Share

Liontin Merah Delima
Liontin Merah Delima
Author: NesalHappy

LMD Bab 01

Author: NesalHappy
last update publish date: 2025-01-04 22:05:07

"Nduk..." Eyang putri membelai rambutku yang panjang. Eyang putri selalu menyukai rambutku yang panjang dan hitam, ketika itu aku berlibur di rumah eyang, rambutku selalu di berikan perawatan ala jawa tradisional, entah menggunakan minyak khusus atau sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. Namun, yang jelas aku benar-benar menyukai ketika eyang sedang mengurus rambutku sambil berkidung senandung jawa yang bahkan aku tidak tahu arti liriknya itu.

"Nggih eyang..." Jawabku yang masih menikmati suasana yang asri di rumah eyang.

"Di dunia iki, neng tanah iki, wanita dianggap lemah oleh kaum lelaki. Ananging nduk, sejatine mereka takluk oleh kaum kita." Eyang putriku itu bertutur dengan lembut dan bersahaja, membuatku begitu tenang.

"Maksudnya eyang?" Tanyaku ‘tak mengerti.

"Untuk saat ini, kamu ndak perlu mengerti apa yang eyang mu ini maksud. Kamu hanya perlu mengingat kata-kata eyang. Ketika kau sudah besar dan banyak makan asam garam, kamu akan mengerti." Tak henti-hentinya eyangku itu mengusap rambutku dengan sayang.

"Nggih yang." Jawabku dengan patuh nan polos. Tak pernah terbesit sedikitpun di kepalaku apa yang di maksud eyang saat itu.

"Ingat ya nduk, sak najan ing jiwo kita iku sejatine satrio penakluk ananging, ing jobo Kito kudu tampak koyo kembang kapas, putih, rapuh lan indah." Eyangku selalu tersenyum penuh ketulusan dan penuh arti, dan aku tahu eyang tidak pernah menyembunyikan arti jahat dalam senyuman itu. Eyang adalah makhluk yang paling tulus yang pernah aku temui dalm hidupku.

"Nggih eyang. Dilla akan selalu ingat." Aku membalas senyuman eyang itu denan sumringah. Merasakan bahak eyangku itu sedang memberikan hal-hal baik dalam hidupku kelas.

Waktu itu umurku 10 tahun, ketika eyang menyampaikan pesan itu. Seperti yang eyang katakan waktu itu, aku memang belum mengerti apa yang di maksud eyang dengan kalimat-kalimatnya itu. Namun, sekarang ini umurku hampir 17 tahun, tinggal menunggu hitungan hari dan aku sekarang sedikit banyak mengerti akan pesan eyang waktu itu.

"Ahhh....ssstt... Dill..." Leon, cowok tegap nan maskulin itu tengah membelai rambut hitamku, sedang diriku sibuk dengan dirinya yang tegang dan keras di bawah sana. Dan jangan lupa sangat panas.

"Hmmm... mm.. mmm" Aku merasakan mulutku penuh dengan rasa tegang itu. Menjilatinya seperti ice cream yang begitu lembut, dan mengulumnya seperti kembang gula, memutar lidahku pada ujungnya yang tegang.

"Ohhh...hmmm Dil." Leon kekasihku itu seolah pasrah dan meremas jok mobil yang ia duduki. Mukanya memerah, aku tahu dan aku hafal bahwa ia menanti detik-detik mendapatkan pelepasannya. Pelepasan yang aku tunggu, karena aku tengah membantunya dalam mencapai itu.

Aku melepaskan kuluman ku dan menggunakan tanganku, memandang wajahnya yang semakin pasrah dan berharap, satu tangannya telah sibuk meremas dadaku. Aku menunduk lagi, mengulumnya dan mengkombinasikan dengan tanganku. Berharap Leon segera mendapatkan pelepasan nya karena perutku telah meronta. Meski begitu, aku masih dengna sabar menunggu momen-momen itu, momen dimana ia melepaskan ketegannya karena diriku, sungguh sanagt sexy dan menggairahkan untukku dan tentu saja menjadi sebuah kepuasan tersendiri untukku, melihat seorang lelaki mencapai puncaknya karena diriku.

"Oh ..oh.. Dill aahhh..." Cairan kental itu menyembur dalam mulutku, sebagian meleleh di sela-sela bibirku. Dengan segera aku meraih tissue yang ada, membuang cairan itu dari mulutku dan membersihkan sisanya. Aku tidak ingin sperma Leon menjadi menu pembuka makan malam ku, itu saja.

"Enak?" Tanyaku yang masih sibuk dengan tissue-tissue itu. Namun, setelah itu aku menatapnya, memberikan semua perhatianku sepenuhnya pada dirinya. Salah satu threat yang aku berikan kepada orang-orang yang aku sayangi, salah satunya adalah lelaki yang saat ini sedang berada di hadapanku saat ini.

"Selalu." Dia tersenyum puas padaku sambil menutup resleting celananya. "Terimakasih baby." Dia mengecup bibirku dengan manis dan mampu membuat ku tersenyum dan kembali pulih dari rasa lelah setelah melakukan oral padanya. Dan menimbulkan sedikit rasa bangga pada diriku. Tentu saja aku bangga, kan sudah ku katakana padamu, membuat lelaki mencapai puncak kenikmatan karena diriku adalah sesuatu hal yang menjadi kepuasaan dan kebanggaan tersendiri bagiku. Kalua tidak percaya cobalah, dan kamu akan mengerti apa yang aku maksud.

"Aku laper babe. Butuh asupan gizi." Kataku memelas pada Leon. Dan tentu saja di setujui oleh cowok itu. Melajulah mobil kami, meninggalkan pinggir jalan yang gelap dan sepi, dimana sekitar 15 menit yang lalu Leon menghentikan mobilnya karena ada sebuah desakan yang harus di tuntaskan, dituntaskan dengan mulutku. Sebenarnya sedikit lucu untukku, tiba-tiba saja ia merasa ingin dituntaskan, namun kami barulah di masa remaja, dimana gairah kami menggebu-gebu dengan gelora yang begitu indah. Wajar saja ketika Leon kekasihku ini tiba-tiba keras begitu saja dan membutuhkanku untuk pelepasannya yang nikmat.

Leon adalah kekasih pertamaku saat SMA waktu ini, maksudku waktu pertama kali masuk SMA di semester pertama aku sempat malas memiliki kekasih karena mantan pacarku yang brengsek waktu SMP. Tapi, Leon berjuang untuk meyakinkan ku untuk menjalin hubungan dengannya. Hampir satu tahun ia berjuang untuk mendapatkan ku. Akhirnya aku setuju untuk menjalin hubungan dengannya, Cinta? Aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak, yang aku tahu, Leon berani berjuang untukku. Hal itulah yang membuatku beigtu luluh, dan berani untuk mengatakan ya dalam sebuah hubungan yang awalnya aku masih ragu, dan terombang-ambing antara rasa ingin dan rasa takut.

Lagi pula, Leon tidak tahu siapa aku yang sesungguhnya, maksudku latar belakang ku yang adalah seorang putri semata wayang dari pengusaha properti dan hotel paling sukses di negeri merah putih ini. Bapak Hendrix Wicaksono adalah ayahku sedang ibuku adalah Ayu Wulan Wicaksono. Leon hanya tahu aku sebagai Dilla Ayu, seorang siswi SMA yang biasa tanpa embel-embel di belakangnya.  Tidak seperti mantanku waktu SMP, dia benar-benar brengsek.

            Aku lebih suka begitu, berteman ataupun menjalin hubungan tanpa menggunakan embel-embel di belakangku. Kalian tahu kenapa? Karena dengan hal itu aku bis amenemukan orang yang ingin mnejadi temanku ataupun kekasihku dengan perasaan yang tulu tanpa menuntut apapun. Aku tahu pada dasarnya manusia itu baik, seperti itu yang selalu eyang ajarkan padaku. Namun, terkadang kita akan di pertemukan oleh manusia-manusia yang brmaksud tertentu kepada kita, entah bermaksud baik nan tulu ataupun sebaliknya. Yang paling penting kita haruslah tetpat berwaspada dan berdoa kepada Tuhan untuk selalu dipertemukan dengan manusia-manusia baik dalam hidup kita. Dan beruntungnya aku bertemu dengan Leon di waktu ini, dan teman-teman yang selalu mendukungku meski mereka tahu aku hidup dengan sederhana dan tanpa tahu aku memiliki jumlah kekayaan yang melebih apa yang mereka punya meskipun di gabung menjadi satu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Liontin Merah Delima   Bab 31

    Rumah terasa begitu sunyi, papa telah berangkat ke Jerman dua hari yang lalu. Yang ku lakukan hanya menonton tv dengan lesu. Bahkan mama yang biasanya sangat antusias dengan acara gosippun, kini hanya lunglai di sebalahku. “Mama badmood?” Tanyaku yang mamandang mama yang terlihat begitu suram. “Bagaimana nggak badmood? Papa pulang, waktunya hanya buat kamu. Mama dianggurin.” Kata mama yang menghela nafas. Membuatku sedikit bersalah karena memonopoli waktu papa. “Halo.” Mama mengangkat smartphonenya yang berdering. “Beneran pa?” Tanya mama girang, sepertinya itu adalah telphone dari papa. “Baiklah besok mama berangkat pa.” Kata mama yang langsung menutup telphonenya dengan wajah sumringah.&nbs

  • Liontin Merah Delima   Bab 30

    Liburan semester telah menanti di depan mata, semua barang di kos telah ku kemasi. Anak baru itu terlihat sangat membutuhkan tempat ini untuk berlindung. Ia benar-benar membutuhkan om Brham. Gadis manis yang sayangnya takdirnya ‘tak semanis wajahnya. Ku harap dia menemukan harapan baru untuk berada di kos itu, dengna bimbingan om Brahm pastinya. So, aku menyerahkan kamarku dengna sukarela setelah merasakan berteduh di tempat yang penuh dengan hal menyenangkan itu. Barangku seharusnya saat ini telah masuk mobil box dan diantar ke appartementku. “Huft” Aku menghela nafas. Karena sekali lagi tidak bisa bertemu dengan dosen yang seharusnya menjadi dosen pembimbingku. Beliau memberitahukan melalui pesan singkat, bahwa judul yang aku ajukan, tinggalkan saja di meja yang berada di ruangannya. Apakah aku akan baik-baik saja dengan dosen yang sesibuk ini? Setelah meletakkan judul skripsi yang kuingink

  • Liontin Merah Delima   Bab 29

    Hubungan ku dan om Brham semakin hangat, meski kami merahasiakannya dari penghuni kos yang lain. Bukan karena Om Brahm tidak menyukai dengan hubungan yang sedang kami jalanni saat ini, Om Brham hanya tidak tega kalau image ku berubah di depan para penghuni kos yang lain.Aku bahagia, mendapat kehangatan dari om Bhram. Semenjak hubungan kami terjalin walau secara sembunyi-sembunyi, yang lain pun terkena dampak positifnya. Om Brham menjadi semakin rajin memberikan mereka klien, sehingga banyak kesempatan bagi kami untuk berduaan.Contohnya hari ini, om Brham membuat penghuni kos mendapat klien dan menginap ke luar kota untuk beberapa hari. Lalu, om Brham menyiapkan candle light dinner untuk kami berdua di rooftop. Kenapa di rooftop? Apakah om Bhram tidak mampu membawaku ke restoran mewah? Tidak mungkin, om Bhram sangat kaya raya dengan penghasilannya itu, ditambah lagi om Bhram yang semakin rajin mencarikan klien untuk mbak Luna cs, memberi dampak positif pada bisnisnya.

  • Liontin Merah Delima   Bab 28

    Beberapa detik berikut nya, mataku menyalang. Milik om Brham kembali mengeras dan besar. Segera aku menatap om Brham. Dia terlihat sedikit malu karena kejadian itu. Membuatku sedikit geli, bagaimana mungkin seorang berpengalaman seperti dia menunjukkan wajah malu di depan anak ingusan seperti diriku. Terlebih hanya karena batangnya mengeras kembali dengan cepat. Bukankah ini laur biasa? Bagaimana di usia nya yang saat ini, dia baru saja mengeluarkan hal indah itu dan sekarang benda itu mengeras dengan indahnya. Aku tidak percaya ini."Mau Dilla bantu om?" Tanyaku hati-hati. Nampak muka terkejut di wajahnya, mungkin dia tak menyangka gadis yang ia sangka gadis baik-baik malah menwarkan sebuah bantuan yang nikmat namun ia segera mengangguk, mungkin karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.Aku langsung turun, bersujud di selangkangannya. Menemukan batang yang paling besar yang pernah aku lihat. Panjangnya sekitar dua puluh hingga dua p

  • Liontin Merah Delima   Bab 27

    Siapa bilang jadi dokter itu enak? Kebanyakan orang-orang memandang bahwa dokter memiliki gaji yang luar biasa tinggi dan dia hidup enak. Yang sesungguhnya terjadi, gaji dokter sama aja dengan gaji pegawai pada umumnya, bahkan ketika Coas pun tidak mendapat gaji dan ketika magangpun, gaji tidak mencapai UMR, yang membuar seorang dokter kayak adalah jam praktek mereka diluar jam kerja mereka di luar rumah sakit negeri. Tapi tak tahukan mereka, untuk bisa mendapatkan hal itu semua? Seberapa berat perjuangan para mahasiswa kedokteran? Kami memang tidak ada UAS, berbeda dengan jurusan yang lain. Tapi ujian kami sekali berdasarkan modul.Jika jurusan lain ujian saat tengah semester dan akhir semester, yang berarti hanya empat kali ujian dalam setahun. Tapi kami bisa tiga puluh lima kali ujian salam setahun. Bayangkan tiga puluh lima kali ujian dalam setahun dan kami membutuhkan kuliah selama empat setengah hingga lima setengah tahun untuk kuliah. Ini adalah waktu nor

  • Liontin Merah Delima   Bab 26

    "Kurasa kamu mengenal kakek." Katanya yang membuatku kesal. "Nama tengah kakek, tidak pernah di ekspose di media massa. Tapi kamu mengetahuinya.""Baiklah, apa kakak tidak mengenaliku?" Kataku yang memandangnya serius.Kak Roby terlihat masih berpikir dengan keras. "Saat umurmu sepuluh tahun, di danau dekat rumah kakekmu. Gadis cilik berpita kuning." Kataku memberi clue.Seketika kak Roby terbahak-terbahak sambil memelukku gemas. "Jadi, kamu adalah gadis cilik yang hampir tenggelam di danau waktu itu? Yang ku selamatkan lalu, mengatakan ingin menikahiku saat dewasa?" Dia masih tersenyum bahagia memelukku."Kau sudah besar adik kecil." Adik kecil adalah cara dia memanggilku ketika waktu itu.Pantas saja, dari awal bertemu aku sudah nyaman bersamanya. Merasa bahwa aku telah menemukan seorang kakak, ternyata dia memanglah adalah sosok kakak yang telah hadir semenjak lalu.&nb

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 04

    "Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 03

    "Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 06

    Aku terbangun, sudah siang ternyata. Ku renggangkan otot tubuhku, aku tersenyum kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu pasti Leon, seperti rencana di awal kami menginap di hotel dari Jumat malam hingga saat ini. Senyumku yang merekah karena mengingat kegiatan kami semalam langsung lun

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 05

    "Selamat memasuki dunia dewasa sayang..."Ucapan mama terngiang di telingaku, pemandangan di luar sana terasa begitu... Entahlah, sebenarnya pemandangannya biasa. Hanya saja mungkin suasana hatiku yang berbeda. Berdebar-debar menikmati waktu berjalan menuju malam, sedang ini masih sore. Malam ini ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status