Share

Bab 2 Layani aku

Author: Jackie Boyz
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-13 14:17:47

Brak!

Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.

Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Buruan keluar, anak-anak harus ke sekolah. Aku mau pergi ke kantor!” Teriak istri Devan dari luar pintu.

“Ukh! Keras Yun, aku masih buang air ini, keras sekali, uukhh!” Devan memencet batang hidungnya sambil berpura-pura mengejan.

“Ya sudah, nanti pokoknya jangan lupa anter anak-anak!”

“Iya Yun, kamu berangkat saja dulu, akh, aku sudah mau selesai!” Sahutnya dari dalam kamar mandi.

“Mas, pinter banget ngeles,” bisik Sarinten sambil mencubit mesra pipi Devan.

“Ten, nanti malam kalau ada waktu aku datang ke kamar kamu ya?” Pinta Devan pada Sarinten.

“Mas nggak tahan ya? hihihi!” Sarinten terkekeh geli.

“Iya, habisnya kamu seksi sekali. Dadamu juga lebih besar dari Yuyun, apalagi bagian bawahmu ini, sangat nikmat sekali pijitannya!” ungkap Devan dengan penuh nafsu.

“Ah, Mas Devan mujinya kelewatan, nanti Rinten terbang Mas. Jangan gitu ah, punya Mas Devan ini bikin Rinten nggak tahan juga. Besar dan panjang sudah gitu tahan sampai berjam-jam!” balasnya dengan gaya menggoda.

Mendengar langkah kaki Yuyun semakin jauh, Sarinten segera menyelinap keluar dari dalam kamar mandi tersebut untuk melanjutkan tugasnya membangunkan Darto di dalam kamarnya.

Dengan gemas Devan mencubit bokong Sarinten saat wanita itu melenggang di depan matanya.

“Akh, Mas!” Sarinten memekik pelan sambil menggoyangkan pinggulnya.

“Awas kalau lupa!” tagih Devan.

“Nggak mungkin Rinten lupa, sudah Mas sana buruan sarapan!” perintah wanita itu sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Devan.

Sarinten berjalan menuju ke kamar Darto, rupanya aksi panas Darto dan Amina masih belum selesai.

Sarinten hampir mengetuk pintu buru-buru menarik tangannya, dia melihat dari celah pintu gerakan liar Amina di atas ranjang.

“Astaga! Pak Darto ternyata juga memiliki senjata sebesar itu, seukuran dengan punya Mas Devan. Pantas saja Bu Amina selalu lama saat tinggal di dalam kamar.” Ucapnya sambil menelan ludahnya ketika menyaksikan adegan panas plus-plus di dalam kamar.

“Pak, oh, Pak! Paaak!”

“Giliranku Bu!”

Amina mengerang seraya menciumi bibir pria berkumis itu.

Sarinten terus melihat adegan sejak lima menit yang lalu.

“Ten! Kopiku mana!” Tegur Anto si supir Amina, pria itu berdiri di ambang pintu ruang tengah.

“Ssstttt! Diam kamu!” Sarinten memberikan isyarat pada Anto agar tidak bicara keras-keras. Anto hanya bisa menunjuk tangan Sarinten yang sekarang berada di dalam rok. Sarinten malu sekali, wanita itu buru-buru menurunkan ujung dasternya lalu menarik lengan Anto menuju ke dapur.

“Kamu ngapain, Ten?” Sindir Anto sambil menelan ludahnya sendiri melihat paha mulus milik pembantu rumah tersebut. Napas Anto mulai memburu.

“To, jangan! Nanti istrimu marah sama aku, To,” tolak Sarinten. Mereka berdua sudah tiba di dapur. Sarinten melepaskan lengan Anto karena harus mengambil air dalam panci kecil lalu menyalakan kompor.

“Jangan ngadu dong, Ten. Masa kamu tega sama aku?” Anto menggila dan mulai bertindak lebih jauh.

“To, jangan, nanti ketahuan!” tolak Sarinten pada supir tersebut.

“Ten, dari belakang ya? Aku minta sebentar saja, sepuluh menit.” Rayu Anto pada Sarinten.

“I-iya!” Sarinten akhirnya setuju dan langsung membungkuk berpegangan dengan meja dapur.

Karena tergesa-gesa mereka hanya melakukan aktivitas itu selama lima belas menit.

“Sudah To, lepas, buruan, aku mau seduh kopimu. Nanti Pak Darto juga keburu ke dapur, gawat kalau kita ketahuan.” Sarinten memukuli lengan Anto yang masih menahan kedua sisi pinggangnya.

“Iya Ten, eh, jangan bilang sama istriku ya? Nanti dia minta cerai, kamu tahu sendiri Narti itu cemburunya besar banget!” Ucapnya sambil mengeluarkan uang tiga puluh ribu dari dalam saku bajunya untuk membungkam mulut rekan kerjanya itu. “Ini buat beli jajan, aku cuma punya segini Ten. Ibu Amina belum kasih gaji bulan ini.” Rayunya pada Sarinten.

“To, nggak usah! Aku masih punya uang. Lagi pula kita melakukannya atas dasar mau sama mau. Sudah kamu simpan saja uangnya,” Sarinten mengukir senyum pada bibirnya lalu mengambil dua gelas dan mulai menyeduh kopi untuk Anto, satu untuk Darto.

“Serius Ten? Nanti pas aku nagih kamu tolak?” tanya Anto sambil berpura-pura merajuk menekuk wajahnya.

“To, kamu itu sudah punya istri, aku nggak mau kalau nanti kena amuk Narti. Narti juga cantik, sudah sana bawa kopimu! Nanti dicari Bu Amina!” Perintahnya sambil melenggang pergi membawa gelas kopi milik Darto menuju ruang makan.

Anto terus menatap punggung Sarinten dengan penuh hasrat.

Pokoknya kamu harus mau Ten, besok-besok aku bakalan tagih lagi! Punyamu disentuh saja sudah basah seperti itu, pasti kamu nggak akan nolak aku!

Anto bersumpah dalam hati sambil menyeruput kopi dari cangkirnya. Matanya yang liar menatap bokong padat milik Sarinten, wanita itu sedang berdiri menghadap meja makan memunggunginya. Sarinten mengambil piring kotor yang tadi dipakai Devan dan Yuyun juga Lili dan Aldi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 111 Menahan rasa

    “Sam, ampun, oukhh, kalau begini kita bisa ketahuan.” Rengek Narti agar Samsudin bersedia melepaskannya lantaran mereka masih berada di samping bawah meja besar.“Nar, nanti sepulang kerja aku puaskan kamu di ruang ganti ya?” Ujarnya seraya menarik kaos Narti ke atas, lalu melumat kedua buah kembar yang kini sudah mengeras. Meremas-remasnya lalu memainkan ujungnya menggunakan lidahnya. Sesekali Samsudin menyedotnya dengan kuat sampai Narti melenguh nikmat.Puas menikmati buah kembar Narti, Samsudin tidak bisa berhenti. Jadi di celah sempit itu dia tetap menyodok Narti detik itu juga.“Sam, nakal kamu, akh akh, ukh, Sam, ah.” Narti mendesah sambil merangkuk tengkuk Samsudin yang kini menggenjot liang intimnya.“Nggak kuat aku Nar, rasanya sudah di ubun-ubun pengen genjot puasin kamu. Ah, ah, Narti, oukh, ah.”Untungnya selama proses saling memuaskan satu sama lain tidak ada yang mendengarkannya. Samsudin melakukannya dengan pelan, keduanya juga bicara lirih dan be

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 110 Permintaan Devan

    Devan masuk melewati pintu samping, dia mendengar suara sibuk Sarinten di dapur. Iseng-iseng Devan melihatnya ke sana, Sarinten kaget sekali ketika Devan sudah berada di sebelahnya tanpa terdengar suara langkah kaki. Devan menyentuh kedua sisi pinggang Sarinten mencium pipi kanannya tanpa permisi.“Mas Devan, ngagetin.” Sarinten tersenyum lalu mematikan kompor dan memutar badan.“Aku pengen Ten,” ujarnya langsung sambil menarik ujung daster Sarinten ke atas, Devan menunduk sampai berjongkok dan menatap bulu lebat pada area intim Sarinten. “Aku senang kamu nggak pakai celana dalam.” Ujarnya sambil menusukkan jemari tengahnya ke dalam dan memutarnya di area sempit milik Sarinten.“Akh, Mas, oukhh, Mas Dev, akh.” Sarinten sangat menikmati kocokan jemari Devan, dengan sengaja dia menaikkan satu kakinya tinggi-tinggi sambil bersandar di meja dapur. “Oukhh Mas enak oukhh, ahh, terus Mas, oukh.”Melihat cairan Sarinten mulai meleleh dan juga denyutan pada area intim Sarinte

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 109 Tentang Amina yang jatuh ke tangan Darto

    “Iya Mas, tapi kita harus meeting. Banyak klien nunggu jam sepuluh nanti Mas. Berkas yang masuk ke kantor juga belum aku periksa.” Yuyun memukul pelan punggung Rangga.Rangga tetap menjilati ujung buah dada Yuyun bergantian. Menempatkannya pada kedua telapak tangannya, rasa-rasanya Rangga enggan meninggalkan Yuyun untuk kembali bekerja. Dia lebih senang berada di sisi Yuyun, menikmati tubuh seksi dan montok milik asisten pribadinya itu.“Mas, sudah, ahhh, Mas, Mas Rangga ... aakhhh.” Yuyun merengek manja, tadinya dia masih setengah duduk di meja kerjanya, kini dia telentang lantaran Rangga mendorongnya rebah. Lalu menempatkan kedua kaki Yuyun di atas kedua bahunya sambil menggesek liangnya dengan tongkatnya, Rangga terus menggenjot.“Ah, ssh, Mas, eemh, Mas Ranggaaa, oukh Mas.”“Yun aku senang oukh, sayang, kamu seksi sayangku, babyku, oukhh, baby, oukhh, yeah, ouhhh!”“Ah, Mas, cepat ah, Mas, aku pengen keluar lagi ini, nggak kuat, Mas.” Yuyun merengek manja, sa

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 108 Gairah Rangga

    ***Setelah sampai di toko, Amina segera turun dari dalam mobil lalu masuk ke dalam. Anto memilih menunggu di dekat pos satpam.Di sisi lain, Yuyun sudah tiba di kantor. Wanita itu masuk ke dalam ruangan kerjanya untuk memulai menyelesaikan pekerjaan satu persatu. Map masih belum diambil dari dalam ruangan kerja Rangga. Sepertinya Rangga juga belum tiba di perusahaan, saat Yuyun masuk ke dalam tadi dia tidak melihat mobil Rangga di area parkiran perusahaan.“Mas Rangga belum berangkat? Belum ada berkas yang dikirim ke ruangan kerjaku.” Gumamnya.Sari, wanita yang bekerja di perusahaan sebagai resepsionis melirik ke arah ruangan kerja Yuyun. Yuyun nampak sedang mengikat rambutnya. Baju Yuyun terlihat seksi dan cantik. Sangat serasi dengan bentuk tubuhnya.Karena hatinya gatal, Sari sengaja pergi menghampiri pintu ruangan kerja Yuyun yang terbuka. “Yun! Gimana jadi simpanan Bos? Sudah kaya kamu? Aku lihat dari tahun ke tahu nggak ada peningkatan. Aku pikir kamu bak

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 107 Gelagat Anto

    Pagi ini di dalam kediaman Darto, satu keluarga sedang duduk di kursi meja makan. Anto baru tiba langsung menuju ke dapur untuk mengambil sarapan dan juga kopinya. Di sana Sarinten sedang sibuk membuat kopi untuk tiga orang, Anto, Darto, dan Yuyun.“Ten? Mana kopiku?”Sarinten menoleh lalu menyodorkan cangkir dan juga sarapan dalam piring pada Anto.“Ini To, kamu bawa saja ke beranda.” Ucapnya.Anto tidak membawanya ke beranda, tapi dia menarik kursi dan duduk di dapur untuk menikmati sarapan. Sarinten tidak menegur karena dia sendiri juga sangat sibuk, usai meletakkan kopi milik Yuyun dan Darto, Sarinten balik ke dapur. Di sana dia melakukan pekerjaan lainnya, dia harus menyiapkan sayuran untuk dimasak dan diantarkan ke peternakan siang ini.“Ten kamu nggak sarapan dulu?” Tanya Anto lantaran menatap Sarinten sejak tadi sibuk tanpa istirahat.“Nanti saja, aku sarapan setelah selesai beres-beres.” Sahutnya.Anto menatap wajah pelayan kediaman majikannya it

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 106 Paksaan Samsudin

    Sampai di peternakan dia menurunkan Narti di sana, kebetulan Samsudin juga baru tiba. Dia turun dari motornya, Narti juga turun dari boncengan Anto. Samsudin menatap gagahnya suami Narti. Dulunya Anto tidak berpenampilan seperti itu karena menjadi supir daging dan susu, sekarang dia menjadi supir Nyonya majikan. Penampilannya berubah drastis, lebih macho dan lebih rapi.Penampilan Narti tak kalah seksi, rok mini pendek serta shirt dari bahan kaos ketat dengan dua kancing terbuka di sisi atasnya, biasanya Samsudin menyesap kedua putingnya dari atas kaos tersebut setelah mengeluarkannya sambil menyibak rok mini menyodok liang intim Narti, bayangan Samsudin Narti merintih manja sama seperti sebelumnya.“Mas aku masuk dulu,” pamit Narti pada Anto.“Iya, kamu masuk, aku mau pergi ke rumah Pak Darto.”“Hem.” Angguk Narti sambil melambai.Narti berjalan pelan masuk ke dalam, Samsudin mengekor Narti sambil menyulut rokoknya, saat mereka melewati gang sempit Samsudin lang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status