LOGINWaktu itu, aku baru saja menyelesaikan ujian kelulusan. Kelas tiga SMP waktu itu terasa istimewa bagiku, karena waktu itu aku pertama kalinya memiliki seorang kekasih, ah kurasa kata kekasih terlalu romantis untuk romansa ketika aku masih ingusan waktu itu. Katakanlah pacar, ya mari kita sebut pacar.
Namanya Ferry, dan aku sangat bahagia memiliki dia sebagai pacar, karena banyak cewek yang mengantri untuk jadi pacarnya. Cinta? Ku rasa tidak. Kami tidak pernah bertengkar sebelumnya, dan waktu itu adalah pertengkaran kami yang pertama dan terakhir. "Dil, kok loe nggak dateng sich malam Minggu kemarin?" Ferry terlihat kesal di mataku dan itu sungguh menakutkan, pertama kalinya aku melihat lawan jenisku marah. Karena ayah ataupun eyang kakungku tak pernah marah kepadaku. "Fer, kan aku sudah bilang kalau aku nggak mau ngelakuin 'itu' dulu." "Halah, basi loe, pasti loe udah kelain hati kan? Loe udah selingkuh dari gue kan?" Tuduhnya yang sungguh melukai hati kecilku, seperti itukah aku di mata mereka. "Sumpah Fer, gue nggak selingkuh." Walau aku nggak mencintai Ferry, tapi kata selingkuh adalah haram di kamus hidupku. "Lalu apa? Loe udah gak cinta sama gue?" "Fer, bukan begitu. Bukannya aku gak cinta lagi sama kamu." Aku tidak bohong, karena aku memang tidak mencintai dia dari awal hubungan kami. "Tapi, kita baru 15 tahun, baru aja selesai ujian." Menyelesaikan ujian kelulusan adalah alasan Ferry untuk membooking sebuah kamar, katanya untuk perayaan. Dan usia bukan hanya sekedar alasan, tapi prinsipku, karena aku ingin melakukannya ketika aku sudah sedikit dewasa dan melakukannya dengan penuh arti bukan nafsu begitu saja. Lima belas tahun masihlah usia yang terlalu awal. Terlalu beresiko. "Emang kenapa kalau kita baru lima belas tahun? Dinna temen sebangku loe aja udah nggak perawan waktu dia umur tiga belas tahun." "Aku nggak mau Fer, itu terlalu beresiko. Ingatkan waktu kita penyuluhan edukasi sex. Di usia kita, organ perempuan belum benar-benar matang untuk melakukan sex." Aku berkata jujur, sex bukanlah hal taboo untukku, hanya saja aku belum mau melakukannya. Sex itu hubungan yang di lakukan atas dasar suka sama suka dan atas kerelaan dari dua belah pihak. "Halah omong kosong!" "Fer, kurang apa aku sama kamu? Kamu minta sepatu baru aku turutin, kamu mau baju baru aku turutin, nonton aku iyain, hp baru aku beli'in. Lalu, Petting, oral, blow job aku sanggupin dan aku penuhin hampir setiap hari." Walau aku tidak cinta, seperti nya aku cukup bodoh waktu itu. Namanya juga masa jahiliyah, masa suram dan kebodohan belum ada pencerahan yang menghampiri ku. "Ohhh.... Loe ngungkit-ungkit !" Ferry semakin kesal. "Mentang-mentang gue bukan anak orang kaya gitu?" Aku merasa Ferry semakin ngelantur kalimatnya, dari awal hubungan kamipun aku tidak mempersalahkan status sosial kami. Bahkan ketika segala sesuatunya aku ngeluarin uang untuk malam-malam mingguan kami, aku tak masalah. "Fer!" Aku naik pitam kepada Ferry. Jujur saja, tema pertengkaran kami tidaklah sesuai dengan seragam sekolah yang kami kenakan, putih biru, terlebih aku yang hanya bersama dia di lahan kosong di belakang gedung tua terbengkalai yang sepi. "Oh, sekarang loe berani bentak-bentak gue!." Dia mendorong ku dan berhasil membuatku terhenyak beberapa langkah ke belakang. "Fix, otak loe lagi gak beres. Kita gak bisa ngomong sekarang." Aku berbalik hendak meninggalkannya, karena aku yakin dengan emosinya yang sekarang, obrolan kamu tak akan berujung. Terlebih, aku sudah lelah untuk hari ini, bahkan 'aku-kamu' yang ku gunakan untuk menghargai hubungan kami telah berganti. "Mau kemana loe?" Ferry menghadang langkahku. "Pulang!" Jawabku tegas dan singkat, karena jujur saja aku sudah malas berbicara kepada seseorang yang tengah dilanda amarah seperti ini. percuma. "Fix loe selingkuhkan! Dan loe mau putus dari gue." "Gue nggak selingkuh Fer!" Geramku. "Halah ngaku aja loe!" "Ya gue selingkuh! Puas loe?" Kataku kesal. "Jadi kita putus!" "Dasar perek loe!" Ferry menghentak tanganku, rasanya sakit sekali. "Mau loe apa sih? Loe mau gue ngaku sesuatu yang gak gue lakuin, gue turutin dan loe malah nyebut gue perek." Bagaimana bisa dia nyebut aku perek disaat dia dan seluruh sekolah tahu bahwa dia adalah cowok pertamaku. "Sepong gue sekarang!" "Nggak Sudi! Gue bukan pacar loe lagi!" "Berani ya loe nolak gue! Loe belum bisa putus dari gue." Ferry mencengkram pipiku. "Bangsat!" Aku berusaha untuk memberontak ketika ia memaksa ku untuk tunduk lalu aku mendorongnya ketika ia lengah. Ferry berhasil menangkap ku yang berusaha untuk kabur lalu membanting ku ke tanah. "Kayaknya loe emang suka di paksa." Ferry melepaskan ikat pinggang yang bergambar logo sebuah sekolah SMP. "Lepasin gue bangsat!" Berontak ku ketika ia menyodorkan penisnya. 'Plak!' Seketika mataku berkunang, kepalaku pusing dan tenagaku setengah menghilang setelah sebuah tamparan nan keras mendarat di pipiku. Tamparan pertama dalam hidupku. Berani sekali dia menamparku. Papaku saja tidak pernah menamparku. Si brengsek itu masih berusaha untuk melepaskan celana dalamku, meski kesadaran ku tak penuh. "Heh perek gak usah malu-malu." Malu-malu katanya? Aku tidak malu-malu, tapi aku memang tidak sudi kalau Ferry yang mengambil keperawanan ku. "Hentikan Fer!" Ucapku panik ketika ia berhasil menyingkap rokku. "Nggak! Akhirnya cewek tercantik dan terseksi di sekolah bakalan gue prawanin." Ucapnya bangga. "Ampun Fer... Lepasin gue!" Aku semakin meronta panik. "TOLONG!" Ferry bersiap untuk menarik celana dalamku lalu 'bruk!'. Ferry tersungkur ke tanah, bajunya kotor oleh tanah merah. Seorang cowok oh bukan, seorang pria berdiri menjulang dengan gagahnya. "Heh anak kecil! Berani sekali loe macam-macam di daerah gue!" Pria itu menatap tajam pada Ferry. "Amm... Ampun bang." Wajah Ferry memucat, terlebih ketika pria itu kini mencengkeram kerah nya. Sedang diriku, sibuk membenahi penampilan ku yang tak layak di lihat. "Jangan pukul saya bang!" Ferry begitu memelas ketika ia hendak dipukul oleh pria itu. Pria itu terkekeh geli. "Apa untungnya buat gue kalau gue lepasin loe?" "Cewek itu paling cantik di sekolah dan masih perawan bang!" Tunjuk Ferry padaku. Pria itu memandangku menatapku lekat membuatku semakin mengeratkan seragamku yang kancingnya telah koyak karena perbuatan Ferry. "Gimana bang?" Tanya Ferry yang menyangka kalau pria itu tertarik untuk bertindak yang tidak pantas pada gadis SMP sepertiku. Pria itu menyeringai lalu menatap lagi Ferry. "Sorry, maksa cewek bukan gaya gue." Katanya. "Dan ini hukuman buat loe." 'bugh!' Pria itu menunjukan kepalan tangannya, tapi bukan pada Ferry melainkan tanah yang berada di samping kepala Ferry, tepat di samping telinganya, meninggalkan jejak yang dalam di tanah itu dan di ingatan Ferry. Ferry bergetar hebat ketakutan. "Pergi loe dari sini! Sekali lagi loe berbuat ulah disekitar sini dan ganggu itu cewek. Habis loe ditangan gue." Katanya melepaskan Ferry yang kemudian lari terbirit-birit. Pria itu menghampiriku dan berjongkok di depanku yang masih menenangkan diri. Tubuhku menggigil karena perlakuan kasar yang baru saja aku terima, tanganku masih mencengkeram kuat seragamku yang telah tak layak, kancing lepas, lusuh dan kotor karena tanah. Dia berdiri, menghempas tasnya lalu melepas kaosnya, Oh Tuhan, jangan sampai aku keluar kandang singa lalu masuk mulut buaya. Tak kusangka, dia mengulurkan kaos cokelat polos itu padaku, keadaanya sudah cukup lusuh mungkin karena sering ia pakai. Tubuh maskulin atletisnya menyapa mataku. "Pakailah!" Aku memandangnya heran. "Aku tidak punya jaket untuk menutupi bajunya yang sudah tidak layak itu." Katanya. " ang ku punya hanya ini, kaos lusuh tapi ini adalah kesayanganku dan satu-satunya di dunia." Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Memakai untuk menutup seragamku. Tangannya terulur, menawarkan bantuan untukku bangkit. Aku menerimanya, tangannya cukup besar dan hangat, jantungku berdebar dengan kencang mungkin karena kejadian hari ini. Kenapa lelaki asing ini, terasa begitu hangat bagiku. Gelenyar aneh menyelubunginya diriku. "Tak apa." Katanya mengusap pipiku yang bengkak. "Hanya perlu di kompres air es." Suaranya seperti menghantarkan rasa hangat yang membuat kakiku lemas. Dia mengusap rambutku, "Gadis hebat seperti mu memang tak pantas untuk cowok yang tidak menghargai prinsip kekasihnya." Aku memandangnya dalam hening, seolah-olah diriku lumpuh akan pesona lelaki dewasa ini. Yah dewasa, tinggi yang menjulang, jambang tipis-tipis menyelubungi rahangnya, mungkin ia berumur 21 atau 23 tahun. "Aku akan memesankan taksi untukmu." Katanya sambil lalu membelakangi ku, berbicara lewat hp yang ia kantongi. Mataku semakin terpaku pada sepasang sayap berwarna hitam di punggungnya, bukan sayap sesungguhnya, melainkan sebuah tatto. Punggung maskulin ala 'Thor' yang berhiaskan sebuah tatto sepasang sayap berwarna hitam, bukankah itu sebuah estetika yang indah? Atau sejak kapan iblis bersayap bisa seindah itu? "Taksinya sedang otw ke sini, sebentar lagi sampai depan." Katanya yang memandangku dari kejauhan. Dia meraih tanganku, menuntunku menuju depan gedung, membuatku kembali merasakan hangat nyaman dan juga gelenyar aneh yang ku tahu setelah dewasa, gelenyar aneh itu adalah sebuah gairah. Meski dia menggenggam tangan ku, aku melangkah sedikit ke di belakangnya, memandangnya yang tegap dengan sayap yang... Haruskah ku katakan indah? Haruskah ku bertanya berapa nomor hpnya? Haruskan ku tanya dimana ia tinggal? Atau paling tidak namanya? Benar saja, sebuah taksi dengan merek burung biru telah terparkir di sana. "Lho siapa ini mas Bara?" Tanya sopir itu heran. 'Oh namanya Bara?' batinku. "Biasa anak SMP ada yang usil pak!" Jawabnya tenang. Ia mengeluarkan selembar merah dan selembar biru. "Tolong anter rumahnya sampai selamat ya. Kalau kurang, bapak tahu saya dimana, kalau lebih, buat bapak." "Siap mas!" Ucap sopir itu senang. Nampaknya mereka berdua akrab. Pria yang kini ku ketahui namanya Bara itu membuka pintu taksi di kursi penumpang, membantuku masuk dengan perlahan. "Te... Terimakasih." Kataku dengan terpatah karena bibirku masih terasa kelu. "Sama-sama." Ucapnya ketika aku telah duduk di dalam taksi dan ia menutup pintunya. Taksi perlahan pergi meninggalkan gedung tua kosong itu dan juga dia yang berjalan bertolak dengan taksi. Sayap hitamnya semakin kecil tak terlihat, sepasang sayap hitamnya, seolah mengatakan 'kita adalah takdir' padaku. "Dek?" "I..i..iya pak?" Aku tersentak kaget. "Alamat rumahnya dek?" "Oh..." Segera aku menyebutkan alamatku di kawasan perumahan elit.Rumah terasa begitu sunyi, papa telah berangkat ke Jerman dua hari yang lalu. Yang ku lakukan hanya menonton tv dengan lesu. Bahkan mama yang biasanya sangat antusias dengan acara gosippun, kini hanya lunglai di sebalahku. “Mama badmood?” Tanyaku yang mamandang mama yang terlihat begitu suram. “Bagaimana nggak badmood? Papa pulang, waktunya hanya buat kamu. Mama dianggurin.” Kata mama yang menghela nafas. Membuatku sedikit bersalah karena memonopoli waktu papa. “Halo.” Mama mengangkat smartphonenya yang berdering. “Beneran pa?” Tanya mama girang, sepertinya itu adalah telphone dari papa. “Baiklah besok mama berangkat pa.” Kata mama yang langsung menutup telphonenya dengan wajah sumringah.&nbs
Liburan semester telah menanti di depan mata, semua barang di kos telah ku kemasi. Anak baru itu terlihat sangat membutuhkan tempat ini untuk berlindung. Ia benar-benar membutuhkan om Brham. Gadis manis yang sayangnya takdirnya ‘tak semanis wajahnya. Ku harap dia menemukan harapan baru untuk berada di kos itu, dengna bimbingan om Brahm pastinya. So, aku menyerahkan kamarku dengna sukarela setelah merasakan berteduh di tempat yang penuh dengan hal menyenangkan itu. Barangku seharusnya saat ini telah masuk mobil box dan diantar ke appartementku. “Huft” Aku menghela nafas. Karena sekali lagi tidak bisa bertemu dengan dosen yang seharusnya menjadi dosen pembimbingku. Beliau memberitahukan melalui pesan singkat, bahwa judul yang aku ajukan, tinggalkan saja di meja yang berada di ruangannya. Apakah aku akan baik-baik saja dengan dosen yang sesibuk ini? Setelah meletakkan judul skripsi yang kuingink
Hubungan ku dan om Brham semakin hangat, meski kami merahasiakannya dari penghuni kos yang lain. Bukan karena Om Brahm tidak menyukai dengan hubungan yang sedang kami jalanni saat ini, Om Brham hanya tidak tega kalau image ku berubah di depan para penghuni kos yang lain.Aku bahagia, mendapat kehangatan dari om Bhram. Semenjak hubungan kami terjalin walau secara sembunyi-sembunyi, yang lain pun terkena dampak positifnya. Om Brham menjadi semakin rajin memberikan mereka klien, sehingga banyak kesempatan bagi kami untuk berduaan.Contohnya hari ini, om Brham membuat penghuni kos mendapat klien dan menginap ke luar kota untuk beberapa hari. Lalu, om Brham menyiapkan candle light dinner untuk kami berdua di rooftop. Kenapa di rooftop? Apakah om Bhram tidak mampu membawaku ke restoran mewah? Tidak mungkin, om Bhram sangat kaya raya dengan penghasilannya itu, ditambah lagi om Bhram yang semakin rajin mencarikan klien untuk mbak Luna cs, memberi dampak positif pada bisnisnya.
Beberapa detik berikut nya, mataku menyalang. Milik om Brham kembali mengeras dan besar. Segera aku menatap om Brham. Dia terlihat sedikit malu karena kejadian itu. Membuatku sedikit geli, bagaimana mungkin seorang berpengalaman seperti dia menunjukkan wajah malu di depan anak ingusan seperti diriku. Terlebih hanya karena batangnya mengeras kembali dengan cepat. Bukankah ini laur biasa? Bagaimana di usia nya yang saat ini, dia baru saja mengeluarkan hal indah itu dan sekarang benda itu mengeras dengan indahnya. Aku tidak percaya ini."Mau Dilla bantu om?" Tanyaku hati-hati. Nampak muka terkejut di wajahnya, mungkin dia tak menyangka gadis yang ia sangka gadis baik-baik malah menwarkan sebuah bantuan yang nikmat namun ia segera mengangguk, mungkin karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.Aku langsung turun, bersujud di selangkangannya. Menemukan batang yang paling besar yang pernah aku lihat. Panjangnya sekitar dua puluh hingga dua p
Siapa bilang jadi dokter itu enak? Kebanyakan orang-orang memandang bahwa dokter memiliki gaji yang luar biasa tinggi dan dia hidup enak. Yang sesungguhnya terjadi, gaji dokter sama aja dengan gaji pegawai pada umumnya, bahkan ketika Coas pun tidak mendapat gaji dan ketika magangpun, gaji tidak mencapai UMR, yang membuar seorang dokter kayak adalah jam praktek mereka diluar jam kerja mereka di luar rumah sakit negeri. Tapi tak tahukan mereka, untuk bisa mendapatkan hal itu semua? Seberapa berat perjuangan para mahasiswa kedokteran? Kami memang tidak ada UAS, berbeda dengan jurusan yang lain. Tapi ujian kami sekali berdasarkan modul.Jika jurusan lain ujian saat tengah semester dan akhir semester, yang berarti hanya empat kali ujian dalam setahun. Tapi kami bisa tiga puluh lima kali ujian salam setahun. Bayangkan tiga puluh lima kali ujian dalam setahun dan kami membutuhkan kuliah selama empat setengah hingga lima setengah tahun untuk kuliah. Ini adalah waktu nor
"Kurasa kamu mengenal kakek." Katanya yang membuatku kesal. "Nama tengah kakek, tidak pernah di ekspose di media massa. Tapi kamu mengetahuinya.""Baiklah, apa kakak tidak mengenaliku?" Kataku yang memandangnya serius.Kak Roby terlihat masih berpikir dengan keras. "Saat umurmu sepuluh tahun, di danau dekat rumah kakekmu. Gadis cilik berpita kuning." Kataku memberi clue.Seketika kak Roby terbahak-terbahak sambil memelukku gemas. "Jadi, kamu adalah gadis cilik yang hampir tenggelam di danau waktu itu? Yang ku selamatkan lalu, mengatakan ingin menikahiku saat dewasa?" Dia masih tersenyum bahagia memelukku."Kau sudah besar adik kecil." Adik kecil adalah cara dia memanggilku ketika waktu itu.Pantas saja, dari awal bertemu aku sudah nyaman bersamanya. Merasa bahwa aku telah menemukan seorang kakak, ternyata dia memanglah adalah sosok kakak yang telah hadir semenjak lalu.&nb
Aku terbangun, sudah siang ternyata. Ku renggangkan otot tubuhku, aku tersenyum kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu pasti Leon, seperti rencana di awal kami menginap di hotel dari Jumat malam hingga saat ini. Senyumku yang merekah karena mengingat kegiatan kami semalam langsung lun
"Selamat memasuki dunia dewasa sayang..."Ucapan mama terngiang di telingaku, pemandangan di luar sana terasa begitu... Entahlah, sebenarnya pemandangannya biasa. Hanya saja mungkin suasana hatiku yang berbeda. Berdebar-debar menikmati waktu berjalan menuju malam, sedang ini masih sore. Malam ini ak
"Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah
"Nduk..." Eyang putri membelai rambutku yang panjang. Eyang putri selalu menyukai rambutku yang panjang dan hitam, ketika itu aku berlibur di rumah eyang, rambutku selalu di berikan perawatan ala jawa tradisional, entah menggunakan minyak khusus atau sesuatu yang aku tidak tahu itu apa. Namun, yang







