LOGINLintang, Palwa, dan Indrayan terus melesat menuju arah utara.
Setelah pembunuh bayaran si tangan kilat, tidak ada lagi halangan yang berarti di perjalanan mereka.
Siluman, makhluk sihir, atau bahkan pohon bunga pemakan dewa, semua habis dibantai oleh Lintang.
Tidak terasa mereka telah melesat seharian penuh dan kini tengah memasuki malam membuat rombongan Lintang harus menghentikan perjalanan.
“Sepertinya tempat ini cocok untuk tempat peristirahatan kita,” ucap Lintang.
“Benar tuan Lintang, di sini nyaman,” ungkap Indrayan.
“Tapi perutku lapar,” keluh Palwa.
“Hahaha, tenang saja. Aku masih memiliki makanan, atau jika kau mau, aku bisa memasakan sesuatu untukmu,” Lintang tertawa kecil.
“Ti-tidak tuan Lintang, aku tidak mau merepotkanmu,” sergah Palwa.
“Baiklah,” Lintang menggeleng.
Dia memberikan setengah tubuh rusa bakar yang sebelumnya tidak selesai Lintang makan.
Tentu saja Palwa dan Indrayan sangat senang menerimanya. Mereka begitu kegirangan mendapatkan daging di suasana dingin seperti itu.
Lintang memang tidak membuat api unggun karena bisa memancing hewan buas, siluman, atau peserta lain.
Malam ini Lintang hanya ingin beristirahat tenang. Jadi dia tidak mau berurusan dulu dengan hal yang merepotkan.
“Daging macam apa ini …?” teriak Indrayan dengan mata berbinar.
“Yoss! Ini lezat sekali, baru pertama aku merasakan ada daging seenak ini,” seru Palwa kegirangan.
Pada awalnya tidak ada yang aneh dengan daging bakar dari Lintang. Wujud daging itu sama saja dengan daging-daging lain.
Tetapi setelah gigitan pertama, mata Indrayan dan Palwa langsung terbelalak lebar.
Mereka terkejut karena daging tersebut memberikan sensasi berbeda. Selain rasanya yang sangat nikmat, daging itu juga menambah energi mereka menjadi semakin besar.
“Hahaha, itu adalah rusa bakar berbumbu. Aku menambah tanaman langka yang bisa menambah energi pada daging tersebut,” Lintang tertawa.
“I-i—ini sungguh enak sekali tuan, ini daging terlezat yang pernah aku makan seumur hidupku. Apakah benar ini Anda yang memasaknya?” ungkap Indrayan.
Dia berkata sembari terus memasukan daging ke mulutnya tanpa henti. Begitu juga dengan Palwa. Mereka makan begitu lahap layaknya hewan rakus yang sudah lama tidak menemukan makan, membuat Lintang terus tertawa menyaksikannya.
“Hahaha, tentu saja itu masakanku. Jika kau mau, besok aku bisa memasakannya lagi untuk kalian,” ujar Lintang.
“Benarkah! Benarkah! Aku sangat ingin tuan,” Indrayan sampai menitikkan air mata karena terlalu senang.
“Hahaha, baiklah! Tapi malam ini cukup itu dulu, makan terlalu banyak tidak baik untuk perut kalian,” ucap Lintang.
“Hmmm, terima kasih tuan,” Palwa kembali menyantap daging yang masih banyak di depannya.
“Apa tuan tidak mau makan?” tanya Palwa.
“Aku sudah makan,” jawab Lintang sembari berdiri dari duduknya.
“Aku akan beristirahat, kalian berjagalah secara bergantian. Biar nanti setelah tengah malam giliran aku yang berjaga,” ungkap Lintang.
“Baik tuan, beristirahatlah, untuk urusan jaga menjaga serahkan kepada kami,” Indrayan tersenyum lebar.
“Betul tuan, kami jarang sekali tidur saat malam. Jadi jangan khawatir,” ujar Palwa menambahkan.
“Hahaha, baiklah jika begitu,” Lintang kembali tertawa, selanjutnya dia melompat tinggi pada dahanan pohon.
Di sana memang hutan lebat sehingga banyak terdapat pepohonan besar. Lintang duduk bersila di salah satu dahanan paling lebar.
“Selalu waspada Jagat, aku akan menemui seseorang dulu,” pinta Lintang.
“Tentu tuan,” ujar Jagat.
“Tapi ingat, jangan sentuh mereka,” ucap Lintang tegas.
“Iya, iya, aku akan mengingatnya,” balas Jagat.
Setelah mengatakan itu, Lintang langsung memulai meditasi. Dia melakukan pertapaan singkat menyelam jauh ke dalam tubuhnya.
Tidak lama, kesadaran Lintang tiba di sebuah tempat yang tidak asing baginya.
Dahulu tempat itu sangat gelap dan suram, tetapi sekarang sudah berubah menjadi suatu tempat yang sangat indah.
Bunga-bunga bermekaran di sana-sini, rumput hijau membentang tidak terukur, dan terdapat sebuah danau bening di tengahnya.
Di pinggiran danau tersebut tumbuh pohon-pohon delima berbuah lebat, sebuah tempat kesukaan Lintang jika sedang menyendiri.
“Sudah lama kau tidak kemari anak muda,” terdengar suara parau menyapa Lintang.
“Ya, belakangan aku sangat sibuk sekali,” ujar Lintang.
Dia terus berjalan menuju kebun delima di tepi danau, di sana Lintang mendapati sesosok pria tinggi yang sedang berdiri menatap ke arah danau.
Pria itu mengenakan pakaian serba hitam, dia terlihat begitu tenang namun memiliki aura tubuh yang sangat mengerikan.
“Bagaimana, apa dewa tua itu sudah berhasil dirimu temui?” tanya pria berpakaian hitam.
“Aku masih berjuang, semua tidak mudah sejak Dewa Kegelapan bergerak,” jawab Lintang.
“Ada informasi apa sehingga kau memanggilku Raja Kegelapan?” tanya Lintang.
“Duduklah! Ini akan sedikit mengejutkan,” ujar pria berpakaian hitam.
Lintang tidak mengerti, tetapi dia segera duduk di sisi pria itu, Lintang menengadah ke arah danau melihat keindahan dengan tatapan kosong.
“Kau tahu kepingan ruhku akan selalu terbagi pada setiap putra Galuh?” tanya raja kegelapan.
“Tentu saja karena aku juga salah satu putranya,” jawab Lintang.
“Hanya ada aku dan adikku Arga yang memiliki kepingan ruhmu,” sambung Lintang.
“Sejak aku tidak bisa merasakan kepingan ruhku pada ayahmu, tidak lama ini aku juga merasakan sebagian kepingan ruhku hilang pada adikmu,” ungkap raja kegelapan membuat Lintang langsung berdiri.
“Apa maksudmu?” teriak Lintang terkejut.
“Aku juga tidak tahu pasti tentang itu, tetapi kepingan ruhku pada tubuh adikmu hilang entah ke mana,” jawab pria berpakaian hitam.
“Apa jangan-jangan … tidak mungkin! Aku dengar Arga bahkan lebih sakti dariku, tidak mungkin dia ….”
“Jangan mengambil kesimpulan yang akan membuat dirimu terluka bodoh! Semua belum pasti,” potong pria berpakaian hitam.
“Ja-jadi apa yang harus aku lakukan?” Lintang tidak bisa berpikir jernih, dia terlalu takut adiknya mengalami sesuatu yang buruk.
“Cepat temui dewa tua yang kukatakan, setelah berhasil membuka potensi dirimu lebih dalam, kau harus segera bergerak menuju alam Bungusan,” tutur pria berpakaian hitam.
“Itu …, baiklah!” Lintang mengepalkan tangan kuat menahan amarah.
Dia marah bukan pada pria di sampingnya, tetapi pada Dewa Kegelapan yang sudah merusak kedamaian keluarganya.
“Ada satu lagi,” ujar pria berpakaian hitam.
“Apa? Katakanlah,” pinta Lintang cepat.
“Aku merasakan pasukan si dewa terkutuk itu telah tiba di Mayapada, kau berhati-hatilah,” ungkap pria berpakaian hitam.
“Mereka …? Sial! Apa mereka tahu aku di sini?” tanya Lintang.
“Aku tidak tahu, yang pasti, mereka datang tidak untuk bertamasya,” ujar pria berpakaian hitam.
“Jika seperti ini, kemungkinan alam dewa juga akan benar-benar hancur oleh mereka,” Lintang berdecak kesal.
Energinya saat ini masih terlalu lemah untuk menghadapi pasukan Dewa Kegelapan.
Jika para pasukan ini menunjukkan diri, Lintang tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa dirinya lakukan saat ini adalah tetap menyembunyikan identitasnya.
“Hindari bertemu dewa setingkat batara selain si Gundawarma, apalagi dengan Batara Guru. Indentitasmu akan langsung diketahui oleh mereka,” pria berpakaian hitam mengingatkan.
**
Banyak pengguna sihir di alam dewa, tetapi membuat pakaian sihir seindah ciptaan Lintang tidak pernah di temukan di mana pun membuat Atmarani begitu terpana mendapatkannya.Saat ini di dalam hati gadis itu berkecamuk berbagai rasa terhadap Lintang, marah, benci, geram, takjub, terpesona, dan bahagia bercampur menjadi satu sehingga Atmarani tidak bisa berkata-kata.Dia sangat ingin membunuh Lintang, tetapi juga tidak kuasa berada di dekatnya. Tubuh Atmarani entah mengapa seakan lemas di hadapan Lintang.Baru kali ini Atmarani merasakan hal seperti itu sehingga membuatnya bertanya-tanya, sihir apa yang telah Lintang tanamkan kepadanya.“Ini, ambil pakaianmu. Maafkan aku karena tidak sengaja masuk ke mari,” Lintang tiba-tiba muncul di sisi Atmarani dengan telah menyodorkan tumpukan pakaian beserta topeng kayu miliknya.Namun alih-alih senang, Atmarani entah mengapa malah seperti ketakutan sehingga dia langsung mundur beberapa langkah.“Be-berhenti di sana pe-pemuda ca-cabul,” Atmarani te
KyAaaaaaaaaa!Lintang langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara tubuhnya masih telanjang bulat di sisi kolam.Begitu pula sang gadis cantik yang tidak sengaja dirinya lihat. Dia langsung menutupi semua bagian penting dari tubuhnya.Tangan kiri menyilang menutupi dua gundukan kembar di antara dadanya, sementara tangan kanan menjuntai menutupi sesuatu di antara dua kakinya.Wajah tirus dengan bibir bergelombang membuat Lintang tidak bisa berkata-kata. Dia memiliki hidung bangir dengan bulu mata lentik bagaikan haluan kapal yang sangat indah.Memiliki dua bola mata berwarna hijau cerah, dan rambut hitam panjang terurai.Sementara tubuhnya benar-benar sangat elok dengan kulit putih mulus tanpa noda.Lengkungan pinggul violin membuat pikiran Lintang mengembara pada sesuatu yang tidak semestinya. “Aaaaa! Aaaaa! Aaaaaaaa! Berengsek! Sialan! Cabul! Tidak tahu diri! Enyah kau dari sini!” maki sang gadis cantik kepada Lintang.Wajah mulusnya seketika merona karena dia juga t
Lintang merasakan ada energi dari pengikut dewa kegelapan, namun energi tersebut terlalu jauh sehingga Lintang tidak bisa memastikan di mana dan siapa pemilik energi itu.Tetapi dari sana Lintang bisa tahu bahwa pasukan raja kegelapan memang sudah berada di kota Ganestaloka.Itu membuat dia semakin waspada dalam bertindak karena salah sedikit saja, nyawanya dan seluruh penduduk kerajaan Dashaloka akan binasa di tangan mereka.Setelah menyantap berbagai hidangan di rumah makan tersebut, Lintang mengajak Palwa dan Indrayan segera kembali ke kamar penginapan. Namun waktu itu Indrayan mengatakan bahwa di pasar kota ada pemandian air hangat terbesar.Tempatnya sangat aman dan tertutup karena berada di dalam gedung yang dijaga ketat oleh para pendekar.Mendengar hal tersebut, Lintang tentu saja penasaran karena air hangat bagus untuk memperkuat susunan tulang. Terlebih air hangat yang langsung berasal dari gunung Merapi karena air tersebut mengandung zat belerang.Selain itu Lintang juga me
Sore hari di kota Ganestaloka, Lintang, Indrayan dan Palwa sudah mendapat penginapan.Secara tidak sengaja mereka memilih penginapan paling mewah dengan uang milik Lintang. Tentu saja bagi Lintang itu tidak masalah karena di dalam dimensi penyimpanannya, dia memiliki batu energi yang tidak terbatas.Sebagai seorang putra penguasa besar yang menguasai 4 alam, Lintang memiliki banyak harta kekayaan yang bangsa dewa sekalipun sulit menandinginya.Palwa sengaja memilih kamar paling besar di penginapan itu agar dapat ditempati oleh tiga orang.Namun siapa sangka, ukuran kamar tersebut bahkan mampu menampung 100 orang di dalamnya.Palwa dan Indrayan memang diberi tugas untuk memesan kamar, sementara Lintang bersembunyi di dunia dimensi.Lintang kembali muncul saat sudah di dalam kamar, dan alangkah terkejutnya pemuda itu kala mendapati kamar yang disewa Palwa ternyata begitu besar.“Apa kau ingin membuatku bangkrut Palwa?” tanya Lintang menaikkan satu alisnya.“A-a—anu tuan, maaf aku tidak
Ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan dihentikan satu hari di mana para ketua penyelenggara harus mengadakan pertemuan penting terkait kekacauan yang diciptakan Lintang.Hal itu membuat ketua perguruan lain kecewa termasuk semua peserta.Dengan dihentikannya ujian, maka semua orang yang berasal dari luar wilayah Sekte Pedang Kahuripan harus mencari tempat penginapan di kota terdekat.“Sial! Jauh-jauh aku datang ke sini hanya untuk menyaksikan para muridku lolos ujian, dan sekarang ujian dihentikan! Bukankah ini kerugian besar karena kita harus menyewa penginapan?” umpat salah satu ketua perguruan Banyu Diva.“Kau benar Bantara, sial! Mana perbekalanku sudah hampir habis lagi,” umpat salah satu ketua dari perguruan Talaga Sukma.Kedua perguruan mereka memang merupakan perguruan termiskin di kerajaan Dashaloka. Sehingga saat mendengar ujian dihentikan, keduanya begitu kalangkabut memikirkan penginapan untuk para muridnya.Sementara ketua perguruan lain kesal karena tidak sabar ingin segera
Menjelang tengah hari, Lintang, Palwa, dan Indrayan berlesatan kembali melanjutkan perjalanan.Tetapi kali ini ada yang berbeda di mana di belakang mereka terdapat ratusan peserta lain yang mengikuti.Benar, Lintang menolong semua peserta yang menghinanya sehingga secara suka rela mereka berlutut meminta maaf.Palwa dan Indrayan tentu kesal melihat itu, keduanya bahkan sempat memaki semua peserta karena mereka sungguh tidak tahu malu.Tetapi Lintang tidak demikian, sifat bijak dan welas asihnya membuat semua peserta yang ada di sana mendapatkan pengampunan.Dia tidak peduli meski beberapa di antara mereka masih memendam kebencian terhadapnya di mana menurut Lintang, membantu makhluk yang membutuhkan tidak akan membuat dirinya lemah.Bahkan dengan memberi, Lintang merasa dirinya lebih berguna. Dia tidak mengharapkan pembalasan maupun pengakuan, karena yang Lintang inginkan hanyalah membuka hati para generasi dewa agar mereka bisa menjadi makhluk yang lebih baik.Perbuatannya mungkin ak







