Share

Bab 5

Author: Cahaya
“Kak Vera, kalo kita tinggal bersama, bukan hanya memudahkan aku merawat kehamilan, tapi juga memudahkan aku ‘mengobati’ Kak Omar. Kamu tidak keberatan, kan?”

Menghadapi provokasi itu, aku tersenyum dingin. “Tidak keberatan.”

Omar semula sudah menyiapkan segudang alasan karena takut aku menolak. Melihatku begitu patuh dan pengertian, ia mengangguk puas.

“Kalau kamu bisa berpikir seperti itu, tentu lebih baik .…”

Belum sempat Omar menikmati kepuasannya, aku sudah melemparkan perjanjian perceraian ke hadapannya, lalu mengucapkannya dengan tegas dan jelas kata demi kata, “Omar, tanda tangani ini. Kita cerai.”

“Vera, kamu tahu apa yang sedang kamu katakan?!” teriak Omar dengan kaget.

Dalam benak Omar, aku selalu perempuan yang lembut dan mudah dikendalikan. Dia bisa melempar kebohongan apa pun, dan aku akan percaya. Dia tinggal berlagak kasihan dan menangis sebentar, sebesar apa pun kesalahannya, aku pasti melunak dan memaafkannya.

Namun kali ini, aku justru mengajukan perceraian. Alis Omar berkerut. Situasi ini jelas sudah di luar kendalinya. Melihat aku mengeluarkan surat cerai, mata Sinta seketika berbinar. Namun raut wajah Sinta tetap berpura-pura cemas.

“Kak Vera, apa kamu marah karena aku tinggal di sini? Tapi kamu tidak perlu sampai cerai hanya karena emosi sesaat.”

“Kamu benar-benar tidak bisa menerimaku? Kalau begitu aku tidak akan tinggal di sini. Aku akan pergi sekarang .…”

Sambil terisak, Sinta berbalik menuju pintu. Omar buru-buru menahannya. Ia mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu menatapku dengan nada menyalahkan.

“Vera, sudah cukup! Apa kamu benar-benar ingin anak di kandunganmu lahir tanpa seorang ayah?”

Begitu dia menyebut anak, mataku langsung memerah karena marah.

“Omar, kamu tidak berhak menyebut dia anak! Karena anak kita sudah mati, mati karena ulahmu sendiri!”

Alis Omar semakin mengerut, wajahnya memuram seperti air yang membeku.

“Vera, tutup mulutmu! Aku tidak mengizinkanmu mengutuk anakku!”

“Kamu tenangkan diri dulu. Tapi perceraian ini, aku tidak akan melakukannya. Dan Sinta harus tetap tinggal di sini.”

Setelah berkata demikian, Omar masuk ke kamar dengan wajah muram. Ia sengaja membanting pintu keras-keras, menunggu aku seperti dulu yang mengejarnya dan membujuknya. Namun kali ini, aku bahkan malas menoleh. Aku hanya menyerahkan surat perjanjian perceraian itu kepada Sinta.

“Sinta, aku tahu sejak awal kamu ingin menyingkirkanku dan naik ke posisi ini. Selama kamu membuat Omar menandatangani surat cerai ini, aku akan langsung mundur dan memberi jalan untuk kalian.”

Sinta menatapku dengan curiga, lalu berpura-pura menolak. “Kak Vera, kamu salah paham. Aku tidak punya niat seperti itu. Kehamilanku ini juga hanya sebuah kecelakaan .…”

Aku memotong kalimatnya dengan dingin, “Di depanku, kamu tidak perlu terus berpura-pura.”

Detik berikutnya, sorot mata Sinta berubah dingin dan penuh perhitungan. “Vera, posisi istri Omar ini sudah kamu serahkan dengan tanganmu sendiri. Kalau suatu hari kamu ingin merebutnya kembali, jangan harap bisa mudah!”

Ia mengambil surat cerai tersebut, kemudian melenggang masuk ke kamar. Tak lama kemudian, Sinta keluar lagi dan melemparkan surat perceraian yang sudah bertanda tangan ke hadapanku.

“Tandatangannya sudah ada. Sekarang kamu bisa berkemas dan angkat kaki.”

Aku memang ingin pergi saat itu juga. Tapi tubuhku belum mengizinkan, aku baru saja menjalani operasi.

“Aku akan pergi. Tapi malam ini aku harus menginap satu malam. Besok pagi aku langsung pergi.”

Sinta mengira aku sedang mengingkari janji. Ia melirikku dengan tatapan penuh arti. Aku tak menggubrisnya dan kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang. Baru setengah jalan aku berkemas, tiba-tiba ….

Brak!

Pintu kamarku ditendang terbuka. Omar berdiri di ambang pintu dengan mata merah menyala. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah surat.

“Katakan! Kamu sembunyikan Sinta di mana?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 12

    “Vera, jangan setega ini padaku. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi .…”Aku merasa mual. Secara naluriah, tubuhku menolak Omar. “Omar, lepaskan aku!”“Tidak. Kalau kamu tidak mau rujuk denganku dan pulang ke negara kita bersamaku, aku tidak akan melepaskan kamu.”Saat aku kebingungan tak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari Omar, sebuah suara laki-laki yang dingin dan tegas tiba-tiba terdengar, “Tidak dengar dia menyuruhmu melepaskannya?”Aku menoleh ke arah suara itu, dan mataku langsung berbinar. “Bagas, tolong aku!”Sebelum Omar sempat bereaksi, Bagas sudah sigap menarikku ke dalam pelukannya. Melihat kami yang tampak begitu akrab dan alami, alis Omar langsung mengernyit, sorot matanya penuh permusuhan saat menatap Bagas.“Vera, siapa dia?”“Dia te ....”Aku hampir saja menyebut Bagas sebagai teman masa kecilku. Namun demi mematahkan harapan Omar sepenuhnya, sebuah ide muncul di kepalaku. Aku pun langsung merangkul lengan Bagas dengan mesra, lalu berkata dengan wajah manis, “

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 11

    Bagas mendukung keputusanku. Demi membantuku mengejar mimpi dengan lebih leluasa, ia bahkan langsung menanamkan modal dan mendirikan sebuah studio atas namaku, studio yang benar-benar menjadi milikku.Syukurlah, meski sudah lama tak melukis, bakat itu masih ada. Satu demi satu lukisan berhasil kuselesaikan, seluruh kepahitan, ketidakrelaan, dan luka batin selama bertahun-tahun aku tuangkan ke dalam kanvas.Aku memang memiliki dasar yang kuat. Ditambah lagi dukungan dan promosi dari Bagas, namaku dengan cepat melejit. Aku meraih medali emas dalam ajang lomba seni lukis dan menjadi bintang baru di dunia seni rupa.Sejak saat itu, aku benar-benar melepaskan masa lalu dan melangkah ke kehidupan yang baru. Aku mengira, seumur hidup aku takkan lagi punya persinggungan dengan mantan suamiku, Omar.Namun hari itu, ketika aku hendak keluar untuk memenuhi janji dengan Bagas, kami berencana menonton pameran seni bersama, aku justru melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di depan pintu.“Omar,

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 10

    Ekspresi Omar berubah menjadi seperti orang gila.“Semua ini salahmu. Dasar perempuan murahan! Kalau bukan karena kamu, anakku dengan Vera tidak akan celaka, dan Vera tidak akan meninggalkanku!”Memanfaatkan saat Omar lengah, Sinta menemukan celah. Ia mengangkat kaki dan menendang bagian vital Omar dengan keras, lalu meludahkan seteguk darah ke wajahnya.“Aku memang perempuan murahan, tapi kamu juga bukan orang baik! Kamu buaya, jelas-jelas sudah punya istri tapi masih main api denganku, bahkan sampai punya anak denganku!”“Kamu sendiri tak bisa mengendalikan nafsumu, tapi malah membohongi Vera dengan alasan penyakit aneh. Kamu pikir Vera pergi hanya karena aku?”“Yang benar-benar membuatnya mengambil keputusan pergi adalah sikap pilih kasihmu dan kebohonganmu! Dia sudah lama melihat semua dustamu!”“Kalau aku adalah pembunuh yang membuat Vera pergi, maka kamu adalah kaki tangannya!”Omar kesakitan hingga tubuhnya meringkuk, berguling-guling di lantai sambil meraung, “Sinta, Dasar wani

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 9

    “Kak Omar, aku benar-benar tidak menyangka Kak Vera setega ini. Dia sama sekali tidak bisa mentolerir keberadaanku. Demi membunuhku dan anakku, dia bahkan sampai memanggil polisi untuk memfitnah aku. Harga diri seseorang tidak boleh diinjak-injak seperti ini! Daripada anak ini lahir dan ikut menderita, lebih baik sekarang juga aku gugurkan saja!”Melihat Sinta mengepalkan tangan dan hendak menghantam perutnya sendiri, Omar langsung panik. Tak sempat lagi larut dalam kesedihan, ia buru-buru menahannya, bahkan secara refleks membela Sinta.“Pak Polisi, ini sama sekali tidak bisa membuktikan kalau Sinta sengaja melukai orang. Pembunuh anakku yang sebenarnya adalah pria itu. Kalian seharusnya menangkap dia!”“Lagipula, Sinta sendiri juga sedang hamil. Aku tidak percaya dia sanggup melakukan hal segila itu.”Tersirat jelas dalam kata-kata Omar kalau dia mencurigai polisi itu dan aku bekerja sama. Melihat Omar yang sudah buta hati dan Sinta yang terus menghasut tanpa henti, para polisi justr

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 8

    “Kenapa kali ini Vera berani berulah sebesar ini? Sepertinya aku memang terlalu memanjakannya, sampai dia jadi tidak tahu batas!”“Cari, kalian semua cari dia! Harus ketemu meskipun butuh menggali tanah! Begitu ketemu, aku akan menghukumnya lebih berat, biar dia benar-benar kapok!”Para pengawal kembali menjawab patuh lalu bergegas pergi. Tak lama kemudian, mereka sudah kembali dengan langkah tergesa. Omar terkejut, namun suaranya justru mengandung kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.“Secepat ini, kalian sudah menemukan Nyonya? Ini belum sampai sepuluh menit.”Pengawal itu dalam hati menggerutu, 'Mana mungkin, Tuan, Anda kira saya dewa?' Kemudian dia menggeleng, tapi dengan ragu mengangguk. “Tuan, Nyonya Vera belum ditemukan, tapi .…”Tiba-tiba polisi datang. Belum sempat pengawal itu menyelesaikan kalimatnya, beberapa polisi sudah menyibak kerumunan dan berjalan mendekat dengan wajah serius, berdiri tepat di hadapan Omar dan Sinta.Begitu melihat polisi, kilatan panik melintas se

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 7

    Mendengar itu, Omar langsung terpaku di tempat. Tangannya yang menggenggam ponsel tanpa sadar mengepal erat.“Kamu bilang apa, siapa yang menjalani operasi induksi?”Dokter mengira Omar tidak mendengar dengan jelas, lalu dengan baik hati mengulanginya, “Nyonya Vera.”“Vera melakukan apa?” Omar bertanya lagi, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.Si Dokter tidak habis pikir, apa pendengaran Omar bermasalah? Namun demi profesionalisme, ia tetap menjawab dengan jelas dan tegas, “Nyonya Vera menjalani operasi induksi persalinan.”Seluruh tubuh Omar seakan tersambar petir. Ia berdiri kaku, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Melihat reaksi Omar, mata Sinta berkilat oleh kegembiraan tersembunyi. Ia segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menghasut.“Kak Omar, perut Kak Vera sebesar itu, mana mungkin dia menjalani induksi persalinan?”“Menurutku dokter itu kemungkinan besar aktor yang Kak Vera sewa. Dia bersekongkol dengan dokter untuk berakting, hanya supaya kamu melunak dan mengeluarkann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status