แชร์

Bab 3 Lintang

ผู้เขียน: Pujangga
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-27 14:10:14

Lahir dari seorang penguasa kuat dan memiliki bakat tinggi akan ilmu bela diri tidak serta merta menjadikan Lintang bahagia.

Seperti kata pepatah, “Bersama kekuatan besar datang pula tanggung jawab besar.”

Mungkin kata itulah yang cocok disematkan kepada Lintang. Di mana saat ini, dunia tempat dia dan keluarganya bernaung tengah dilanda petaka besar dari kekuatan jahat Dewa Kegelapan.

Tidak hanya dunia saja, tetapi seluruh alam semesta juga sedang terancam oleh-nya.

Bahkan ayah Lintang sendiri telah menjadi korban, dia hilang tanpa jejak saat berperang melawan pasukan dewa kegelapan.

Lintang yang hanya seorang manusia setengah lelembut tidak berdaya menghadapi kekuatan jahat tersebut.

Sehingga satu-satunya jalan bagi Lintang adalah kembali berguru pada seorang dewa tua di alam para dewa.

Lintang harus bisa mengimbangi kekuatan Dewa Kegelapan di mana jika tidak, maka dunia dan semesta akan mengalami kehancuran.

Hampir semua dewa tahu siapa ayah Lintang, dia adalah seorang manusia sakti yang disegani bahkan oleh setiap kerajaan di alam dewa.

Namun keberadaan Lintang saat ini begitu rahasia di mana dirinya dan seluruh keluarganya menjadi buronan nomor satu pasukan dewa kegelapan.

Andai ada yang tahu Lintang sedang berada di tempat itu, maka alam dewa bisa dihancurkan oleh pasukan jahat tersebut.

Ayah Lintang bernama Galuh Wardana, dia merupakan satu-satunya manusia yang mendapat tugas menjadi penjaga semesta.

Lintang memiliki 3 adik berbeda ibu, dua di antaranya adalah perempuan. Sebagai putra seorang penguasa, Lintang dan adik keduanya memiliki tanggung jawab melanjutkan perjuangan sang ayah.

Sejak lahir Lintang dan adiknya telah di takdirkan untuk menjadi pilar semesta. Seorang yang akan di kenal sebagai legenda. Namun perjalanan mereka dalam meraih takdir itu tidaklah mulus.

Ada penderitaan, kesedihan, dan kematian yang harus mereka jalani. Semua tidak bisa diraih tanpa tekad dan perjuangan.

Seperti sekarang, Lintang harus menemui Resi Batara Gundawarma, sesepuh Sekte Pedang Kahuripan. Salah satu dewa terkuat yang diduga dapat membuka potensi diri di tubuh Lintang.

Namun akibat sedang dalam persembunyian, Lintang tidak bisa mengatakan bahwa dirinya adalah putra Galuh.

Dia mesti berjuang sendiri untuk dapat menemuinya, sehingga mau tidak mau Lintang harus mengikuti ujian masuk sekte pedang tersebut.

“Baiklah! Tidak ada istirahat bagi kalian. Semua calon murid Sekte Pedang Kahuripan harus bisa menyelesaikan ujiannya dalam berbagai kondisi. Untuk itu, sekarang kalian akan memasuki hutan ilusi,” seru sang dewa tua yang sebelumnya memimpin acara ujian.

Semua peserta saling menatap satu sama lain, mereka baru saja selesai bertarung sehingga masih memiliki banyak bekas luka yang belum dipulihkan. Dan sekarang harus kembali memulai ujian berat.

“Sial! Ini benar-benar ujian kematian,” umpat salah satu peserta di dalam hatinya.

Tidak hanya dia, tetapi hampir semua peserta kecuali Lintang turut mengumpati ujian itu membuat sang dewa tua menyeringai tipis.

Sosok pak tua tersebut memang tidak bisa mendengar kata hati para peserta, tetapi dia dapat mengetahui isi hati mereka dari sorot matanya.

“Hahaha, dari awal ujian ini adalah ujian kematian. Jika ada di antara kalian yang menyesal mengikutinya, maka sebelum terlambat aku sarankan untuk mundur,” suara sang dewa tua menggelegar mengagetkan semua peserta.

Mereka terkejut karena mengira sang dewa tua dapat mendengar kata hati orang lain.

“Masuk ke sini kalian akan dilatih untuk menjadi pendekar kuat dari yang terkuat. Namun kekuatan yang besar tidak lahir dari mereka yang lemah. Ujian ini bertujuan mengukur apakah kalian layak menjadi legenda atau tidak,” sambung sang dewa tua.

“Ka-kami siap melakukan apa pun ketua.”

“Be-benar ketua, kami siap mati demi masuk Sekte Pedang Kahuripan.”

“Ya, kami tidak akan mundur!”

“Kami siap!”

Satu demi satu para peserta berteriak menyatakan diri membuat sang dewa tua kembali tertawa terbahak-bahak.

Sementara para penonton dan ketua perguruan lain masih terus memandangi Lintang penuh tanya.

Banyak peserta yang misterius di sana. Tetapi yang paling menarik perhatian dari semua peserta adalah Lintang. Membuat pemuda itu menjadi banyak target pembunuhan.

“Hutan ilusi adalah tempat terlarang yang tercipta dari jutaan tahun silam, sudah tidak terhitung entah berapa banyak dewa yang tewas di sana, dan sekarang kalian akan merasakan bagaimana kengerian hutan tersebut. Jadi berjuanglah!” ungkap sang dewa tua membuat semua peserta serentak menelan ludah mendengarnya.

Setelah mengatakan itu, dia lantas mengibaskan tangannya menciptakan portal gaib berupa pintu masuk seperti gerbang berbentuk riak air vertikal tepat di depan arena besar.

Portal itulah yang nantinya akan membawa semua peserta masuk ke dalam hutan ilusi.

Bagi para dewa tingkat tinggi, menciptakan portal seperti itu sudah biasa, sehingga semua peserta tidak merasa heran.

“Di sana tidak ada yang akan menolong kalian, hidup dan mati diserahkan kepada diri sendiri. Carilah menara kuil di ujung utara hutan, yang berhasil mencapai menara itu, maka akan lolos ujian pertama,” seru sang dewa tua.

Dia selanjutnya turun dari arena dan berjalan menghampiri semua peserta, menatap mereka satu persatu sebelum akhirnya berteriak memulai ujian.

“Baiklah! Ujian Mental di mulai!”

Mendengar itu, para peserta langsung belesatan memasuki portal membuat sosok mereka lenyap dalam sekejap.

Karena ukuran portal tidak terlalu besar, maka hanya muat untuk 100 orang dalam sekali jalan. Sehingga sebagian peserta harus mengantri.

Hampir semua peserta saling bersaing ingin masuk lebih dulu, mereka berdesak-desakan bahkan ada yang saling pukul. Akibatnya, ada sekitar puluhan orang yang cidera parah dan tidak bisa mengikuti ujian, membuat mereka langsung didiskualifikasi.

Sementara Lintang masih berdiri tenang menunggu semua peserta masuk terlebih dahulu. Dia tidak buru-buru karena tidak memiliki niatan bersaing.

Bagi Lintang, ujian ini hanyalah jalan untuk menemui Resi Batara Gundawarma. Dia tidak peduli pada kehormatan dan status yang semua dewa kejar karena, tanpa status murid Sekte Pedang Kahuripan-pun dirinya sudah menjadi orang besar.

“Siapa namamu kau anak lelembut?” tiba-tiba terdengar suara sang dewa tua di belakang Lintang.

“Apalah arti sebuah nama ketua, tapi jika anda memang ingin tahu. Anda boleh memanggilku Lintang.” Jawab pemuda itu sopan.

“Hahaha, nama yang aneh sangat sesuai dengan dirimu yang aneh pula. Tapi bagiku itu tidak masalah, hahaha,” sang dewa tua kembali tertawa.

“Kau sepertinya tidak terlalu tertarik dengan ujian ini. Aku tidak tahu entah apa tujuanmu, tapi selama dirimu tidak membuat masalah, kau akan diterima dengan baik di perguruan ini,” sambung sang dewa tua dengan nada tegas.

“Anda jangan khawatir ketua, aku tidak memiliki niat apa-apa selain ingin masuk ke dalam Sekte Pedang Kahuripan,” jawab Lintang.

“Baguslah, tapi aku akan selalu mengawasimu,” ujar sang dewa tua.

**

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 345 Tamat

    Setelah itu, dia menggigit salah satu jarinya hingga mengeluarkan darah. Kemudian menciptakan pedang energi dengan gabungan darah membuat pedang itu berwarna merah menakutkan.Dalam sekali tebasan, Sakakala langsung tewas melebur menjadi debu bahkan tanpa teriakan atau jerit tangisan kematian karena proses tersebut sangat cepat.Tewasnya Sakakala membuat wujud Dewi Utari kembali, bahkan dia kembali menjadi wanita cantik seperti yang dulu Galuh kenal.Termasuk ingatan dan segala kenangan dengan Galuh karena pengaruh dari Prabu Girinata ikut lenyap bersama menteranya.Wush! Tap!Raja Kegelapan melesat menyambar tubuh Dewi Utari, dan membawanya kepada Galuh.Dia memang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi kondisi Dewi Utari tidak apa-apa.“Inilah wujud ibumu yang sesungguhnya Arga. Terimalah!” Raja Kegelapan memberikan tubuh Dewi Utari kepada Arga.Pemuda itu masih menangis pilu meratapi kepergian Lintang, tapi dia sadar bahwa hidup harus tetap berjalan, terlebih wanita yang dib

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 344 Akhir Perang Semesta bagian 3

    “Ayah, kakek, Arga, bunda, maafkan aku,” air mata Lintang terus mengalir dalam sepi.Tidak ada yang tahu akan penderitaan pemuda itu selain Raja Kegelapan di dalam tubuhnya.Bahkan tongkat semesta pun tidak mengetahuinya karena dia sedang terkapar kehabisan energi setelah melalui banyak pertarungan.Ternyata Lintang sengaja mengutus Jagat bertarung agar tongkatnya tersebut tidak menghalangi niat besarnya.“Maafkan aku Jagat. Carilah tuan yang baru yang bisa membawamu pada kedamaian sejati sebagai senjata yang abadi,” ucap Lintang.Raja Kegelapan sudah sedari tadi menangis mengiringi setiap kesakitan Lintang. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.“Maafkan aku Lintang, kini aku mengerti ternyata kau sungguh mulia,” ucap Raja Kegelapan sangat lirih.“Kau tidak usah merasa bersalah Lesmana. Sesuai janji, aku akan membangkitkanmu. Tapi ingat, akhiri petaka ini dan selamatkan semua orang-orangku. Jangan lagi kau usik mereka setelah aku tiada. Kau bisa pergi ke semesta lain untuk memulai

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 343 Sasakala

    “Tentu saja,” angguk si Cepot.“Terima kasih, kanda Batara,” Galuh mulai mengeratkan genggaman pedangnya.Begitu juga dengan Arga, dia segera menarik sebanyak mungkin energi semesta untuk melakukan pertarungan terakhir.“Kau jangan sungkan adik prabu. Selama ada aku semua akan baik-baik saja” Si Cepot menyeringai.Dia tidak sadar bahwa wujud Batara hanya tinggal beberapa tarikan napas lagi. Sehingga setelah itu, Galuh dan Arga akan berada dalam masalah besar.“Hahahaha! Manusia, dewa, iblis, monster, dan para mahluk semesta bawah memang tidak pernah berubah,” sang Kucing Hitam tertawa terbahak-bahak.Suaranya begitu parau dan menggema menggetarkan seluruh semesta.“Siapa sebenarnya dia paman?” tanya Arga.“Sakakala, makhluk buas penunggu dasar neraka,” ungkap si Cepot.“Ne-neraka?” Galuh dan Arga mengerutkan kening secara bersamaan.“Benar, semesta terbagi atas tiga wilayah. Bawah, tengah, dan atas. Sementara mahluk neraka berada dibagian paling bawah semesta kita,” jelas si Cepot.Ar

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 342 Akhir Perang Semesta Bagian 1

    “Hahaha, sungguh menyedihkan kau tuan Maha Batara. Kukira dirimu benar-benar kuat. Tapi ternyata hanyalah bualan belaka,” panglima Kumo’o terus tertawa menertawakan si Cepot yang menyedihkan.Bahkan Dewi Utari sendiri sampai terbatuk sembari menyipitkan mata memandang si Cepot dengan tatapan merendahkan.Begitu juga dengan para panglima lain dan semua pasukan. Mereka ikut tertawa bersama Kumo’o sembari menghina Batara Astrajingga.Mendapati si Cepot menjadi anak ayam tentu membuat semua orang dari kerajaan Werhaspati merasa menang.Mereka kini kembali bersemangat berniat menyerang si Cepot sebagai pembalasan atas kematian jutaan pasukan.Para makhluk bodoh itu tidak tahu bahwa Batara Astrajingga masih memiliki satu kesempatan untuk merubah wujudnya.Dia tidak membalas hinaan dan cacian mereka hanya karena sedang menunggu kesempatan tersebut tiba.“Ciak, ciak, ciak, ciak,” seru si Cepot sembari menyeringai lebar.Namun siapa yang peduli karena tidak satu pun dari pasukan kerajaan Wer

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 341 Amukan Golok Petok

    “A-apa? Ba-ba—batara Astrajingga!” Kumo’o dan semua panglima besar kerajaan Werhaspati panik bukan buatan.Siapa yang tidak tahu si Cepot, semua pembesar penguasa semesta hafal siapa sosok kesatria yang satu ini.Sebagai putra Semar yang dahulu pernah membunuh sang Hyang Darmajaka, si Cepot tentu memiliki kekuatan yang luar biasa.Andai makhluk itu mau, dia bisa menjadi penguasa semesta. Namun sayang, semua keturunan Semar tidak memiliki ambisi sama seperti ayahnya.Tapi meski begitu, kehadiran mereka sangat diperhitungkan. Apalagi oleh kerajaan Werhaspati.Selama jutaan tahun prabu Girinata tidak pernah berani menyerang Maniloka adalah karena keberadaan Semar.Andai tidak ada sosok sakti seperti itu, maka Batara Guru baginya bukan apa-apa. Begitu juga dengan Dewa Kegelapan.Tapi karena adanya Semar dan para putranya, prabu Girinata lebih memilih bermain siasat dari pada harus perang secara terbuka.Meski Semar sudah berjanji tidak lagi peduli terhadap urusan semesta. Tapi jika ada pi

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 340 Kemunculan Si Cepot

    Semakin lama, inti energi milik Lintang semakin mengalami kerusakan. Namun pemuda itu tidak peduli.Dia tetap memaksakan diri menarik banyak energi semesta meski tubuhnya terasa sangat tersiksa.Raja Kegelapan yang menyaksikan hal tersebut sampai menitikan air mata. Tapi apa daya, dia tidak bisa menghentikan Lintang.Selain tidak lagi memiliki energi, Raja Kegelapan juga sama seperti Lintang, dia mendapatkan luka yang serius akibat hantaman gelombang energi sang Hyang Antaga.Sehingga makhluk itu saat ini hanya bisa terus berteriak memohon Lintang agar mau mengalah.“Sudahlah bocah, kau tidak perlu berkorban apa-apa untukku,” lirih Raja Kegelapan.Namun sekeras apa pun dia berteriak, Lintang tetap keras kepala, membuat Raja Kegelapan tidak tahu lagi entah harus berbuat apa.“Hahaha, sudah kukatakan bahwa aku akan berhasil Lesmana, lihatlah!” Lintang tertawa kegirangan ketika mendapati inti energinya bisa lagi digunakan.“Bodoh! Kau akan mati, Bocah. Perhatikan tubuhmu, kau tidak bisa

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 10 Sungai Darah

    Setelah cukup berbincang bersama raja kegelapan, Lintang segera kembali ke alam nyata.Dia tidak bisa lagi mengulur waktu untuk bertemu Resi Batara Gundawarma, Lintang harus cepat menyelesaikan ujiannya.Malam itu juga dia langsung mengajak Palwa dan Indrayan untuk melanjutkan perjalanan.Ketiganya

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 9 Pria Berpakaian Hitam

    Lintang, Palwa, dan Indrayan terus melesat menuju arah utara.Setelah pembunuh bayaran si tangan kilat, tidak ada lagi halangan yang berarti di perjalanan mereka.Siluman, makhluk sihir, atau bahkan pohon bunga pemakan dewa, semua habis dibantai oleh Lintang.Tidak terasa mereka telah melesat sehar

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 8 Kekuatan Sejati Lintang

    “Apa yang sedang dia lakukan?” gumam Lintang mengerutkan kening.“Makhluk ini sepertinya sedang menggunakan jurus terlarang tuan, aku merasakan ada energi lain pada pedangnya,” ungkap Jagat menerangkan.“Begitu rupanya, hahaha, ternyata hanya sampai di sini batas kekuatan pembunuh itu,” Lintang ter

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 7 Jurus Pedang Terkutuk

    “Hati-hati tuan, dia sangat berbahaya,” terdengar suara Jagat mengingatkan.“Aku mengerti Jagat,” ujar Lintang sembari menyipitkan mata menatap musuh.Ukhuk!Satu kali Lintang terbatuk, dari mulutnya mengalir darah segar pertanda dia mengalami luka dalam.Sementara si tangan kilat tidak mendapatkan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status