LOGINKami menghabiskan sepanjang sore kami dengan mempersiapkan makan malam sebagai perayaan kelulusan kak Roby. Mulai dari berbelanja bahan makanan lalu memasaknya dan kemudian menikmati hidangannya. Lalu bersantai menikmati pemandangan kota dari appartement kak Roby ini.
Dua cangkir cokelat panas terhidang di hadapan kami. Menghangatkan kami yang sedang memandang hamparan sang ibu kota yang berhiaskan lampu-lampu indah nan mempesona. Rasa nyaman menjalar ke dalam diriku yang
Siapa bilang jadi dokter itu enak? Kebanyakan orang-orang memandang bahwa dokter memiliki gaji yang luar biasa tinggi dan dia hidup enak. Yang sesungguhnya terjadi, gaji dokter sama aja dengan gaji pegawai pada umumnya, bahkan ketika Coas pun tidak mendapat gaji dan ketika magangpun, gaji tidak mencapai UMR, yang membuar seorang dokter kayak adalah jam praktek mereka diluar jam kerja mereka di luar rumah sakit negeri. Tapi tak tahukan mereka, untuk bisa mendapatkan hal itu semua? Seberapa berat perjuangan para mahasiswa kedokteran? Kami memang tidak ada UAS, berbeda dengan jurusan yang lain. Tapi ujian kami sekali berdasarkan modul.Jika jurusan lain ujian saat tengah semester dan akhir semester, yang berarti hanya empat kali ujian dalam setahun. Tapi kami bisa tiga puluh lima kali ujian salam setahun. Bayangkan tiga puluh lima kali ujian dalam setahun dan kami membutuhkan kuliah selama empat setengah hingga lima setengah tahun untuk kuliah. Ini adalah waktu nor
"Kurasa kamu mengenal kakek." Katanya yang membuatku kesal. "Nama tengah kakek, tidak pernah di ekspose di media massa. Tapi kamu mengetahuinya.""Baiklah, apa kakak tidak mengenaliku?" Kataku yang memandangnya serius.Kak Roby terlihat masih berpikir dengan keras. "Saat umurmu sepuluh tahun, di danau dekat rumah kakekmu. Gadis cilik berpita kuning." Kataku memberi clue.Seketika kak Roby terbahak-terbahak sambil memelukku gemas. "Jadi, kamu adalah gadis cilik yang hampir tenggelam di danau waktu itu? Yang ku selamatkan lalu, mengatakan ingin menikahiku saat dewasa?" Dia masih tersenyum bahagia memelukku."Kau sudah besar adik kecil." Adik kecil adalah cara dia memanggilku ketika waktu itu.Pantas saja, dari awal bertemu aku sudah nyaman bersamanya. Merasa bahwa aku telah menemukan seorang kakak, ternyata dia memanglah adalah sosok kakak yang telah hadir semenjak lalu.&nb
Kami menghabiskan sepanjang sore kami dengan mempersiapkan makan malam sebagai perayaan kelulusan kak Roby. Mulai dari berbelanja bahan makanan lalu memasaknya dan kemudian menikmati hidangannya. Lalu bersantai menikmati pemandangan kota dari appartement kak Roby ini.Dua cangkir cokelat panas terhidang di hadapan kami. Menghangatkan kami yang sedang memandang hamparan sang ibu kota yang berhiaskan lampu-lampu indah nan mempesona. Rasa nyaman menjalar ke dalam diriku yang tengah berada di dalam pelukan kak Roby. Satu tangannya terus membelai rambutku. Kami bersandar di sofa yang nyaman. Sungguh, nikmat mana lagi yang harus aku dustakan?Tanganku mulai bergerilya di dada kak Roby, mengusap pelan. Merasakan otot-otot kekarnya yang di sana. Kak Roby menggenggam jariku, menghentikan aksiku.Aku memandangnya bingung, menyalurkan keherananku melalui mataku. Kak Roby mengecup jemariku, menghantarkan rasa sayangnya padaku.
Sebuket bunga edelweis, ester dan krisan terikat indah, tergengenggam oleh diriku. Dengan blues berwarna mocca dan pita hitam di kerahku lalu berpadu padan dengan skirt motif kotak-kotak kecil berwarna cokelat muda. Tidak lupa dengan sepatu berhak lima centi dengan warna hitam. Rambut yang ku gerai berhiaskan jepit rambut berwarna mocca. Membuatku semakin percaya diri dalam melangkah menuju gedung ujian skripsi fakultas teknik.Ada beberapa mahasiswa yang ujian saat ini. Jadi, aku melihat banyak orang yang mengantri di depan memberikan dukungan secara moral untuk seseorang yang mereka anggap berharga. Aku duduk di salah satu bangku yang lumayan berjarak dengan ruangan itu. Sesekali aku memeriksa penampilanku dengan cermin kecil yang aku beli beberapa waktu yang lalu.Lima belas menit berikutnya, pintu ujian terbuka. Ada lima mahasiswa yang keluar dari ruangan tersebut. Kak Roby keluar paling akhir bersama dengan para penguji. Ada beberapa ob
"Ada apa ini?" Suara lantang membuat kami menoleh secara serempak dan menghentikan pertikaian tersebut. Kak Mayo berdiri diantara dua pria paruh baya. Pria yang bersuara lantang itu adalah bapak rektor Universitas kami.Mereka berdua melangkah mendekat ke arah kami. "Dua orang mahasiswa berkelahi di muka umum! Sungguh...""Bapak harus melihat ini terlebih dahulu." Potongku yang merebut smartphone salah satu mahasiswa yang tadi marah kan semua hal yang terjadi. Aku tidak ingin kak robby mendapat masalah. Lalu aku menceritakan bagaimana kak Roby melindungiku dari rencana jahat "mereka" dan bagaimana busuknya orang-orang itu."Ini sungguh memalukan!" Geram pria paruh baya satunya yang merupakan dekan fakultas Teknik. "Apa benar semua ini Robby?""Semuanya telah anda dengar dan lihat dengan jelas pak. Bukankah di video tersebut sudah ada pengakuan bocah ini?""Kenapa kau
LMD – BAB 23Aku dan kak Roby memisahkan diri dari rombongan, menyusuri jalan setapak yang penuh dengan bunga edelweis. Kak Roby berjalan di belakangku. Sambil terus mengingatkanku akan langkahku, jangan sampai aku terjatuh. "Itu apa kak?" Tanyaku sambil menunjuk sebuah benda, seperti kotak pos, berwarna cokelat. Jika kalian sering menonton film luar negeri pasti kalian tahu yang ku maksud.Kotak yang bisa kita masukkan surat bila kita ingin mengirim surat tanpa harus ke kantor pos. Tapi, akan sangat aneh jika di Indonesia masih ada kotak pos di jaman sekarang ini yang penuh dengan kecanggihan dan kemalasan para penduduknya untuk ke kantor pos, dan terlebih kotak itu berada di pinggir jalan setapak di hutan seperti ini. Tapi, sejak kapan Indonesia memiliki kotak pos seperti ini? Bukankah dari dulu kalau orang Indonesia ingin mengirimkan surat, kita harus ke kantor pos?"Aku belum pernah melihat benda ini di s
Mataku terbuka, perlahan retina ku menangkap cahaya. Rasa lelah dan puas ku rasakan disaat bersamaan. Masih malas untuk bergerak, terlebih hanya menemukan satu kaos besar yang menutupi hingga pahaku. Hanya itu, hanya itu yang melekat ditubuh ku. Udara dingin berhembus, menyapa vagina ku yang tak
"Diamlah!" Aku mencengkram kerahnya. Kepalaku yang pusing karena klimaksku yang tertunda semakin pusing karena ocehannya itu. "Kak... Ahh... Kak Roby.. Hmm.. Benar hh... Benar... Mauhhh membantu hh... Dilla?" Tanyaku dan dia mengangguk, masih dengan menatap lurus mataku. Membuatku bingung apakah
"Bee...!!!" Reno berseru dan menghampiriku, lihatlah wajah gantengnya dan senyuman ramahnya, siapa yang menyangka bahwa dia memiliki niat terselubung padaku. Sedang Zee dan Fina mendengus di sampingku. Saat ini kami sedang berkumpul di halaman yang cukup luas di sebuah bumi perkemahan, bis
"Habis dari sini mau kemana bee?" Tanya seorang cowok dengan rambut sedikit gondrong dan juga baju free style ala anak teknik, yang setia menemaniku menghabiskan semangkuk bakso di kantin fakultasku.Namanya Reno, dia anak teknik semester satu, kami bertemu saat Ospek, yups k







