LOGINKedua pendekar muda masih mematung tidak percaya dengan apa yang disaksikannya.
Monster siluman kadal yang tidak dapat mereka sentuh tewas begitu saja di tangan Lintang bahkan dalam waktu kurang dari 20 menit, membuat kedua pendekar itu benar-benar merasa ngeri terhadapnya.
Wushhhh! Tap!
“Apa kalian tidak apa-apa?” tanya Lintang tiba-tiba muncul di sana membuat kedua pendekar muda tersentak kaget mendapatinya.
“Ka-kami hanya terluka tuan, te-terima kasih,” jawab keduanya terbata.
Mereka langsung menjatuhkan kepala bersujud di depan Lintang memohon pengampunan.
Keduanya benar-benar menyesal telah sempat menghina dan merendahkan Lintang.
Bahkan salah satu dari mereka sempat meludah secara kasar di depan Lintang, sehingga keduanya sungguh sangat malu dan menyesal.
“Lupakanlah! Selama kalian menyadari itu dan meminta maaf, aku mengampuni dengan terbuka, cepat bangun dan lekas kemari,” ujar Lintang.
“Ba-baik tuan, te-terima kasih,” kedua pendekar muda segera bangkit dan berjalan tergopoh menghampiri Lintang.
Mereka tidak tahu entah apa yang akan Lintang lakukan, tetapi keduanya tetap mendekat karena yakin bahwa Lintang pasti tidak akan melakukan sesuatu yang buruk.
Andaipun Lintang melakukannya, mereka tetap akan mendekat dan siap menerima semuanya.
“Jika anda ingin membalas perlakuan kami tempo lalu, maka lakukanlah tuan pendekar. Kami sadar apa yang kami perbuat sungguh keterlaluan sehingga kami tidak layak diampuni,” ungkap salah satu pendekar lirih sembari menundukkan kepala.
“Be-betul tuan, kami siap menerima hukuman anda, ka-kami sungguh menyesal,” pendekar lain ikut bersuara.
Mereka masih terlihat meringis menahan sakit akibat luka yang dideritanya.
Lintang hanya tersenyum melihat itu, dia mengerti keduanya tidak bisa memulihkan luka karena energi mereka habis digunakan untuk pertarungan.
“Tidak apa, berikan tangan kalian,” pinta Lintang membuat keduanya saling memandang.
“Ba-baik tuan,” mereka memberikan telapak tangan kanannya yang masih berlumuran darah.
Lintang segera meraih kedua tangan tersebut dengan cepat, kemudian dari tubuhnya tiba-tiba memancar energi hangat berwarna keemasan membuat kedua pendekar di sana kembali terkejut menyaksikannya.
Semua dewa tahu bahwa energi keemasan adalah energi milik bangsa Kala yang sudah punah jutaan tahun silam.
“Si-siapa Anda sebenarnya tuan?” tanya salah satu pendekar muda terbata. Matanya masih terbelalak menatap Lintang tidak percaya.
Lintang tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya tersenyum tipis sebelum kemudian mengalirkan energi tersebut pada tangan mereka.
Seperti sihir, semua luka di tubuh kedua pendekar muda pulih dalam waktu singkat.
Bahkan daging dan urat yang tadinya hilang akibat racun pun tumbuh kembali berganti dengan daging yang baru membuat keduanya langsung kembali berlutut berterima kasih.
“Bangunlah! Sudah kukatakan aku tidak suka dipuja,” ucap Lintang.
“Ba-baik tuan,” kedua pendekar muda serentak.
“Siapa nama kalian?” tanya Lintang.
“A-aku Palwa tuan, dan ini adik seperguruanku Indrayan. Kami berasal dari perguruan Talaga Sukma. Sekali lagi kami mohon maaf telah berlaku tidak sopan kepada anda,” tutur Palwa kepada Lintang.
Dia terlihat menundukkan wajahnya saat mengucapkan kata maaf sebagai tanda penyesalan.
“Hahaha, lupakanlah! Aku mengerti, bagi bangsa besar seperti kalian pasti sulit menerimaku yang berasal dari dunia bawah. Itu adalah hal wajar,” Lintang tertawa.
“A-apa anda sungguh memaafkan kami?” tanya Indrayan terbata.
Indrayan amat terkejut karena baru kali ini menemukan ada seorang yang memiliki kerendahan hati seperti Lintang.
“Apa aku terlihat bercanda?” jawab Lintang sembari menaikkan satu alisnya membuat Indrayan langsung menunduk.
“Tidak ada yang salah dengan memaafkan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, termasuk dirimu dan Palwa. Selalu ada pelajaran hidup dalam setiap langkah, semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kalian,” sambung Lintang.
Indrayan dan Palwa yang mendengar itu semakin menaruh rasa kagum terhadap Lintang. Mereka segera berjanji bahwa tidak akan lagi menilai orang lain dari penampilannya.
“Hahaha, aku senang mendengarnya. Baiklah! Apa kalian ingin menyelesaikan ujian ini bersamaku?” tanya Lintang.
“A-apa itu boleh tuan?” Palwa terbata.
“Hahaha, tentu saja. Berjalan sendiri membuatku bosan, jadi bagaimana?” jawab Lintang.
“Terima kasih tuan, sebuah kehormatan bagi kami jika tuan menginginkannya,” Palwa dan Indrayan mengangguk bersamaan.
Mereka begitu bahagia saat ini, karena selain mendapat pengampunan, berjalan bersama Lintang sama saja dengan memiliki pelindung kuat.
“Baiklah, kalian bisa memanggilku Lintang,” tutur Lintang mengenalkan diri.
“Terima kasih tuan Lintang,” Palwa dan Indrayan serentak.
Setelah itu, ketiganya lantas melesat melanjutkan perjalanan. Tetapi sembari berjalan, Lintang mencari sebuah sungai karena harus membersihkan diri.
Sebagian tubuhnya dipenuhi darah siluman kadal dan itu membuat Lintang tidak nyaman.
Wuhss! Wussh! Wushhh!
Mereka berlompatan menggunakan ilmu meringankan tubuh, berpijak dari satu dahan pohon ke dahanan lain.
“Tuan, Lihat di sana! Bukankah itu sungai,” tunjuk Indrayan ke arah timur hutan.
“Hahaha, kau benar Indrayan. Ayo cepat! Darah milik siluman kadal sudah hampir mengering, dan ini sungguh menggangguku,” Lintang tertawa senang.
“Hahaha, apa aku juga boleh ikut mandi tuan? Bajuku juga penuh dengan noda darah,” pinta Indrayan.
“Tentu saja,” jawab Lintang.
“Aku juga akan mandi,” ungkap Palwa.
“Hahaha, baiklah!” Lintang melesat lebih dulu menuju sungai.
Jarak dari tempat mereka masih begitu jauh sekitar 4 kilo meter lagi. Tetapi dengan kecepatan pendekar dewa, ketiganya dapat tiba di sana dalam waktu kurang dari 10 menit.
Tap! Tap! Tap!
Mereka mendarat mulus di tepi sungai, Indrayan langsung berlari ingin segera masuk ke dalam air. tetapi baru saja beberapa langkah dia berlari, suara Lintang dari belakang menghentikan langkahnya.
“Berhenti!” seru Lintang.
“A-ada apa tuan?” tanya Indrayan terkejut.
“Apa kau tidak pernah berpetualang ke dunia luar Indrayan?” Lintang balik bertanya membuat Indrayan semakin bingung.
Begitu juga dengan Palwa, tetapi dia tidak berani menanyakannya.
“Ti-tidak pernah tuan, ini pertama kalinya kami meninggalkan perguruan,” ungkap Indrayan.
“Kau bagaimana Palwa?” tanya Lintang.
“A-aku juga sama tuan, selama berguru kanuragan, kami hanya berlatih dan berlatih agar bisa lolos pada ujian ini,” tutur Palwa menjelaskan.
“Sudah berapa lama kalian berguru” kembali Lintang bertanya.
“Sekitar 150 tahun tuan,” jawab Palwa.
“150 tahun?” kali ini Lintang yang terkejut. Namun keterkejutannya tidak lama karena dia segera mengingat sesuatu.
“Haiiss, aku lupa. Bangsa dewa memang memiliki usia yang panjang,” Lintang menggeleng.
“Ja-jadi mengapa aku tidak boleh masuk ke dalam air tuan? Bukankah tadi anda yang mengizinkan aku ikut mandi?” tanya Indrayan masih tidak mengerti.
“Hahaha, bukan tidak boleh Indrayan. Tetapi di alam terbuka seperti ini kita harus berhati-hati,” jawab Lintang.
“Baiklah! Perhatikan ini,” ucap Lintang sembari mengibaskan tangannya mengeluarkan setangkai tanaman asing yang tidak mereka kenal.
“Apa itu tuan?” tanya Palwa penasaran.
“Ini adalah tangkai rumput lidah gurun, berguna untuk mengecek unsur yang terkandung di dalam air. Jika sungai ini beracun, maka tangkai rumput lidah gurun akan berubah menjadi merah, tetapi jika sungai ini aman, maka warnanya akan tetap hijau,” tutur Lintang.
“Selalu waspada pada apa pun. Di tempat asing seperti ini, bahkan alam bisa menjadi pembunuh yang mematikan,” sambung Lintang.
“Be-begitu rupanya. hampir saja aku …,” Indrayan menelan ludah sembari menatap sungai.
Setelah memastikan bahwa sungai tersebut aman, Lintang, Palwa dan indrayan-pun mandi di sana.
Mereka mencuci pakaian dan membersihkan diri dari kotoran darah. Palwa berbagi cerita tentang perguruan Talaga, ternyata dia merupakan anak pungut yang tidak tahu entah siapa kedua orang tuanya.
Begitu juga dengan Indrayan, hingga tidak terasa ketiga-nya menjadi semakin akrab layaknya seorang teman.
Tetapi saat mereka tengah asyik berbincang, dari arah daratan datang tiga anak panah energi yang melesat dengan kecepatan tinggi berniat membunuh Lintang.
**
Banyak pengguna sihir di alam dewa, tetapi membuat pakaian sihir seindah ciptaan Lintang tidak pernah di temukan di mana pun membuat Atmarani begitu terpana mendapatkannya.Saat ini di dalam hati gadis itu berkecamuk berbagai rasa terhadap Lintang, marah, benci, geram, takjub, terpesona, dan bahagia bercampur menjadi satu sehingga Atmarani tidak bisa berkata-kata.Dia sangat ingin membunuh Lintang, tetapi juga tidak kuasa berada di dekatnya. Tubuh Atmarani entah mengapa seakan lemas di hadapan Lintang.Baru kali ini Atmarani merasakan hal seperti itu sehingga membuatnya bertanya-tanya, sihir apa yang telah Lintang tanamkan kepadanya.“Ini, ambil pakaianmu. Maafkan aku karena tidak sengaja masuk ke mari,” Lintang tiba-tiba muncul di sisi Atmarani dengan telah menyodorkan tumpukan pakaian beserta topeng kayu miliknya.Namun alih-alih senang, Atmarani entah mengapa malah seperti ketakutan sehingga dia langsung mundur beberapa langkah.“Be-berhenti di sana pe-pemuda ca-cabul,” Atmarani te
KyAaaaaaaaaa!Lintang langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara tubuhnya masih telanjang bulat di sisi kolam.Begitu pula sang gadis cantik yang tidak sengaja dirinya lihat. Dia langsung menutupi semua bagian penting dari tubuhnya.Tangan kiri menyilang menutupi dua gundukan kembar di antara dadanya, sementara tangan kanan menjuntai menutupi sesuatu di antara dua kakinya.Wajah tirus dengan bibir bergelombang membuat Lintang tidak bisa berkata-kata. Dia memiliki hidung bangir dengan bulu mata lentik bagaikan haluan kapal yang sangat indah.Memiliki dua bola mata berwarna hijau cerah, dan rambut hitam panjang terurai.Sementara tubuhnya benar-benar sangat elok dengan kulit putih mulus tanpa noda.Lengkungan pinggul violin membuat pikiran Lintang mengembara pada sesuatu yang tidak semestinya. “Aaaaa! Aaaaa! Aaaaaaaa! Berengsek! Sialan! Cabul! Tidak tahu diri! Enyah kau dari sini!” maki sang gadis cantik kepada Lintang.Wajah mulusnya seketika merona karena dia juga t
Lintang merasakan ada energi dari pengikut dewa kegelapan, namun energi tersebut terlalu jauh sehingga Lintang tidak bisa memastikan di mana dan siapa pemilik energi itu.Tetapi dari sana Lintang bisa tahu bahwa pasukan raja kegelapan memang sudah berada di kota Ganestaloka.Itu membuat dia semakin waspada dalam bertindak karena salah sedikit saja, nyawanya dan seluruh penduduk kerajaan Dashaloka akan binasa di tangan mereka.Setelah menyantap berbagai hidangan di rumah makan tersebut, Lintang mengajak Palwa dan Indrayan segera kembali ke kamar penginapan. Namun waktu itu Indrayan mengatakan bahwa di pasar kota ada pemandian air hangat terbesar.Tempatnya sangat aman dan tertutup karena berada di dalam gedung yang dijaga ketat oleh para pendekar.Mendengar hal tersebut, Lintang tentu saja penasaran karena air hangat bagus untuk memperkuat susunan tulang. Terlebih air hangat yang langsung berasal dari gunung Merapi karena air tersebut mengandung zat belerang.Selain itu Lintang juga me
Sore hari di kota Ganestaloka, Lintang, Indrayan dan Palwa sudah mendapat penginapan.Secara tidak sengaja mereka memilih penginapan paling mewah dengan uang milik Lintang. Tentu saja bagi Lintang itu tidak masalah karena di dalam dimensi penyimpanannya, dia memiliki batu energi yang tidak terbatas.Sebagai seorang putra penguasa besar yang menguasai 4 alam, Lintang memiliki banyak harta kekayaan yang bangsa dewa sekalipun sulit menandinginya.Palwa sengaja memilih kamar paling besar di penginapan itu agar dapat ditempati oleh tiga orang.Namun siapa sangka, ukuran kamar tersebut bahkan mampu menampung 100 orang di dalamnya.Palwa dan Indrayan memang diberi tugas untuk memesan kamar, sementara Lintang bersembunyi di dunia dimensi.Lintang kembali muncul saat sudah di dalam kamar, dan alangkah terkejutnya pemuda itu kala mendapati kamar yang disewa Palwa ternyata begitu besar.“Apa kau ingin membuatku bangkrut Palwa?” tanya Lintang menaikkan satu alisnya.“A-a—anu tuan, maaf aku tidak
Ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan dihentikan satu hari di mana para ketua penyelenggara harus mengadakan pertemuan penting terkait kekacauan yang diciptakan Lintang.Hal itu membuat ketua perguruan lain kecewa termasuk semua peserta.Dengan dihentikannya ujian, maka semua orang yang berasal dari luar wilayah Sekte Pedang Kahuripan harus mencari tempat penginapan di kota terdekat.“Sial! Jauh-jauh aku datang ke sini hanya untuk menyaksikan para muridku lolos ujian, dan sekarang ujian dihentikan! Bukankah ini kerugian besar karena kita harus menyewa penginapan?” umpat salah satu ketua perguruan Banyu Diva.“Kau benar Bantara, sial! Mana perbekalanku sudah hampir habis lagi,” umpat salah satu ketua dari perguruan Talaga Sukma.Kedua perguruan mereka memang merupakan perguruan termiskin di kerajaan Dashaloka. Sehingga saat mendengar ujian dihentikan, keduanya begitu kalangkabut memikirkan penginapan untuk para muridnya.Sementara ketua perguruan lain kesal karena tidak sabar ingin segera
Menjelang tengah hari, Lintang, Palwa, dan Indrayan berlesatan kembali melanjutkan perjalanan.Tetapi kali ini ada yang berbeda di mana di belakang mereka terdapat ratusan peserta lain yang mengikuti.Benar, Lintang menolong semua peserta yang menghinanya sehingga secara suka rela mereka berlutut meminta maaf.Palwa dan Indrayan tentu kesal melihat itu, keduanya bahkan sempat memaki semua peserta karena mereka sungguh tidak tahu malu.Tetapi Lintang tidak demikian, sifat bijak dan welas asihnya membuat semua peserta yang ada di sana mendapatkan pengampunan.Dia tidak peduli meski beberapa di antara mereka masih memendam kebencian terhadapnya di mana menurut Lintang, membantu makhluk yang membutuhkan tidak akan membuat dirinya lemah.Bahkan dengan memberi, Lintang merasa dirinya lebih berguna. Dia tidak mengharapkan pembalasan maupun pengakuan, karena yang Lintang inginkan hanyalah membuka hati para generasi dewa agar mereka bisa menjadi makhluk yang lebih baik.Perbuatannya mungkin ak