เข้าสู่ระบบ"Selamat, akhirnya kau sudah punya pasangan."
Elian langsung melotot dan mengikuti langkah orang yang barusan mengatakan kalimat horor itu padanya. Demi apa pun, padahal baru kemarin Anna menjodohkan dirinya dengan Sebastian dan sekarang sudah ada yang memberi selamat? "Padahal kemarin aku jelas-jelas menolak," gumam Elian berbicara sendiri di dalam lift, masih dengan mata melotot. "Kenapa gosip aneh itu makin meluas?" "Hai, Eli." Seorang perempuan menyapa ketika pintu lift tiba-tiba terbuka. "Hari ini kau kelihatan lebih glowing dari biasanya." "Lebih Glowing? tanya Elian dengan kedua alis terangkat. "Yah, mungkin efek itu." Perempuan tadi terkikik pelan, diikuti dengan teman yang naik lift bersamanya. "Efek itu apa?" tanya Elian dengan kening berkerut, tapi malah hanya suara kikikan yang dia dengar sebagai jawaban. Paling parah lagi, sekarang semua orang menatapnya terang-terangan. Orang-orang masih bergosip dengan bisik-bisik, tapi tatapan mereka tidak lagi dijaga dengan baik. Hal yang jelas saja membuat Elian risih dan memilih untuk menghampiri biang gosip. "Aku mau bicara denganmu." Elian masuk ke dalam ruangan Sebastian tanpa mengetuk pintu. "Oh. Elian." Sebastian langsung berdiri dari kursinya, mengabaikan perempuan yang berdiri di depannya. "Senang kau datang berkunjung." "Apa aku mengganggu?" tanya Elian dengan sebelah alis terangkat, sambil melirik perempuan yang sekarang melipat kedua tangan dan masih berdiri di tempatnya. "Sama sekali tidak." Sebastian dengan cepat menggeleng. "Dia hanya datang untuk diskusi tentang lagu baru dan sekarang sudah selesai." Tahu dirinya diusir, perempuan berambut pirang yang dimaksud memilih untuk beranjak. Namun, dia sempat melirik Elian dengan sinis ketika berpapasan. "Kalau kau suka pada perempuan juga, kenapa kau tidak mengejar mereka saja?" tanya Elian setelah pintu ruangan tertutup. "Apa kau pikir aku tertarik dengan dia?" Alih-alih menjawab, Sebastian malah bertanya balik. "Aku yang duluan bertanya, jadi jawab yang benar," hardik Elian sudah mulai melotot. "Tapi aku hanya tertarik padamu." Sebastian mengedikkan bahu dengan santai. "Aku tidak mau tahu dengan yang lain." "Sayangnya, aku tidak tertarik dengan cowok." Elian menegaskan. "Jadi berhenti ganggu aku dan tolong hentikan juga semua gosip yang beredar." Sebastian tidak langsung membalas ucapan Elian yang lebih memilih berdiri, alih-alih duduk di sofa dengannya. Alhasil, dia memilih untuk berdiri dan menghadapi Elian dengan lebih serius. "Aku tahu kau, Eli," ucap Sebastian pelan, dengan kedua tangan di dalam kantong celana. "Aku rasa, aku juga tahu apa yang kau sembunyikan di balik kerah turtle neck dan jas yang kau pakai." "Jangan sok tahu." Elian menepis tangan Sebastian yang sempat menyentuh kerah turtle neck yang dia pakai. "Kau tidak tahu apa-apa." "Kalau gitu, aku juga tidak tahu apa-apa soal gosip yang beredar." Sebastian mengedikkan bahu dengan santai. "Jangan pura-pura tidak tahu, karena satu kantor sudah tahu." Elian jelas akan protes. "Kau penyebab semua gosip itu, jadi kau harus tanggung jawab." "Bagaimana kalau tanggung jawabnya dengan nikah aja?" tanya Sebastian malah tersenyum. "Dengan begitu, gosipnya jadi nyata kan?" "Dasar gila," pekik Elian dengan mata melotot, sebelum akhirnya memilih untuk pergi saja. Elian menyugar rambut pendeknya dengan asal. Makin lama, Elian makin merasa sakit kepala dengan lirikan dan bisikan orang-orang, setiap kali dia lewat. Bahkan sampai pulang kantor pun dirinya masih jadi bahan gosip, apalagi Sebastian adalah orang yang gigih. [Sebastian Leclerc: Bagaimana? Mau nikah denganku tidak? Atau mau pacaran saja dulu?] Padahal Elian baru saja sampai di apartemen studio miliknya dan baru mau menelepon, ketika pesan itu tiba. Hal yang membuatnya nyaris membanting ponsel ke lantai dengan kekuatan penuh. Untung saja dua denting berurutan membuatnya berhenti. "Harus banget di situasi seperti sekarang?" gumam Elian membaca dua nama yang berbeda di ponselnya dan pada akhirnya memilih nama selain Sebastian. [Pierre Martin: Cherie, aku merindukanmu. Apakah kau baik-baik saja di sana? Bagaimana dengan orang jahat yang tempo hari kau ceritakan?] Elian tersenyum melihat pesan manis itu dan mau segera membalas. Tapi, pesan lain datang dan makin membuatnya sakit kepala. [Pierre Martin: Jangan habiskan uangmu untuk obatku. Pakai juga untuk dirimu sendiri. Untuk kencan misalnya.] [Pierre Martin: Walau kita bukan keluarga sedarah, tapi aku akan senang kalau bisa melihatmu menikah dalam waktu dekat. Biar bagaimana, kau satu-satunya harapanku. Satu-satunya orang yang bisa aku antar ke altar pernikahan.] Kening Elian berkerut dengan tangan menggenggam erat ponselnya. Dia senang si Pierre ini mengirim pesan, tapi juga sakit kepala dengan isi pesannya. Apalagi, Sebastian kembali mengirim beberapa pesan dari Sebastian dengan isi yang serupa. Tentang pernikahan. "Kenapa semua orang menyuruhku menikah sih?" gumam Elian dengan wajah tertunduk lesu. "Memangnya tidak ada hal lain selain itu?""Sialan." Elian mendesis kesal di depan cermin kamar mandi, sambil memegang sesuatu di tangannya. "Eli, kau masih lama?" Sementara di luar kamar mandi, Sebastian mengetuk pintu. "Aku sudah harus pergi nih." "Aku sudah selesai," ucap Elian saat membuka pintu, tidak sampai satu menit kemudian. "Tapi aku rasa kita mendapat sedikit masalah." "Masalah?" Tentu saja Sebastian akan bertanya dengan kening berkerut. "Masalah seperti apa? Apa kau sakit?" "Bisa dibilang sakit, karena pada akhirnya aku harus mengajukan cuti tiga bulan lagi." Mau tidak mau, Elian mengangkat benda yang sejak tadi dia pegang. Benda gepeng yang terbuat dari plastik, sebanyak dua buah. Bentuknya yang seperti stik itu, langsung membuat kedua alis Sebastian langsung terangkat. "Apa kau hamil lagi?" tanya Sebastian dengan pelan. "Sepertinya Pierre sudah meramalkan adanya anak yang berikut." Elian menggaruk kepala dan membuat rambut pendeknya acak-acakan. "Kalau sampai ucapannya tentang Adrien dan Matt yang ak
Setelah melakukan sesi konsultasi singkat dengan Anna, Sebastian jadi merasa lebih baik. Apalagi, Elian selalu menguatkan dirinya dan begitu pula sebaliknya. Sebastian selalu berusaha membuat sang istri merasa nyaman dan merasa terlindungi.Lalu, waktu berlalu dengan cepat. Tiga tahun berlalu dalam sekejap dan setelah lebih dari tga tahun berjuang, akhirnya waktu Pierre di dunia ini berakhir juga."Dad, Pierre tidur?" Seorang bocah lelaki yang mirip dan digendong Sebastian bertanya, sambil menggigit jari telunjuknya dan menatap ke arah peti mati yang sudah siap dikubur. "Tidur dalam peti?""Bisa dibilang seperti itu." Sebastian mengangguk. "Tapi mungkin, dia tidak akan bangun lagi. Mungkin nanti kau akan merindukan dia.""Why?" Anak lelaki satunya yang mirip Elian dan juga digendong oleh Sebastian ikut bertanya. "Kenapa Pierre tidak bangun lagi?""Kalau sudah tua dan sakit memang begitu." Giliran Elian yang menjawab, sambil mengulurkan tangannya. "Lagian kenapa kalian berdua ha
"Serius?" tanya Leo dengan mata membulat. "Kau akan punya anak kembar?""Katanya sih begitu." Elian mengangguk dengan sangat pelan. "Walau ini masih harus dilihat lagi, karena kemarin sempat kena anemia berat. Janinnya harus diperhatikan lagi, sampai benar-benar tumbuh dengan baik.""Aku sebenarnya mau bilang selamat, tapi entah kenapa rasanya kesal juga." Ariana mendegus pelan. "Aku juga mau anak kembar.""Berusahalah lebih keras lagi," ucap Elian memberi senyum tipis."Tapi, kenapa sepertinya Sebastian tidak bersemangat?"Semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh menatap ke arah lelaki yang dibicarakan. Sebastian sekarang ini lagi duduk di atas sofa, terlihat melamun dan menatap ke depan saja."Jangan-jangan, dia tidak siap punya anak kembar ya?" Ariana berbisik dengan sangat pelan."Untuk yang satu itu, aku tidak tahu." Sayangnya, Elian harus menggeleng. "Mungkin kami harus ke psikiater dulu untuk konsultasi.""Lah, kok ke psikiater?" Leo malah merasa bingung."Kenap
Sebastian menghela napas pelan, saat dirinya mulai sadar. Matanya masih terpejam, tapi kesadaran lelaki itu mulai bangun. Namun, karena kehangatan yang nyaman, rasanya Sebastian mau kembali tidur saja."Kalian serius tidur sambil berpelukan begini?"Suara bernada kesal yang terdengar, langsung membuat Sebastian membuka mata. Dia bahkan refleks bangun dari posisi tidurnya, untuk melihat siapa yang bersuara barusan."Aduh, Raphael." Pierre langsung mengeluh. "Harusnya kau itu tidak membangunkan mereka secepat itu. Kan lucu kalau banyak perawat yang lihat.""Hah?" Sebastian bergumam pelan, kemudian menoleh dan menemukan adiknya berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Kau tahu kalau ini bukan hotel kan?" tanya Raphael mengedikkan bahu ke arah ranjang.Tentu saja Sebastian akan mengikuti arah pandang adiknya, dan langsung terkejut ketika melihat Elian tertidur pulas sambil memeluknya. Bukan hal aneh karena mereka suami istri, tapi tempatnya yang kurang cocok. Mereka sed
Elian menatap Leo yang tersenyum cerah padanya. Jujur saja, itu terasa menyesakkan bagi Elian. Apalagi, lelaki itu sambil menyuapinya makanan. "Kau sudah telan semuanya?" Leo bertanya dengan senyum lebar. "Kalau sudah, buka mulut yang lebar lagi. Mau bubur, sup atau mash potato?" "Sup," jawab Elian dengan kedua alis terangkat. Mau tidak mau, Elian membuka mulutnya. Dia sempat melirik Sebastian untuk minta bantuan, tapi sang suami hanya bisa mengedikkan bahu. "Apa kau tidak marah?" tanya Elian dengan hati-hati. "Kenapa harus marah?" Leo balas bertanya. "Saudaraku sedang sakit dan mau manja, jadi tentu saja aku dengan senang hati mengurusimu. Mumpung suamimu memberi izin." Elian hanya meringis, kemudian kembali menatap suaminya. Dia juga memberi isyarat pada Sebastian agar mendekat. "Sejak kapan dia tahu?" Elian bertanya dengan suara berbisik. "Sepertinya dia sudah lama curiga, tapi baru yakin saat kau kena luka tusuk itu." Sebastian menjelaskan, juga dengan suara berb
"Kau terlambat," ucap Elian dengan bibir mencebik. "Tapi, Sayang. Aku cuma terlambat satu menit saja," ucap Sebastian tetap tersenyum semanis mungkin. "Satu menit, dan aku sudah coba egg benedict yang kau buat ini. Tapi, rasanya malah jadi aneh," jawab Elian masih dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali. "Rasa telur itu tidak mungkin berubah, Eli." Sebastian mencoba menjelaskan dengan sangat lembut. "Lagian, aku kan masak di rumah dan kau ada di rumah sakit. Tentu saja butuh sedikit waktu." "Masalahnya, aku baru makan sedikit dan rasanya sudah mual." Kali ini, Elian terlihat mengerutkan kening. "Kau mual hanya dengan satu suapan kecil?" Kedua alis Sebastian terangkat naik. "Apa telurnya bau?" "Tidak." Elian menggeleng. "Telurnya matang sempurna dan tidak bau, tapi sumpah aku butuh ke kamar mandi sekarang." Elian yang bergegas turun dari ranjang, membuat Sebastian tercengang. Lelaki itu sampai nyaris tidak sempat membantu istrinya turun dari ranjang, untung saja Pi







