Share

LMD Bab 03

Penulis: NesalHappy
last update Tanggal publikasi: 2025-01-07 21:00:37

"Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu.

"Ah apa?" Tanyaku.

"Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah namun juga sulit dalam wakti yang bersamaan.

"Nggak kenapa-kenapa kok cuman keinget pelajarannya pak Marwan aja, aku belum ngerti sepenuhnya." Jawabku berbohong, aku tidak ingin dia tahu apa yang aku pikirkan sesungguhnya dan menjadi khawatir tentang ku.

"Oh kirain." Dia tersenyum lembut padaku. "Habis ini mau kemana lagi? Dufan seru dech kayaknya."

"Udah jam segini. Waktunya pulang." Tolak ku.

Leon mengangguk mengerti karena seperti itulah kami. Jam sembilan malam adalah waktunya untuk berpisah. Keluargaku sebenarnya tidak memberlakukan jam malam. Tapi, aku sendiri yang memasang jam malam tersebut. Karena apa? Karena hanya ingin saja dan Leon menghargai itu. Leon selalu menghargai ku, itu yang aku suka dari Leon. Perhatian dan menghargai, sikap yang utama yang membuat perempuan manapun akan memilih menetap dan setia tentu saja.

"Mau aku anter sampai rumah?" Tawarnya, aku menggeleng. "Turun di tempat biasanya?" Tanyanya sekali lagi dan aku mengangguk.

Seperti yang aku katakan diawal, Leon hanya tahu aku sebagai aku, gadis SMA biasa yang berprestasi. Leon tidak tahu dimana rumahku, siapa orang tuaku. Begitupun teman satu sekolahku. Dan bersyukurnya aku Leon mengerti ketertutupan ku. Aku dan Leon sekolah di SMA Bunga Bangsa, sekolah favorit, bukan favoritnya karena sokongan wali murid jenset, sekolah kami termasuk sekolah sederhana awalnya namun selalu berhasil mencetak murid-murid berprestasi. Yang sogokan tidak berlaku di sini. Memang ada sponsor tapi sponsor dari perusahaan dan di pastikan tidak ada KKN di sini.

* * *

"Sayang... Bangun yuk!" Mataku masih terasa berat untuk terbuka karena ini adalah hari minggu, hangat matahari terasa dari jendela kamarku yang telah terbuka. Mungkin mama yang membuka jendelanya.

"Hm..." Aku merenggangkan tubuhku, "Mama... Inikan hari Minggu." Protes ku.

"Selamat ulang tahun anak mama.” Ucap Mama sambil memelukku dengan riang. Yah mungkin karena aku anak tunggal. Jadi perhatian mama sepenuhnya hanya di tumpahkan padaku, terlebih papa sering kerja luar kota atau ke Singapore mengingat anak perusahan papa yang di sana semakin maju.

"Hah emang ini tanggal berapa Ma?" Tanyaku linglung.

"Tiga belas." Mama yang duduk di pinggir ranjang dekat pahaku, tersenyum begitu memukau, wajah anggun nan ayunya tidak menampakkan bahwa beliau sudah kepala empat. Senyum mama selalu bisa membuat hatiku tenang. Entah bagaimana bisa mama mendapatkan senyum seperti itu. Mungkin dari eyang, eyang putri juga memiliki senyum seperti mama. Apakah aku juga memiliki senyum seperti itu? Kurasa tidak.

"Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas gadis kesayangannya mama." Mama membelai rambutku yang masih berantakan.

"Terimakasih mama."

"Sayang..." Suara mama begitu lembut. "Mama ingin memberikan sesuatu untuk mu sebagai hadiah." Mama mengeluarkan sebuah kalung berliontin sebuah batu berwarna merah yang menggoda.

"Kalung?" Tanyaku heran. Karena baru kali ini aku melihat kalung itu.

"Ini kalung turun temurun dari keluarga kita sayang." Jelas Mama. "Dulu mama mendapat kan kalung ini ketika mama lulus SMA. Tapi, mama rasa ini adalah saat yang tepat untuk memberikan kalung ini pada kamu sayang."

"Wah, cantik sekali ma. Masak ini kalung turun temurun. Designnya tidak ketinggalan jaman sama sekali. " Aku meraih kalung itu dan mengamatinya.

"Kalung ini bentuknya bisa menyesuaikan dengan keinginan pemakai sayang."

"Hah?" Otakku serasa loading karena menemukan ketidak sinkronan antara informasi yang aku dengar dan dengna logika yang ada di dalam kepalaku.

"Ini bukan kalung sembarang. Hanya keluarga kita yang berjenis kelamin perempuan yang dapat melihatnya dan jodoh sejati kita."

"Dilla, kalung ini akan membantumu dalam menemukan cinta sejati kamu. Dan akan melindungi kamu. Selama ini kalung ini telah melindungi keluarga kita."

"Jadi kalung ini, kalung ajaib?" Mama mengangguk.

"Sangat sakti?" Mama mengangguk lagi.

"Berarti kekayaan keluarga kita..."

"Jangan sembarangan!" Hardik mama "keluarga kita memang sudah kaya turun temurun di tambah papa dan mama juga anak tunggal dan lagi papa itu pekerja keras."

"Kalau kalau bukan untuk kekayaan, apa gunanya ma?" Tanyaku heran.

"Kalung ini akan melindungi kita dari hal berbahaya..."

"Berarti Dilla bakalan tahan bacok dong ma?" Potongku semangat dan sedikit excited, membayangkan diriku yang tiba-tiba menjadi sekuar sri asih atapun gundala.

"Emang kamu mau tawuran?"

"Enggak juga sich ma." Cengirku.

"Dari semua manfaat kalung ini, yang paling penting adalah kalung ini ah tepat nya liontin ini akan membantu kita dalam menemukan cinta sejati kita."

"Caranya ma?"

"Cinta sejati kita dapat melihat kalung ini ketika sedang bercinta dengan kita."

"Berarti untuk tahu dia cinta sejati kita apa bukan berarti harus ML dulu dong ma." Mama mengangguk.

"Berarti saat menikah nanti, Dilla udah..."

"Kamu akan tetap perawan dan tetap bersih."

"Kok bisa ma?"

"Liontin ini akan mengembalikan keperawanan kamu, setiap kamu ML sama lelaki lain, lelaki itu akan mendapatkan keperawanan kamu."

"Jadi misal Dilla ML sama si Anak yang mendapatkan keperawanan Dilla dan kemudian Dilla ML sama si B, si B juga bakalan ngerasain keperawanan Dilla?" Mama mengangguk. Gila, keperawanan bisa balik padahal operasi perawan kan puluhan juta.

"Lalu bagaimana kalau Dilla ML sama si C si D, E, F secara bersamaan?"

"Maka siapa lebih dulu yang masukin kamu." Jelas mama yang membuatku mengerti dan mengangguk.

"Tapi juga bisa menghilangkan keperawananmu sementara ketika ML. Kalung ini akan membantu disetiap kesulitan, mencegah penyakit kelamin dan menghapus memory."  Jelas Mama. " Dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui, hanya cinta sejati kita yang benihnya dapat membuahi kita Dilla."

"Sesakti itu ma?" Mama mengangguk atas pertanyaanku yang spontan itu.

"Masak?" Aku masih meragukan ucapan mama itu.

"Mama sudah buktikan." Aku melotot ‘tak percaya, mamaku yang begitu anggun sopan dan wanita rumahan tidur selain dengan papa.

"Be...beneran ma?" Mama mengangguk sekali lagi untuk menjawab pertanyaanku atas keraguan karena tidak memenuhi logika dalam diriku.

"Bukan hanya mama, eyang putri  dan eyang putri terdahulu. Reaksi mama sama seperti kamu ketika mendengar cerita eyang putri." Kata mama.

"Sejauh mana mama..."

"Sejauh-jauhnya. Kamu tak akan menyangka."

"Gangbang?" Tanyaku meragu kepada mamaku yanbg penuh keanggunan ini.

"Cobalah sendiri."

"Nggak ah, Dilla nggak mau ambil resiko."

"Kamu tinggal menghapus memori mereka tentang kamu tanpa menghilangkan nikmatnya tubuh kamu dalam otak mereka."

"Memang bisa begitu ma?"

"Pak Bejo buktinya. Dia tidak ingat pernah ML sama mama tapi mengingat nikmatnya ML sama mama sampai ketagihan."

Mungkin ini yang dinamakan syok terapi. Mengetahu mama pernah ML sama sopir pribadi keluarga kami. Jangan berpikir pak Bejo adalah supir mesum yang kalian baca di cerita-cerita dewasa di luaran sana. Pak Bejo telah lama ikut dengan kami. Orang satun, tidak sangar sama sekali, aura kebapak’annya sangat kuat dan bahkan aku sangat dekat dengan beliau.

"Sampai sekarang mama masih sama pak Bejo?"

"Kadang kalau papa nggak pulang-pulang dan mama merasa kesepian."

"Enak ma?" Tanyaku penasaran.

"Kamu bisa mencobanya sendiri sayang " kata mama sambil mengedipkan matanya.

Pantas saja, selama ini aku merasa sedikit heran ketika assisten rumah tangga kami tidak mendapatkan kamar, maksudku mereka datang jam 6 pagi dan pulang jam 5 sore  tapi untuk sopir malah di kasih kamar di rumah ini dengan alasan bahwa mungkin papa butuh sewaktu-waktu.

"Jangan-jangan pak Ujang juga pernah jadi korban mama."

Mama tersenyum kecil, kalau sopir dan satpam rumah ini pun pernah jadi korban mama, berarti mama telah banyak memakan korban di masa mudanya. Walau para lelaki itu mendapatkan kenikmatan dari mama tapi tetap saja mereka korban, karena tidak bisa mengingat siapa wanita yang telah memberi mereka kenikmatan itu. Kalua-kalau mereka sampai ketagihan dan ingin mencari wanita itu namun tidak bisa, karena ingatan mereka samar akan wanita itu, hanya kenikmatan saja yang mereka ingat.

"Jangan menghakimi mama, nak." Kata mama yang meraih kalung itu dan mengalungkan di leherku. "Kamu akan memahami mama ketika kamu menjalaninya. Kamu akan tahu terkadang kita butuh sedikit kegilaan dalam hidup kita."

Mama benar. Toh, aku juga menyukai segala sesuatu tentang sex. Walau belum pernah ML aku sangat menyukai yang namanya kegiatan reproduksi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 35

    “Non!” Dia nampak begitu terkejut dengan apa yang aku lakukan. Tanganku langsung masuk ke dalam sarung, kini aku tahu jawabannya. Aku menarik kain segitiga itu hingga terlepas dari kakinya. Kemudian kepalaku masuk ke dalam sarung. Menemukan benda panjang di pangkal pahanya, masih setengah berdiri. Aku meraih benda itu, mengurutnya dan mengulumnya. “Oh...non... Apa yang sedang kita lakukan? Oh...tidak boleh...” Katanya namun dengan jelas aku merasakan bagaimana tangannya mengelus kepalaku dari luar sarungnya. Aku yakin, dari luar sana ini adalah pemandangan yang indah. Seorang pria yang menggunakan sarung dan ada kepala yang bergerak aktif di dalamnya. Bergerak maju mundur dan sang pemilik menggeram nikmat. 

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 34

    “Halo ma!” Sapaku pada mama di seberang telphone sana. Ini sudah seminggu lebih berjalan. Mama masih di Jerman mendampingi papa sekaligus menikmati bulan madubmereka yang entah keberapa. Aku tahu, mama sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berdua bersama papa. “Kapan mama sama papa pulang?” Rengekku yang seperti anak kecil meminta permen. “Belum tahu sayang... Papa masih sibuk dan belum mengatakan apapun tentang pulang.” “Ayolah ma... Lusa Dilla sudah balik buat persiapan semester baru.” Kembali aku merengek kepada mama. “Apa kalian tidak akan pulang sebelum Dilla balik?&r

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 33

    “Selamat tidur sayang.” Pak Parjo menyelimutiku setelah sesi ‘menghangatkan dinginnya malam’ di gazebo taman belakang. Aku tersenyum padanya. Senyum penuh makna terimakasih atas kehangatan yang telah ia berikan kepadaku. Aku memandangnya yang mematikan lampu hingga menutup pintu. Punggung terbuka dengan area bawah yang di tutupi sarung. Senyum sumringah masih terpatri di bibirku. Sensasi nikmat masih melekat dalam tubuh. Ketika mataku ingin terpejam, suara dering smartphoneku berbunyi. “Mama?” Gumanku saat menemukan nama mama sebagai penelepon tengah malam. “Halo ma ada apa?”

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 32

    Entah kenapa ibu kota provinsi yang yang biasanya panas, kini terasa begitu dingin. Sangat dingin lebih tepatnya. Salah alam atau salah manusia yang tidak merawat bumi yang telah baik kepada manusia? Aku mencoba mencari minyak gosok di kamarku. Namun, aku tak menemukannya. “Dimana aku menaruhnya?” Gerutuku pada diriku sendiri. Dengan gaun tidurku yang longgar dan berwarna putih, aku turun menuju dapur. Mungkin ada di sana. Aku mencari-cari di dapur, dan akhirnya menemukan botol minyak gosok di buffet diatas kitchen set. Mencoba mengambilnya namun tak sampai. Sepertinya butuh pijakan. “Siapa sih yang menaruh di sana?” “Nyari apa non?” “Astaga!” Aku terkejut dengan Pak Parjo yang tiba-tiba muncul dibelakangku. “Bikin Dilla terkejut aja pak.” Protesku yang masih dengan jantung berdetak dengan cepat karena terkejut. “Maaf non.” Ucapnya. “Tadi saya sudah mau tidur, tapi saya mendengar ada suara di dapur jadi saya cek.” Yah, memang

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 31

    Rumah terasa begitu sunyi, papa telah berangkat ke Jerman dua hari yang lalu. Yang ku lakukan hanya menonton tv dengan lesu. Bahkan mama yang biasanya sangat antusias dengan acara gosippun, kini hanya lunglai di sebalahku. “Mama badmood?” Tanyaku yang mamandang mama yang terlihat begitu suram. “Bagaimana nggak badmood? Papa pulang, waktunya hanya buat kamu. Mama dianggurin.” Kata mama yang menghela nafas. Membuatku sedikit bersalah karena memonopoli waktu papa. “Halo.” Mama mengangkat smartphonenya yang berdering. “Beneran pa?” Tanya mama girang, sepertinya itu adalah telphone dari papa. “Baiklah besok mama berangkat pa.” Kata mama yang langsung menutup telphonenya dengan wajah sumringah. “Kok bahagia banget ma? Emang mama mau berangkat ke mana?” Tanyaku pada mama. “Nyusul papa dong. Ternyata papa juga kangen sama mama.” “Dilla ikut dong ma.” Rengekku dengan muka memelas. “Tidak bisa. Kalau kamu ikut, n

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 30

    Liburan semester telah menanti di depan mata, semua barang di kos telah ku kemasi. Anak baru itu terlihat sangat membutuhkan tempat ini untuk berlindung. Ia benar-benar membutuhkan om Brham. Gadis manis yang sayangnya takdirnya ‘tak semanis wajahnya. Ku harap dia menemukan harapan baru untuk berada di kos itu, dengna bimbingan om Brahm pastinya. So, aku menyerahkan kamarku dengna sukarela setelah merasakan berteduh di tempat yang penuh dengan hal menyenangkan itu. Barangku seharusnya saat ini telah masuk mobil box dan diantar ke appartementku. “Huft” Aku menghela nafas. Karena sekali lagi tidak bisa bertemu dengan dosen yang seharusnya menjadi dosen pembimbingku. Beliau memberitahukan melalui pesan singkat, bahwa judul yang aku ajukan, tinggalkan saja di meja yang berada di ruangannya. Apakah aku akan baik-baik saja dengan dosen yang sesibuk ini? Setelah meletakkan judul skripsi yang kuinginkan beserta referensi yang menjadi peganganku, aku meninggalkan ruangan itu dengan l

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 06

    Aku terbangun, sudah siang ternyata. Ku renggangkan otot tubuhku, aku tersenyum kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu pasti Leon, seperti rencana di awal kami menginap di hotel dari Jumat malam hingga saat ini. Senyumku yang merekah karena mengingat kegiatan kami semalam langsung lun

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 05

    "Selamat memasuki dunia dewasa sayang..."Ucapan mama terngiang di telingaku, pemandangan di luar sana terasa begitu... Entahlah, sebenarnya pemandangannya biasa. Hanya saja mungkin suasana hatiku yang berbeda. Berdebar-debar menikmati waktu berjalan menuju malam, sedang ini masih sore. Malam ini ak

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 04

    "Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 02

    Waktu itu, aku baru saja menyelesaikan ujian kelulusan. Kelas tiga SMP waktu itu terasa istimewa bagiku, karena waktu itu aku pertama kalinya memiliki seorang kekasih, ah kurasa kata kekasih terlalu romantis untuk romansa ketika aku masih ingusan waktu itu. Katakanlah pacar, ya mari kita sebut pa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status