Home / Romansa Dewasa / Lika-liku Cinta Terlarang / Bab 3 Istri Majikan yang menggoda

Share

Bab 3 Istri Majikan yang menggoda

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2026-02-13 14:23:06

Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.

Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang hanya tertutup pada kedua ujungnya itu. “Sialan! Nyonya majikan ini, sekalipun sudah empat puluh tahun masih saja terlihat seksi dan montok!” Serunya sambil menyeruput kopinya. Darto dan Amina duduk berhadapan di kursi meja makan. Amina menghadap ke arah dapur, jadi wanita itu bisa melihat ke mana arah mata si Anto. Amina dengan sengaja mengangkat pinggulnya. Meja makan yang agak tinggi itu tentu bisa membuat pahanya yang mulus tampil sempurna dari posisi Anto berdiri saat ini. Dengan sengaja Amina menunjukkan pakaian dalamnya di dalam rok pendek milikya. Kain brokat warna ungu muda itu memperlihatkan bagian intim milik Amina.

Anto tanpa sadar meraba-raba celananya sendiri sambil menelan ludahnya. “Seksi sekali, mulus, pasti enak! Sialan! Otakku jadi semrawut melihat milik Nyonya Amina! Nggak nahan!” Keluh Anto. Pria itu buru-buru membawa kopinya menuju ke beranda depan. Dia sangat malu karena sejak tadi majikan wanitanya itu malah sengaja menatap liar ke arah dirinya. Anto berjalan tergesa melintasi ruang makan.

“To, kamu mau ke mana? Sudah sarapan belum?” Tegur Amina begitu melihat Anto malah sengaja kabur keluar dari dalam dapur.

Langkah kaki Anto terhenti, pria itu menutupi bagian depan celananya menggunakan satu tangannya sambil menunduk dalam-dalam. Sementara Darto lima menit yang lalu menyusul Sarinten di dapur karena pikirnya pelayan rumahnya itu belum membawakan kopi miliknya.

Kini tinggal Anto dan Amina di dalam ruang makan tersebut. Anto tidak berani menatap Amina. Masih tetap menunduk seperti awal dia menghadap sang majikannya itu.

“Sudah Bu, tadi pagi-pagi sekali, Sarinten sudah antar ke depan.” Ucapnya tanpa berani menatap wajah Amina, tapi malah melihat milik Amina yang kini terpampang di bawah meja dan sepertinya Amina sengaja memanggilnya untuk menunjukkan itu padanya. Amina sendiri dengan santai membuka kakinya. “To, nanti pas berangkat ke toko, ibu minta bantuan kamu sebentar. Buat potong ini...” bisik Amina sambil menatap ke bawah meja.

Wajah Anto memerah, pria itu hanya bisa mengangguk. “Iya Bu, tapi Pak Darto..”

“Yah, kamu ini, ya jangan bilang sama Bapak!” Amina menarik lengan Anto. Membuatnya terpaksa membuka tutupan telapak tangannya pada sisi depan celananya yang kini terlihat menonjol.

“Wah, To, ukuranmu lumayan juga, ya?” puji Amina.

“Ah, Ibu, bisa saja!” Anto merasa sangat senang sekali.

***

Di dapur, Darto menatap Sarinten yang kini sedang sibuk memasak sayur untuk makan siang orang-orang di peternakan belakang. Di peternakan itu juga Narti, istri dari Anto si supir bekerja.

“Ten? Mana kopiku?” Tanya Darto sambil berdiri dengan jarak dekat menghimpit tubuh Sarinten di meja dapur. Sarinten kaget sekali, Darto selalu saja sengaja mengagetkannya seperti itu sejak dia bekerja di rumah itu.

Sarinten tidak bisa bergerak lantaran tindakan Darto, jadi wanita itu hanya berucap lirih sambil mengusap perut Darto di belakang punggungnya.

“Itu Pak, di sebelah sana ....” bisiknya pelan, sambil menoleh ke samping lantaran Sarinten merasakan sentuhan kumis tebal Darto pada daun telinga kanannya. Rupanya Darto sudah siap untuk menyambut bibir pembantu dapur itu.

“Um.”

“Ten, hmm.” lenguh Darto seraya menahan sisi kepala Sarinten untuk menyambut ciuman bibirnya. Tangan Darto yang nakal mulai menyentuh bagian mulus yang lupa dikancingkan itu.

“Pak, sudah, nanti Ibu tahu bisa gawat.” Bujuk Sarinten pada Darto.

“Enak nggak Ten? Jawab dulu, aku suka ini ....” Darto menelan ludahnya. Melihat Sarinten menganggukkan kepala Darto tersenyum senang.

“Ten, kamu sengaja mau mancing aku ya?” Tebak Darto dengan penuh percaya diri.

“Nggak Pak, mana berani Rinten goda Bapak yang gagah dan ganteng? Pak, Rinten nggak kuat, ampun..”

“Aku suka sekali Ten, aroma bumbu dapur pada tubuhmu ini bikin aku pengen,” rayu Darto.

“Paaak, sudah Pak, ampun.. Rinten mau anu .... Pak!”

“Ten, aku mau cicipi!” Darto menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu memutar Sarinten agar menghadap padanya. “Angkat dastermu Ten, buruan, mumpung Ibu masih makan!”

“Iya, Pak..”

“Ten enak sekali, enak Ten, aku senang sekali.”

“Pak, kepalaku sampai kliyengan!”

Darto segera berhenti, pria itu berdiri dan menatap wajah Sarinten. “Kliyengan? Kamu pusing Ten? Nanti ke kamarku kalau selesai masak. Aku punya obat biar nggak pusing,” bujuknya.

“Nanti siang Pak? Rinten kan harus ke peternakan, Bapak juga harus ke sana kan? Hayo?”

“Oh iya, aku lupa!” Darto menepuk keningnya sendiri. “Em, kira-kira kapan Ten? Aku sudah seminggu nggak kamu kasih jatah!” Tagih Darto terang-terangan.

“Bapak, ah.. kapan-kapan saja, Bapak susul Rinten di dalam kamar seperti biasa. Rinten layani sampai Bapak puas..” Ucapnya dengan tatapan genit.

“Kamu memang tokcer Ten! Seksi! Bohay! Dan pinter muasin majikan! Nanti aku kasih tambahan lagi, beli kosmetik yang mahal, biar ayu kayak Nyonyamu!” Serunya seraya mengecup kembali bibir Sarinten.

“Iya, Pak, nanti Rinten beli bedak biar wangi dan Bapak makin betah sama Rinten.” Ucapnya terang-terangan.

“Sudah aku mau ke ruang makan dulu..” pamit pria itu pada pelayan tersebut.

***

Di dalam ruang makan.

“Ih, em, enak To, aku pengen.. nanti ya? Bapak sudah balik!” Amina buru-buru melepaskan organ intim Anto. Anto juga berpura-pura menunduk seolah sedang mendapatkan wejangan khusus dari sang majikan bahenolnya! Anto segera undur diri dan pergi menuju beranda.

“Ibu itu mbok ya jangan keras-keras sama Anto, kasian dia. Mukanya sampai memerah gara-gara Ibu marahi.” Seru Darto pada istrinya.

“Iya, Pak. Ibu janji nggak akan marahi dia lagi, la habisnya dia selalu begitu.. lamban kurang sat-set Pak..” Ucap Amina dengan nada merengek manja.

“Ibu sudah makan belum? Itu nasinya kok masih utuh? Nanti lapar lagi di jalan? Apa perlu Bapak minta Rinten bawakan bekal di jalan?” Tanya Darto sambil menatap kedua gundukan mulus milik Amina.

“Ah, nggak usah Pak, aku beli nanti pas di jalan.” Amina segera berdiri dari kursinya, dia ingin segera berangkat ke toko miliknya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dia tidak ada waktu lagi untuk berdua dengan Anto kalau terlalu siang. Amina melambaikan tangannya pada Darto sambil menenteng tasnya berjalan dengan gayanya yang seksi keluar dari dalam ruang makan menuju ke beranda luar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 7 Terjerat nafsu

    Sampai di semak-semak, Darto langsung membuka kancing celana yang dikenakan olehnya. Pria itu mendorong Narti agar rebah di atas rerumputan. “Tuan, langsung saja,” Rengek Narti pada Darto. “Kamu nggak sabaran sekali, Nar?” Darto mengambil ancang-ancang. “Tuan!” Narti memekik seraya mengangkat wajahnya. “Kenapa, Nar? Kamu nggak senang aku jatah lagi? Nanti aku tambahin tips buat beli jajan,” bujuknya. Narti terlihat nyaman dan sangat menikmati semua sentuhan dan servis yang dia berikan. Sampai dua puluh menit lamanya, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. “Sudah Nar, ayo ke peternakan, nanti karyawan lain lewat sini kita ketahuan bisa gawat.” Ucapnya seraya menarik diri. Darto menarik lengan Narti agar bangkit duduk untuk membenahi kembali bajunya. Narti hampir telanjang gara-gara ulah Darto barusan. “Sudah Tuan, kita harus berangkat ke peternakan.” Ajak Narti pada Darto. “Nar, aku senang sekali kamu mau melayaniku pagi ini, kapan-kapan aku minta jatah lagi, awas kalau

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 6 Rayuan Tuan majikan

    “Mas, aku keluar dulu. Banyak kerjaan yang belum selesai. Nanti bisa berantakan semuanya kalau aku tinggal terlalu lama di sini.” Pamitnya pada Rangga, Rangga hanya menganggukkan kepalanya. Yuyun segera berlalu dari ruangan Rangga.Sementara Rangga lupa belum membersihkan sisa-sia cairan di lantai yang tadi dia muntahkan saat tiba pada klimaksnya.Lima menit kemudian terdengar suara high heels masuk ke dalam, ternyata Mita istri Rangga.“Mas! Aku telepon sejak tadi lo! Kenapa nggak diangkat???!” Bentaknya pada Rangga. Mita terkejut melihat meja kerja Rangga terpisah dari keempat kakinya. “Mas ini kenapa berantakan sekali? Mas apain mejanya kok bisa patah begini? Pasti Mas naikin kan! Sama asisten kesayanganmu itu! Ayo buruan ngaku! Pantas saja Mas nggak mau pulang cepet! Pasti setiap hari Mas Rangga sama si Yuyun main kuda-kudaan di sini! Lihat, meja kamu saja sampai ambruk begini!” Cerocos Mita tanpa titik dan koma.Telinga Rangga sampai terasa berbusa saat mendengar celoteh Mita tan

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 5 Kaki Meja yang patah

    “Pagi, juga Mbak!” Sahut Anto sambil memasang senyum manis pada bibirnya.Para gadis itu langsung berbisik-bisik di belakangnya. “Mas tongkatmu nyala, hihihihi!” Selesai berkata demikian mereka segera pergi meninggalkan Anto menuju ke dalam toko.Wajah Anto memerah, “Nyinggung-nyinggung tongkat, ntar aku hajar merintih-rintih kalian! Awas saja!” Serunya sambil menghisap rokoknya lalu mengepulkan asapnya dengan penuh rasa bangga.***Di sisi lain.. Yuyun istri Devan masih berada di dalam ruangan meeting. Wanita muda dan cantik itu terlihat sibuk mengikuti acara penting tersebut. Penampilan Yuyun yang seksi mengenakan stelan shirt ketat warna putih serta rok ketat warna hitam dengan belahan di samping, membuat atasannya terus mencuri pandang pada paha dan dada Yuyun.Yuyun sebenarnya sudah tahu sejak dulu, awalnya dia bekerja di belakang meja resepsionis dan kini dipindahkan ke dalam ruangan tertutup dan ber-ac dekat dengan ruangan bosnya itu. Tinggal di sisi manager beristri, tidak mem

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 4 Aku tergoda

    Di luar Anto sudah duduk di dalam mobil, pria itu siap membawa Nyonya Majikannya ke tempatnya bekerja. Amina duduk di kursi belakang, wanita itu melambaikan tangannya melihat Darto berdiri di ambang pintu ruangan utama untuk melepas kepergiannya.“Daaaa, Bapak.. muach!” Serunya dengan sangat genit.“Sudah, bikin aku nggak tahan saja kamu itu! Cup, cup!” Bisik Darto pada Amina sambil menciumi tangan Amina dari luar jendela mobil.“Iya, sudah deh, Bapak jangan nunggu aku, mungkin aku nanti agak malam lagi pulangnya,” pesannya pada Darto.“Nggak apa-apa, asalkan dapat jatah!” balasnyapada Amina tanpa rasa malu. Anto merasa badannya panas sekali mendengar pembicaraan dari dua majikannya itu. Mereka ini ternyata memang sangat sering hok-a hok-a! Padahal aku kira cuma omongan dan gosip dari bibir karyawan semata. Masa Narti juga sampai tahu! Dan ngomong sama aku kalau di dalam ruangan kerja dalam peternakan, Pak Darto sering melakukannya dengan Bu Amina. Aku nggak bisa bayangin tubuhnya y

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 3 Istri Majikan yang menggoda

    Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang hanya tertutup pada kedua ujungnya itu. “Sialan! Nyonya majikan ini, sekalipun sudah empat puluh tahun masih saja terlihat seksi dan montok!” Serunya sambil menyeruput kopinya. Darto dan Amina duduk berhadapan di kursi meja makan. Amina menghadap ke arah dapur, jadi wanita itu bisa melihat ke mana arah mata si Anto. Amina dengan sengaja mengangkat pinggulnya. Meja makan yang agak tinggi itu tentu bisa membuat pahanya yang mulus tampil sempurna dari posisi Anto berdiri saat ini. Dengan sengaja Amina menunjukkan pakaian dalamnya di dalam rok pendek milikya. Kain brokat warna ungu muda itu memperlihatkan bagian intim milik Amina.Anto tanpa sadar meraba-raba celananya sendiri sambil menelan luda

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 2 Layani aku

    Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Buruan keluar, anak-anak harus ke sekolah. Aku mau pergi ke kantor!” Teriak istri Devan dari luar pintu.“Ukh! Keras Yun, aku masih buang air ini, keras sekali, uukhh!” Devan memencet batang hidungnya sambil berpura-pura mengejan.“Ya sudah, nanti pokoknya jangan lupa anter anak-anak!”“Iya Yun, kamu berangkat saja dulu, akh, aku sudah mau selesai!” Sahutnya dari dalam kamar mandi.“Mas, pinter banget ngeles,” bisik Sarinten sambil mencubit mesra pipi Devan.“Ten, nanti malam kalau ada waktu aku datang ke kamar kamu ya?” Pinta Devan pada Sarinten.“Mas nggak tahan ya? hihihi!” Sarinten terkekeh geli. “Iya, habisnya kamu seksi sekali. Dadamu juga lebih besar dari Yuyun, apalagi bagian bawahmu in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status