Se connecterShin Tian meninggalkan persimpangan setelah memastikan para tawanan bergerak menuju jalur aman.Kali ini, ia tidak langsung menuju benteng batu hitam. Berdasarkan peta kuno dan keterangan para tawanan, terdapat sebuah pos penjagaan di sebelah timur permukiman. Pos itu menjadi penghubung antara gudang inti roh, ruang ritual, dan jalur suplai energi dari pegunungan.Jika ia menyerang benteng tanpa memahami susunan pertahanannya, seluruh lembah bisa berubah menjadi medan perang yang merugikan mereka.Shin Tian memilih mengamati terlebih dahulu.Ia memanjat lereng kecil dan bersembunyi di balik bebatuan. Dari sana, ia melihat puluhan kultivator berjubah hitam bergerak keluar-masuk sebuah bangunan panjang. Beberapa membawa peti batu, sementara yang lain mengawal tawanan dengan gelang hitam di pergelangan tangan.Di halaman, seorang kultivator berlatih dengan telapak tangan terbuka. Setiap kali ia menyentuh batu latihan, permukaan batu itu berubah kelabu, lalu retak seperti kayu lapuk.Shen
Gerbang batu hitam terbuka sepenuhnya.Namun, tidak ada pasukan yang menyambut Shin Tian. Di balik gerbang justru terbentang jalan menurun menuju kawasan permukiman tua yang tersembunyi di dasar lembah.Atap-atap rumah telah runtuh. Dinding kayu menghitam oleh kelembapan, sedangkan jalan berbatu tertutup rumput liar. Di tengah kawasan itu berdiri sebuah sumur tua dengan tali yang masih menggantung, bergoyang perlahan meskipun angin hampir tidak bertiup.Shen Bao mengamati sekeliling dengan waspada. “Apakah ini bekas permukiman para kultivator?”“Bukan,” jawab Shin Tian. “Lihat bentuk rumahnya. Bangunan ini dibuat untuk keluarga biasa, bukan untuk orang yang menghabiskan hidupnya berkultivasi.”Ia berjalan menuju sumur, lalu memperhatikan bekas roda gerobak yang mengeras di tanah. Jejak tersebut mengarah ke sebuah gudang batu di ujung jalan. “Tempat ini pernah dihuni banyak orang.”Luo Han mengernyitkan dahi. “Mengapa tidak tercatat dalam peta wilayah?”“Karena seseorang ingin tempat i
Raungan penjaga benteng mengguncang dinding jurang.Batu-batu kecil berjatuhan dari punggung bukit. Kabut yang menyelimuti lereng terbelah, memperlihatkan jembatan batu menuju gerbang hitam. Kedua makhluk di bawah sana bergerak bersamaan, tetapi setiap kepala menunjukkan perilaku berbeda.Kepala pertama menggeram sambil mengayunkan kapak besar. Kepala kedua tersenyum, lalu mengembuskan kabut tipis dari mulutnya.Shin Tian langsung mengangkat tangan.“Jangan menatap mata mereka terlalu lama. Mundur tiga langkah dan bersiap menghadapi ilusi!”Namun, peringatannya datang terlambat bagi salah seorang kultivator.“Di sana! Mereka bergerak ke arah kita!”Pria itu menunjuk ke sisi kanan bukit. Dalam pandangannya, puluhan makhluk berkepala dua telah mengepung mereka. Ia mengangkat pedang dan hendak menerjang, tetapi Shen Bao segera menahannya. “Berhenti! Itu bukan...”Kabut tipis menyapu wajah mereka.Dalam sekejap, pemandangan berubah.Shen Bao melihat dirinya berdiri sendirian di tengah med
“Jangan berpencar!” bentak Shin Tian. “Shen Bao, lindungi sisi kiri! Luo Han, mundur ke tengah! Dua orang lainnya, bentuk pertahanan silang!”Keempat kultivator bergerak sesuai perintah. Shin Tian mengambil posisi di depan, menggunakan pohon besar sebagai pembatas agar kawanan serigala tidak dapat mengepung mereka sekaligus.Serigala pertama melompat.Shin Tian memiringkan tubuh, menghindari cakarnya, lalu menghantam bagian bawah rahang makhluk itu dengan telapak tangan. Serigala tersebut terlempar ke samping dan menabrak batang pohon.Dua serigala lain menerjang dari kanan.Shen Bao menangkis dengan pedangnya, sementara Luo Han melemparkan jimat api ke tanah. Ledakan kecil memaksa kawanan itu mundur sesaat.Namun, serigala bertanduk tiga tidak mundur.Makhluk itu menggeram, kemudian menghentakkan kaki. Gelombang qi hitam menyebar di tanah, membuat kabut berputar dan mengacaukan pandangan.“Jangan kejar mereka!” perintah Shin Tian. “Pertahankan posisi!”Ia mengambil tiga batu kecil da
Kabut kelabu menelan jalan setapak di hadapan Shin Tian.Udara lembap menusuk kulit, sementara bau busuk bercampur aroma logam memenuhi hidung. Di bawah pepohonan tua, tulang-belulang hewan roh berserakan seperti sampah setelah pembantaian. Sebagian masih memiliki tanduk yang utuh, sedangkan yang lain tinggal tengkorak dengan rongga mata menghitam.Luo Han menelan ludah. Luka di tubuhnya memang mulai pulih setelah meminum pil pemberian Shin Tian, tetapi pemandangan di hadapannya membuat darahnya kembali terasa dingin.“Tempat ini tidak seperti yang kulihat sebelum diserang,” bisiknya. “Dulu hanya ada beberapa tulang. Sekarang jumlahnya ratusan.”Shin Tian berjongkok di samping tengkorak seekor serigala bertanduk. Ia menyentuh tanah dengan dua jari, lalu menggosokkan butiran hitam di antara kuku.“Bukan karena jumlah hewan roh bertambah,” katanya. “Sesuatu telah menarik mereka ke tempat ini.”“Energi iblis?” tanya seorang kultivator bernama Shen Bao.“Sebagian benar. Namun, lihat tanah
Shin Wang menghela napas berat. “Baiklah. Tetapi jika kau kembali dengan luka sebesar telapak tangan, aku akan memastikan kau menjalani latihan pemulihan selama sebulan.”Shin Tian tersenyum tipis. “Kalau lukanya sebesar mangkuk?”“Dua bulan.”“Kalau hanya lecet?”“Tiga bulan. Karena berarti kau ceroboh.”Shin Tian mengangkat kedua tangan menyerah.“Baik, aku akan berusaha pulang tanpa membawa satu pun luka. Rupanya, ancaman Paman lebih menakutkan daripada iblis.”Beberapa tetua tertawa kecil. Ketegangan di ruangan sedikit mencair, tetapi Shin Long tetap terlihat serius.Sebelum Shin Tian pergi, ayahnya memanggilnya. “Tian'er.”Shin Tian berhenti di ambang pintu.“Jangan menganggap dirimu harus menanggung semuanya sendirian. Kau memang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang lain, tetapi itu bukan alasan untuk mempertaruhkan nyawamu tanpa perhitungan.”Tatapan Shin Tian melunak. “Aku mengerti, Ayah.”Kali ini, ia tidak menjawab sekadar untuk menenangkan ayahnya. Ia benar-benar mem
Udara malam terasa berat, lembap, dan penuh listrik. Di tengah bengkel tersembunyi yang penuh roda-roda gigi, kabel-kabel berserakan, dan bau logam yang tajam, berdiri Shin Tian. Ia berdiri terpaku, matanya menyapu siluet mesin waktu yang menjulang seperti raksasa logam dalam kabut tipis uap panas.
Ruang laboratoriumnya tak luas, tapi terasa seperti dunia lain. Lampu-lampu panel menyala lembut, memantulkan sinar ke meja kerja yang penuh dengan serpihan logam, kabel, dan skema digital yang melayang di udara. Suara mesin-mesin kecil mulai berdengung perlahan, menyatu menjadi simfoni pagi yang h
Shin Tian berdiri di ambang ruangan yang remang, matanya menyala seperti bara yang siap meledak. Suara seraknya mengiris keheningan malam, “Paman, mengapa aku tak bisa berkultivasi? Mengapa ada segel menyiksa di tubuhku?” Teriakannya menggema, seakan setiap kata adalah seruan frustasi yang telah la
"Toako, kamu sudah keterlaluan!" suara Tetua Wang meledak di dalam aula utama, menggema di antara pilar-pilar batu yang menjulang seperti penjaga bisu. Matanya yang biasanya tenang kini menyala penuh amarah, urat-urat di lehernya menegang. "Bagaimana mungkin kau mengeluarkan kata-kata seperti itu?!







