MasukShin Tian berdiri di ambang ruangan yang remang, matanya menyala seperti bara yang siap meledak. Suara seraknya mengiris keheningan malam, “Paman, mengapa aku tak bisa berkultivasi? Mengapa ada segel menyiksa di tubuhku?” Teriakannya menggema, seakan setiap kata adalah seruan frustasi yang telah lama terkunci dalam relung jiwanya.
Di ruang itu, bayangan kecewa menari bersama kenangan masa lalu yang penuh harapan. Ia teringat betapa ia mengabdikan seluruh hari untuk menciptakan teknologi demi kejayaan Keluarga Shin—sebuah karya-karya yang pernah ia kira akan membuat ayahnya bangga. Namun, kini di mata sang ayah, pencapaian itu hanya debu yang tercecer di jalan panjang penghinaan. Perasaan terpinggirkan melanda, bagai beban berat yang menekan setiap tarikan napasnya.
Suasana semakin meresap saat pamannya mendekat dengan langkah penuh simpati. Dengan lembut, ia berbisik, “Jangan pedulikan kata-kata ayahmu, Tian’er. Hanya amarah sesaat yang membuatnya bicara kasar.” Suaranya lembut seperti bisikan angin yang mencoba menenangkan badai emosi yang berkecamuk di dada Shin Tian.
Namun, kata-kata penghiburan itu tak mampu meredam kemarahan yang sudah merebak. Dengan dingin namun tegas, Shin Tian membalas, “Sudahlah, Paman… aku ingin sendiri.” Tangannya terkatup erat, seolah setiap jari mencoba menahan banjir air mata dan rasa hancur yang tak terhingga. Nada suaranya tersembunyi di balik suara gemuruh perasaannya yang mendalam.
Di balik segala kemarahan dan keputusasaan itu, tersembunyi sebuah kutukan yang membuatnya terasing. Segel yang membelenggu tubuhnya itu ibarat rantai tak terlihat, mengunci setiap aliran energi yang ingin ia gali. Setiap kali ia mencoba merasakan kehangatan energi spiritual, seakan dinding tak kasat mata menghalangi arus kehidupan itu, menutup segala potensi yang seharusnya menjadi miliknya.
Tak lama kemudian, Shin Tian menjauh dari kerumunan kata dan tatapan yang penuh kesedihan. Ia melangkah ke taman keluarga yang lengang, di mana angin malam berbisik pelan melalui dedaunan basah yang berkilau embun. Aroma tanah yang segar dan lembab mengisi hidungnya, membaur dengan dinginnya udara malam. Di atas langit, bintang-bintang terserak, namun cahayanya tak mampu mengusir kegelapan yang merayap dalam hatinya.
Di bawah naungan pohon raksasa yang telah menyaksikan ratusan tahun perjalanan waktu, Shin Tian berhenti dan menatap jauh ke depan. Hatinya tetap terpaku pada segel terkutuk itu—simbol kekangan yang membuatnya merasa terbuang di antara mereka yang bisa berkultivasi. Saat malam semakin larut, setiap detak jantungnya terasa seperti penentu nasib, setiap tarikan nafasnya mengungkapkan keresahan yang mendalam.
Dengan tampilan wajah yang tegas namun tersembunyi di balik bayangan luka batin, ia mengeraskan tangannya sejenak. Kuku-kukunya mencabik-cabik telapak tangan, seolah berharap rasa sakit fisik dapat mengalihkan sejenak kekosongan dan kehampaan yang merayapi pikirannya. Dalam keheningan yang mencekam itu, suara angin seakan bersuara—menceritakan sebuah kisah tentang impian yang terkunci dan takdir yang kejam, tentang jiwa yang terbelenggu dalam dunia di mana kekuatan adalah segalanya.
Setiap detik berlalu bagai pelajaran pahit, mengajarkan Shin Tian bahwa meskipun ia dilingkupi oleh kegelapan dan keterasingan, di lubuk hati masih ada sisa-sisa keinginan untuk mencari arti dan harapan. Di bawah langit malam yang penuh misteri, ia terjebak dalam pergulatan antara amarah, keputusasaan, dan harapan yang samar—sebuah perjalanan hidup yang terus bergulir, menantang takdir yang seolah telah dituliskan sejak lama.
*****
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela laboratorium, mengguratkan pola-pola emas di lantai logam. Udara masih dingin, dengan embun yang belum sepenuhnya menguap dari permukaan kaca. Di luar, burung-burung mulai berceloteh, menyambut hari yang baru. Tapi bagi Shin Tian, pagi ini tak ada bedanya dengan malam sebelumnya—sunyi, dingin, dan penuh bayangan luka.
“Tak ada gunanya teknologi yang kau ciptakan, Tian! Kau tidak bisa berkultivasi, dan di keluarga ini, hanya kekuatan kultivasi yang dihormati.”
Suara sang ayah terus bergema di kepalanya, tak peduli seberapa keras ia mencoba menenggelamkannya dengan kesibukan. Setiap kata terasa seperti paku yang dihantamkan ke dadanya, menancap dalam dan tak mau lepas. Suara itu bukan sekadar teguran—itu vonis. Penghakiman.
Shin Tian berdiri diam di depan jendela, matanya menatap jauh ke arah langit timur yang perlahan berubah warna. Awan-awan tipis melayang tenang, seolah dunia ini damai, seolah tak ada luka yang tersembunyi di balik ketenangan pagi. Tapi hatinya tak seindah langit. Ia remuk. Terasa kecil, tak berarti.
"Kau tak mengerti... tak satu pun dari kalian mengerti..." bisiknya lirih.
Bahkan paman yang dulu sering menepuk bahunya sambil tersenyum hangat kini mulai menjauh, mungkin takut dicemari oleh kegagalan Tian. Semua orang bicara, tapi tak satu pun mendengarkan. Mereka menilai dari kulit, dari hasil, bukan dari luka yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
Ia mengepalkan tangan. Udara pagi yang dingin menusuk kulitnya, tapi yang lebih menusuk adalah kenyataan bahwa ia sendirian. Dan di dalam kesendirian itu, perlahan sesuatu bangkit—sebuah amarah yang dingin, membara seperti bara yang tertutup salju.
“Segel ini... bukan akhirku.”
Suaranya rendah, nyaris tertelan angin pagi, tapi ada getaran tekad yang kuat di dalamnya. Matanya menatap jauh, menembus batas-batas kota yang mulai hidup perlahan. Ia tahu, jawaban tidak akan datang dari langit, atau dari keluarga.
Kalau tak ada yang bisa menghancurkan segel ini… maka ia akan mencari caranya sendiri. Kalau tidak bisa berkultivasi, maka ia akan menciptakan jalannya sendiri. Bahkan jika jalan itu belum pernah dilalui siapa pun.
Langit di atas alun-alun berputar liar, awan-awan kelabu tersedot ke satu titik, membentuk pusaran hitam yang menganga seperti mata raksasa. Udara mengerang. Tekanan qi melonjak tak terkendali, menusuk paru-paru, menghancurkan keseimbangan.Beberapa kultivator muda langsung terhempas berlutut. Darah menyembur dari mulut mereka, bercampur dengan debu dan hujan energi yang tak kasatmata.Shin Tian melompat mundur, menghentakkan kaki ke tanah untuk menancapkan dirinya.Braak!Permukaan batu retak di bawah telapak sepatunya.“Gerbang semu…” gumamnya lirih, mata menajam menatap pusaran itu. “Mereka benar-benar gila.”Di tengah kekacauan, Qian Mu berdiri—namun yang tersisa dari dirinya hanyalah bentuk. Sesuatu yang lain menggerakkan tubuh itu kini.Dagingnya menggelembung, tulang-tulang bergeser. Kulitnya pecah, memperlihatkan lapisan hitam berkilau seperti baja iblis. Dari punggungnya, kabut pekat memadat, membentuk sepasang sayap yang berdenyut seirama dengan pusaran di langit.Suara yang
Langit di atas Kota Xian Jin belum sepenuhnya cerah ketika tanda bahaya berikutnya muncul.BUUUM...!!!Getaran berat merambat dari kejauhan, bukan dari gerbang, bukan dari dalam kota—melainkan dari tanah di bawah kaki mereka. Batu-batu kecil melompat, air di selokan beriak liar, dan burung-burung yang tadi kembali bertengger mendadak beterbangan panik.Shin Tian mengerutkan kening.“Tidak mungkin hanya satu Jenderal Roh Iblis,” gumamnya. “Itu terlalu… biasa.”Belum selesai kalimatnya...KRAAAKKK!Tanah di tengah kota... alun-alun utama terbelah dua.Teriakan histeris terdengar dari warga kota.Warga berhamburan. Pedagang menjatuhkan barang dagangan, anak-anak tersandung, orang-orang saling bertabrakan dalam kepanikan. Dari celah tanah itu, kabut hitam merembes keluar, lebih kental, lebih licik, seperti asap yang berpikir.“Formasi Pertahanan!” teriak Shin Wang. “Lindungi rakyat!”Para tetua Klan Shin bergerak cepat, membentuk lingkaran qi di sekeliling alun-alun. Namun kabut itu menye
Aura gelap itu datang seperti napas kematian.Tidak meledak, tidak meraung—melainkan menekan. Langit di atas Kota Xian Jin meredup, seolah matahari ditelan kabut hitam. Sorak kemenangan rakyat perlahan meredam, digantikan keheningan yang membuat bulu kuduk berdiri.Shin Tian mengangkat kepala.Udara… menjadi pekat dan berat.“Semua mundur!” teriaknya keras. “Sekarang!”Belum semua orang memahami perintah itu—BOOOM!Tanah di luar gerbang timur terbelah.Retakan raksasa menjalar seperti urat hitam, dan dari celah itu, sesuatu bangkit perlahan.Bukan hewan.Bukan sepenuhnya roh.Ia berdiri setinggi menara pengawas, tubuhnya diselimuti kabut pekat, tulangnya hitam legam dengan simbol merah menyala terukir di setiap sendi. Kepalanya menyerupai tengkorak banteng, dengan tanduk bengkok yang berdenyut seperti nadi hidup.Jenderal Roh Iblis.Makhluk yang seharusnya tertidur di lapisan terdalam Lembah Iblis.“Tidak mungkin…” bisik Shin Wang, wajahnya pucat. “Makhluk itu… setara Pembentukan Int
Gerbang timur Kota Xian Jin runtuh dengan suara menggelegar.Bukan runtuh perlahan—melainkan dihantam dari luar oleh sesuatu yang berat dan hidup. Balok kayu tebal terlepas, batu bata beterbangan, dan jeritan panik rakyat bercampur dengan auman yang membuat qi para kultivator muda bergetar ketakutan.“AUUUUU—!”Seekor Serigala Tulang menerobos masuk pertama kali. Tubuhnya setinggi kuda, bulunya rontok memperlihatkan rangka putih berkilau, mata hijau fosfor menyala seperti lentera neraka. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.Di belakangnya, Kera Api melompat dari atap ke atap, tubuhnya diselimuti nyala merah, ekornya menyapu udara hingga menyisakan bau gosong. Angin berputar liar ketika Ular Angin melingkar di langit, sisiknya transparan seperti kaca, menyayat udara dengan desisan tajam.Kota Xian Jin—yang pagi tadi masih dipenuhi aroma bubur hangat dan teriakan pedagang—kini berubah menjadi ladang teror.“Lariii—!”“Anak-anak—selamatkan anak-anak!”“Penjaga kota! Di mana penjaga
Shin Tian mengikuti langkah pamannya melewati koridor kayu yang sunyi. Derit papan lantai terdengar pelan di bawah telapak kakinya, seolah rumah tua itu sendiri menahan napas. Di ujung lorong, pintu ruang utama terbuka setengah—dan di sanalah ia melihat sosok yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya.Seorang pria berdiri membelakangi mereka.Punggungnya tegap, namun garis bahunya kaku. Rambut hitam yang dulu selalu terikat rapi kini diselipi beberapa helai perak. Tangan pria itu bertumpu di atas meja kayu tua, seakan sedang menahan beban yang tak terlihat.Shin Tian berhenti.Dadanya terasa sesak.“Ayah…” suaranya nyaris tak terdengar.Tubuh pria itu bergetar halus. Perlahan, sangat perlahan, ia berbalik.Tatapan tajam yang selama ini hanya dikenal Shin Tian sebagai tatapan dingin penuh tuntutan kini bertabrakan langsung dengan matanya. Untuk sesaat, tak ada kata. Hanya keheningan yang menegang.Shin Long.Kepala Keluarga Shin.Pria yang selama ini Shin Tian yakini membencinya.Waja
Udara dingin musim semi menyusup ke pori-pori Shin Tian ketika kesadarannya kembali perlahan. Helaan napas pertamanya terasa seperti menarik dunia baru—meski ia tahu, ini dunia lamanya. Aroma tanah basah bercampur serpihan wangi bambu dan sisa hujan menari memasuki hidungnya. Embun tipis menempel di rambut dan alisnya, seakan alam sendiri sedang memeriksa apakah ia benar-benar kembali, atau hanya bayang-bayang yang tersesat di antara lipatan waktu.Ia berbaring di atas lantai batu yang dinginnya membekukan tulang. Saat pandangannya mengarah ke atas, bentuk raksasa menjulang menutup langit... menara tua yang tubuhnya diselimuti lumut, dan di puncaknya tergantung sebuah lonceng perunggu raksasa, diam tetapi sekaligus mengancam.Sebelum kesadarannya benar-benar kembali, terdengar...DONG! DONG! DONG!Suara lonceng itu menggema di seluruh dadanya seperti palu yang memaku jiwanya kembali ke dunia nyata. Detak waktu meneguhkan keberadaannya.Mata Shin Tian terbelalak. Bibirnya bergetar.







