INICIAR SESIÓNBrak!
Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan. Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Buruan keluar, anak-anak harus ke sekolah. Aku mau pergi ke kantor!” Teriak istri Devan dari luar pintu. “Ukh! Keras Yun, aku masih buang air ini, keras sekali, uukhh!” Devan memencet batang hidungnya sambil berpura-pura mengejan. “Ya sudah, nanti pokoknya jangan lupa anter anak-anak!” “Iya Yun, kamu berangkat saja dulu, akh, aku sudah mau selesai!” Sahutnya dari dalam kamar mandi. “Mas, pinter banget ngeles,” bisik Sarinten sambil mencubit mesra pipi Devan. “Ten, nanti malam kalau ada waktu aku datang ke kamar kamu ya?” Pinta Devan pada Sarinten. “Mas nggak tahan ya? hihihi!” Sarinten terkekeh geli. “Iya, habisnya kamu seksi sekali. Dadamu juga lebih besar dari Yuyun, apalagi bagian bawahmu ini, sangat nikmat sekali pijitannya!” ungkap Devan dengan penuh nafsu. “Ah, Mas Devan mujinya kelewatan, nanti Rinten terbang Mas. Jangan gitu ah, punya Mas Devan ini bikin Rinten nggak tahan juga. Besar dan panjang sudah gitu tahan sampai berjam-jam!” balasnya dengan gaya menggoda. Mendengar langkah kaki Yuyun semakin jauh, Sarinten segera menyelinap keluar dari dalam kamar mandi tersebut untuk melanjutkan tugasnya membangunkan Darto di dalam kamarnya. Dengan gemas Devan mencubit bokong Sarinten saat wanita itu melenggang di depan matanya. “Akh, Mas!” Sarinten memekik pelan sambil menggoyangkan pinggulnya. “Awas kalau lupa!” tagih Devan. “Nggak mungkin Rinten lupa, sudah Mas sana buruan sarapan!” perintah wanita itu sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Devan. Sarinten berjalan menuju ke kamar Darto, rupanya aksi panas Darto dan Amina masih belum selesai. Sarinten hampir mengetuk pintu buru-buru menarik tangannya, dia melihat dari celah pintu gerakan liar Amina di atas ranjang. “Astaga! Pak Darto ternyata juga memiliki senjata sebesar itu, seukuran dengan punya Mas Devan. Pantas saja Bu Amina selalu lama saat tinggal di dalam kamar.” Ucapnya sambil menelan ludahnya ketika menyaksikan adegan panas plus-plus di dalam kamar. “Pak, oh, Pak! Paaak!” “Giliranku Bu!” Amina mengerang seraya menciumi bibir pria berkumis itu. Sarinten terus melihat adegan sejak lima menit yang lalu. “Ten! Kopiku mana!” Tegur Anto si supir Amina, pria itu berdiri di ambang pintu ruang tengah. “Ssstttt! Diam kamu!” Sarinten memberikan isyarat pada Anto agar tidak bicara keras-keras. Anto hanya bisa menunjuk tangan Sarinten yang sekarang berada di dalam rok. Sarinten malu sekali, wanita itu buru-buru menurunkan ujung dasternya lalu menarik lengan Anto menuju ke dapur. “Kamu ngapain, Ten?” Sindir Anto sambil menelan ludahnya sendiri melihat paha mulus milik pembantu rumah tersebut. Napas Anto mulai memburu. “To, jangan! Nanti istrimu marah sama aku, To,” tolak Sarinten. Mereka berdua sudah tiba di dapur. Sarinten melepaskan lengan Anto karena harus mengambil air dalam panci kecil lalu menyalakan kompor. “Jangan ngadu dong, Ten. Masa kamu tega sama aku?” Anto menggila dan mulai bertindak lebih jauh. “To, jangan, nanti ketahuan!” tolak Sarinten pada supir tersebut. “Ten, dari belakang ya? Aku minta sebentar saja, sepuluh menit.” Rayu Anto pada Sarinten. “I-iya!” Sarinten akhirnya setuju dan langsung membungkuk berpegangan dengan meja dapur. Karena tergesa-gesa mereka hanya melakukan aktivitas itu selama lima belas menit. “Sudah To, lepas, buruan, aku mau seduh kopimu. Nanti Pak Darto juga keburu ke dapur, gawat kalau kita ketahuan.” Sarinten memukuli lengan Anto yang masih menahan kedua sisi pinggangnya. “Iya Ten, eh, jangan bilang sama istriku ya? Nanti dia minta cerai, kamu tahu sendiri Narti itu cemburunya besar banget!” Ucapnya sambil mengeluarkan uang tiga puluh ribu dari dalam saku bajunya untuk membungkam mulut rekan kerjanya itu. “Ini buat beli jajan, aku cuma punya segini Ten. Ibu Amina belum kasih gaji bulan ini.” Rayunya pada Sarinten. “To, nggak usah! Aku masih punya uang. Lagi pula kita melakukannya atas dasar mau sama mau. Sudah kamu simpan saja uangnya,” Sarinten mengukir senyum pada bibirnya lalu mengambil dua gelas dan mulai menyeduh kopi untuk Anto, satu untuk Darto. “Serius Ten? Nanti pas aku nagih kamu tolak?” tanya Anto sambil berpura-pura merajuk menekuk wajahnya. “To, kamu itu sudah punya istri, aku nggak mau kalau nanti kena amuk Narti. Narti juga cantik, sudah sana bawa kopimu! Nanti dicari Bu Amina!” Perintahnya sambil melenggang pergi membawa gelas kopi milik Darto menuju ruang makan. Anto terus menatap punggung Sarinten dengan penuh hasrat. Pokoknya kamu harus mau Ten, besok-besok aku bakalan tagih lagi! Punyamu disentuh saja sudah basah seperti itu, pasti kamu nggak akan nolak aku! Anto bersumpah dalam hati sambil menyeruput kopi dari cangkirnya. Matanya yang liar menatap bokong padat milik Sarinten, wanita itu sedang berdiri menghadap meja makan memunggunginya. Sarinten mengambil piring kotor yang tadi dipakai Devan dan Yuyun juga Lili dan Aldi.Sampai di semak-semak, Darto langsung membuka kancing celana yang dikenakan olehnya. Pria itu mendorong Narti agar rebah di atas rerumputan. “Tuan, langsung saja,” Rengek Narti pada Darto. “Kamu nggak sabaran sekali, Nar?” Darto mengambil ancang-ancang. “Tuan!” Narti memekik seraya mengangkat wajahnya. “Kenapa, Nar? Kamu nggak senang aku jatah lagi? Nanti aku tambahin tips buat beli jajan,” bujuknya. Narti terlihat nyaman dan sangat menikmati semua sentuhan dan servis yang dia berikan. Sampai dua puluh menit lamanya, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. “Sudah Nar, ayo ke peternakan, nanti karyawan lain lewat sini kita ketahuan bisa gawat.” Ucapnya seraya menarik diri. Darto menarik lengan Narti agar bangkit duduk untuk membenahi kembali bajunya. Narti hampir telanjang gara-gara ulah Darto barusan. “Sudah Tuan, kita harus berangkat ke peternakan.” Ajak Narti pada Darto. “Nar, aku senang sekali kamu mau melayaniku pagi ini, kapan-kapan aku minta jatah lagi, awas kalau
“Mas, aku keluar dulu. Banyak kerjaan yang belum selesai. Nanti bisa berantakan semuanya kalau aku tinggal terlalu lama di sini.” Pamitnya pada Rangga, Rangga hanya menganggukkan kepalanya. Yuyun segera berlalu dari ruangan Rangga.Sementara Rangga lupa belum membersihkan sisa-sia cairan di lantai yang tadi dia muntahkan saat tiba pada klimaksnya.Lima menit kemudian terdengar suara high heels masuk ke dalam, ternyata Mita istri Rangga.“Mas! Aku telepon sejak tadi lo! Kenapa nggak diangkat???!” Bentaknya pada Rangga. Mita terkejut melihat meja kerja Rangga terpisah dari keempat kakinya. “Mas ini kenapa berantakan sekali? Mas apain mejanya kok bisa patah begini? Pasti Mas naikin kan! Sama asisten kesayanganmu itu! Ayo buruan ngaku! Pantas saja Mas nggak mau pulang cepet! Pasti setiap hari Mas Rangga sama si Yuyun main kuda-kudaan di sini! Lihat, meja kamu saja sampai ambruk begini!” Cerocos Mita tanpa titik dan koma.Telinga Rangga sampai terasa berbusa saat mendengar celoteh Mita tan
“Pagi, juga Mbak!” Sahut Anto sambil memasang senyum manis pada bibirnya.Para gadis itu langsung berbisik-bisik di belakangnya. “Mas tongkatmu nyala, hihihihi!” Selesai berkata demikian mereka segera pergi meninggalkan Anto menuju ke dalam toko.Wajah Anto memerah, “Nyinggung-nyinggung tongkat, ntar aku hajar merintih-rintih kalian! Awas saja!” Serunya sambil menghisap rokoknya lalu mengepulkan asapnya dengan penuh rasa bangga.***Di sisi lain.. Yuyun istri Devan masih berada di dalam ruangan meeting. Wanita muda dan cantik itu terlihat sibuk mengikuti acara penting tersebut. Penampilan Yuyun yang seksi mengenakan stelan shirt ketat warna putih serta rok ketat warna hitam dengan belahan di samping, membuat atasannya terus mencuri pandang pada paha dan dada Yuyun.Yuyun sebenarnya sudah tahu sejak dulu, awalnya dia bekerja di belakang meja resepsionis dan kini dipindahkan ke dalam ruangan tertutup dan ber-ac dekat dengan ruangan bosnya itu. Tinggal di sisi manager beristri, tidak mem
Di luar Anto sudah duduk di dalam mobil, pria itu siap membawa Nyonya Majikannya ke tempatnya bekerja. Amina duduk di kursi belakang, wanita itu melambaikan tangannya melihat Darto berdiri di ambang pintu ruangan utama untuk melepas kepergiannya.“Daaaa, Bapak.. muach!” Serunya dengan sangat genit.“Sudah, bikin aku nggak tahan saja kamu itu! Cup, cup!” Bisik Darto pada Amina sambil menciumi tangan Amina dari luar jendela mobil.“Iya, sudah deh, Bapak jangan nunggu aku, mungkin aku nanti agak malam lagi pulangnya,” pesannya pada Darto.“Nggak apa-apa, asalkan dapat jatah!” balasnyapada Amina tanpa rasa malu. Anto merasa badannya panas sekali mendengar pembicaraan dari dua majikannya itu. Mereka ini ternyata memang sangat sering hok-a hok-a! Padahal aku kira cuma omongan dan gosip dari bibir karyawan semata. Masa Narti juga sampai tahu! Dan ngomong sama aku kalau di dalam ruangan kerja dalam peternakan, Pak Darto sering melakukannya dengan Bu Amina. Aku nggak bisa bayangin tubuhnya y
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang hanya tertutup pada kedua ujungnya itu. “Sialan! Nyonya majikan ini, sekalipun sudah empat puluh tahun masih saja terlihat seksi dan montok!” Serunya sambil menyeruput kopinya. Darto dan Amina duduk berhadapan di kursi meja makan. Amina menghadap ke arah dapur, jadi wanita itu bisa melihat ke mana arah mata si Anto. Amina dengan sengaja mengangkat pinggulnya. Meja makan yang agak tinggi itu tentu bisa membuat pahanya yang mulus tampil sempurna dari posisi Anto berdiri saat ini. Dengan sengaja Amina menunjukkan pakaian dalamnya di dalam rok pendek milikya. Kain brokat warna ungu muda itu memperlihatkan bagian intim milik Amina.Anto tanpa sadar meraba-raba celananya sendiri sambil menelan luda
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Buruan keluar, anak-anak harus ke sekolah. Aku mau pergi ke kantor!” Teriak istri Devan dari luar pintu.“Ukh! Keras Yun, aku masih buang air ini, keras sekali, uukhh!” Devan memencet batang hidungnya sambil berpura-pura mengejan.“Ya sudah, nanti pokoknya jangan lupa anter anak-anak!”“Iya Yun, kamu berangkat saja dulu, akh, aku sudah mau selesai!” Sahutnya dari dalam kamar mandi.“Mas, pinter banget ngeles,” bisik Sarinten sambil mencubit mesra pipi Devan.“Ten, nanti malam kalau ada waktu aku datang ke kamar kamu ya?” Pinta Devan pada Sarinten.“Mas nggak tahan ya? hihihi!” Sarinten terkekeh geli. “Iya, habisnya kamu seksi sekali. Dadamu juga lebih besar dari Yuyun, apalagi bagian bawahmu in







