Share

Bab 4

Author: Cahaya
Bola mata Sinta berputar cepat. Lalu, seakan terlintas sesuatu di benaknya, ia mendadak memasang wajah pilu sambil menunjuk ke arahku.

“Kak Vera, aku tahu kamu marah karena aku mengunggah itu di sosial media. Kamu marah karena aku mengandung anak Kak Omar. Tapi bagaimanapun juga, kamu tidak perlu sampai mengutuk anak di dalam kandungan, apalagi menipu dengan surat tindakan induksi palsu seperti ini!”

“Kalau kamu benar-benar keguguran, perut bagian bawahmu seharusnya sudah kempis. Mana mungkin masih membuncit seperti itu? Bencana jangan diarahkan pada anak. Sesama ibu, aku benar-benar merasa jijik dengan caramu memanfaatkan anak demi merebut perhatian!”

Karena aku mengenakan baju pasien yang longgar, ditambah perutku dililit perban tebal, dari luar memang tampak sedikit menonjol, sekilas masih seperti perut orang hamil.

“Omar, jangan dengarkan omong kosong Sinta. Anak itu memang sudah ....”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sebuah tamparan mendarat di pipiku. Rasa perih menyambar seketika. Aku mengangkat wajah, berhadapan dengan sepasang mata yang dipenuhi amarah.

“Vera, tindakan kamu benar-benar tidak masuk akal! Hanya karena cemburu, kamu bahkan mengabaikan prinsip dan batasan. Demi perhatian, kamu sampai mengutuk bayi di kandunganmu sendiri!”

“Sesama ibu, kenapa kamu tidak bisa memosisikan diri seperti Sinta? Apa kamu baru akan puas kalau Sinta dan anak di kandungannya mati?”

“Kenapa sebelumnya aku tidak menyadari kalau kamu sekejam ini? Vera, kamu sungguh mengecewakanku!”

Hah? Orang yang seharusnya kecewa itu aku!

Omar terus mengucapkan kata cinta, tapi hanya dengan beberapa kalimat provokasi dari Sinta saja, dia sudah meragukan watak dan kemanusiaanku. Dia menuduhku tak memercayai dia. Padahal, kapan dia pernah benar-benar memercayai aku? Sebelum ini dia tahu betul betapa berharganya anak dalam kandunganku. Apa pun yang terjadi, aku tak mungkin menjadikan anakku bahan candaan.

“Omar, anak itu sudah meninggal. Perutku terlihat membuncit karena lukaku dibalut terlalu banyak perban .…”

Ketika aku hendak mengangkat bajuku untuk membuktikannya, Sinta tiba-tiba menangkup perutnya dengan lemah dan terhuyung jatuh ke dalam pelukan Omar.

“Kak Omar, perutku sakit sekali .…”

Omar yang biasanya selalu tenang dan terkendali langsung panik. Ia menggendong Sinta secara menyamping, lalu menatapku dingin dan melemparkan satu kalimat singkat, “Tidak masuk akal,” sebelum membawa Sinta pergi mencari dokter.

Sekali lagi, aku ditinggalkan olehnya. Pada detik itu, hatiku benar-benar mati. Setelah menyeka air mata, aku pergi ke krematorium dan mengkremasi serta memakamkan anakku.

Sayang, ini salah Ibu karena tidak bisa melindungimu. Pergilah dengan tenang dan terlahir kembali. Jika memang kita masih berjodoh, semoga di kehidupan berikutnya kamu kembali memilih rahimku, memilihku sebagai ibumu .…

Usai keluar dari krematorium, aku singgah ke sebuah firma hukum dan meminta pengacara membantu menyusun perjanjian perceraian. Setelah itu, aku membawa dokumen tersebut pulang, berniat meminta Omar menandatanganinya.

Tak kusangka, begitu tiba di rumah, pemandangan itu menyambutku, Sinta berbaring santai di sofa, sementara Omar yang biasanya memiliki fobia kebersihan berat, kini justru tampak penuh kasih. Dengan tangannya sendiri, ia mengupas kulit anggur satu per satu, lalu menyuapkan daging buahnya ke mulut Sinta.

Kalau dulu, aku pasti sudah marah sampai seperti orang gila. Namun kini, aku seolah tuli dan buta. Di kepalaku hanya ada satu hal, membuat Omar menandatangani surat cerai. Melihat aku masuk, Omar pun membuka suara.

“Kamu pulang tepat waktu. Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan denganmu. Kamu dan Sinta sama-sama sedang mengandung, keduanya adalah anakku. Aku tidak bisa bersikap pilih kasih. Jadi aku memutuskan untuk menjemput Sinta tinggal di sini, supaya lebih mudah baginya menjaga kehamilan.”

Sinta menyandarkan kepala ke bahu Omar, melirikku dengan tatapan menantang.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 12

    “Vera, jangan setega ini padaku. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi .…”Aku merasa mual. Secara naluriah, tubuhku menolak Omar. “Omar, lepaskan aku!”“Tidak. Kalau kamu tidak mau rujuk denganku dan pulang ke negara kita bersamaku, aku tidak akan melepaskan kamu.”Saat aku kebingungan tak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari Omar, sebuah suara laki-laki yang dingin dan tegas tiba-tiba terdengar, “Tidak dengar dia menyuruhmu melepaskannya?”Aku menoleh ke arah suara itu, dan mataku langsung berbinar. “Bagas, tolong aku!”Sebelum Omar sempat bereaksi, Bagas sudah sigap menarikku ke dalam pelukannya. Melihat kami yang tampak begitu akrab dan alami, alis Omar langsung mengernyit, sorot matanya penuh permusuhan saat menatap Bagas.“Vera, siapa dia?”“Dia te ....”Aku hampir saja menyebut Bagas sebagai teman masa kecilku. Namun demi mematahkan harapan Omar sepenuhnya, sebuah ide muncul di kepalaku. Aku pun langsung merangkul lengan Bagas dengan mesra, lalu berkata dengan wajah manis, “

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 11

    Bagas mendukung keputusanku. Demi membantuku mengejar mimpi dengan lebih leluasa, ia bahkan langsung menanamkan modal dan mendirikan sebuah studio atas namaku, studio yang benar-benar menjadi milikku.Syukurlah, meski sudah lama tak melukis, bakat itu masih ada. Satu demi satu lukisan berhasil kuselesaikan, seluruh kepahitan, ketidakrelaan, dan luka batin selama bertahun-tahun aku tuangkan ke dalam kanvas.Aku memang memiliki dasar yang kuat. Ditambah lagi dukungan dan promosi dari Bagas, namaku dengan cepat melejit. Aku meraih medali emas dalam ajang lomba seni lukis dan menjadi bintang baru di dunia seni rupa.Sejak saat itu, aku benar-benar melepaskan masa lalu dan melangkah ke kehidupan yang baru. Aku mengira, seumur hidup aku takkan lagi punya persinggungan dengan mantan suamiku, Omar.Namun hari itu, ketika aku hendak keluar untuk memenuhi janji dengan Bagas, kami berencana menonton pameran seni bersama, aku justru melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di depan pintu.“Omar,

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 10

    Ekspresi Omar berubah menjadi seperti orang gila.“Semua ini salahmu. Dasar perempuan murahan! Kalau bukan karena kamu, anakku dengan Vera tidak akan celaka, dan Vera tidak akan meninggalkanku!”Memanfaatkan saat Omar lengah, Sinta menemukan celah. Ia mengangkat kaki dan menendang bagian vital Omar dengan keras, lalu meludahkan seteguk darah ke wajahnya.“Aku memang perempuan murahan, tapi kamu juga bukan orang baik! Kamu buaya, jelas-jelas sudah punya istri tapi masih main api denganku, bahkan sampai punya anak denganku!”“Kamu sendiri tak bisa mengendalikan nafsumu, tapi malah membohongi Vera dengan alasan penyakit aneh. Kamu pikir Vera pergi hanya karena aku?”“Yang benar-benar membuatnya mengambil keputusan pergi adalah sikap pilih kasihmu dan kebohonganmu! Dia sudah lama melihat semua dustamu!”“Kalau aku adalah pembunuh yang membuat Vera pergi, maka kamu adalah kaki tangannya!”Omar kesakitan hingga tubuhnya meringkuk, berguling-guling di lantai sambil meraung, “Sinta, Dasar wani

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 9

    “Kak Omar, aku benar-benar tidak menyangka Kak Vera setega ini. Dia sama sekali tidak bisa mentolerir keberadaanku. Demi membunuhku dan anakku, dia bahkan sampai memanggil polisi untuk memfitnah aku. Harga diri seseorang tidak boleh diinjak-injak seperti ini! Daripada anak ini lahir dan ikut menderita, lebih baik sekarang juga aku gugurkan saja!”Melihat Sinta mengepalkan tangan dan hendak menghantam perutnya sendiri, Omar langsung panik. Tak sempat lagi larut dalam kesedihan, ia buru-buru menahannya, bahkan secara refleks membela Sinta.“Pak Polisi, ini sama sekali tidak bisa membuktikan kalau Sinta sengaja melukai orang. Pembunuh anakku yang sebenarnya adalah pria itu. Kalian seharusnya menangkap dia!”“Lagipula, Sinta sendiri juga sedang hamil. Aku tidak percaya dia sanggup melakukan hal segila itu.”Tersirat jelas dalam kata-kata Omar kalau dia mencurigai polisi itu dan aku bekerja sama. Melihat Omar yang sudah buta hati dan Sinta yang terus menghasut tanpa henti, para polisi justr

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 8

    “Kenapa kali ini Vera berani berulah sebesar ini? Sepertinya aku memang terlalu memanjakannya, sampai dia jadi tidak tahu batas!”“Cari, kalian semua cari dia! Harus ketemu meskipun butuh menggali tanah! Begitu ketemu, aku akan menghukumnya lebih berat, biar dia benar-benar kapok!”Para pengawal kembali menjawab patuh lalu bergegas pergi. Tak lama kemudian, mereka sudah kembali dengan langkah tergesa. Omar terkejut, namun suaranya justru mengandung kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.“Secepat ini, kalian sudah menemukan Nyonya? Ini belum sampai sepuluh menit.”Pengawal itu dalam hati menggerutu, 'Mana mungkin, Tuan, Anda kira saya dewa?' Kemudian dia menggeleng, tapi dengan ragu mengangguk. “Tuan, Nyonya Vera belum ditemukan, tapi .…”Tiba-tiba polisi datang. Belum sempat pengawal itu menyelesaikan kalimatnya, beberapa polisi sudah menyibak kerumunan dan berjalan mendekat dengan wajah serius, berdiri tepat di hadapan Omar dan Sinta.Begitu melihat polisi, kilatan panik melintas se

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 7

    Mendengar itu, Omar langsung terpaku di tempat. Tangannya yang menggenggam ponsel tanpa sadar mengepal erat.“Kamu bilang apa, siapa yang menjalani operasi induksi?”Dokter mengira Omar tidak mendengar dengan jelas, lalu dengan baik hati mengulanginya, “Nyonya Vera.”“Vera melakukan apa?” Omar bertanya lagi, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.Si Dokter tidak habis pikir, apa pendengaran Omar bermasalah? Namun demi profesionalisme, ia tetap menjawab dengan jelas dan tegas, “Nyonya Vera menjalani operasi induksi persalinan.”Seluruh tubuh Omar seakan tersambar petir. Ia berdiri kaku, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Melihat reaksi Omar, mata Sinta berkilat oleh kegembiraan tersembunyi. Ia segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menghasut.“Kak Omar, perut Kak Vera sebesar itu, mana mungkin dia menjalani induksi persalinan?”“Menurutku dokter itu kemungkinan besar aktor yang Kak Vera sewa. Dia bersekongkol dengan dokter untuk berakting, hanya supaya kamu melunak dan mengeluarkann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status