Beranda / Fantasi / Legenda Sang Immortal / Bab. 7. Dua Pekan Pemulihan

Share

Bab. 7. Dua Pekan Pemulihan

Penulis: Master KidOO
last update Terakhir Diperbarui: 2023-08-26 08:59:12

Waktu berputar, hari-hari yang dilalui Fang Han sebagian besar dihabiskan untuk memetik harpa. Sebagian lainnya digunakan untuk menyehatkan tubuh.

Ya, tentu saja Fang Han belum dapat menggunakan tenaga dalam. Itu masih sebatas tenaga otot.

Huang Liong melarang Fang Han untuk langsung pada percobaan Musik Sembilan Lautan Penenang Jiwa. Berlatih lagu itu secara acak hanya akan mengakibatkan luka tenaga dalam Fang Han semakin berat.

Fang Han berdamai dengan keadaan. Dia patuh dan tidak menjadi tergesa-gesa. Setelah hari berganti hari, hingga satu pekan terlewati dengan cepat.

Dasar-dasar dari cara memetik harpa telah dikuasai Fang Han. Saat ini, Huang Liong telah menyuruh Fang Han untuk mulai memetik dengan nada dari Musik Sembilan Lautan Penenang Jiwa.

Itu memang terasa perlahan, namun ada kepastian yang nyata dari teknik harpa tersebut. Fang Han dapat merasakan ketenangan dan penyembuhan sedikit demi sedikit pada meridian-nya yang membengkak.

Akan tetapi, Huang Liong juga dengan tegas memperingatkan Fang Han agar tidak terlibat dengan pertarungan atau menggunakan True Qi dalam waktu dekat. Itu terlalu beresiko terhadap kondisi tubuh si Pemuda.

Sepekan lainnya kembali berlalu. Hari-hari Fang Han benar-benar hanyut dalam melodi Musik Sembilan Lautan Penenang Jiwa.

Pada saat ini, Fang Han sudah biasa memainkan melodi tersebut dengan baik. Dia tentu saja memperoleh manfaat yang menyehatkan darinya.

Sore hari akhir dari pekan kedua. Huang Liong memanggil Fang Han. Itu sudah saatnya bagi Fang Han untuk pergi dari tempat tersebut. Ini tentu sesuai dengan keinginan Fang Han. Kehidupannya di Alam Tiga Puluh Delapan Provinsi Dao Surgawi memiliki tujuan yang jelas—melacak jejak kedua orang tua, Qiau Yuelin dan Su Ruoxi.

Ya, tentu saja Fang Han harus kembali berlatih. Memperkuat True Qi di dalam tubuh serta memperdalam berbagai teknik yang ia kuasai.

Dendam yang terikat antara dirinya dengan Klan Naga kuno bukanlah hal yang dapat didamaikan begitu saja. Meskipun, Klan Naga Kuno merupakan klan asli—tanah kelahiran Qiau Yuelin.

Mempersiapkan kepergian Fang Han dari kedalaman jurang itu. Huang Liong benar-benar menjadi pribadi yang saleh dan saleh.

Huang Liong tidak menjadi pelit sama sekali. Dia bukan saja menasehati Fang Han, namun juga memberikan pengetahuan akan Alam Tiga Puluh Delapan Provinsi Dao Surgawi bagi si Pemuda.

ini terkait kekuatan yang perlu diketahui Fang Han, alat pertukaran, serta berbagai sekte dan akademi yang tidak boleh diprovokasi atau dijadikan musuh.

Fang Han sangat bersyukur akan kesalehan dari Huang Liong. “Terima kasih atas segala kebaikan yang telah senior anugerahkan. Itu benar-benar membuat perjalanan junior di alam ini semakin mudah.”

Berdiri di depan Fang Han dan berjalan mendekat, Huang Liong menepuk pundak si Pemuda. Laki-laki paruh baya itu menjadi tenang dan tenang.

Kepribadian yang saleh dari Huang Liong tentu tidak sebatas hal itu saja. Huang Liong menjelaskan beberapa hal lain terkait Musik Sembilan Lautan Penenang Jiwa. “Anak muda, terkait melodi yang aku ajarkan kepadamu … itu benar-benar terikat karena jodoh atau bukan. Kelak, melodi tersebut bukan saja bisa digunakan sebagai sarana penyembuhan. Namun, juga termasuk sebagai metode pembantaian—”

Huang Liong menahan perkataannya, kesedihan tertera dengan jelas pada raut wajahnya. Ini seolah-olah dia telah melakukan pembantaian besar-besaran di jaman dahulu.

Fang Han tidak menanggapi dan membiarkan Huang Liong hanyut dalam pikirannya sendiri.

Hingga, setelah beberapa tarikan nafas selanjutnya suara laki-laki paruh baya itu kembali terdengar. “Ya, sebagai senior yang saleh. Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang Musik Sembilan Lautan Penenang Jiwa. Itu semua tergantung Anda sendiri. Apakah Anda berjodoh atau tidak dengan metode lain dari musik tersebut?”

Fang Han tidak akan menuntut apa yang dianggap oleh Huang Liong bukan hak Fang Han. Lagipula, status Huang Liong sebagai tuan penolong yang saleh benar-benar menempati tempat tersendiri di dalam hatinya.

Fang Han tidak akan membalas kebaikan dengan kejahatan. Itu bukanlah sifat yang ia miliki. Namun, terhadap metode lain dari Musik Sembilan Lautan Penenang Jiwa, Fang Han jelas tidak akan menyerah begitu saja.

Huang Liong hanya tidak memberi penjelasan tentang itu. Hal ini, berarti bahwa ia tidak melarang Fang Han untuk meneliti sendiri. Jika kemudian hari Fang Han bisa memahaminya, maka metode lain dari melodi tersebut benar-benar berjodoh dengan Fang Han.

Melihat kepribadian Fang Han yang patuh, dan tidak menuntut lebih dari apa yang dapat ia kunyah. Ada keengganan untuk berpisah terlintas dibenak Huang Liong, meskipun itu hanya sesaat saja.

Kemudian, laki-laki paruh baya ini teringat akan perkara lain terkait Fang Han. “Jadi, Anak Muda! Akademi mana yang ingin Anda tuju nanti?! Bolehkah senior ini menyarankan pilihan yang baik bagi Anda?”

Terkait hal ini, Fang Han benar-benar tidak memiliki ide yang tepat. Ya, bahkan dia tidak memiliki kristal roh untuk digunakan sebagai alat tukar perdagangan, biaya untuk mendaftarkan identitas, serta biaya untuk masuk ke akademi.

Tapi, Fang Han merasa malu untuk menjelaskan kondisi tersebut kepada Huang Liong. Rahmat yang diberikan laki-laki paruh baya tersebut sudah lebih dari apa yang bisa ditanggung si Pemuda.

Fang Han hanya bisa memperlihatkan senyum malu dan mengangkat bahu, seraya berkata, “Jika senior berkenan memberikan ide. Itu tentu akan menjadi pilihan utama junior. Junior percaya, apa yang senior sampaikan telah menjadi hal-hal baik.”

Walaupun Fang Han berusaha bersikap sangat alami seolah-olah dia tidak memiliki kesulitan sama sekali. Namun, senyum malu yang diperlihatkan si Pemuda tidak akan dapat membohongi mata tajam dari Huang Liong.

“Ah, apakah Anda tidak memiliki kristal roh sebagai landasan biaya hidup, Anda?” Laki-laki saleh itu memperlihatkan senyum ejekan, dan candaan. Akan tetapi dia mengeluarkan tiga puluh kristal roh kelas menengah dan menyerahkannya kepada Fang Han. “Meskipun jumlah ini tidak banyak. Itu sudah lebih dari cukup untuk dapat Anda pergunakan selama satu bulan kehidupan Anda.”

Fang Han menahan rasa malu dan menerima sikap murah hati lainnya dari Huang Liong. Dengan sungguh-sungguh dia berkata, “Segala kebaikan senior, untuk saat ini belum dapat junior balas. Namun, jika senior memiliki perkara yang ingin junior tuntaskan. Senior tidak perlu ragu untuk menyampaikannya.”

“Kepribadian yang baik.” Huang Liong memuji dengan tulus. “Baiklah, ini terkait akademi yang baik untuk menjadi tempat Anda bernaung. Dengan kondisi True Qi anda yang tidak dapat digunakan. Ada dua akademi yang bagus, dan mereka tidak menuntut banyak persyaratan untuk pendaftaran.”

Dengan pengetahuannya yang luas. Huang Liong tidak menjabarkan banyak akademi. Dia langsung ke tujuan. “Ini akan sangat cocok untuk Anda adalah Akademi Dewa Surgawi dan Akademi Api Surgawi. Tapi, Akademi Dewa Surgawi tidak membuka pendaftaran setiap hari. Opsi paling bagus bagi Anda adalah yang kedua.”

Fang Han tentu yakin, ada keterangan lain yang menjadi pertimbangan dari Huang Liong. “Senior memilih Akademi Api Surgawi juga karena hal lain yang menjadi keunggulan mereka, kan?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 117. Masalah Bersama

    Di area inti … angin panas berhembus pelan, namun cukup untuk membuat ujung jubah para kultivator berkibar tak beraturan. Udara terasa berat, seolah-olah setiap tarikan napas mengandung bara halus yang menggores paru-paru. Di hadapan mereka, tiga lapisan penghalang berdiri seperti tiga ujian yang memisahkan dunia luar dari misteri yang tersembunyi di dalam area inti.Dan kini, masalah yang dihadapi oleh semua orang di tempat itu, juga menjadi masalah yang harus dihadapi Fang Han—bagaimana cara memecah tiga lapisan penghalang tersebut dan masuk ke dalam area inti?Tidak ada jalan memutar. Tidak ada celah yang terlihat.Hanya ada penghalang yang harus dihancurkan. Lapisan pertama saja sudah sangat sulit untuk dipecahkan. Itu tidak hanya membutuhkan kerja sama, juga menguras Qi Sejati.Fang Han memandang dengan tenang, tetapi tatapannya tajam.Ia tidak hanya melihat api. Tapi merasakan struktur di baliknya.Energi roh yang menyelimuti kobaran itu bergerak dalam pola teratur—bukan kacau

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 116. Area Inti Tanah Salju Kuno

    Setelah menembus ke Ranah Yayasan Inti, Fang Han tidak langsung menghentikan kultivasinya melainkan masih terus duduk di tempat semula dan menstabilkan ranah kultivasi. Aura di sekeliling tubuhnya masih bergetar halus, Qi sejati di dalam dantiannya berputar dalam siklus yang lebih dalam dan lebih padat dibandingkan sebelumnya. Jika Fang Han menghentikan proses itu secara mendadak, fondasi yang baru saja terbentuk bisa menjadi tidak stabil.Fang Han menarik napas perlahan. Setiap helaannya terasa berbeda.Qi Sejati yang ia serap kini seperti memiliki saluran yang lebih luas, aliran meridian terasa lebih lancar dan kuat. Namun justru karena lonjakan itulah, ia tidak berani ceroboh.“Stabilkan dulu … jangan terburu-buru.” Fang Han berkata-kata di dalam.Ia terus memutar Qi, menghaluskan sisa-sisa gejolak energi yang masih bergema akibat penembusan ranah. Inti Yayasan di dalam dantiannya berdenyut lembut, memancarkan cahaya redup namun mantap.Proses itu tanpa disadari Fang Han telah m

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 115. Ranah Yayasan Inti

    Karena telah bersama Su Li Xiu kembali, Fang Han tidak langsung mengajak gadis itu ke area yang paling berbahaya, melainkan terlebih dahulu mempersiapkan segalanya dengan cermat. Fang Han memahami bahwa perjalanan mereka ke depan tidak akan mudah. Bahaya bisa muncul kapan saja, dan jika fondasinya sendiri belum benar-benar kokoh, maka bukan hanya dirinya yang akan terancam, tetapi juga Su Li Xiu.Fang Han menoleh sekilas ke arah gadis itu. Su Li Xiu berdiri tidak jauh darinya, pakaian birunya berkibar pelan tertiup angin lembah, wajahnya tampak tenang namun sorot matanya menyimpan kepercayaan penuh padanya. Justru karena kepercayaan itulah Fang Han semakin tidak ingin bertindak gegabah.“Li Xiu’er, Aku tidak akan masuk terlalu dalam dulu,” ujar Fang Han pelan.Su Li Xiu mengangkat alisnya sedikit. “Fang Han Gege, memiliki rencana lain?” tanyanya ringan, nada suaranya terdengar menggoda.Fang Han tersenyum tipis. “Iya, aku tidak ingin ceroboh.”Dia kemudian menambahkan dengan nada s

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 114. Tidak Akan Kenal Jika Tidak Bertarung

    Namun, mesti Fang Han telah mengerahkan segenap kemampuan istimewanya itu. Guo Tiandu tetap unggul banyak. Niat pedang yang dikuasai Guo Tiandu walaupun belum mencapai ranah penyatuan manusia dan pedang. Namun, itu hanya satu level di bawah Fang Han. Guo Tiandu diuntungkan oleh kultivasinya yang tinggi. Lagipula, ia juga seorang praktisi yang sanggup bertarung melawan lintas ranah.Di medan es yang telah porak-poranda itu, perbedaan satu level tersebut meski terasa seperti jurang yang dalam. Namun, Guo Tiandu memiliki fondasi kultivasi yang lebih tinggi.Setiap kali pedang mereka beradu, Fang Han dapat merasakan tekanan berat yang bukan hanya berasal dari kekuatan fisik, melainkan dari kedalaman pemahaman. Niat pedang Guo Tiandu stabil, padat, dan bersih. Tidak liar, tidak berlebihan. Justru karena kestabilan itulah, ia menjadi menakutkan.Fang Han mengayunkan pedangnya dengan cepat. Aura hitam bergetar mengikuti gerakan bilah, memecah udara dan memadatkan tekanan di sekitarnya. S

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 113. Niat Pedang Vs Niat Pedang

    Fang Han yang terdesak hebat akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan potensi terbaik yang ia miliki. Di bawah tekanan serangan Guo Tiandu yang semakin menggila, ia memforsir kedalaman Qi Sejati miliknya dengan cara yang hampir tak masuk akal. Aliran energi di dalam tubuh Fang Han berputar cepat, menghantam dinding meridian satu demi satu, menimbulkan rasa nyeri yang tajam seperti jarum menusuk dari dalam. Namun Fang Han tidak peduli. Dalam situasi seperti ini, sedikit kelengahan saja sudah cukup untuk membuatnya terjungkal.Teknik Langkah Dewa Seribu Tapak pun ia kembangkan secara ekstrem.Setiap langkah yang diambil Fang Han hampir tidak lagi meninggalkan jejak. Tubuh Fang Han bergerak dengan kecepatan tinggi, berpindah posisi dalam jarak pendek dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah ruang di sekitarnya terlipat dan dibuka kembali sesuai kehendaknya. Di mata orang luar, bayangan Fang Han tampak berlapis, sulit ditangkap dengan penglihatan biasa.Untuk terus

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 112. Guo Tiandu Mengambil Tindakan

    Fang Han tersenyum santai. Senyum itu tipis, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak tertekan oleh tudingan maupun sikap Guo Tiandu. Tatapan Fang Han tenang, jernih, seolah ia sedang berbincang ringan, bukan berdiri di hadapan dua orang yang jelas-jelas menghalangi jalannya.Dengan nada lugas dan tidak berbelit, Fang Han pun berbicara.“Sebagai seorang Kultivator,” ujar Fang Han dengan perlahan dan santai. “Harusnya Saudara Guo paham, bahwa kita tidak banyak berbicara dan langsung bekerja dengan tindakan.”Kalimat itu terdengar sederhana, namun sarat makna. Fang Han tidak meninggikan suara, tidak pula menunjukkan emosi berlebihan. Justru ketenangannya itulah yang membuat ucapannya terasa lebih tajam.“Karena yang terlalu banyak berbicara,” lanjut Fang Han tanpa ragu dan menyindir. “Hanyalah seorang pengecut. Tidak memiliki kemampuan, lalu sibuk memprovokasi sana dan sini.”Chu Yang yang berdiri di samping Guo Tiandu langsung menegang.Meski F

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status