Masuk“Dasar Samsudin! Ngeselin jadi orang! Mbok ya sekali-kali nyenengin kawan seperjuangan! Bilang iya, kek! Malah begitu!” Nardi berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala menatap Samsudin kabur tanpa menoleh lagi ke belakang punggungnya.
Jinah tukang jual jamu melihat Nardi cemberut. Wanita itu menggendong bakulnya sambil berjalan di depan kandang.“Nar! Jamu!” Panggilnya pada pria tersebut.“Libur Mbok! Sudah kuat! Ntar terlalu kuat malah repot, nggak ada lawan mainnya!” Serunya"Pak Darto nyuruh aku nyari kamu Mbak, dia bilang suruh setor rekap laporan keuangan, sudah gitu saja, aku mau lanjutkan pekerjaanku dulu," ujar Susanti pada Lindar. "San, tunggu, apa hanya itu?" Tanya Lindar pada Susanti, pikirnya Susanti hendak mengadukan tindakan mesum yang dilakukannya pada Juminto."Iya, sudah ditunggu dari tadi, kayaknya Pak Darto lagi kesal, Mbak Lindar ke sana saja buruan," saran Susanti pada Lindar.Lindar langsung melengos dan pergi.Saat tiba di ruangan kerja Darto, Lindar segera menyerahkan pembukuan yang diminta Darto."Ini Pak laporan keuangan hari ini," ujar Lindar seraya meletakkan buku tersebut di atas meja kerja Darto."Kalau kamu pergi mendadak mendingan kamu titipkan laporannya sama Susanti atau si Narti, banyak kan pegawai wanita di peternakan? Bukan malah telat setor seperti sekarang!" Omel Darto pada Lindar."Iya Pak, maaf, besok-besok nggak akan terlambat lagi," janji Lindar pada Darto. Darto tidak menyahut,
"Malas aku," jawab Devan."Kenapa?" Tanya Wati dengan kening mengernyit."Palingan juga si Mita yang booking tempat seharian penuh," jawab Devan keceplosan."Nah, kan, ngaku, idih, enak nggak Bang dapat pacar perawan?" Goda Wati."Keceng kerempeng, lantas saja Rangga nggak nafsu, masih kecil," sahut Devan sambil cengar-cengir."Apanya yang kecil?" Pancing Wati dengan wajah penasaran."Semuanya serba kecil, kurang panas juga pas begituan, nggak begitu nafsu aku," ujar Devan seraya menggelengkan kepalanya."Tapi duit Mita banyak, anak bos dia," seru Wati."Yuyun nggak pernah minta ini itu ke aku, buat apa aku kerja keras muaskan Mita? Karena duit? Kalau perlu duit palingan juga cuma buat beli rokok sama bensin sudah," sahutnya enteng.Wati berjalan masuk dan tidak mengajak Devan pergi. Hari itu hanya Wati yang pergi ke kafe sementara Devan tinggal di rumah sambil menonton TV. ***Di sisi lain, Darto sudah duduk di dalam ruangan kerjanya men
Tak lama kemudian terlihat Amina menenteng tasnya sambil berjalan dari arah pintu utama menuju ke mobil. Devan segera mengambil langkah menjauh dari samping mobil sambil meremas bokong Amina ketika Amina melenggang tepat di depannya."Akh," pekik Amina sambil menoleh ke arah Devan dengan suara tertahan."Ayo, To, kita berangkat sekarang, sudah siang ini," ujar Amina pada Anto, tepat sebelum masuk ke dalam mobil Amina melirik sebentar ke arah Devan lalu mengedipkan sebelah matanya.Anto segera menutup pintu dan masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudi.Tak lama kemudian mobil Amina meluncur pergi meninggalkan kediaman Darto. Devan kembali ke beranda untuk menikmati rokoknya. Di dalam ruangan utama, Wati terus mengintip ke luar melalui sisi dalam jendela kaca sejak Amina keluar dari rumah tadi. Wati juga memergoki Devan meremas bokong Amina di halaman. "Puas Bang?" Celetuk Wati sambil meringis dengan kepala melongok ke luar pintu.Devan menoleh
"Marah? Kenapa harus marah?" Tanya Devan seraya terus menyendok sarapan dari atas piringnya. Sisi cuek bebek yang ditunjukkan Devan di depan Amina membuat Amina gemas dan mengambil tindakan lebih berani, Amina mengeluarkan tongkat Devan dari dalam celana pendek Devan lalu melumatnya tanpa peduli mereka sedang berada di ruang makan. Devan kaget sekali, sontak dia langsung meletakkan sendoknya dan meremas tengkuk Amina yang sibuk membungkuk melumat batang miliknya. "Aakhhh, Mi, oowhhh, akhhh, akhh, Mami nekat, oowh," desah Devan sambil menatap ke sekitar lantaran cemas kepergok orang. "Enak Dev, aku puas sekali semalam sayang," akunya sambil terus menjilati tongkat Devan lalu mengulumnya kembali. "Mi, oohhh, sudah, ada Wati di rumah, Sarinten juga, oohhh, nanti ketahuan," ucap Devan pada Amina, Devan tidak ingin ketahuan sedang bermesraan dengan Amina. "Dev, aku pengen lagi, ayo ke ruang kerjaku sebentar," ajak Amina sambil
Yuyun diam ketika pinggangnya digenggam Anto, Anto menoleh ke arah Yuyun lalu menyodorkan kunci dalam genggaman tangan kanannya, sementara tangan kirinya sudah berpindah pada sisi selangkangan Yuyun dan menyentuh tipis biji kacang kecil yang tadi terlihat menonjol saat dilihat Anto dari kejauhan."Awh," rintih Yuyun dan tubuhnya hampir terjatuh, untungnya Anto dengan gesit langsung duduk di kursi kayu dalam garasi seraya menarik pinggang Yuyun hingga Yuyun jatuh duduk di pangkuan Anto dengan posisi memunggungi Anto."Ini Neng kunci motornya," ujar Anto pada Yuyun. Rupanya Anto sengaja mencuri kesempatan lagi, melihat kedua paha mulus milik Yuyun mengangkang di atas pangkuannya, Anto dengan santai mengelus-elus bagian selangkangan Yuyun dari sisi samping pinggang Yuyun. "Awh, Anto, nakal kamu," bisik Yuyun seraya menatap lengan Anto yang kini bergerak di dalam selangkangannya. Anto menatap wajah cantik Yuyun yang kini tetap tinggal di atas pangkuannya. Keusilan Anto tida
Yuyun melihat gorden yang belum ditutup, dia segera berjalan menuju ke jendela dan menutupnya. Tontonan menyenangkan dan menggairahkan sudah berakhir, Anto dengan malas merebahkan tubuhnya di atas kursi rotan panjang. Dalam benak Anto, Anto membayangkan Yuyun telanjang sedang tengkurap di atas tubuhnya yang terlentang seperti sekarang, liang intim Yuyun Anto masuki tongkat miliknya lalu bokong Yuyun bergerak turun naik dengan seksi sambil melumat bibir satu sama lain. Buah dada Yuyun yang bulat dan kencang menggesek lembut dada bidang Anto. Rintihan nikmat Yuyun menjadi alunan merdu dari aktivitas panas itu. Anto menatap ke arah langit-langit beranda sambil terus mengkhayal. *** Di dalam kamar, Yuyun sudah terlelap karena merasa lelah. Devan masuk ke dalam kamar setelah mematikan ponselnya. Melihat Yuyun tidur dengan pulas, Devan enggan mengganggu, Devan hanya rebah di sebelah Yuyun tanpa melakukan apa-apa. Sekitar pu
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







