LOGINSetelah berbincang sedikit dengan sang dewa tua, Lintang langsung melesat memasuki portal.
Dia adalah peserta terakhir yang masuk ke sana sehingga saat Lintang tiba, pemuda itu tidak menemukan siapa pun.
Lintang seketika muncul di sebuah hutan lebat dengan pepohonan berdaun lebar.
Di sana dia langsung dapat merasakan energi sihir yang kuat membuat Lintang segera melapisi tubuhnya dengan tenaga dalam. Jika tidak, maka dia akan terperangkap ke dalam ilusi.
“Tidak heran di sini banyak dewa yang mati, ternyata ada aura gelap juga,” gumam Lintang mengerutkan kening.
“Aku juga merasakan banyak aura membunuh tuan, seperti para peserta memang berniat saling membunuh di tempat ini. Berhati-hatilah,” terdengar suara tongkat semesta mengingatkan.
“Aku mengerti jagat,” ujar Lintang.
Lintang tidak langsung melesat melakukan ujian melewati hutan tersebut, tetapi malah berburu rusa untuk dia bakar di sana.
“Baru saja kuingatkan tuan malah kelayapan menyusuri hutan. Bukankah ini akan memperburuk situasi dirimu tuan?”
“Hahaha, perutku lapar Jagat. Jadi apa salahnya berburu terlebih dahulu,” Lintang tertawa.
“Terserah tuanlah,” Jagat tidak lagi berkata apa-apa pada tuannya di mana Lintang memang keras kepala. Dia selalu saja bertindak sesuka hatinya.
Siapa sangka ternyata di hutan itu terdapat banyak binatang buruan, sehingga dalam waktu singkat, Lintang sudah mendapat satu ekor rusa berukuran sedang.
“Hahaha, nasibku memang mujur,” Lintang tertawa.
Selanjutnya dia melesat mencari tempat yang nyaman untuk makan. Setelah menemukannya, Lintang segera membuat perapian dari kayu bakar.
Sambil mengingat-ingat keluarganya, Lintang memanggang rusa itu.
Berbagai gambaran pesan Galuh muncul di sana membuat Lintang menitikkan air mata.
“Di mana sebenarnya kau ayah, apakah dirimu masih ada atau mungkin sudah tiada. Tidak kasihankah dirimu kepada ibunda, dia sakit karena memikirkanmu. Kakek Dewangga kini sedang berjuang berperang melawan organisasi Sui di dunia kita. dan adikku Arga juga tidak kunjung ada kabar,” tutur Lintang lirih mengungkapkan keluh kesahnya.
“Andai ayah dahulu memberitahuku di mana keberadaan adikku, mungkin aku bisa menemuinya. Tetapi ayah terlalu banyak rahasia,” sambung Lintang.
Ada sedikit rasa kesal di hati Lintang kepada ayahnya di mana Galuh memang tidak pernah berterus terang.
“Setelah berhasil menemui Resi Batara Gundawarma, aku akan mencarimu Arga. bertahanlah sampai aku tiba di sana,” gumam Lintang.
“Tuan! Tuan! Tuan! Oii Tuan,” teriak tongkat semesta terus memanggil Lintang.
“Jagat? Ada apa?” tanya Lintang yang baru saja terbangun dari lamunannya.
“Rusanya sudah matang, cepatlah makan. Bukankah tuan harus menyelesaikan ujian,” ujar Jagat.
Ternyata yang sedari tadi memanggang rusa itu adalah Jagat. Lintang menggunakan tubuh tongkat semesta untuk menusuk daging rusa membuat Jagat harus melayang-layang di atas api sampai rusa milik tuannya matang.
Dan di saat telah matang, Lintang malah termangu tenggelam dalam lamunan sehingga Jagat harus berteriak beberapa kali untuk membangunkannya.
“Haisss, maaf Jagat. Aku sepertinya melamun,” Lintang tersenyum bodoh seraya menatap Jagat yang masih melayang-layang di atas bara api.
“Sudahlah! Cepat makan tuan,” Jagat mendekat memberikan daging rusa bakar yang telah matang.
“Hahaha, tentu saja. Terima kasih,” Lintang tertawa.
Selanjutnya dia menyantap daging tersebut dengan lahap. Tentu saja, itu karena Lintang telah menambahkan beberapa bumbu pada daging rusa sehingga rasanya menjadi sangat nikmat.
Selain pendekar sakti, Lintang juga dijuluki dewa masak karena memiliki kemampuan mengolah makanan hingga menjadi sangat enak.
“Haaaah, sudah lama aku tidak makan senikmat ini Jagat, suasana hutan memang selalu menjadi yang terbaik, hahaha,” Lintang tertawa kegirangan.
Dia berhenti dulu memasukkan daging ke mulutnya karena ingin mengungkapkan bagaimana rasa daging tersebut kepada Jagat.
Namun saat Lintang akan kembali menyantap makanannya, sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara teriakan seseorang yang meminta tolong membuat Lintang langsung berdiri untuk mencari sumber suara.
“Sial! Acara makanku sepertinya harus berhenti,” umpat Lintang.
Tidak ingin membuang makanannya, Lintang langsung mengibaskan tangan membuat daging rusa bakar di sana seketika lenyap masuk ke dalam dimensi penyimpanan.
Setelah itu, Dia menghilang dari pandangan dan muncul kembali di tempat sumber suara.
Ternyata di ujung lain hutan sedang terjadi pertarungan antara 2 pendekar dengan puluhan monster siluman kuat alam dewa.
Para monster itu berupa kadal besar bermata merah yang dapat menyemburkan api dan racun mematikan.
Bagian tubuh dewa yang terkena racun tersebut akan melepuh terbakar hingga menyisakan tulang, sehingga kedua pendekar di sana sulit mendekatinya.
Mereka kini sedang terpojok, sudah terdapat banyak luka bakar di tubuh keduanya. Terlebih salah satu tangan dari mereka tidak bisa digerakkan karena melepuh terkena racun.
Lintang mengerutkan kening melihat kedua pendekar itu, dia ingat mereka adalah peserta ujian yang pertama kali menghina Lintang.
“Tuan?” seru Jagat.
“Benar, kedua orang itu yang menghadang kita di gerbang perguruan,” ucap Lintang.
“Jangan ditolong tuan, mereka bahkan telah meludahimu saat tuan baru saja datang,” Jagat mengingatkan.
Lintang masih mengerutkan kening mempertimbangkan saran dari senjatanya. Tetapi melihat kondisi kedua pendekar muda di sana sangat mengenaskan, hati Lintang tidak bisa diam.
“Mereka tetap makhluk seperti kita Jagat. Semua orang pernah berbuat salah termasuk aku, jadi aku tidak bisa membiarkannya tewas di depan mataku,” tutur Lintang sembari melesat menghadang 2 monster kadal yang akan memangsa mereka.
“Jurus tapak petapa!” seru Lintang meninjukan tapaknya tepat pada kepala kadal.
Wusssh! BUM! BUM!
Dua kadal yang terkena tinjuannya seketika meledak menjadi serpihan daging.
Darah mereka berhamburan ke mana-mana, sementara serpihan dagingnya menghujani kedua pendekar yang tengah ketakutan di sana.
Keduanya tengah berlutut pasrah menerima kematian. Mereka sudah tidak sanggup lagi melawan.
Tetapi siapa sangka nyawanya masih selamat di tolong oleh seorang pemuda berambut putih yang tiada lain adalah orang yang pernah mereka rendahkan.
“Pe-pe-pendekar,” Salah satu dari keduanya terbata.
“Tunggu di sana, aku akan membereskan para makhluk itu terlebih dahulu,” ucap Lintang tanpa berbalik.
Selanjutnya sosok Lintang kembali lenyap dari pandangan, dia melesat maju membantai puluhan monster kadal menggunakan tongkat semesta.
Suara ledakan dan gelombang energi berlesatan bagaikan kembang api di hari perayaan.
Potongan tubuh dan darah berhamburan memenuhi permukaan tanah membuat kedua pendekar melebarkan mata menyaksikannya.
“Di-dia …?” gumam salah satu pendekar terkejut.
“Ke-kesaktiannya bahkan hampir menyamai para ketua Sekte Pedang Kahuripan,” ungkap temannya.
Tanpa sadar mereka telah menelan ludah merasa ngeri. Melihat kekuatan Lintang, keduanya sangat malu dan takut.
Malu karena pernah menghina Lintang dan merendahkannya, sementara takut khawatir Lintang menaruh dendam.
Keduanya baru menyadari andai waktu itu Lintang mau, maka bisa saja Lintang membunuh mereka di depan gerbang perguruan.
Tetapi saat itu Lintang tidak melakukannya membuat mereka sangat malu mengingatnya.
Dalam waktu singkat, puluhan monster kadal tewas tanpa jasad. Racun dan api mereka tidak mampu menggores tubuh Lintang di mana tubuh pemuda itu dilapisi energi dari jurus petapa naga.
**
Banyak pengguna sihir di alam dewa, tetapi membuat pakaian sihir seindah ciptaan Lintang tidak pernah di temukan di mana pun membuat Atmarani begitu terpana mendapatkannya.Saat ini di dalam hati gadis itu berkecamuk berbagai rasa terhadap Lintang, marah, benci, geram, takjub, terpesona, dan bahagia bercampur menjadi satu sehingga Atmarani tidak bisa berkata-kata.Dia sangat ingin membunuh Lintang, tetapi juga tidak kuasa berada di dekatnya. Tubuh Atmarani entah mengapa seakan lemas di hadapan Lintang.Baru kali ini Atmarani merasakan hal seperti itu sehingga membuatnya bertanya-tanya, sihir apa yang telah Lintang tanamkan kepadanya.“Ini, ambil pakaianmu. Maafkan aku karena tidak sengaja masuk ke mari,” Lintang tiba-tiba muncul di sisi Atmarani dengan telah menyodorkan tumpukan pakaian beserta topeng kayu miliknya.Namun alih-alih senang, Atmarani entah mengapa malah seperti ketakutan sehingga dia langsung mundur beberapa langkah.“Be-berhenti di sana pe-pemuda ca-cabul,” Atmarani te
KyAaaaaaaaaa!Lintang langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara tubuhnya masih telanjang bulat di sisi kolam.Begitu pula sang gadis cantik yang tidak sengaja dirinya lihat. Dia langsung menutupi semua bagian penting dari tubuhnya.Tangan kiri menyilang menutupi dua gundukan kembar di antara dadanya, sementara tangan kanan menjuntai menutupi sesuatu di antara dua kakinya.Wajah tirus dengan bibir bergelombang membuat Lintang tidak bisa berkata-kata. Dia memiliki hidung bangir dengan bulu mata lentik bagaikan haluan kapal yang sangat indah.Memiliki dua bola mata berwarna hijau cerah, dan rambut hitam panjang terurai.Sementara tubuhnya benar-benar sangat elok dengan kulit putih mulus tanpa noda.Lengkungan pinggul violin membuat pikiran Lintang mengembara pada sesuatu yang tidak semestinya. “Aaaaa! Aaaaa! Aaaaaaaa! Berengsek! Sialan! Cabul! Tidak tahu diri! Enyah kau dari sini!” maki sang gadis cantik kepada Lintang.Wajah mulusnya seketika merona karena dia juga t
Lintang merasakan ada energi dari pengikut dewa kegelapan, namun energi tersebut terlalu jauh sehingga Lintang tidak bisa memastikan di mana dan siapa pemilik energi itu.Tetapi dari sana Lintang bisa tahu bahwa pasukan raja kegelapan memang sudah berada di kota Ganestaloka.Itu membuat dia semakin waspada dalam bertindak karena salah sedikit saja, nyawanya dan seluruh penduduk kerajaan Dashaloka akan binasa di tangan mereka.Setelah menyantap berbagai hidangan di rumah makan tersebut, Lintang mengajak Palwa dan Indrayan segera kembali ke kamar penginapan. Namun waktu itu Indrayan mengatakan bahwa di pasar kota ada pemandian air hangat terbesar.Tempatnya sangat aman dan tertutup karena berada di dalam gedung yang dijaga ketat oleh para pendekar.Mendengar hal tersebut, Lintang tentu saja penasaran karena air hangat bagus untuk memperkuat susunan tulang. Terlebih air hangat yang langsung berasal dari gunung Merapi karena air tersebut mengandung zat belerang.Selain itu Lintang juga me
Sore hari di kota Ganestaloka, Lintang, Indrayan dan Palwa sudah mendapat penginapan.Secara tidak sengaja mereka memilih penginapan paling mewah dengan uang milik Lintang. Tentu saja bagi Lintang itu tidak masalah karena di dalam dimensi penyimpanannya, dia memiliki batu energi yang tidak terbatas.Sebagai seorang putra penguasa besar yang menguasai 4 alam, Lintang memiliki banyak harta kekayaan yang bangsa dewa sekalipun sulit menandinginya.Palwa sengaja memilih kamar paling besar di penginapan itu agar dapat ditempati oleh tiga orang.Namun siapa sangka, ukuran kamar tersebut bahkan mampu menampung 100 orang di dalamnya.Palwa dan Indrayan memang diberi tugas untuk memesan kamar, sementara Lintang bersembunyi di dunia dimensi.Lintang kembali muncul saat sudah di dalam kamar, dan alangkah terkejutnya pemuda itu kala mendapati kamar yang disewa Palwa ternyata begitu besar.“Apa kau ingin membuatku bangkrut Palwa?” tanya Lintang menaikkan satu alisnya.“A-a—anu tuan, maaf aku tidak
Ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan dihentikan satu hari di mana para ketua penyelenggara harus mengadakan pertemuan penting terkait kekacauan yang diciptakan Lintang.Hal itu membuat ketua perguruan lain kecewa termasuk semua peserta.Dengan dihentikannya ujian, maka semua orang yang berasal dari luar wilayah Sekte Pedang Kahuripan harus mencari tempat penginapan di kota terdekat.“Sial! Jauh-jauh aku datang ke sini hanya untuk menyaksikan para muridku lolos ujian, dan sekarang ujian dihentikan! Bukankah ini kerugian besar karena kita harus menyewa penginapan?” umpat salah satu ketua perguruan Banyu Diva.“Kau benar Bantara, sial! Mana perbekalanku sudah hampir habis lagi,” umpat salah satu ketua dari perguruan Talaga Sukma.Kedua perguruan mereka memang merupakan perguruan termiskin di kerajaan Dashaloka. Sehingga saat mendengar ujian dihentikan, keduanya begitu kalangkabut memikirkan penginapan untuk para muridnya.Sementara ketua perguruan lain kesal karena tidak sabar ingin segera
Menjelang tengah hari, Lintang, Palwa, dan Indrayan berlesatan kembali melanjutkan perjalanan.Tetapi kali ini ada yang berbeda di mana di belakang mereka terdapat ratusan peserta lain yang mengikuti.Benar, Lintang menolong semua peserta yang menghinanya sehingga secara suka rela mereka berlutut meminta maaf.Palwa dan Indrayan tentu kesal melihat itu, keduanya bahkan sempat memaki semua peserta karena mereka sungguh tidak tahu malu.Tetapi Lintang tidak demikian, sifat bijak dan welas asihnya membuat semua peserta yang ada di sana mendapatkan pengampunan.Dia tidak peduli meski beberapa di antara mereka masih memendam kebencian terhadapnya di mana menurut Lintang, membantu makhluk yang membutuhkan tidak akan membuat dirinya lemah.Bahkan dengan memberi, Lintang merasa dirinya lebih berguna. Dia tidak mengharapkan pembalasan maupun pengakuan, karena yang Lintang inginkan hanyalah membuka hati para generasi dewa agar mereka bisa menjadi makhluk yang lebih baik.Perbuatannya mungkin ak







