LOGIN"Selamat memasuki dunia dewasa sayang..."
Ucapan mama terngiang di telingaku, pemandangan di luar sana terasa begitu... Entahlah, sebenarnya pemandangannya biasa. Hanya saja mungkin suasana hatiku yang berbeda. Berdebar-debar menikmati waktu berjalan menuju malam, sedang ini masih sore. Malam ini aku sudah membulatkan tekad, memasuki dunia dewasa.
"Ini udah masuk ke perumahan non Cindy non, mau turun di mana?" Pak Bejo mengalihkan pikiranku menuju dunia nyata.
"Di sini aja pak Bejo, nanti biar Dilla jalan sedikit ke sana." Kataku dan mobil pun menepi. Rumah Cindy mungkin masih berada di 500 meter lagi, namun aku tidak mau ambil resiko kalau teman-teman ku melihatku turun dari mobil Alphard mewah ini.
Jalan komplek sepi, berarti aman. Dengan segera aku keluar dari mobil dan kemudian pak Bejo meninggalkan komplek perumahan Cindy, komplek untuk kalangan menengah ke atas. Cindy dan Leon termasuk dalam keluarga yang kaya turun temurun. Walau tidak sampai termasuk kaya raya, tapi yang aku suka dari keluarga mereka adalah walau mereka kaya mereka tetap berteman dari kalangan manapun dan saling menghargai sesama manusia.
Ketika aku memasuki gerbang rumahnya yang lumayan mewah, dengan segera aku diarahkan menuju ke belakang, ke kolam renang, di situlah tempat party dilaksanakan. Aku menyukai EO yang di gunakan Cindy sangat bagus dan profesional, oh aku lupa EO ini adalah usaha milik keluarga Cindy.
Aku mengedarkan pandanganku, mencari sosok yang aku rindukan. "Kamu terlihat begitu Sexy." Bisikan suara serak berisikan gairah tertangkap di telingaku.
Seorang lelaki dengan tinggi 178 cm dan berwajah ganteng, berdiri di sampingku. Menggunakan kemeja hitam polos dan celana jins hitam necis, dengan rambut yang berpomet. Ah, kekasihku ini memang menawan.
"Kamu suka?" Tanyaku tersenyum padanya dengan pandangan mataku yang penuh dengan sirat hasrat anak muda yang menggebu.
"Sangat, aku sangat menyukainya." Dia tersenyum padaku lalu dia berbisik lagi "Si kecil juga menyukainya, dia terbangun." Mendengar itu, secara otomatis pandanganku mengarah ke selangkangannya, apakah sudah keras?
"Kau harus bertanggung jawab." Katanya lagi, aku tersenyum semakin lebar lalu mengedipkan mataku.
"Sebelum aku bertanggung jawab, ayo kita temui sang tuan rumah dulu." Aku menarik tangan Leon dengan satu tanganku, sedang tanganku satunya terisi kado yang aku siapkan untuk Cindy.
"Hi Cindy..." Sapaku.
"Dilla." Ucapnya senang lalu memelukku dengan girang, teman-temannya yang tadi bersamanya pun kini mulai memencar, mungkin tadi mereka hanya sekedar basa-basi untuk sopan santun kepada sang tuan rumah yang sedang berulang tahun.
"Happy birthday." Ucapku riang.
"Ku kira lo nggak bakalan datang Dilla."
"Gue pasti dateng dong, untuk sobat gue." Kataku. "Moga lo suka." Aku memberikan kado yang aku bawa ke Cindy. "Jangan lihat harganya ya." Kataku. Yah salah satu hal minus tentang menutupi latar belakangku adalah ini, aku tidak bisa memberikan kado yang terbaik dan termahal untuk temanku, aku takut mereka curiga. Tapi ku rasa walau harganya tidak terlalu mahal, Cindy akan menyukai dan membutuhkan hadiahku itu.
"Eh, Leon. Lo ya, kalau udah ketemu Dilla mepet aja kerjanya. Kasian Dilla-nya lo Pepet terus kayak gitu."
"Iya gimana lagi, abis Dilla kan pelukable banget buat gue." Jawab Leon yang membuatku semakin bangga pada diriku sendiri.
"Iya tapi tangan lo itu terus-terusan ngremas lengan Dilla. Ini tempat umum lho. Masuk kamar sana!"
“Hahahaha” Leon tertawa nyaring sedang aku hanya tersipu malu, memang benar sejak tadi tangan Leon rajin meremas lenganku, dan tidak aku hentikan karena aku menyukai nya.
"Loe emang sepupu yang pengertian."
"Eh gue tinggal dulu ya. Mau nyapa yang lain." Kata Cindy ketika ada tamu baru yang datang. See, Cindy adalah teman yang ramah dan baik.
"Dansa yuk babe." Ajak Leon padaku dan aku mengangguk, selagi musik masih slow. Tapi aku yakin sebentar lagi bakalan berubah menjadi musik up beat seperti di club malam.
Aku dan Leon kini berada di atas kolam renang yang di tutup kaca tebal sebagai dance floor. Tanganku terkalung di lehernya dan kedua tangannya berada di pinggangku. Posisi yang intim. Sejenak berlalu, kini music up beat oleh DJ telah berkumandang dan secara otomatis, tubuh mengikuti.
Aku dan Leon saling menempelkan tubuh, kurasakan sesuatu yang keras menyentuh bokongku, dengan sengaja ku tekankan pinggulku semakin dekat dengan milik Leon, ia menikmati, aku tahu itu dari remasan tangannya yang berada di pahaku. Ku liukkan lagi tubuhku untuk membuatnya semakin keras.
"Sssshh..." Leon mendesis ketika aku meremas miliknya secara diam-diam. Oh, ku rasa aku juga ikut terangsang dengan suasana ini.
"Wah gila, beruntung banget si Leon dapat tuh cewek." Aku mendengar beberapa cowok berkasak-kusuk di telingaku. Walau sedikit tidak terlalu jelas, tapi telingaku mampu menangkap percakapan antara beberapa cowok yang sedang bergerombol di salah satu meja minuman.
Liontin ku sedikit menyala, dan aku merasakan sesuatu yang aneh di sekitar ku. Apakah mungkin, Liontin ini sedang memberikan sebuah tanda bahaya?
"Gila, gue lihatnya aja udah konak gini." Sahut cowok lainnya.
"Bukankah, Leon lusa bakalan keluar negeri? Katanya dia bakalan sekolah di sana dan bakalan lama kembali ke indo."
"Beneran?"
"Iya."
"Wah berarti ada kesempatan buat dapat tuh cewek dong, meski bekas tapi gak apa, pasti mantep, lihat aja goyangannya."
Wah sepertinya benar, kalung ini memberikan aku tanda bahaya ada orang yang berpikir mesum tentangku, sedikit risih juga mendengar percakapan mereka tapi ada sedikit desiran yang aku rasakan ketika mengetahui mereka terangsang dengan liyuk tubuhku yang sedari tadi menempel pada Leon.
"Gue juga mau kalau kayak gitu." Kata tiga cowok lainnya serempak.
"Kayaknya seru kalau di gangbang kapan-kapan."
"Iya kapan-kapan, tapi kapan?"
Wah sepertinya mereka benar-benar memiliki niat buruk terhadapku.
"Besok." Jawab salah satu cowok itu
"Serius?"
"Iya, dalam mimpi." Dan mereka tertawa terbahak sedangkan aku hanya mengulum senyum, ternyata hanya segitu keberanian mereka.
"Ada hal yang lucu?" Leon bertanya, mungkin karena melihatku mengulum senyum, dan ku kira Leon tidak mendengar ucapan mereka tapi tunggu kalau Leon tidak bisa mendengar ucapan mereka, kenapa aku bisa mendengarnya? Leon adalah orang yang open minded, ketika ada lawan jenis yang memujiku Leon tidak akan marah karena memang itu kenyataan nya, tapi kalau ada lawan jenis yang berpikir jorok ataupun melecehkan ku dia tidak akan segan-segan untuk menghajar orang itu.
Sekali lagi aku melihat keempat cowok itu, meja minuman dengan dance floor cukup jauh dan ditambah dengan musik up beat yang memekakkan telinga, tak mungkin aku bisa mendengarnya walau berupa bisikan. Jangan-jangan.... Aku melihat liontin ku sekali lagi, masih menyala, sepertinya karena Liontin ini.
"Babe, menepi dulu yuk!" Aku meraih tangan Leon untuk menepi, sekedar duduk di tempat yang telah di sediakan.
"Ada apa babe?" Leon meraih sebuah minuman yang di sediakan bartender, semoga bukan minuman beralkohol. "Non alkohol babe." Sepertinya Leon tahu pikiranku. "Cindy tak mungkin menyediakan minuman alkohol saat pesta di rumahnya. Dia masih waras." Aku terkikik mendengar ucapan Leon. Yah, Leon dan Cindy itu serupa meski mereka tahu clubbing tapi mereka tetap tahu batasan.
"Lusa, kamu bakalan berangkat kan?" Leon langsung memandangku, suasana langsung terasa hening diantar kami berdua.
"Aku..."
"Aku bahagia, kamu selangkah lebih dekat dengan impianmu." Ku genggam tangannya. "Tapi hubungan jarak jauh, serasa sulit untuk di jalani bagiku."
"Terus kamu mau kita putus?" Mata Leon terlihat gamang di mataku.
"Kamu tahu Leon? Kamu adalah cowok yang benar-benar aku sayangi." Aku tersenyum padanya.
"Kalau begitu, kita bisa LDR aku janji untuk selalu pulang kalau aku ada waktu libur aku janji bakalan..." Aku mencium Leon, ini adalah pertama kalinya aku yang mencium duluan. Melumat bibir tebal nan kenyal Leon menyalurkan rasa sayangku padanya.
"Dia masih keras." Kataku ketika ciuman kami lepas, tanganku sudah berada di selangkangan Leon.
"Tentu saja, adik kecilku akan selalu keras kalau berada di dekatmu."
"Jadi, mau aku bertanggung jawab?" Godaku. Leon tersenyum lebar. "Aku berpamitan kepada mama, kalau aku menginap di rumah Cindy." Kataku, hei tak mungkin aku bilang pada Leon, 'Mama telah menyiapkan sebuah kamar hotel untuk kita bermalam'
"Jadi?"
"Kita akan bermalam bersama." Kataku. "Ah aku lupa seharusnya aku menanyakan dulu padamu, apakah kamu mau menghabiskan malam ini dengan ku?"
Leon memandangku dalam diam, entah apa yang dia pikirkan.
"Apa kau tidak mau menginap denganku?" Tanyaku ragu karena Leon hanya terdiam terpaku..
"Apa kau kerasukan sesuatu?" Aku menggeleng cepat.
"Apa kamu serius?" Aku mengangguk.
"Apa kamu tahu apa yang akan kita lakukan semalaman?" Aku mengangguk, tentu saja aku tahu, aku bukan anak tujuh tahun, aku sudah tujuh belas tahun terlebih aku kelas IPA, aku tahu jelas yang namanya kegiatan reproduksi.
"Jadi... Kamu mau apa..."
"Kita ke hotel atau..."
"Aku telah memesan kamar hotel." Kataku memotong kalimat Leon.
"Wah, ternyata kamu bergerak cepat ya." Pipiku bersemu merah mendengar kalimat Leon. "Kalau begitu ayo!" Leon segera menarikku menuju parkiran, mencari mobilnya.
* * *
Setengah jam kami berkendara, hingga sampailah kami di depan sebuah hotel. "Kamu yakin memesan kamar di sini?" Tanya Leon.
Aku mengangguk, Leon segera menghentikan mobilnya di depan loby, sudah ada petugas pallet mobil di sana.
"Sepertinya tabunganku akan sedikit terkuras." Kata Leon bercanda ketika kami telah memasuki loby hotel. Glory hotel, adalah salah satu hotel bintang lima di kota ini. Semalamnya bisa menghabiskan dua juta lebih. Mahal? Ya tentu saja, tapi menurutku ini jauh lebih murah daripada aku menginap di hotel lainnya. Kenapa? Tentu saja, karena ini gratis -untukku.
"Aku telah membayarnya." Kataku "Untuk malam ini hingga Minggu sore." Kataku.
Leon memandangku takjub. "Ayolah, walau aku tidak sekaya dirimu, tapi aku tidak terlalu miskin-miskin amat. Terlebih, selama kita pacaran uang jajanku selalu utuh." Kataku menghentakkan kakiku lalu menuju ke receptionist untuk mengambil kunci kamar, oke sepertinya aku pintar bersandiwara.
Dengan segera kami memasuki lift, menekan lantai 15, lantai dengan kamar suite.
"Berapa yang kamu habiskan?"
Dengan kesal aku mendorong Leon ke dinding Lift samping, "Dari pada kamu menanyakan berapa yang aku habiskan, bukankah ini waktu yang tepat kamu mencium ku dengan ganas?" Tanyaku. Sepertinya kalimat ku tidak mencerminkan umurku, untungnya hanya kami berdua yang berada di lift.
Tak ku sangka, dengan tiba-tiba Leon menciumku, menciumku dengan ganas decapan lidah kami pun terdengar memenuhi ruang lift.
Ting, lift telah sampai di lantai yang kami tuju.
Dengan tergesa kami menuju kamar kami, ketika pintu telah terbuka, kami segera masuk, menuju tempat tidur, kami saling melumat satu sama lain. Hingga Leon terjerembab di atas tempat tidur, dan aku menaikinya, mencium dan meraba, saling mendesah.
"Ahhh..." Aku menekankan pinggulnya yang terasa keras, gaunku yang semula setengah paha kita telah berada di pinggulku karena posisiku yang mengangkang, memperlihatkan celana dalam hitam berenda ku pada Leon.
"Sssshh...." Leon mendesis sambil membantuku menekan panggul ku, merasa kerasnya miliknya lebih lekat. Ku goyangkan pinggulku, walau tidak bersentuhan secara langsung, ini sungguh nikmat.
Leon segera bangun, dirinya duduk di pinggir tempat tidur, sedang ku masih asyik bergoyang di pangkuannya.
Ciuman sekali lagi kami lakukan, dengan tambahan satu tangannya yang kini berada di dadaku, meremasnya begitu intens.
Leon menggulingkan diriku, kini dia berada di atass dengan kedua kakiku yang masih mengangkang. "Enak?" Tanyanya ketika ia menggoyang kan pinggulnya. Aku mengangguk.
Gaunku telah melorot, dan berkumpul di pinggangku, menampakkan bra dan CD yang senada, ah braku bahkan kini telah tidak pada tempatnya, Cup-nya telah tertarik ke atas, dadaku terpampang nyata. Dengan rakus Leon mengecup dan mengulum puting ku.
"Ahhh... " Gairah itu semakin membuatku mendesah, kepalaku rasanya berputar. "Ahhh... Leon ....." Desahku lagi tat kala, jemari Leon telah memasuki celana dalamku, memasukkan jari tengahnya pada diriku, mengobrak-abriknya, rasa nikmat yang begitu kentara, memanggil gairah yang semakin menjadi.
"Ah... Terus... Ahhh... Leon..." Desahanku seperti penyemangat bagi Leon dalam menghantarkan puncak nikmat yang sebenarnya lagi akan aku dapatkan... "Aaahhhhhhh...." Aku mendapatkan rasa nikmat itu.
Leon berdiri, memandangku yang telah berantakan, tersengal karena puncak nikmat yang baru saja aku gapai atas bantuannya. Ia sentak celana dalamku beserta gaunku ke bawah melewati kakiku yang tidak begitu jenjang, sedangkan braku entah ia buang kemana.
Aku melihat Leon melepas kancing kemejanya yang sebagian telah terlepas karena ulahku, membuang kemeja itu sembarangan, dengan cepat aku mendudukkan posisiku, membantunya dalam membuka gespernya lalu melorotkan celana jins beserta boxernya. Si 'kecil' langsung menyapaku, mengangguk-angguk seolah menginginkanku untuk menyentuhnya.
Segera saja, ku genggam sepenuh hati, ku kecup ujungnya. Tanganku maju mundur, untungnya ada sedikit cairan yang keluar dari lubang kecil yang berada di ujung. Jadi, aku tak perlu memberinya pelumas lagi, tanpa ragu ku kecup dari ujung hingga pangkal lalu menjilatinya seperti ice cream dari pangkal hingga ujung, ku kulum seperti lollipop.
"Sshss... Heeemmm...." Leon mengherankan, matanya terpejam sedang tangannya membelai rambutku, membantu menyingkirkan anak-anak rambutku yang menganggu kegiatan kami...
"Sssshh ahhh....Dilla..." Leon semakin mendesah, ku sudahi service ku pada batangnya.
Leon memandangku, matanya memancarkan gairah yang sama dengan ku, ya gairah itu memenuhi diriku lagi dan ingin segera di tuntaskan.
"Kamu yakin?" Aku mengangguk.
Leon memposisikan diriku senyaman mungkin di tengah kasur besar itu. Kakiku terbuka lebar, jantungku berdebar. Leon meraba vagina ku lagi, memasukkan jarinya di sana.
"Sudah basah lagi." Katanya tersenyum, dia menunduk, mengecup dahiku, hidung lalu bibirku.
"Aku belum pernah memrawani seorang gadis Dil." Katanya lembut. "Kata orang, rasanya sakit, tapi aku berusaha selembut mungkin untuk tidak menyakitimu." Aku mengangguk percaya pada nya, setidaknya dia lebih berpengalaman dari pada aku masalah sex. Aku tahu Leon pernah melakukannya dan melakukan sex dengan wanita lain selain aku. Leon mengatakan hal tersebut sendiri padaku, aku tak masalah toh mereka hanya melakukan sex, tak memiliki komitmen apa-apa dan atas dasar suka sama suka. Lagi pula selama ini Leon menghargai ku, tidak pernah memaksaku untuk melakukan sex bersamanya.
Aku menahan tangannya yang ingin membuka bungkusan kecil yang aku tidak tahu kapan ia menyiapkannya. "Nggak usah pakai babe."
"Tapi aku nggak mau ambil resiko."
"Aku aman kok." Kataku. "Ku mohon... Aku ingin merasakan dirimu tanpa penghalang apapun." Leon menurutinya, membuang bungkusan kecil itu.
"Eeehhh..." Aku menggerakkan kecil, ketika merasakan kepala penis Leon memasuki diriku, dahiku mengernyit merasakan benda asing itu. Hatiku semakin berdebar ketika penis Leon bertemu dengan selaput perawan ku.
Leon menarik batangnya sedikit lalu menghentakkan ya langsung. Aku menggigit bibirku, menahan rasa sakit yang berada di selangkanganku. Leon tahu itu, ia mendiamkan dirinya, menunggu diriku nyaman untuk melanjutkan kegiatan nikmat ini.
"Bergeraklah!" Pintaku yang langsung di turuti Leon. Aku menyentuh liontinku, bertanya-tanya apakah Leon bisa melihat Liontin yang tengah aku gunakan? Apakah dia cinta sejati ku? Apakah dia adalah pejantan yang akan mampu menghamiliku?
Leon menciumku kembali, membuat pertanyaan-tanyaan itu kabur entah kemana, tergantikan oleh kenikmatan yang tiada tara.
"Ahhh.... Ohhh... Sssshh...." Leon semakin gencar menghujamkan penisnya di dalamku. "Sshhh.. oh... oh... Leon..." Aku mendapatkan nikmat itu lagi.
Leon membalikkan diriku, membuatku bertumpu pada ke dua tangan ku. "Ahhh...." Aku menjerit nikmat, Leon memasukkan penisnya dengan keras dari posisi ini.
"Ahhh... Ahhh... Ahhh..." Penisnya terasa semakin menusuk dengan posisi ini, ah nikmat sekali. Pantas saja mereka menggilai kegiatan ini.
"Ahhh Leon..." Leon menjambak rambutku, ini terasa semakin nikmat. Aku merasa akan melinbung karena mendapatkan puncak itu lagi.
"Ooohhh... Leon..."
"Heeemmm... Dillahhh... Aku mau sampai..." Ucapnya.
"Ah Leon,... Sssshh... Di dalam... Tembakkan di dalam... Ah...AAAHHHH..." Di saat aku mendapatkan puncak ku, di saat bersamaan Leon menyemburkan benihnya di rahimku. Rasanya hangat dan nyaman.
Aku ambruk, badanku rasanya lemas karena nikmat yang baru saja kami teguk, Leon masih berada di punggungku, miliknya masih di dalamku. Terasa semakin kecil dan terlepas dengan sendirinya.
"Enak?" Tanyanya. Aku mengangguk.
Leon turun dari tubuhku, berbaring di sampingku dan kini aku berbaring dengan berbantalkan lengannya. Tak ada suara dari kami, hanya hembusan nafas yang terdengar. Tubuh kami saling berpelukan, saling menghantarkan rasa nyaman dan terimakasih atas nikmat yang baru saja kami dapatkan masing-masing.
"Ini luar biasa nikmat." Kata nya setelah keheningan yang cukup lama.
"Bukankah memang nikmat?"
"Ini berbeda, kata orang melakukannya dengan perasaan dan tanpa perasaan itu berbeda."
"Benarkah?" Tanyaku penasaran.
"Hem, malam ini sungguh nikmat."
"Memangnya sebelumnya tidak nikmat?"
"Nikmat, hanya saja biasanya hanya sekedar batangku yang bekerja, tapi malam ini perasaan ku berperan." Aku tersenyum mendengarnya.
"Berapa cewek yang udah ML sama kamu?"
"Baru kamu."
"Jangan bohong."
"Iya kalau ML baru sama kamu, kalau ngesex udah beberapa cewek."
"Emang apa bedanya?"
"ML itu pakai perasaan namanya juga Making Love, pakai cinta. Kalau ngesex ya hanya pakai batang babe."
"Dasar cowok!" Aku mencubit pinggangnya.
"Aku serius lho." Kernyitnya menahan sakit. Lalu kembali membenarkan posisi nyaman kami.
"Seperti yang kamu tahu babe, ada beberapa seperti Lani, Siska, Rea dan lupa."
"Kapan yang pertama dan sama siapa?"
"Harus di jawab?" Aku mengangguk.
"Aku tak menyangka, percakapan setelah momentum ML kita yang pertama akan di isi oleh pengalaman sex ku."
"Memang kenapa?"
"Biasanya, kata artikel kalau setelah ML itu yang dibicarakan itu, tentang ML yg baru saja terjadi, enak nggak, besok mau coba style baru nggak? Tapi yang paling kamu sukai apa?"
"Itu nanti aja, sekarang jawab pertanyaanku."
"Waktu itu aku SMP dan yang pertama adalah pacar pertamaku, walau waktu itu bukan pertama kalinya untuk dia."
Malam itu, kami saling bercerita tentang pengalaman masa lalu kami hingga malam semakin bergulir, berganti pagi dan merenggut kenikmatan kembali.
Rumah terasa begitu sunyi, papa telah berangkat ke Jerman dua hari yang lalu. Yang ku lakukan hanya menonton tv dengan lesu. Bahkan mama yang biasanya sangat antusias dengan acara gosippun, kini hanya lunglai di sebalahku. “Mama badmood?” Tanyaku yang mamandang mama yang terlihat begitu suram. “Bagaimana nggak badmood? Papa pulang, waktunya hanya buat kamu. Mama dianggurin.” Kata mama yang menghela nafas. Membuatku sedikit bersalah karena memonopoli waktu papa. “Halo.” Mama mengangkat smartphonenya yang berdering. “Beneran pa?” Tanya mama girang, sepertinya itu adalah telphone dari papa. “Baiklah besok mama berangkat pa.” Kata mama yang langsung menutup telphonenya dengan wajah sumringah.&nbs
Liburan semester telah menanti di depan mata, semua barang di kos telah ku kemasi. Anak baru itu terlihat sangat membutuhkan tempat ini untuk berlindung. Ia benar-benar membutuhkan om Brham. Gadis manis yang sayangnya takdirnya ‘tak semanis wajahnya. Ku harap dia menemukan harapan baru untuk berada di kos itu, dengna bimbingan om Brahm pastinya. So, aku menyerahkan kamarku dengna sukarela setelah merasakan berteduh di tempat yang penuh dengan hal menyenangkan itu. Barangku seharusnya saat ini telah masuk mobil box dan diantar ke appartementku. “Huft” Aku menghela nafas. Karena sekali lagi tidak bisa bertemu dengan dosen yang seharusnya menjadi dosen pembimbingku. Beliau memberitahukan melalui pesan singkat, bahwa judul yang aku ajukan, tinggalkan saja di meja yang berada di ruangannya. Apakah aku akan baik-baik saja dengan dosen yang sesibuk ini? Setelah meletakkan judul skripsi yang kuingink
Hubungan ku dan om Brham semakin hangat, meski kami merahasiakannya dari penghuni kos yang lain. Bukan karena Om Brahm tidak menyukai dengan hubungan yang sedang kami jalanni saat ini, Om Brham hanya tidak tega kalau image ku berubah di depan para penghuni kos yang lain.Aku bahagia, mendapat kehangatan dari om Bhram. Semenjak hubungan kami terjalin walau secara sembunyi-sembunyi, yang lain pun terkena dampak positifnya. Om Brham menjadi semakin rajin memberikan mereka klien, sehingga banyak kesempatan bagi kami untuk berduaan.Contohnya hari ini, om Brham membuat penghuni kos mendapat klien dan menginap ke luar kota untuk beberapa hari. Lalu, om Brham menyiapkan candle light dinner untuk kami berdua di rooftop. Kenapa di rooftop? Apakah om Bhram tidak mampu membawaku ke restoran mewah? Tidak mungkin, om Bhram sangat kaya raya dengan penghasilannya itu, ditambah lagi om Bhram yang semakin rajin mencarikan klien untuk mbak Luna cs, memberi dampak positif pada bisnisnya.
Beberapa detik berikut nya, mataku menyalang. Milik om Brham kembali mengeras dan besar. Segera aku menatap om Brham. Dia terlihat sedikit malu karena kejadian itu. Membuatku sedikit geli, bagaimana mungkin seorang berpengalaman seperti dia menunjukkan wajah malu di depan anak ingusan seperti diriku. Terlebih hanya karena batangnya mengeras kembali dengan cepat. Bukankah ini laur biasa? Bagaimana di usia nya yang saat ini, dia baru saja mengeluarkan hal indah itu dan sekarang benda itu mengeras dengan indahnya. Aku tidak percaya ini."Mau Dilla bantu om?" Tanyaku hati-hati. Nampak muka terkejut di wajahnya, mungkin dia tak menyangka gadis yang ia sangka gadis baik-baik malah menwarkan sebuah bantuan yang nikmat namun ia segera mengangguk, mungkin karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.Aku langsung turun, bersujud di selangkangannya. Menemukan batang yang paling besar yang pernah aku lihat. Panjangnya sekitar dua puluh hingga dua p
Siapa bilang jadi dokter itu enak? Kebanyakan orang-orang memandang bahwa dokter memiliki gaji yang luar biasa tinggi dan dia hidup enak. Yang sesungguhnya terjadi, gaji dokter sama aja dengan gaji pegawai pada umumnya, bahkan ketika Coas pun tidak mendapat gaji dan ketika magangpun, gaji tidak mencapai UMR, yang membuar seorang dokter kayak adalah jam praktek mereka diluar jam kerja mereka di luar rumah sakit negeri. Tapi tak tahukan mereka, untuk bisa mendapatkan hal itu semua? Seberapa berat perjuangan para mahasiswa kedokteran? Kami memang tidak ada UAS, berbeda dengan jurusan yang lain. Tapi ujian kami sekali berdasarkan modul.Jika jurusan lain ujian saat tengah semester dan akhir semester, yang berarti hanya empat kali ujian dalam setahun. Tapi kami bisa tiga puluh lima kali ujian salam setahun. Bayangkan tiga puluh lima kali ujian dalam setahun dan kami membutuhkan kuliah selama empat setengah hingga lima setengah tahun untuk kuliah. Ini adalah waktu nor
"Kurasa kamu mengenal kakek." Katanya yang membuatku kesal. "Nama tengah kakek, tidak pernah di ekspose di media massa. Tapi kamu mengetahuinya.""Baiklah, apa kakak tidak mengenaliku?" Kataku yang memandangnya serius.Kak Roby terlihat masih berpikir dengan keras. "Saat umurmu sepuluh tahun, di danau dekat rumah kakekmu. Gadis cilik berpita kuning." Kataku memberi clue.Seketika kak Roby terbahak-terbahak sambil memelukku gemas. "Jadi, kamu adalah gadis cilik yang hampir tenggelam di danau waktu itu? Yang ku selamatkan lalu, mengatakan ingin menikahiku saat dewasa?" Dia masih tersenyum bahagia memelukku."Kau sudah besar adik kecil." Adik kecil adalah cara dia memanggilku ketika waktu itu.Pantas saja, dari awal bertemu aku sudah nyaman bersamanya. Merasa bahwa aku telah menemukan seorang kakak, ternyata dia memanglah adalah sosok kakak yang telah hadir semenjak lalu.&nb
"Nduk..." Eyang putri membelai rambutku yang panjang. Eyang putri selalu menyukai rambutku yang panjang dan hitam, ketika itu aku berlibur di rumah eyang, rambutku selalu di berikan perawatan ala jawa tradisional, entah menggunakan minyak khusus atau sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. Namun, yang
Aku terbangun, sudah siang ternyata. Ku renggangkan otot tubuhku, aku tersenyum kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu pasti Leon, seperti rencana di awal kami menginap di hotel dari Jumat malam hingga saat ini. Senyumku yang merekah karena mengingat kegiatan kami semalam langsung lun
"Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah
"Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah







