Masuk
Kabut tipis masih menggantung di atas tanah saat matahari pagi mulai merangkak naik dari balik perbukitan yang melingkari Kota Xian Jin—sebuah kota kecil yang berdiri tenang namun tegar di bawah kekuasaan Kerajaan Song Selatan. Angin pagi berembus pelan membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus, menyusup ke celah-celah bangunan kayu dan batu bata yang sudah menghitam dimakan waktu.
Namun, ketenangan pagi itu hanyalah fatamorgana yang menutupi kenyataan kalau kota ini hidup berdampingan dengan bayang-bayang maut yang mengintai dari arah barat. Di sana, terbentang Lembah Iblis—sebuah wilayah kelam yang menjadi sarang makhluk-makhluk buas dan iblis berkepala dua. Para penduduk kota sudah lama tidak lagi berteriak ketakutan mendengar auman dari lembah tersebut. Mereka memilih beradaptasi, karena rasa takut yang abadi hanya akan membuat mereka lemah.
Lembah Iblis sudah menjadi semacam legenda yang merakyat di masyarakat, terutama penduduk Kota Xian Jin. Mereka tidak takut karena merasa ada pelindung kota yang akan mengusir makhluk-makhluk buas dari Lembah Iblis apabila nekat masuk ke dalam kota.
Di tengah keramaian pasar di pagi hari dan derit roda pedati yang berlalu-lalang, berdiri megah sebuah kediaman bergaya klasik dengan atap melengkung dan tiang penyangga berhias naga ukiran. Itulah kediaman Keluarga Besar Shin, salah satu dari tiga pilar utama Kota Xian Jin. Dua lainnya adalah Keluarga Shou yang dikenal akan kekuatan militernya, dan Keluarga Qian yang terkenal licik namun kaya akan strategi serta koneksi politik.
Tiga pilar utama kota inilah yang diyakini oleh penduduk kota akan melindungi mereka dari makhluk-makhluk buas Lembah Iblis.
Tepat saat lonceng bambu di sudut halaman berbunyi pelan tertiup angin, terdengarlah sebuah teriakan menggema dari dalam halaman utama Keluarga Shin.
Suara yang cukup keras dan sedikit mengandung aura spiritual.
“BERHENTI, DASAR BOCAH TAK TAHU DIUNTUNG!”
Seorang pria tua dengan jenggot keperakan, wajah keriput namun sorot matanya tajam seperti elang, berlari tertatih mengejar seorang pemuda berambut kusut. Anak itu kira-kira berusia enam belas tahun, tubuhnya kurus tapi lincah, dan wajahnya menyiratkan kombinasi antara keberanian dan kenekatan.
“Ayo, Kakek! Sudah tua masih juga doyan marah-marah! Bukannya sarapan malah ngejar-ngejar cucu sendiri!” seru pemuda itu sambil tertawa, memanjat salah satu tiang halaman dan melompat ke atap rumah dengan kelincahan seekor monyet.
Para murid yang tengah berlatih di lapangan terbuka sontak menoleh, tapi tak satu pun tampak terkejut dengan kejadian yang mereka alami.
“Sudah seperti rutinitas pagi saja, ya,” gumam salah satu murid, mengayunkan pedangnya ke udara.
“Kalau bukan Tuan Muda Tian yang dikejar Master Shin, rasanya pagi ini terasa aneh,” sahut yang lain sambil mengelap keringatnya.
“Kurasa mereka tidak akan pernah bosan,” celetuk seorang pemuda, menggeleng pelan. “Tapi jujur saja, aku masih tidak mengerti kenapa dia yang jadi pewaris keluarga ini. Bukankah dia tidak bisa berkultivasi?”
“Hush! Jaga mulutmu!” bisik temannya dengan nada cemas. “Kau bisa dihukum hanya karena bicara sembarangan. Dia tetap darah murni keluarga Shin.”
“Darah murni yang tidak bisa bertarung? Bagaimana dia akan melindungi keluarga saat iblis dari lembah itu datang menyerbu? Apa kita harus menggantungkan nyawa kita pada seorang—”
“Cukup!” potong suara lantang dari arah barisan depan. Seorang gadis muda dengan rambut dikuncir tinggi dan tatapan mata tajam berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Usianya tak jauh berbeda dengan Shin Tian, tapi wibawanya membuat murid-murid lainnya diam seribu bahasa.
“Nona Shiang… aku tidak bermaksud menghina Tuan Muda,” ucap pemuda yang tadi bicara, kini menunduk dalam-dalam. Wajahnya pucat, tangan gemetar, siap menanti hukuman yang akan dijatuhkan kepada dirinya.
“Aku harap begitu,” balas Shiang dingin. “Kalau tidak, aku sendiri yang akan mengusirmu dari perguruan ini.”
Wajah Shin Siang sangat cantik sehingga banyak murid perguruan yang tertarik kepadanya tapi sikap gadis ini sangat dingin. Hanya kepada Shin Tian saja, ia bisa tersenyum.
Dari atas atap, suara tawa Shin Tian masih terdengar, bergema bersama semilir angin pagi. Ia tampak duduk santai, menggigit sepotong apel yang entah dari mana didapatnya.
"Ahh… udara pagi di Xian Jin memang tidak pernah mengecewakan," ujarnya santai, menatap langit biru yang mulai cerah. "Sayang, orang-orang di bawah terlalu sibuk dengan aturan dan darah murni sampai lupa cara menikmati hidup."
Ruang kerja Shin Long mendadak terasa lebih dingin.“Orang dari dalam kekaisaran?” Shin Wang yang baru tiba di ambang pintu mengerutkan kening. “Apakah Qian Mu menyebutkan namanya?”Penjaga itu menggeleng gugup. “Belum, Tetua. Ketika kami menanyakan identitas orang tersebut, Qian Mu justru meminta bertemu Tuan Muda Shin. Katanya, hanya beliau yang bisa memahami maksud pesan yang ditinggalkan orang itu.”Shin Tian menyandarkan punggung pada kursi. Ujung jarinya mengetuk meja perlahan.Qian Mu bukan orang bodoh. Jika dia sampai meminta bertemu dengannya, berarti ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar menyelamatkan nyawanya.“Bawa dia ke ruang interogasi,” perintah Shin Tian. “Jangan beri kesempatan untuk menghubungi siapa pun.”“Baik!”Setelah penjaga itu pergi, Shin Long menatap putranya dengan cemas.“Kau akan menemuinya sekarang?”“Tidak. Ada urusan yang lebih mendesak.”Shin Wang mengangkat alis. “Lebih mendesak daripada mengetahui siapa yang mengincar keluarga kita?”S
Suara langkah para penjaga menggema di lorong kediaman Keluarga Shin.“Lapor! Qian Mu tertangkap ketika berusaha melarikan diri melalui gerbang belakang!”Shin Tian yang baru saja hendak meninggalkan aula leluhur menghentikan langkahnya. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Bagus. Pastikan dia tetap hidup. Aku masih punya beberapa pertanyaan untuknya.”“Siap!” Penjaga itu segera berbalik dan berlari pergi.Di belakang Shin Tian, Shin Long masih berdiri terpaku. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya mengepal begitu kuat. Bekas pertarungan melawan Utusan Lembah Iblis masih terasa di udara. Bau hangus bercampur aroma dupa memenuhi aula, dan beberapa retakan menghiasi lantai marmer.Namun, bukan kerusakan itu yang mengganggu pikirannya. Anak yang selama ini dianggapnya lemah ternyata mampu mengalahkan utusan dari kekuatan misterius yang bahkan ditakuti para tetua keluarga.Lebih mengejutkan lagi, Shin Tian melakukannya dengan ketenangan seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah
Suara retakan mengguncang seluruh aula leluhur Keluarga Shin.KRAAAAK!Cahaya merah menyembur dari pusaran hitam di atas altar. Udara mendadak membeku, sementara aroma busuk menyerupai daging membusuk memenuhi ruangan. Lantai marmer bergetar hebat. Beberapa tetua terpaksa berlutut untuk mempertahankan keseimbangan.Di tengah kekacauan itu, Shin Tian berdiri dengan kedua tangan terangkat.Jubahnya berkibar diterjang angin hitam. Rambutnya berantakan, tetapi sorot matanya tetap tenang.Di hadapannya, Utusan Lembah Iblis tertawa dengan suara parau."Ha... ha... ha! Bocah, kau pikir formasi tua ini mampu menghentikanku?"Makhluk itu memiliki tubuh kurus dengan kulit kelabu seperti mayat. Dua tanduk hitam tumbuh dari dahinya, sementara urat-urat merah menjalar di lehernya. Energi iblis terus mengalir dari tubuhnya menuju pusaran di atas altar."Gerbang ini akan terbuka sepenuhnya!" raungnya. "Saat itu terjadi, seluruh Kota Xian Jin akan menjadi tempat berburu bagi para penghuni alam iblis!"
Langit di atas alun-alun berputar liar, awan-awan kelabu tersedot ke satu titik, membentuk pusaran hitam yang menganga seperti mata raksasa. Udara mengerang. Tekanan qi melonjak tak terkendali, menusuk paru-paru, menghancurkan keseimbangan.Beberapa kultivator muda langsung terhempas berlutut. Darah menyembur dari mulut mereka, bercampur dengan debu dan hujan energi yang tak kasatmata.Shin Tian melompat mundur, menghentakkan kaki ke tanah untuk menancapkan dirinya.Braak!Permukaan batu retak di bawah telapak sepatunya.“Gerbang semu…” gumamnya lirih, mata menajam menatap pusaran itu. “Mereka benar-benar gila.”Di tengah kekacauan, Qian Mu berdiri—namun yang tersisa dari dirinya hanyalah bentuk. Sesuatu yang lain menggerakkan tubuh itu kini.Dagingnya menggelembung, tulang-tulang bergeser. Kulitnya pecah, memperlihatkan lapisan hitam berkilau seperti baja iblis. Dari punggungnya, kabut pekat memadat, membentuk sepasang sayap yang berdenyut seirama dengan pusaran di langit.Suara yang
Langit di atas Kota Xian Jin belum sepenuhnya cerah ketika tanda bahaya berikutnya muncul.BUUUM...!!!Getaran berat merambat dari kejauhan, bukan dari gerbang, bukan dari dalam kota—melainkan dari tanah di bawah kaki mereka. Batu-batu kecil melompat, air di selokan beriak liar, dan burung-burung yang tadi kembali bertengger mendadak beterbangan panik.Shin Tian mengerutkan kening.“Tidak mungkin hanya satu Jenderal Roh Iblis,” gumamnya. “Itu terlalu… biasa.”Belum selesai kalimatnya...KRAAAKKK!Tanah di tengah kota... alun-alun utama terbelah dua.Teriakan histeris terdengar dari warga kota.Warga berhamburan. Pedagang menjatuhkan barang dagangan, anak-anak tersandung, orang-orang saling bertabrakan dalam kepanikan. Dari celah tanah itu, kabut hitam merembes keluar, lebih kental, lebih licik, seperti asap yang berpikir.“Formasi Pertahanan!” teriak Shin Wang. “Lindungi rakyat!”Para tetua Klan Shin bergerak cepat, membentuk lingkaran qi di sekeliling alun-alun. Namun kabut itu menye
Aura gelap itu datang seperti napas kematian.Tidak meledak, tidak meraung—melainkan menekan. Langit di atas Kota Xian Jin meredup, seolah matahari ditelan kabut hitam. Sorak kemenangan rakyat perlahan meredam, digantikan keheningan yang membuat bulu kuduk berdiri.Shin Tian mengangkat kepala.Udara… menjadi pekat dan berat.“Semua mundur!” teriaknya keras. “Sekarang!”Belum semua orang memahami perintah itu—BOOOM!Tanah di luar gerbang timur terbelah.Retakan raksasa menjalar seperti urat hitam, dan dari celah itu, sesuatu bangkit perlahan.Bukan hewan.Bukan sepenuhnya roh.Ia berdiri setinggi menara pengawas, tubuhnya diselimuti kabut pekat, tulangnya hitam legam dengan simbol merah menyala terukir di setiap sendi. Kepalanya menyerupai tengkorak banteng, dengan tanduk bengkok yang berdenyut seperti nadi hidup.Jenderal Roh Iblis.Makhluk yang seharusnya tertidur di lapisan terdalam Lembah Iblis.“Tidak mungkin…” bisik Shin Wang, wajahnya pucat. “Makhluk itu… setara Pembentukan Int
Shin Tian melangkah mendekat, langkahnya tenang, nyaris tak terdengar. Bajunya berkibar sedikit, dan tiap langkah seolah menekan udara di sekitar, menciptakan beban tak kasatmata yang menggantung di antara mereka. Ia berlutut perlahan di hadapan Qian’er, membiarkan matanya sejajar dengan wanita ya
Suara desir angin bergaung samar di telinganya. Perlahan, kesadaran Shin Tian mulai merangkak kembali dari kegelapan. Ia menggeliat pelan, tubuhnya terasa seperti dihantam batu besar—berat, nyeri, dan tak sepenuhnya berada di bawah kendalinya.“Ugh… aku… ada di mana?” gumamnya pelan. Suaranya terde
Deras hujan menari-nari di atas atap Menara Lonceng, memercik di atas bebatuan yang dingin dan licin. Udara malam yang basah dan dingin terasa menyesakkan, seperti ikut menindih dada Shin Tian yang sudah penuh luka.Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena udara dingin yang menusuk kulit, tapi juga kar
Langit di atas kediaman Keluarga Shin menghitam, menggantung berat seperti pertanda kutukan yang hendak turun. Awan bergulung-gulung seperti naga kelabu, dan rintik hujan mulai menari di udara, menciptakan irama lembut yang menghantam genting tua menara tua keluarga. Udara terasa lembap dan bergeta







