diri dari ketidak berdayaannya dalam membantu semua lini pasukan.Lintang akhirnya sadar bahwa sesungguhnya perang ini bukan hanya untuk kehidupan.Tetapi juga untuk kehormatan, untuk kebanggaan sebagai kesatria, serta untuk membuktikan diri bahwa tidak ada satu pun mahluk yang dapat merubah keyakinan seseorang.Selama dia yakin dengan dirinya, yakin dengan tujuan hidupnya, yakin dengan apa yang ditempuhya, maka mati pun tidak lagi menjadi masalah.Dan semua pasukan Lintang memiliki keyakinan seperti itu, dimana mereka sejatinya bukan perang dengan pasukan Nawadurja atau pasukan Dewa Kegelapan, tetapi perang dengan dirinya sendiri.“Kakek?”Lintang bertanya kepada Raden Buana yang kondisinya saat itu sudah mulai melampaui ambang batas ketahanan tubuh manusia. Namun Raden Buana tetap gigih membimbing setiap kelompok pasukan pada langkah yang telah ditetapkan.“Ayahmu benar anakku, sedari awal kami memang mengharapkan kehadiranmu. Tetap

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1143

    “Sebaiknya kita juga berjuang dengan kemampuan kita sendiri, jangan terlalu membebankan perang kepadanya,” ujar Batara Nala Gareng merasa iba terhadap Lintang.“Kalau kita mampu sendiri, kita juga tidak akan mengharapkan bantuannya, Gareng. Namun api dari musuh ini terlalu merepotkan, energi regenerasi tidak berguna di hadapan mereka, sedangkan pil ciptaannya selalu mampu diandalkan,” sanggah Batara Astrajingga tidak setuju.“Mmm,” angguk Batara Dewala menguatkan.Sementara Galuh tidak berkomentar karena dia sendiri sangat tahu seperti apa beban yang sedang ditanggung oleh Lintang.“Bodoh! Sebagai seorang kesatria, tidak sepatutnya kita bergantung pada orang lain A. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada mahluk yang sempurna, namun selama kita berusaha, siapa pun akan mampu menyempurnakan kekurangannya. Tidak ada yang tahu entah rasa sakit seperti apa yang sedang ditanggung oleh keponakan kita. Sebagai seorang pemimpin, mungkin kesadarannya saat ini te

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1142

    4 monster bertubuh api menatap dingin ke arah Galuh, memancarkan aura membunuh yang amat sangat menekan.Mungkin jika orang lain, mereka pasti tidak akan mampu bergerak karena aura membunuh para mahluk tersebut menusuk sampai ke tulang.Namun Galuh dengan segala kekonyolannya, dia berusaha tenang. Berteriak kencang, mengatai Dewa Kegelapan sebagai tukang masak karena membawa api ke dalam pertempuran.“Hahaha, jika ingin memasak, kau seharusnya tidak perlu ikut perang, Batara Antaga,” Galuh tertawa, membuat Dewa Kegelapan mengerutkan kening heran.“Dasar gila!” umpat Dewa Kegelapan kesal.Tetapi dia tidak terpancing oleh ocehan Galuh karena tahu musuh hanya menggertak saja.Tidak ingin membuang waktu, Dewa Kegelapan lantas memberi perintah pada ke 4 monster api untuk segera menyerang Galuh membuat mereka mulai berlesatan, menunjukan kemampuan.Bagaikan kilat, ke empat mahluk dari Neraka tersebut tiba-tiba sudah berada di hadapan Galuh.Mereka langsung melayangkan pukulan mematikan, men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status