Share

LMD Bab 06

Author: NesalHappy
last update publish date: 2025-01-14 21:00:01

Aku terbangun, sudah siang ternyata. Ku renggangkan otot tubuhku, aku tersenyum kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu pasti Leon, seperti rencana di awal kami menginap di hotel dari Jumat malam hingga saat ini. Senyumku yang merekah karena mengingat kegiatan kami semalam langsung luntur ketika aku ingat bahwa hari ini adalah hari Minggu. Saatnya kami berpisah.

Pandanganku fokus ketika pintu kamar mandi terbuka, Leon keluar hanya dengan handuk.

"Sudah bangun." Dia menyapaku dengan senyuman ramahnya. Aku mengangguk, dan memberikan senyuman terbaikku.

Dengan telaten ia memakai baju yang berada di paper bag. Entah dari mana Leon mendapatkan nya mungkin saat kemarin ia turun di loby, mungkin ia meminta seseorang untuk mengantarkan pakaiannya.

Aku beranjak, segera mandi dan membersihkan tubuhku, tak butuh waktu lama karena aku tidak ingin membuang waktuku yang tersisa. Leon sudah benar-benar rapi. Aku yang masih dengan bathrobe ku duduk di pinggir ranjang yang benar-benar kusut karena kegiatan kami.

Leon yang semula melihat pemandangan di luar jendela, kini menghampiriku ia merendahkan tinggi badannya, berjongkok di hadapanku, tangan besarnya menggenggam tanganku terasa hangat. Dia menghela nafas “Kamu tahu Dil? Aku sayang sama kamu, kalau kamu memintaku untuk tidak pergi, aku tidak akan pergi. Aku akan bertahan di sisimu.” Matanya memancarkan ketulusan yang selalu bisa meluluhkan hatiku.

“Aku sayang sama kamu Leon, tapi aku tidak akan menahan mu untuk stay sama aku, sedang masa depan cerah ada di luar sana untuk kau raih.” Balasku, jujur aku tidak ingin berpisah darinya tapi aku juga tidak ingin menghalangi masa depan cerahnya. Karena di sana dia bisa menjadi atlet olahraga basket luar biasa atau apapun itu, dia juga bisa mendapatkan pendidikan tentang bisnis untuk meneruskan usaha orang tuanya.

“Kamu adalah cewek terhebat yang pernah aku kenal setelah mama Dil, percayalah! aku sangat mencintaimu, kamu gadis pertama yang menyerahkan keperawannya padaku, aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan pernah melupakanmu tidak akan pernah menganggap bahwa kita putus.” Aku melihat ujung matanya mulai berair, ini pertama kalinya aku melihat Leon selemah ini di depanku, dia adalah cowok optimis dan pantang menyerah yang pernah aku kenal. Berulang kali ia jatuh di lapangan basket tidak pernah membuatnya hampir menangis seperti ini.

“Jangan ngomong kayak gitu Leon, kita tidak tahu masa depan kita seperti apa. Jangan tutup hatimu Leon, aku juga tidak akan menutup hatiku dengan segala kemungkinan yang ada. Mungkin kalau berjodoh kita akan bertemu dan memiliki hubungan lagi di masa depan, tapi kita tidak tahu masa depan kita Leon. Kamu hanya cukup mengingatku sebagai mantan yang pernah menyerahkan keprerawanannya padamu. Mari kita lakukan yang terbaik.” Kataku, aku tidak ingin menunggu dia kembali dalam ketidak pastian, dia cowok ganteng, baik  juga pintar dan aku yakin banyak cewek di luar sana yang akan senang hati mendampinginya, aku tidak ingin, dia memiliki kesempatan untuk mengkhianatiku dengan alasan jarak jadi aku melepaskan dirinya dari komitmen yang kami bangun dari awal.

“Baiklah, akan aku lakukan apa yang kamu inginkan, gadis pertamaku yang tidak akan pernah aku lupakan.” Ucapnya mengecup keningku lalu berlalu dari kamar hotel yang menjadi saksi bagaimana kami menyelami surga dunia yang begitu nikmat.

Air mataku mulai menetes ketika sunyi mulai terdengar dan meresap ke dalam hatiku. Aku tidak dikhianati, aku tidak ditinggalkan, aku tidak di campakkan aku hanya berpisah dengan dia yang pernah mengisi hari-hariku. Kenapa rasanya seperti ini?

Segera aku menuju ke lemari, bajuku telah tertata rapi di sana, karena kamar ini memang khusus untukku, terimakasih kepada papa yang telah bekerja keras dalam membesarkan bisnis kakek nenek sehingga fasilitas mewah selalu aku dapatkan, jangan lupakan satu apartment mewah hadiah ulang tahunku yang ke lima belas dari papa dan satu appartement sederhana yang aku beli sendiri dari uang saku dan uang bulanan yang di berikan papa. Aku tidak suka boros karena aku tahu bahwa papa bekerja kerasa dan banting tulang di luar sana.

Ku kenakan dress selutut yang berwarna baby blue itu, sangat membuatku kulitku terasa begitu cerah namun aku tetap terlihat begitu kalem. Sekali lagi, aku melihat seluruh ruangan kamar itu, otakku memutar kenangan ku bagaimana kami menikmati makan bersama di kamar ini, bagaimana kami tertawa, oh Leon, pengalaman pertamaku. Aku akan mengingatmu sebagai mantan yang indah yang menyayangiku begitu tulus.

Aku meninggalkan kamar hotel itu, kemana? Tentu saja menuju rumah, bertemu dengan mamaku yang ternyata memiliki berbagai pengalaman gila yang tak mampu aku bayangkan.

Ketika aku berada di depan hotel, aku melihat pak Bejo sudah berada di sana, langsung saja aku memasuki mobil alphard berwarna hitam itu. Aku tidak banyak berkata, pikiranku melayang kepada Leon yang mungkin saat ini telah duduk di salah satu kursi kelas bisnis pesawat dengan lambang garuda berwana biru.

Tidak berapa lama aku telah sampai di ruah mewah yang menyalahkan mata siapapun yang melihatnya.

“Sayang kamu tidak apa-apa?” Mama telah menyambut ku, tentu dia tahu apa yang terjadi di kamar hotel mengingat bahwa mama adalah wanita berpengalaman, yah pengalaman yang begitu gila. Apakah mungkin aku akan mengikuti jejak mama? Entahlah.

"Kami memutuskan berpisah ma." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku. Seterusnya mulutku terasa kelu untuk mengeluarkan kata-kata yang lain. Oh, aku tidak mencintai Leon, tapi aku merasakan kekosongan. Aku tahu itu, hari-hariku akan membosankan tanpa Leon.

"Tak apa..." Mama memelukku. "Perpisahan adalah bagian dari pertemuan sayang." Mama mengelus punggung ku.

"Mama yakin, besok setelah kamu baik-baik saja kamu akan mendapatkan pengganti Leon. Pengisi hari-harimu." Mama melepaskan pelukannya, memberikan senyuman yang begitu menenangkan. Aku mengangguk patuh.

Apakah aku bisa mencari pengganti Leon? Pengalaman pertamaku yang luar biasa, di tambah dia begitu tulus bersamaku selama ini.

"Istirahatlah." Aku segera menuju ke kamarku, menutup nya, dan masuk ke dalam selimut. Menutupi seluruh tubuhku, dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa terkecuali.

Aku menangis diam-diam, entah menangisi apa? Hingga mataku lelah mengeluarkan air mata dan aku terlelap begitu saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Liontin Merah Delima   Bab 31

    Rumah terasa begitu sunyi, papa telah berangkat ke Jerman dua hari yang lalu. Yang ku lakukan hanya menonton tv dengan lesu. Bahkan mama yang biasanya sangat antusias dengan acara gosippun, kini hanya lunglai di sebalahku. “Mama badmood?” Tanyaku yang mamandang mama yang terlihat begitu suram. “Bagaimana nggak badmood? Papa pulang, waktunya hanya buat kamu. Mama dianggurin.” Kata mama yang menghela nafas. Membuatku sedikit bersalah karena memonopoli waktu papa. “Halo.” Mama mengangkat smartphonenya yang berdering. “Beneran pa?” Tanya mama girang, sepertinya itu adalah telphone dari papa. “Baiklah besok mama berangkat pa.” Kata mama yang langsung menutup telphonenya dengan wajah sumringah.&nbs

  • Liontin Merah Delima   Bab 30

    Liburan semester telah menanti di depan mata, semua barang di kos telah ku kemasi. Anak baru itu terlihat sangat membutuhkan tempat ini untuk berlindung. Ia benar-benar membutuhkan om Brham. Gadis manis yang sayangnya takdirnya ‘tak semanis wajahnya. Ku harap dia menemukan harapan baru untuk berada di kos itu, dengna bimbingan om Brahm pastinya. So, aku menyerahkan kamarku dengna sukarela setelah merasakan berteduh di tempat yang penuh dengan hal menyenangkan itu. Barangku seharusnya saat ini telah masuk mobil box dan diantar ke appartementku. “Huft” Aku menghela nafas. Karena sekali lagi tidak bisa bertemu dengan dosen yang seharusnya menjadi dosen pembimbingku. Beliau memberitahukan melalui pesan singkat, bahwa judul yang aku ajukan, tinggalkan saja di meja yang berada di ruangannya. Apakah aku akan baik-baik saja dengan dosen yang sesibuk ini? Setelah meletakkan judul skripsi yang kuingink

  • Liontin Merah Delima   Bab 29

    Hubungan ku dan om Brham semakin hangat, meski kami merahasiakannya dari penghuni kos yang lain. Bukan karena Om Brahm tidak menyukai dengan hubungan yang sedang kami jalanni saat ini, Om Brham hanya tidak tega kalau image ku berubah di depan para penghuni kos yang lain.Aku bahagia, mendapat kehangatan dari om Bhram. Semenjak hubungan kami terjalin walau secara sembunyi-sembunyi, yang lain pun terkena dampak positifnya. Om Brham menjadi semakin rajin memberikan mereka klien, sehingga banyak kesempatan bagi kami untuk berduaan.Contohnya hari ini, om Brham membuat penghuni kos mendapat klien dan menginap ke luar kota untuk beberapa hari. Lalu, om Brham menyiapkan candle light dinner untuk kami berdua di rooftop. Kenapa di rooftop? Apakah om Bhram tidak mampu membawaku ke restoran mewah? Tidak mungkin, om Bhram sangat kaya raya dengan penghasilannya itu, ditambah lagi om Bhram yang semakin rajin mencarikan klien untuk mbak Luna cs, memberi dampak positif pada bisnisnya.

  • Liontin Merah Delima   Bab 28

    Beberapa detik berikut nya, mataku menyalang. Milik om Brham kembali mengeras dan besar. Segera aku menatap om Brham. Dia terlihat sedikit malu karena kejadian itu. Membuatku sedikit geli, bagaimana mungkin seorang berpengalaman seperti dia menunjukkan wajah malu di depan anak ingusan seperti diriku. Terlebih hanya karena batangnya mengeras kembali dengan cepat. Bukankah ini laur biasa? Bagaimana di usia nya yang saat ini, dia baru saja mengeluarkan hal indah itu dan sekarang benda itu mengeras dengan indahnya. Aku tidak percaya ini."Mau Dilla bantu om?" Tanyaku hati-hati. Nampak muka terkejut di wajahnya, mungkin dia tak menyangka gadis yang ia sangka gadis baik-baik malah menwarkan sebuah bantuan yang nikmat namun ia segera mengangguk, mungkin karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.Aku langsung turun, bersujud di selangkangannya. Menemukan batang yang paling besar yang pernah aku lihat. Panjangnya sekitar dua puluh hingga dua p

  • Liontin Merah Delima   Bab 27

    Siapa bilang jadi dokter itu enak? Kebanyakan orang-orang memandang bahwa dokter memiliki gaji yang luar biasa tinggi dan dia hidup enak. Yang sesungguhnya terjadi, gaji dokter sama aja dengan gaji pegawai pada umumnya, bahkan ketika Coas pun tidak mendapat gaji dan ketika magangpun, gaji tidak mencapai UMR, yang membuar seorang dokter kayak adalah jam praktek mereka diluar jam kerja mereka di luar rumah sakit negeri. Tapi tak tahukan mereka, untuk bisa mendapatkan hal itu semua? Seberapa berat perjuangan para mahasiswa kedokteran? Kami memang tidak ada UAS, berbeda dengan jurusan yang lain. Tapi ujian kami sekali berdasarkan modul.Jika jurusan lain ujian saat tengah semester dan akhir semester, yang berarti hanya empat kali ujian dalam setahun. Tapi kami bisa tiga puluh lima kali ujian salam setahun. Bayangkan tiga puluh lima kali ujian dalam setahun dan kami membutuhkan kuliah selama empat setengah hingga lima setengah tahun untuk kuliah. Ini adalah waktu nor

  • Liontin Merah Delima   Bab 26

    "Kurasa kamu mengenal kakek." Katanya yang membuatku kesal. "Nama tengah kakek, tidak pernah di ekspose di media massa. Tapi kamu mengetahuinya.""Baiklah, apa kakak tidak mengenaliku?" Kataku yang memandangnya serius.Kak Roby terlihat masih berpikir dengan keras. "Saat umurmu sepuluh tahun, di danau dekat rumah kakekmu. Gadis cilik berpita kuning." Kataku memberi clue.Seketika kak Roby terbahak-terbahak sambil memelukku gemas. "Jadi, kamu adalah gadis cilik yang hampir tenggelam di danau waktu itu? Yang ku selamatkan lalu, mengatakan ingin menikahiku saat dewasa?" Dia masih tersenyum bahagia memelukku."Kau sudah besar adik kecil." Adik kecil adalah cara dia memanggilku ketika waktu itu.Pantas saja, dari awal bertemu aku sudah nyaman bersamanya. Merasa bahwa aku telah menemukan seorang kakak, ternyata dia memanglah adalah sosok kakak yang telah hadir semenjak lalu.&nb

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 03

    "Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 02

    Waktu itu, aku baru saja menyelesaikan ujian kelulusan. Kelas tiga SMP waktu itu terasa istimewa bagiku, karena waktu itu aku pertama kalinya memiliki seorang kekasih, ah kurasa kata kekasih terlalu romantis untuk romansa ketika aku masih ingusan waktu itu. Katakanlah pacar, ya mari kita sebut pa

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 01

    "Nduk..." Eyang putri membelai rambutku yang panjang. Eyang putri selalu menyukai rambutku yang panjang dan hitam, ketika itu aku berlibur di rumah eyang, rambutku selalu di berikan perawatan ala jawa tradisional, entah menggunakan minyak khusus atau sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. Namun, yang

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 05

    "Selamat memasuki dunia dewasa sayang..."Ucapan mama terngiang di telingaku, pemandangan di luar sana terasa begitu... Entahlah, sebenarnya pemandangannya biasa. Hanya saja mungkin suasana hatiku yang berbeda. Berdebar-debar menikmati waktu berjalan menuju malam, sedang ini masih sore. Malam ini ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status