Share

Bab 10 Sungai Darah

Author: Pujangga
last update Last Updated: 2026-02-27 14:13:03

Setelah cukup berbincang bersama raja kegelapan, Lintang segera kembali ke alam nyata.

Dia tidak bisa lagi mengulur waktu untuk bertemu Resi Batara Gundawarma, Lintang harus cepat menyelesaikan ujiannya.

Malam itu juga dia langsung mengajak Palwa dan Indrayan untuk melanjutkan perjalanan.

Ketiganya melesat menyibak kegelapan, sambil berjalan, Lintang banyak bertanya tentang budaya dan kehidupan di alam dewa.

Ternyata sama saja dengan dunia manusia, di sana banyak pertikaian dan peperangan.

Bangsa dewa juga memiliki ambisi dan hasrat akan kekuasaan. Bahkan mereka lebih parah dari bangsa manusia.

Rakyat kecil akan selalu tertindas oleh orang-orang besar seperti bangsawan dan penguasa.

Kesenjangan kehidupan sangat kontras di tempat itu. Sehingga meningkatkan status sosial adalah satu-satunya jalan meraih kesejahteraan.

Lintang sangat terkejut mendengar itu, dia kira alam dewa ini adalah surga. Ternyata setelah di dalami, ini jauh lebih buruk dari alam para siluman.

“Jadi apa yang dilakukan Batara Guru di sini? Bukankah dia penguasa tertinggi sekaligus dewa terkuat? Lantas mengapa dia tidak bisa menciptakan kedamaian untuk semua rakyatnya?” tanya Lintang.

“Itu …,” Indrayan tidak bisa berkata.

“Sulit sekali di jelaskan. Yang pasti Batara Guru jarang sekali ada di singgasananya,” tutur Palwa.

Palwa segan untuk membahas Batara Guru karena jika terdengar oleh dewa yang lain, maka hidupnya akan berakhir di tiang gantungan.

“Sungguh tidak bertanggungjawab,” Lintang mengepalkan tangannya.

“Sejak kapan alam dewa seperti ini?” tanya Lintang kembali.

“Aku tidak tahu, namun menurut cerita orang-orang. Perubahan tatanan hidup alam dewa sudah seperti ini sejak 5 ribu tahun yang lalu,” ungkap Palwa.

“5 ribu tahun? Apa ini ada hubungannya dengan kekacauan semesta?” gumam Lintang di dalam hati.

“Jahanam! Jika itu benar, sumber dari semua ini pasti dari Dewa Kegelapan,” umpat Lintang masih di dalam hati.

Setelah cukup mengerti, Lintang tidak lagi berbicara, dia bersama Palwa dan Indrayan terus melesat menyusuri kerimbunan pohon hutan ilusi.

Ada banyak siluman dan hewan buas yang menghadang. Tetapi dengan kesaktian Lintang, tidak ada satu pun makhluk yang dapat menghentikan perjalanannya.

Semakin lama bersama Lintang, Indrayan dan Palwa semakin terkagum akan kekuatannya.

Jika mereka berhasil lolos dalam ujian dan diterima di Sekte Pedang Kahuripan, maka keduanya berjanji akan terus mengikuti Lintang.

Waktu berlalu begitu cepat, saat ini malam sudah berganti siang, dan jarak kelompok Lintang dengan menara ujian hanya tinggal 200 kilo meter lagi.

Dengan kecepatannya sekarang, kemungkinan mereka akan tiba di sana besok siang.

Namun siapa sangka, di depan rombongan Lintang ternyata terdapat ujian berat yang harus dilewati.

Lintang menemukan banyak mayat peserta lain di tepi sungai yang terlihat aneh di mana air sungai tersebut memiliki warna merah seperti darah.

Tidak hanya mayat, tetapi peserta yang masih hidup juga ada di tempat itu.

Terdapat ratusan peserta yang sedang duduk di pinggir sungai, entah apa yang sedang mereka lakukan, yang pasti para peserta itu terlihat seperti tengah kebingungan.

Mendapati Lintang datang, mereka masih saja memberikan tatapan benci dan merendahkan.

Bahkan Indrayan dan Palwa juga ikut mendapat tatapan itu karena mereka terlihat bersama Lintang.

“Cih! Makhluk lelembut sialan itu ternyata masih hidup.”

“Sepertinya dia dibantu oleh kedua murid perguruan Talaga Sukma. Dasar pengkhianat.”

“Hahaha, biarkan mereka datang. Aku yakin para makhluk rendahan itu akan tewas di sungai ini.”

“Hahaha, aku akan sangat senang jika dia benar meregang nyawa di sini.”

Satu persatu para peserta di tempat itu mengungkapkan kebenciannya terhadap Lintang.

Sedari awal mereka memang menginginkan kematiannya, tetapi melihat kesaktian Lintang saat diseleksi pertama, tidak ada satu pun dari mereka yang berani lagi mendekatinya.

Dan sekarang di depan semua orang membentang sungai yang sangat luas. Ukurannya mencapai 300 meter. Sungai itu di namakan sungai darah, entah apa yang terjadi dengan sungai tersebut, yang pasti, setiap orang yang menginjakkan kaki di atasnya akan langsung tewas sejak langkah pertama.

Itu juga yang terjadi pada peserta lain. Mereka terlalu ceroboh dengan langsung melesat ke dalam sungai. Alhasil, para peserta itu seketika mati di sana.

Dan para peserta yang masih hidup sangat menantikan Lintang melakukan hal yang sama. Tetapi mereka tidak tahu bahwa Lintang adalah seorang pendekar yang selalu berhati-hati.

Melihat tatapan tidak mengenakkan dari para peserta, Indrayan dan Palwa hampir saja langsung melesat ke dalam sungai. Keduanya tidak tahan berlama-lama dekat bersama mereka sehingga ingin segera melewatinya.

Beruntung Lintang ada di sana menahan keduanya. “Berhenti!” seru Lintang membuat Indrayan dan Palwa langsung terdiam.

“A-ada apa tuan Lintang?” tanya Indrayan terkejut.

“Lihatlah di sana, apa kau tidak melihat banyak mayat bergelimpangan,” tunjuk Lintang ke sisi sungai.

“Itu …?” Indrayan mengerutkan kening tidak mengerti.

“Be-benar, para peserta sialan itu juga tidak beranjak dari tempatnya. Pasti ada yang salah dengan sungai ini,” Palwa segera kembali mundur menjauhi sungai.

Melihat kakak seperguruannya mundur, Indrayan juga lantas melesat dengan tergesa.

“A-da apa Palwa?” tanya Indrayan.

“Bodoh! Hampir saja kita tewas di sana, sungai itu berbahaya,” ungkap Palwa menjelaskan.

Dia juga tidak mengerti entah apa yang terjadi dengan sungai tersebut, yang pasti, kematian para peserta lain di sana sepertinya berkaitan dengan sungai.

“Palwa benar, sungai itu sangat berbahaya. Kita bahkan tidak bisa melewatinya dengan terbang,” jelas Lintang.

“Da-dari mana anda tahu tuan?” tanya Indrayan.

“Aku tidak melihat satu pun burung yang lewat di atasnya. Itu berarti sungai merah tersebut memang tidak bisa dilewati,” jawab Lintang.

“Itu …, benar juga. Ternyata aku yang ceroboh,” Indrayan menelan ludahnya.

Andai tidak ada Lintang, dia tidak bisa membayangkan entah akan bagaimana nasibnya.

Sementara semua peserta ujian yang melihat Lintang tidak jadi menyebrang begitu terlihat sangat kesal.

Ingin rasanya para peserta itu membentak dan menyerang Lintang. Tetapi tidak mereka lakukan karena sadar Lintang bukan tandingannya.

“Sial! Ternyata dia tidak sebodoh yang kita kira.”

“Cih! Dasar makhluk hina, harusnya kau mati saja di sungai itu.”

“Tapi tidak apa, dengan tertahannya dia di sini, maka lelembut sialan itu juga tidak akan lolos ujian sama seperti kita, hahaha.”

Satu persatu para peserta di sana terus menggunjing Lintang, kebenciannya terhadap pemuda itu bagaikan dendam yang sudah mengakar. Mereka tidak senang melihat Lintang berhasil. Sehingga saat Lintang tertahan, semua peserta tertawa terbahak-bahak.

Lintang sendiri mendengar apa yang mereka katakan. Telinganya yang sensitif mampu menangkap suara dari jarak yang sangat jauh.

Tetapi Lintang tidak menanggapinya, dia hanya tersenyum tipis sebelum kemudian melangkah mendekati sungai.

Dalam sekali tatap saja, Lintang sudah tahu bahwa sumber masalah di sungai itu adalah racun.

“Apa kita akan bisa melewatinya tuan?” tanya Palwa.

“Tenang saja, aku bisa membuat penawarnya. Hahaha,” Lintang tertawa.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 17 Naga Cahaya

    Banyak pengguna sihir di alam dewa, tetapi membuat pakaian sihir seindah ciptaan Lintang tidak pernah di temukan di mana pun membuat Atmarani begitu terpana mendapatkannya.Saat ini di dalam hati gadis itu berkecamuk berbagai rasa terhadap Lintang, marah, benci, geram, takjub, terpesona, dan bahagia bercampur menjadi satu sehingga Atmarani tidak bisa berkata-kata.Dia sangat ingin membunuh Lintang, tetapi juga tidak kuasa berada di dekatnya. Tubuh Atmarani entah mengapa seakan lemas di hadapan Lintang.Baru kali ini Atmarani merasakan hal seperti itu sehingga membuatnya bertanya-tanya, sihir apa yang telah Lintang tanamkan kepadanya.“Ini, ambil pakaianmu. Maafkan aku karena tidak sengaja masuk ke mari,” Lintang tiba-tiba muncul di sisi Atmarani dengan telah menyodorkan tumpukan pakaian beserta topeng kayu miliknya.Namun alih-alih senang, Atmarani entah mengapa malah seperti ketakutan sehingga dia langsung mundur beberapa langkah.“Be-berhenti di sana pe-pemuda ca-cabul,” Atmarani te

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 16 Dewi Atmarani Pratista

    KyAaaaaaaaaa!Lintang langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara tubuhnya masih telanjang bulat di sisi kolam.Begitu pula sang gadis cantik yang tidak sengaja dirinya lihat. Dia langsung menutupi semua bagian penting dari tubuhnya.Tangan kiri menyilang menutupi dua gundukan kembar di antara dadanya, sementara tangan kanan menjuntai menutupi sesuatu di antara dua kakinya.Wajah tirus dengan bibir bergelombang membuat Lintang tidak bisa berkata-kata. Dia memiliki hidung bangir dengan bulu mata lentik bagaikan haluan kapal yang sangat indah.Memiliki dua bola mata berwarna hijau cerah, dan rambut hitam panjang terurai.Sementara tubuhnya benar-benar sangat elok dengan kulit putih mulus tanpa noda.Lengkungan pinggul violin membuat pikiran Lintang mengembara pada sesuatu yang tidak semestinya. “Aaaaa! Aaaaa! Aaaaaaaa! Berengsek! Sialan! Cabul! Tidak tahu diri! Enyah kau dari sini!” maki sang gadis cantik kepada Lintang.Wajah mulusnya seketika merona karena dia juga t

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 15 Gadis Bertopeng

    Lintang merasakan ada energi dari pengikut dewa kegelapan, namun energi tersebut terlalu jauh sehingga Lintang tidak bisa memastikan di mana dan siapa pemilik energi itu.Tetapi dari sana Lintang bisa tahu bahwa pasukan raja kegelapan memang sudah berada di kota Ganestaloka.Itu membuat dia semakin waspada dalam bertindak karena salah sedikit saja, nyawanya dan seluruh penduduk kerajaan Dashaloka akan binasa di tangan mereka.Setelah menyantap berbagai hidangan di rumah makan tersebut, Lintang mengajak Palwa dan Indrayan segera kembali ke kamar penginapan. Namun waktu itu Indrayan mengatakan bahwa di pasar kota ada pemandian air hangat terbesar.Tempatnya sangat aman dan tertutup karena berada di dalam gedung yang dijaga ketat oleh para pendekar.Mendengar hal tersebut, Lintang tentu saja penasaran karena air hangat bagus untuk memperkuat susunan tulang. Terlebih air hangat yang langsung berasal dari gunung Merapi karena air tersebut mengandung zat belerang.Selain itu Lintang juga me

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 14 Bahaya Mendekat

    Sore hari di kota Ganestaloka, Lintang, Indrayan dan Palwa sudah mendapat penginapan.Secara tidak sengaja mereka memilih penginapan paling mewah dengan uang milik Lintang. Tentu saja bagi Lintang itu tidak masalah karena di dalam dimensi penyimpanannya, dia memiliki batu energi yang tidak terbatas.Sebagai seorang putra penguasa besar yang menguasai 4 alam, Lintang memiliki banyak harta kekayaan yang bangsa dewa sekalipun sulit menandinginya.Palwa sengaja memilih kamar paling besar di penginapan itu agar dapat ditempati oleh tiga orang.Namun siapa sangka, ukuran kamar tersebut bahkan mampu menampung 100 orang di dalamnya.Palwa dan Indrayan memang diberi tugas untuk memesan kamar, sementara Lintang bersembunyi di dunia dimensi.Lintang kembali muncul saat sudah di dalam kamar, dan alangkah terkejutnya pemuda itu kala mendapati kamar yang disewa Palwa ternyata begitu besar.“Apa kau ingin membuatku bangkrut Palwa?” tanya Lintang menaikkan satu alisnya.“A-a—anu tuan, maaf aku tidak

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 13 Batu Energi

    Ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan dihentikan satu hari di mana para ketua penyelenggara harus mengadakan pertemuan penting terkait kekacauan yang diciptakan Lintang.Hal itu membuat ketua perguruan lain kecewa termasuk semua peserta.Dengan dihentikannya ujian, maka semua orang yang berasal dari luar wilayah Sekte Pedang Kahuripan harus mencari tempat penginapan di kota terdekat.“Sial! Jauh-jauh aku datang ke sini hanya untuk menyaksikan para muridku lolos ujian, dan sekarang ujian dihentikan! Bukankah ini kerugian besar karena kita harus menyewa penginapan?” umpat salah satu ketua perguruan Banyu Diva.“Kau benar Bantara, sial! Mana perbekalanku sudah hampir habis lagi,” umpat salah satu ketua dari perguruan Talaga Sukma.Kedua perguruan mereka memang merupakan perguruan termiskin di kerajaan Dashaloka. Sehingga saat mendengar ujian dihentikan, keduanya begitu kalangkabut memikirkan penginapan untuk para muridnya.Sementara ketua perguruan lain kesal karena tidak sabar ingin segera

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 12 Pengacau

    Menjelang tengah hari, Lintang, Palwa, dan Indrayan berlesatan kembali melanjutkan perjalanan.Tetapi kali ini ada yang berbeda di mana di belakang mereka terdapat ratusan peserta lain yang mengikuti.Benar, Lintang menolong semua peserta yang menghinanya sehingga secara suka rela mereka berlutut meminta maaf.Palwa dan Indrayan tentu kesal melihat itu, keduanya bahkan sempat memaki semua peserta karena mereka sungguh tidak tahu malu.Tetapi Lintang tidak demikian, sifat bijak dan welas asihnya membuat semua peserta yang ada di sana mendapatkan pengampunan.Dia tidak peduli meski beberapa di antara mereka masih memendam kebencian terhadapnya di mana menurut Lintang, membantu makhluk yang membutuhkan tidak akan membuat dirinya lemah.Bahkan dengan memberi, Lintang merasa dirinya lebih berguna. Dia tidak mengharapkan pembalasan maupun pengakuan, karena yang Lintang inginkan hanyalah membuka hati para generasi dewa agar mereka bisa menjadi makhluk yang lebih baik.Perbuatannya mungkin ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status