ホーム / Fantasi / Legenda Sang Immortal / Bab. 48. Pengguna Mou-Pit

共有

Bab. 48. Pengguna Mou-Pit

作者: Master KidOO
last update 公開日: 2024-02-17 23:21:09

Tubuh Wan Jiang terdorong satu tombak setelah kakinya ditangkis Fang Han. Dia merasa seperti telah menendang gunung besar. Rasa kesemutan menyerang kaki Wan Jiang hingga membuat raut wajah meringis.

“Apakah orang ini memakai artefak pelindung tubuh? Iya, itu pasti seperti ini.” Wan Jiang memiliki keangkuhan tersendiri dan tidak akan mau mempercayai bahwa pada pertukaran pertama telah dirugikan oleh Fang Han.

Pertukaran pertama itu sangat singkat, tapi orang yang sadar semakin sadar. Sedangkan
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
amsuzieimanjuwita
banyakkan lg chapternya Thor
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 131

    Gambaran putih yang sebelumnya hanya samar di benak Fang Han kini perlahan menjadi nyata. Dalam sekejap, seluruh pandangannya dipenuhi hamparan putih tanpa batas. Ke mana pun ia memandang, tidak ada pohon, batu, maupun bangunan — hanya kekosongan yang membentang luas, seolah ia berdiri di tengah dunia yang belum memiliki bentuk.Fang Han tidak segera bergerak. Ia berdiri waspada, mengamati sekeliling. Tidak ada angin yang menyentuh kulitnya, tidak ada suara langkah, dan tidak ada tekanan Qi Sejati yang dapat dirasakannya. Keheningan di tempat itu begitu sempurna hingga menimbulkan perasaan ganjil. Justru karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, kewaspadaannya semakin tinggi.Pengalamannya mengajarkan: ancaman yang tak terlihat jauh lebih berbahaya daripada serangan terbuka. Di sini, ia bahkan tidak mengetahui apa yang sedang dihadapinya.Fang Han perlahan mengerahkan kesadaran spiritual ke segala arah. Namun, kesadarannya seolah terhalang kabut tak bertepi — semakin jauh i

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 130

    Fang Han tidak menghiraukan tatapan Mo Yang.Setelah memastikan kondisi tubuhnya cukup stabil, ia mengarahkan pandangan ke anak tangga berikutnya. Fang Han mengangkat kaki.Saat telapak kakinya menyentuh anak tangga ke-302, tidak ada ledakan aura ataupun perubahan mencolok pada lingkungan sekitar. Namun, beberapa saat kemudian, ia merasakan hawa dingin merambat dari telapak kaki menuju seluruh tubuhnya.Ia berhenti dan menundukkan kepala, memperhatikan permukaan batu di bawah kakinya. Tidak ada formasi yang terlihat, juga tidak ada rune yang muncul. Akan tetapi, hawa dingin itu terus meningkat, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menguji ketahanan tubuhnya dari dalam.“Menarik...” Fang Han tidak segera melangkah lebih jauh. Sebaliknya, ia berdiri diam dan membiarkan sensasi tersebut menyebar.Pada saat yang sama, ia mencoba mengamati apakah pemahaman yang baru diperolehnya di Kuburan Pedang memberikan pengaruh terhadap tekanan ini.Sayangnya, tidak ada respons yang jelas.Niat Pedan

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 129

    Sementara di Tangga Menembus Langit, Fang Han perlahan membuka matanya.Pemandangan Kuburan Pedang yang dipenuhi kabut kelabu telah menghilang. Sebagai gantinya, hamparan anak tangga batu kembali terbentang di hadapannya. Angin dingin berembus melewati tubuhnya, membawa serta tekanan aneh yang masih tertinggal di udara.Fang Han masih berada di anak tangga ke-301 Tangga Menembus Langit.Namun, sesuatu telah berubah.Fang Han menundukkan kepala dan mengamati kedua tangannya. Tidak ada luka yang terlihat, tetapi sensasi seolah-olah ribuan pedang masih mengiris kesadarannya belum sepenuhnya lenyap. Pengalaman di Kuburan Pedang terlalu nyata untuk dianggap sekadar ilusi. Setiap langkah yang diambilnya menuju puncak gunung pedang itu telah memaksanya menghadapi batas kemampuan jiwa spiritualnya sendiri.Terlebih lagi, pedang kayu polos yang disentuh di puncak masih terukir jelas dalam ingatan Fang Han.Niat Pedang Asal — Kun Peng Menelan Langit!Nama itu muncul kembali di benaknya, diikut

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 128

    Retak... retak...Retakan halus itu bukan lagi muncul di pedang-pedang di sekitarnya. Retakan itu muncul di tubuh jiwa Fang Han sendiri.Sosoknya yang semula padat kini berkedip-kedip. Transparan. Seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai niat pedang.Seratus langkah lagi menuju puncak Kuburan Pedang. Seratus langkah yang terasa seperti seratus tahun.“Aku... sudah mencapai batas…”Fang Han berlutut. Lutut jiwanya menghantam tanah yang dipenuhi pecahan pedang berkarat. Setiap tarikan nafas, ribuan bilah tak kasatmata mengiris lautan kesadarannya.Di belakangnya, jalan yang telah ia lalui perlahan menghilang ditelan kabut kelabu. Tidak ada jalan untuk mundur.Di depannya, puncak yang memancarkan cahaya menyilaukan itu masih menggantung, dingin dan tidak peduli.Untuk pertama kalinya sejak datang ke Alam Tiga Puluh Delapan Provinsi Dao Surgawi, Fang Han merasakan keputusasaan yang sesungguhnya. Bukan karena musuh lebih kuat. Tapi karena tubuhnya sendiri yang menolak untuk melangk

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 127

    Begitu Fang Han memasuki kondisi meditasi, dunia di sekitarnya seketika lenyap.Tekanan spiritual yang semula terus menghantam lautan kesadarannya tiba-tiba berubah menjadi pusaran yang menelan seluruh kesadaran.Wussh!Dalam sekejap mata, Fang Han mendapati dirinya telah berdiri di sebuah dunia yang sama sekali asing.Di hadapan Fang Han menjulang sebuah gunung raksasa yang diselimuti kabut kelabu. Dari kaki hingga puncaknya, ribuan bahkan puluhan ribu pedang tertancap di tanah. Ada pedang yang masih utuh dan memancarkan cahaya dingin, ada pula yang telah berkarat, patah, bahkan hanya menyisakan gagangnya saja.“Tempat ini ...” gumam Fang Han dalam hati. Tatapannya perlahan menyapu seluruh gunung. “Kuburan Pedang.”Begitu pikiran itu muncul, hawa dingin langsung menjalari punggung Fang Han.Walaupun tempat ini dipenuhi pedang-pedang yang telah lama tertancap di tanah, aura yang dipancarkan setiap bilahnya masih sangat mengerikan. Niat pedang yang tajam berpadu dengan aura membunuh

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 126

    Melihat Fang Han terus melesat tanpa sedikit pun memperlambat langkahnya, Song Yifeng segera menggertakkan gigi. Rasa malu akibat bentrokan sebelumnya berubah menjadi amarah yang membakar akal sehat Song Yifeng. “Jangan harap kau bisa kabur!” bentaknya sebelum segera mengejar.Boom!Song Yifeng mengerahkan energi spiritualnya hingga batas yang mampu ia kendalikan. Sosoknya melesat dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya dengan kecepatan tinggi.Namun, baru beberapa langkah ia melangkah, wajah Song Yifen kembali berubah.Tekanan pada setiap anak tangga terus meningkat secara bertahap. Setiap kali berpindah ke tangga berikutnya, ia masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan tekanan baru yang menghantam tubuh.“Sial!” kutuk Song Yifeng dalam hati.Song Yifeng memaksa melangkah lebih cepat, tetapi tubuhnya tidak mampu mengikuti keinginannya. Semakin terburu-buru, semakin besar pula energi spiritual yang harus dikeluarkan untuk melawan tekanan Tangga Menembus Langit.S

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status