LOGINYuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga.
"Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?" Tanya Rangga sambil merenggangkan pelukan mereka berdua.Yuyun tidak menyahut, wanita itu menatap wajah Rangga sejenak lalu menggelengkan kepalanya."Kenapa diam? Ngomong sama aku kalau ada mSetelah membersihkan sisa-sisa hubungan intim dengan Anto, Yuyun segera merapikan bajunya kembali lalu keluar dari dalam kamar mandi.Di dapur Sarinten sedang menyeduh kopi untuk Darto, melihat Yuyun keluar dari dalam kamar mandi Sarinten agak terkejut karena saat dia masuk ke dapur sebelumnya dia melihat Anto cengar-cengir sambil menutup pintu kamar mandi lalu pergi ke beranda dengan nampan sarapan di kedua tangannya."Loh, Neng Yuyun? Sejak tadi Neng Yuyun di dalam?" Tanya Sarinten dengan wajah penasaran.Yuyun menatap Sarinten dengan tatapan bingung lalu mengangguk kecil."Kenapa memangnya, Ten? Kamu kebelet?" Tanya Yuyun."Nggak, cuma itu, anu, tadi saya melihat si Anto keluar dari dalam kamar mandi, saya pikir tidak ada siapa-siapa di dalam sana," tuturnya dengan ekspresi serba salah karena tidak bermaksud menuduh Yuyun melakukan sesuatu dengan Anto di dalam kamar mandi dapur."Anto? Dari dalam kamar mandi? Kapan?" Tanya Yuyun pura-pura tidak mengerti de
Tanpa ragu sedikitpun Anto langsung meremas-remas buah dada Yuyun. Yuyun menggeliat berusaha melepaskan diri dari tahanan Anto."Akh, To, lepas, aku mau sarapan," ujar Yuyun seraya memukul punggung telapak tangan Anto yang kini sibuk meremas-remas kedua buah dadanya."Neng, sebentar saja," tahan Anto sambil terus meremas lalu menarik kedua putingnya seperti yang dia lakukan kemarin sore.Tubuh Yuyun menggeliat kesana-kemari dalam tahanan Anto di belakang punggungnya, setiap hendak melepaskan diri dan kabur dari dekapan Anto selalu saja usahanya gagal lantaran Anto mencubit puting Yuyun yang menjulang runcing ke depan."To, ah, sshh, sudah, lepaskan aku! Mau kamu apa sih?" Tanya Yuyun seraya menatap kedua buah dadanya sendiri yang sudah mengeras dan memenuhi sisi dalam gaun hingga terlihat lebih besar dari ukuran sebelumnya. "Mauku? Ini Neng," jawabnya seraya menyibak ujung gaun Yuyun ke atas lalu menyelipkan tangannya ke dalam balik celana dalam Yuyun, Anto mena
"Bapak ngapain? Malah melongo! Sudah sana tidur!" Bentak Amina sambil memukul punggung Darto hingga membuatnya terkejut. Lamunan panjang memabukkan di dalam kepalanya seketika langsung buyar tak tersisa. Darto menatap Amina yang kini cemberut karena aktivitas yang dilakukan Devan bersama Yuyun di ruang tengah. "Ibu masih kesal?" Tanya Darto pada Amina. "Ya, tentu saja aku kesal, mereka kan bisa melakukannya di kamar, Pak! Kenapa harus di tempat terbuka seperti itu? Mereka sepertinya sengaja membuat aku nggak betah tinggal di rumah ini, apa mereka mau aku angkat kaki?" keluh Amina pada Darto.Darto menghela napas panjang lalu menyentuh bahu Amina di sampingnya."Ibu ini ngomong apa? Jangan bicara seperti itu, Devan tidak memiliki pekerjaan tetap, mau beli rumah pake apa? Wajar saja kalau mereka tinggal di rumah ini. Lagi pula kasihan Lili dan Aldi kalau Yuyun dan Devan pindah, siapa yang ngurus mereka, di rumah ini ada Sarinten yang jaga serta antar jemput anak-anak
"Nggak ada, Mas," jawab Yuyun.Devan meraba belahan bokong Yuyun dan menyentuh liang intimnya.Tatapan mata Yuyun masih sama, Yuyun tidak menanggapi sentuhan Devan seolah-olah tidak merasakan apapun.Devan mulai bingung, dia segera menarik jemari tangannya dari sisi liang intim Yuyun."Kenapa berhenti? Bukannya tadi Mas pengen kita melakukan hubungan intim?" Tanya Yuyun dengan tatapan mata datar."Ya, tadinya aku mau melakukan hubungan intim tapi sepertinya kamu tidak menginginkannya, nggak papa kalau kamu lelah kamu istirahat saja di kamar," ujar Devan seraya bangun dari posisi telentang lalu mengangkat tubuh Yuyun ke sampingnya. Devan kembali tengkurap di karpet memeluk bantal dan tidak melakukan apa-apa selain memejamkan kedua matanya.Yuyun tidak mengerti kenapa Devan tidak melanjutkan apa yang diinginkan dan malah tengkurap seperti sebelumnya."Kalau bosan sama aku, ngomong, bukan malah menghindar," ujar Yuyun lalu berdiri dari karpet dan pergi
"Mana Neng kuncinya?" Tanya Anto seraya menyentuh kedua puting Yuyun lalu memelintirnya dengan jemari tangannya. Yuyun menggenggam kedua pergelangan tangan Anto untuk menahannya tapi hal tersebut tidak bisa menghentikan gerakan jemari Anto pada kedua dadanya. Yuyun sesekali membalas tatapan mata Anto yang kini tengah menatap kancing baju Yuyun yang hanya menutup sampai separuh dada, kedua buah dada Yuyun yang putingnya berada dalam permainan Anto terlihat bergoyang-goyang menyembul naik dan hampir keluar dari gaunnya."Akh, To, awh, kenapa ditarik putingku? Ahhh, oouhhh, aahh," desah Yuyun sambil menggigit bibir bawahnya."Kalau aku tanya dijawab Neng, malah merintih," desis Anto di telinga Yuyun seraya memberikan gigitan pelan pada daun telinga Yuyun. Pilinan jemari tangan Anto berubah menjadi remasan kuat dan beruntun hingga membuat tubuh Yuyun menggeliat kesana-kemari. Ujung hidung Anto mulai mengendus sisi leher Yuyun yang jenjang. Yuyun ingin mengakhiri permainan yang k
Darto sejak tadi masih mencuri dengar percakapan antara Devan dan Anto. Dia sudah tidak sabar ingin menonjok kepala Anto dengan tinjunya, terlebih lagi ketika mendengar Devan mengatakan tentang pinggangnya yang patah jika harus menggantikan Anto menjadi supir Amina. Darto paham dengan maksud dari percakapan tersebut yang intinya Devan kelelahan melayani birahi Amina yang berlebihan. Sebelum pembicaraan antara mereka terlalu jauh, Darto sengaja terbatuk-batuk untuk menunjukkan keberadaan dirinya di dekat ambang pintu ruangan utama."Uhuk! Uhuk! Kalian ini kalau bicara nggak pakai saringan, semua diomongin," omelnya pada Devan dan Anto."Ngomongin apa ya Pak? Tadi saya hanya bahas perumpamaan dan bukan cerita nyata Pak," sahut Anto sambil mengukir senyum kaku pada bibirnya."Aku bisa dengar semuanya, kalian ngeluh kalau jadi sopir Amina pinggang kalian patah-patah! Lelah! Atau apalah! Jangan-jangan di belakangku kalian diam-diam nyuri ...." Ujar Darto sambil menunjuk
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
“Ngelindur kamu? Aku itu mana paham jadi tukang parkir? Lawong naik motorku sendiri saja sering nyeruduk tukang becak. Aku nggak begitu paham dengan rambu-rambu pinggir jalan itu.”Wati merasa bingung, gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apa sih hubungannya tukang parkir sama ram







