Share

Bab 3

Author: Cahaya
“Kak Vera, kamu salah paham. Aku hanya menemani Kak Omar ke rumah sakit untuk berobat.”

“Penyakit Kak Omar belakangan ini makin parah, frekuensi kambuhnya semakin sering. Selama ini hanya mengandalkanku untuk meredakannya jelas bukan solusi. Karena itu dia datang ke rumah sakit untuk mencari pakar, ingin menyembuhkan penyakit aneh ini sampai tuntas. Semua yang dia lakukan itu demi kamu.”

“Justru aku yang ingin bertanya, Kak Vera, kenapa kamu ada di sini? Jangan-jangan, kamu mengikuti kami?”

Provokasi Sinta itu langsung membuat sorot mata Omar mengeras. Ia menatapku dengan tatapan kecewa yang menusuk.

“Vera, kamu menguntitku?”

“Lima tahun kita menikah, apa kamu tidak punya sedikit saja kepercayaan padaku?”

“Apa yang kulakukan ini semua demi kebaikanmu. Bagaimana bisa kamu meragukan ketulusanku?”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Saat aku mengalami kecelakaan, dia sama sekali tak peduli. Saat aku kehilangan anak kami, dia justru menemani Sinta menjalani pemeriksaan kehamilan, merayakan kehamilan mereka. Inikah yang dia sebut ketulusan?

Aku menyeringai dingin. Sebelum Sinta sempat bereaksi, aku merampas surat hasil pemeriksaan kehamilan dari tangannya dan melemparkannya keras-keras ke wajah Omar.

“Kamu terus berkata semua ini demi aku, dan perasaanmu tulus padaku. Tapi kamu bahkan sudah punya anak dengan Sinta! Ini yang kamu sebut demi kebaikanku?”

“Dan lagi, kamu sendiri yang paling tahu, apakah kamu benar-benar punya penyakit aneh itu, atau itu hanya kedok untuk menyembunyikan perselingkuhan kalian!”

Wajah Omar membeku sesaat. “Bagaimana kamu tahu Sinta hamil?”

Melihat celah itu, Sinta segera mengambil kesempatan untuk meniupkan api ke bara.

“Kak Omar, Kak Vera pasti tahu karena melihat unggahan sosial media milikku.”

“Ini salahku. Aku seharusnya tidak mengunggah itu untuk merayakan kehamilanku. Tapi ini pertama kalinya aku menjadi seorang ibu, aku terlalu bahagia sampai tak bisa menahan diri. Tak kusangka Kak Vera akan melihatnya.”

“Kak Vera, jangan marah. Kalau kamu benar-benar tidak bisa menerima anak ini, aku akan menggugurkannya sekarang juga .…”

Saat kata-kata terakhir itu terucap, mata Sinta sudah merah, air mata menggenang, seolah bisa jatuh kapan saja. Hati Omar melunak. Tanpa sadar, ia melindungi Sinta dengan tubuhnya, menempatkan wanita itu di belakang tubuhnya.

“Vera, kalau kamu marah, lampiaskan padaku. Jangan sakiti Sinta dan anak di kandungannya!”

“Ini semua hanya sebuah kecelakaan. Setelah tahu Sinta hamil, sebenarnya aku ingin dia menggugurkannya. Tapi dokter bilang kondisi tubuh Sinta itu unik, sepanjang hidupnya, dia hanya bisa hamil satu kali. Aku tidak bisa merampas hak Sinta untuk menjadi seorang ibu.”

“Vera, aku sudah bilang, tak seorang pun bisa menggoyahkan posisi istri Omar milikmu. Kamu sudah mendapatkan begitu banyak. Kali ini, mengalahlah pada Sinta. Biarkan dia dan anaknya hidup.”

Entah sejak kapan berubah, dulu Omar juga pernah berdiri di depanku seperti itu, untuk melindungiku tanpa ragu. Namun sekarang, orang yang ia lindungi menjadi Sinta.

Mengingat anakku yang hilang karena dirinya, mataku memerah. Aku mengeluarkan lembar tindakan induksi persalinan dan menghantamkannya keras-keras ke wajah Omar.

“Omar, kamu memintaku untuk tidak merampas hak Sinta menjadi seorang ibu. Lalu aku? Mengapa kamu begitu kejam padaku, merampas hakku untuk menjadi seorang ibu?!”

“Tahukah kamu, kenapa aku meneleponmu berkali-kali? Karena aku tertimpa papan reklame! Dan karena kamu tidak mengangkat telepon, anak kita meninggal! Itu anak yang kutunggu selama lima tahun!”

Mendengar itu, Omar terperangah. Matanya membelalak, tangannya yang memegang lembar tindakan induksi bergetar tak terkendali.

“Apa katamu? Anak kita sudah tidak ada?”

“Tidak, ini tidak mungkin. Bagaimana bisa? Tadi pagi, sebelum kamu keluar, kamu dan anak itu masih baik-baik saja .…”

Sinta melirik lembar tindakan induksi di tanganku. Sekilas, kilatan kepuasan melintas di matanya. Namun ketika ia menangkap tanda-tanda keraguan di wajah Omar, sorot matanya langsung mengeras, berubah dingin.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 12

    “Vera, jangan setega ini padaku. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi .…”Aku merasa mual. Secara naluriah, tubuhku menolak Omar. “Omar, lepaskan aku!”“Tidak. Kalau kamu tidak mau rujuk denganku dan pulang ke negara kita bersamaku, aku tidak akan melepaskan kamu.”Saat aku kebingungan tak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari Omar, sebuah suara laki-laki yang dingin dan tegas tiba-tiba terdengar, “Tidak dengar dia menyuruhmu melepaskannya?”Aku menoleh ke arah suara itu, dan mataku langsung berbinar. “Bagas, tolong aku!”Sebelum Omar sempat bereaksi, Bagas sudah sigap menarikku ke dalam pelukannya. Melihat kami yang tampak begitu akrab dan alami, alis Omar langsung mengernyit, sorot matanya penuh permusuhan saat menatap Bagas.“Vera, siapa dia?”“Dia te ....”Aku hampir saja menyebut Bagas sebagai teman masa kecilku. Namun demi mematahkan harapan Omar sepenuhnya, sebuah ide muncul di kepalaku. Aku pun langsung merangkul lengan Bagas dengan mesra, lalu berkata dengan wajah manis, “

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 11

    Bagas mendukung keputusanku. Demi membantuku mengejar mimpi dengan lebih leluasa, ia bahkan langsung menanamkan modal dan mendirikan sebuah studio atas namaku, studio yang benar-benar menjadi milikku.Syukurlah, meski sudah lama tak melukis, bakat itu masih ada. Satu demi satu lukisan berhasil kuselesaikan, seluruh kepahitan, ketidakrelaan, dan luka batin selama bertahun-tahun aku tuangkan ke dalam kanvas.Aku memang memiliki dasar yang kuat. Ditambah lagi dukungan dan promosi dari Bagas, namaku dengan cepat melejit. Aku meraih medali emas dalam ajang lomba seni lukis dan menjadi bintang baru di dunia seni rupa.Sejak saat itu, aku benar-benar melepaskan masa lalu dan melangkah ke kehidupan yang baru. Aku mengira, seumur hidup aku takkan lagi punya persinggungan dengan mantan suamiku, Omar.Namun hari itu, ketika aku hendak keluar untuk memenuhi janji dengan Bagas, kami berencana menonton pameran seni bersama, aku justru melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di depan pintu.“Omar,

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 10

    Ekspresi Omar berubah menjadi seperti orang gila.“Semua ini salahmu. Dasar perempuan murahan! Kalau bukan karena kamu, anakku dengan Vera tidak akan celaka, dan Vera tidak akan meninggalkanku!”Memanfaatkan saat Omar lengah, Sinta menemukan celah. Ia mengangkat kaki dan menendang bagian vital Omar dengan keras, lalu meludahkan seteguk darah ke wajahnya.“Aku memang perempuan murahan, tapi kamu juga bukan orang baik! Kamu buaya, jelas-jelas sudah punya istri tapi masih main api denganku, bahkan sampai punya anak denganku!”“Kamu sendiri tak bisa mengendalikan nafsumu, tapi malah membohongi Vera dengan alasan penyakit aneh. Kamu pikir Vera pergi hanya karena aku?”“Yang benar-benar membuatnya mengambil keputusan pergi adalah sikap pilih kasihmu dan kebohonganmu! Dia sudah lama melihat semua dustamu!”“Kalau aku adalah pembunuh yang membuat Vera pergi, maka kamu adalah kaki tangannya!”Omar kesakitan hingga tubuhnya meringkuk, berguling-guling di lantai sambil meraung, “Sinta, Dasar wani

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 9

    “Kak Omar, aku benar-benar tidak menyangka Kak Vera setega ini. Dia sama sekali tidak bisa mentolerir keberadaanku. Demi membunuhku dan anakku, dia bahkan sampai memanggil polisi untuk memfitnah aku. Harga diri seseorang tidak boleh diinjak-injak seperti ini! Daripada anak ini lahir dan ikut menderita, lebih baik sekarang juga aku gugurkan saja!”Melihat Sinta mengepalkan tangan dan hendak menghantam perutnya sendiri, Omar langsung panik. Tak sempat lagi larut dalam kesedihan, ia buru-buru menahannya, bahkan secara refleks membela Sinta.“Pak Polisi, ini sama sekali tidak bisa membuktikan kalau Sinta sengaja melukai orang. Pembunuh anakku yang sebenarnya adalah pria itu. Kalian seharusnya menangkap dia!”“Lagipula, Sinta sendiri juga sedang hamil. Aku tidak percaya dia sanggup melakukan hal segila itu.”Tersirat jelas dalam kata-kata Omar kalau dia mencurigai polisi itu dan aku bekerja sama. Melihat Omar yang sudah buta hati dan Sinta yang terus menghasut tanpa henti, para polisi justr

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 8

    “Kenapa kali ini Vera berani berulah sebesar ini? Sepertinya aku memang terlalu memanjakannya, sampai dia jadi tidak tahu batas!”“Cari, kalian semua cari dia! Harus ketemu meskipun butuh menggali tanah! Begitu ketemu, aku akan menghukumnya lebih berat, biar dia benar-benar kapok!”Para pengawal kembali menjawab patuh lalu bergegas pergi. Tak lama kemudian, mereka sudah kembali dengan langkah tergesa. Omar terkejut, namun suaranya justru mengandung kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.“Secepat ini, kalian sudah menemukan Nyonya? Ini belum sampai sepuluh menit.”Pengawal itu dalam hati menggerutu, 'Mana mungkin, Tuan, Anda kira saya dewa?' Kemudian dia menggeleng, tapi dengan ragu mengangguk. “Tuan, Nyonya Vera belum ditemukan, tapi .…”Tiba-tiba polisi datang. Belum sempat pengawal itu menyelesaikan kalimatnya, beberapa polisi sudah menyibak kerumunan dan berjalan mendekat dengan wajah serius, berdiri tepat di hadapan Omar dan Sinta.Begitu melihat polisi, kilatan panik melintas se

  • Lembaran Baru Kisahku   Bab 7

    Mendengar itu, Omar langsung terpaku di tempat. Tangannya yang menggenggam ponsel tanpa sadar mengepal erat.“Kamu bilang apa, siapa yang menjalani operasi induksi?”Dokter mengira Omar tidak mendengar dengan jelas, lalu dengan baik hati mengulanginya, “Nyonya Vera.”“Vera melakukan apa?” Omar bertanya lagi, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.Si Dokter tidak habis pikir, apa pendengaran Omar bermasalah? Namun demi profesionalisme, ia tetap menjawab dengan jelas dan tegas, “Nyonya Vera menjalani operasi induksi persalinan.”Seluruh tubuh Omar seakan tersambar petir. Ia berdiri kaku, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Melihat reaksi Omar, mata Sinta berkilat oleh kegembiraan tersembunyi. Ia segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menghasut.“Kak Omar, perut Kak Vera sebesar itu, mana mungkin dia menjalani induksi persalinan?”“Menurutku dokter itu kemungkinan besar aktor yang Kak Vera sewa. Dia bersekongkol dengan dokter untuk berakting, hanya supaya kamu melunak dan mengeluarkann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status