MasukSetelah kembali mendapatkan tongkat semesta, Jagat dan Lintang lantas melesat menyerang Nawadurja.Mendapati itu, Ruh Swarnakesa yang sudah pulih kembali pun tidak tinggal diam.Menurutnya, Lintang yang sekarang adalah kesempatannya untuk bisa membinasakan Nawadurja sehingga dia langsung turut melesat menyerang musuh yang sama.Wush!Lintang mengibaskan tongkat semesta, namun sebelum itu, dia membentuk segel tangan terlebih dahulu, menciptakan akar cahaya yang berhasil melilit salah satu lengan Nawadurja, membuat mahluk tersebut kesulitan bergerak.Krak!Tangan kanan Nawadurja yang menggenggam pedang seketika kaku terlilit akar cahaya, sementara serangan dari Lintang dan Ruh Swarnakesa sudah semakin mendekat.Hal itu sontak saja membuat Nawadurja panik, dia berusaha melepaskan akar cahaya, tetapi sayang akar tersebut ternyata sangat kuat.“Cecunguk tengik! Ilmu apa yang kau pakai? Sialan!” Nawadurja mengumpat panjang lebar.Dia kemudian mengepakkan kedua sayapnya untuk menghindar, nam
Dari sejak diciptakan, untuk pertama kalinya ruang Pranayama mengalami guncangan hebat.Bahkan beberapa pelindung di ruangan itu sampai mengalami kerusakan.Cahaya terang memancar dari tubuh Lintang, mengikis seluruh kegelapan yang ada menjadi sumber kekuatan ruang Pranayama.Badai petir berputar membentuk pusaran, menyambar setiap dinding Pranayama, mengakibatkan ruang pusaka tersebut mengalami keretakan.Sementara Lintang masih duduk bersila memejamkan mata, merapalkan mantera yang dihapalnya sembari membayangkan setiap gerakan tangan yang ada di dalam kitab.Hal ini membuktikan bahwa jurus segel yang tengah Lintang pelajari memang bukan jurus biasa. Tetapi jurus segel maha tinggi yang mampu mengekang seluruh energi, termasuk energi dari kekuatan maha dewa terdahulu.Tidak ada yang tahu entah seperti apa kekuatan puncak dari jurus segel tersebut. Yang jelas ruang Pranayama sekali pun tak mampu menahannya, padahal apa yang tubuh Lintang keluarkan hanya berupa aura semata.“Tinggal se
Wush! Trang!Siurrr! BUMMMM!Serangan dari Lintang dan Ruh Swarnakesa berhasil ditangkis oleh Nawadurja dengan sangat mudah.Namun meski begitu, keduanya tetap maju seakan tidak peduli pada hasil yang didapat.Sieng!Lintang melesatkan tongkat semesta, menciptakan pusaran pita cahaya yang amat sangat tajam.Sementara Ruh Swarnakesa menebaskan pedang kebalikan milik Arga.“Percuma saja kalian menentangku. Dengan puncak kekuatan ini, serangan kalian tidak lebih dari sehelai bulu yang menggelitik,” Nawadurja menyeringai tipis ke arah kedua lawannya.Kemudian, dia menahan pusaran pita cahaya milik Lintang dengan kibasan sayap kanan.Sementara tebasan pedang ruh Swarnakesa di tangkis oleh pedangnya.Wush! BUMMMMM!Tongkat semesta yang sebelumnya menjelma menjadi pita cahaya langsung terpental terkena ledakan energi sayap musuh.Sedangkan pedang kebalikan tertahan oleh pedang lawan, membuat Ruh Swarnakesa terpaksa harus kembali mundur mengambil jarak.Mendapati serangan tongkatnya tidak ber
“Aku tidak memiliki banyak waktu ayah, aku harus segera menaklukkan Nawadurja agar semesta kita dapat terselamatkan. Namun sebelum itu, aku akan memulihkan inti energi kalian supaya ayah dan yang lain bisa menjauh dari sini,” ungkap Lintang.Mendengar itu, Galuh tidak dapat berkata-kata karena sedari awal, keberadaan mereka di sana hanya menjadi beban bagi Lintang.“Baiklah! Ini akan sedikit lebih sakit, jadi aku minta kalian menahannya,” Lintang mulai membentuk segel tangan, mengedarkan cahaya regenerasi tingkat gama, membuat Galuh, Asgar, pangeran Arundia, dan semua orang berteriak kesakitan.Termasuk Limo dan Samhu yang kala itu masih sekarat akibat luka yang dideritanya.Namun berkat cahaya regenerasi dari kekuatan Gama milik Lintang, semua luka yang mereka alami mulai mengalami kesembuhan.Dimulai dari Galuh yang kembali mampu mengendalikan energinya, kemudian Asgar, Putri Shalya, pangeran Arundia, Mayang, Anjeli, Jinggo, Raja Mulu, Kala Pati, Dewi Rembulan, Garu, Raja Kancradaka
Jagat, Galuh, Pangeran Arundia, putri Shalya, Asgar, Garu, Anjeli, Jinggo dan yang lain amat terkejut tatkala mendapati hawa kehidupan Lintang menghilang.Mereka mengira Lintang telah mati sehingga berlutut lemas tidak lagi memiliki harapan.Putri Shalya menangis sejadi-jadinya, begitu pula dengan Anjeli dan Mayang.Sedangkan Jinggo, pangeran Arundia, Garu, Raja Mulu, Raja Kancradaka, Asgar dan Galuh tertunduk tidak berdaya.Pandangan mereka gelap tidak tahu entah harus berbuat apa.Namun semua orang sepakat, jika suatu saat Lintang mati, maka mereka juga akan ikut mati sehingga semua segera bersiap untuk melakukan serangan terakhir terhadap Nawadurja.Bahkan Kala Pati bersama Dewi Rembulan juga turut bergabung karena tidak memiliki pilihan lain.Sementara Dewa Kegelapan tertawa terbahak-bahak.Mendapati rombongan Galuh hendak bunuh diri, Dewa Kegelapan dengan cepat mundur menghindar.Dia tidak mau terlibat pada pilihan bodoh keluarga Lintang, dimana sejak awal, tujuannya memang bukan
“Alam baka merupakan alam tempatnya orang mati, di sana setiap ruh akan berkumpul menunggu hari pembalasan dari setiap apa yang mereka lakukan. Namun alam baka tidak sesederhana seperti apa yang kita bayangkan karena tidak jarang pula ada makhluk yang langsung mendapat balasan di sana,” sambung Maha Dewa Su-ra.“Dalam masa penantian, makhluk baik akan mendapatkan kedamaian, tetapi mahluk buruk akan mendapatkan siksaan,” ucap Maha Dewa Su-ra.“Sedangkan alam lain seperti surga dan alam penyiksaan, itu akan terbuka ketika tidak ada lagi mahluk yang hidup di alam fana. Aku sendiri tidak tahu entah kapan waktunya, namun yang pasti, semua sudah menjadi ketentuan takdir,” ungkap Maha Dewa Su-ra.“Bagaimana, apa kau mengerti anak muda?” Maha Dewa Su-ra menyipitkan mata ke arah Lintang.“Tidak Hyang Maha Dewa,” Lintang lagi-lagi kembali menggeleng membuat Maha Dewa Su-ra menepuk jidatnya sendiri.“Bukan tentang alam kematian yang tidak aku mengerti, Hyang Maha Dewa. Tetapi tentang keabadian y







