共有

LMD Bab 02

作者: NesalHappy
last update 公開日: 2025-01-05 07:06:59

Waktu itu, aku baru saja menyelesaikan ujian kelulusan. Kelas tiga SMP waktu itu terasa istimewa bagiku, karena waktu itu aku pertama kalinya memiliki seorang kekasih, ah kurasa kata kekasih terlalu romantis untuk romansa ketika aku masih ingusan waktu itu. Katakanlah pacar, ya mari kita sebut pacar.

Namanya Ferry, dan aku sangat bahagia memiliki dia sebagai pacar, karena banyak cewek yang mengantri untuk jadi pacarnya. Cinta? Ku rasa tidak.

Kami tidak pernah bertengkar sebelumnya, dan waktu itu adalah pertengkaran kami yang pertama dan terakhir.

"Dil, kok loe nggak dateng sich malam Minggu kemarin?" Ferry terlihat kesal di mataku dan itu sungguh menakutkan, pertama kalinya aku melihat lawan jenisku marah. Karena ayah ataupun eyang kakungku tak pernah marah kepadaku.

"Fer, kan aku sudah bilang kalau aku nggak mau ngelakuin 'itu' dulu."

"Halah, basi loe, pasti loe udah kelain hati kan? Loe udah selingkuh dari gue kan?" Tuduhnya yang sungguh melukai hati kecilku, seperti itukah aku di mata mereka.

"Sumpah Fer, gue nggak selingkuh." Walau aku nggak mencintai Ferry, tapi kata selingkuh adalah haram di kamus hidupku.

"Lalu apa? Loe udah gak cinta sama gue?"

"Fer, bukan begitu. Bukannya aku gak cinta lagi sama kamu." Aku tidak bohong, karena aku memang tidak mencintai dia dari awal hubungan kami. "Tapi, kita baru 15 tahun, baru aja selesai ujian." Menyelesaikan ujian kelulusan adalah alasan Ferry untuk membooking sebuah kamar, katanya untuk perayaan. Dan usia bukan hanya sekedar alasan, tapi prinsipku, karena aku ingin melakukannya ketika aku sudah sedikit dewasa dan melakukannya dengan penuh arti bukan nafsu begitu saja. Lima belas tahun masihlah usia yang terlalu awal. Terlalu beresiko.

"Emang kenapa kalau kita baru lima belas tahun? Dinna temen sebangku loe aja udah nggak perawan waktu dia umur tiga belas tahun."

"Aku nggak mau Fer, itu terlalu beresiko. Ingatkan waktu kita penyuluhan edukasi sex. Di usia kita, organ perempuan belum benar-benar matang untuk melakukan sex." Aku berkata jujur, sex bukanlah hal taboo untukku, hanya saja aku belum mau melakukannya. Sex itu hubungan yang di lakukan atas dasar suka sama suka dan atas kerelaan dari dua belah pihak.

"Halah omong kosong!"

"Fer, kurang apa aku sama kamu? Kamu minta sepatu baru aku turutin, kamu mau baju baru aku turutin, nonton aku iyain, hp baru aku beli'in. Lalu, Petting, oral, blow job aku sanggupin dan aku penuhin hampir setiap hari." Walau aku tidak cinta, seperti nya aku cukup bodoh waktu itu. Namanya juga masa jahiliyah, masa suram dan kebodohan belum ada pencerahan yang menghampiri ku.

"Ohhh.... Loe ngungkit-ungkit !" Ferry semakin kesal. "Mentang-mentang gue bukan anak orang kaya gitu?" Aku merasa Ferry semakin ngelantur kalimatnya, dari awal hubungan kamipun aku tidak mempersalahkan status sosial kami. Bahkan ketika segala sesuatunya aku ngeluarin uang untuk malam-malam mingguan kami, aku tak masalah.

"Fer!" Aku naik pitam kepada Ferry. Jujur saja, tema pertengkaran kami tidaklah sesuai dengan seragam sekolah yang kami kenakan, putih biru, terlebih aku yang hanya bersama dia di lahan kosong di belakang gedung tua terbengkalai yang sepi.

"Oh, sekarang loe berani bentak-bentak gue!." Dia mendorong ku dan berhasil membuatku terhenyak beberapa langkah ke belakang.

"Fix, otak loe lagi gak beres. Kita gak bisa ngomong sekarang." Aku berbalik hendak meninggalkannya, karena aku yakin dengan emosinya yang sekarang, obrolan kamu tak akan berujung. Terlebih, aku sudah lelah untuk hari ini, bahkan 'aku-kamu' yang ku gunakan untuk menghargai hubungan kami telah berganti.

"Mau kemana loe?" Ferry menghadang langkahku.

"Pulang!" Jawabku tegas dan singkat, karena jujur saja aku sudah malas berbicara kepada seseorang yang tengah dilanda amarah seperti ini. percuma.

"Fix loe selingkuhkan! Dan loe mau putus dari gue."

"Gue nggak selingkuh Fer!" Geramku.

"Halah ngaku aja loe!"

"Ya gue selingkuh! Puas loe?" Kataku kesal. "Jadi kita putus!"

"Dasar perek loe!" Ferry menghentak tanganku, rasanya sakit sekali.

"Mau loe apa sih? Loe mau gue ngaku sesuatu yang gak gue lakuin, gue turutin dan loe malah nyebut gue perek." Bagaimana bisa dia nyebut aku perek disaat dia dan seluruh sekolah tahu bahwa dia adalah cowok pertamaku.

"Sepong gue sekarang!"

"Nggak Sudi! Gue bukan pacar loe lagi!"

"Berani ya loe nolak gue! Loe belum bisa putus dari gue." Ferry mencengkram pipiku.

"Bangsat!" Aku berusaha untuk memberontak ketika ia memaksa ku untuk tunduk lalu aku mendorongnya ketika ia lengah.

Ferry berhasil menangkap ku yang berusaha untuk kabur lalu membanting ku ke tanah.

"Kayaknya loe emang suka di paksa." Ferry melepaskan ikat pinggang yang bergambar logo sebuah sekolah SMP.

"Lepasin gue bangsat!" Berontak ku ketika ia menyodorkan penisnya.

'Plak!' Seketika mataku berkunang, kepalaku pusing dan tenagaku setengah menghilang setelah sebuah tamparan nan keras mendarat di pipiku. Tamparan pertama dalam hidupku. Berani sekali dia menamparku. Papaku saja tidak pernah menamparku.

Si brengsek itu masih berusaha untuk melepaskan celana dalamku, meski kesadaran ku tak penuh.

"Heh perek gak usah malu-malu."

Malu-malu katanya? Aku tidak malu-malu, tapi aku memang tidak sudi kalau Ferry yang mengambil keperawanan ku.

"Hentikan Fer!" Ucapku panik ketika ia berhasil menyingkap rokku.

"Nggak! Akhirnya cewek tercantik dan terseksi di sekolah bakalan gue prawanin." Ucapnya bangga.

"Ampun Fer... Lepasin gue!" Aku semakin meronta panik. "TOLONG!"

Ferry bersiap untuk menarik celana dalamku lalu 'bruk!'. Ferry tersungkur ke tanah, bajunya kotor oleh tanah merah. Seorang cowok oh bukan, seorang pria berdiri menjulang dengan gagahnya.

"Heh anak kecil! Berani sekali loe macam-macam di daerah gue!" Pria itu menatap tajam pada Ferry.

"Amm... Ampun bang." Wajah Ferry memucat, terlebih ketika pria itu kini mencengkeram kerah nya.

Sedang diriku, sibuk membenahi penampilan ku yang tak layak di lihat.

"Jangan pukul saya bang!" Ferry begitu memelas ketika ia hendak dipukul oleh pria itu.

Pria itu terkekeh geli. "Apa untungnya buat gue kalau gue lepasin loe?"

"Cewek itu paling cantik di sekolah dan masih perawan bang!" Tunjuk Ferry padaku. Pria itu memandangku menatapku lekat membuatku semakin mengeratkan seragamku yang kancingnya telah koyak karena perbuatan Ferry.

"Gimana bang?" Tanya Ferry yang menyangka kalau pria itu tertarik untuk bertindak yang tidak pantas pada gadis SMP sepertiku.

Pria itu menyeringai lalu menatap lagi Ferry. "Sorry, maksa cewek bukan gaya gue." Katanya. "Dan ini hukuman buat loe."

'bugh!' Pria itu menunjukan kepalan tangannya, tapi bukan pada Ferry melainkan tanah yang berada di samping kepala Ferry, tepat di samping telinganya, meninggalkan jejak yang dalam di tanah itu dan di ingatan Ferry.

Ferry bergetar hebat ketakutan.

"Pergi loe dari sini! Sekali lagi loe berbuat ulah disekitar sini dan ganggu itu cewek. Habis loe ditangan gue." Katanya melepaskan Ferry yang kemudian lari terbirit-birit.

Pria itu menghampiriku dan berjongkok di depanku yang masih menenangkan diri. Tubuhku menggigil karena perlakuan kasar yang baru saja aku terima, tanganku masih mencengkeram kuat seragamku yang telah tak layak, kancing lepas, lusuh dan kotor karena tanah.

Dia berdiri, menghempas tasnya lalu melepas kaosnya, Oh Tuhan, jangan sampai aku keluar kandang singa lalu masuk mulut buaya.

Tak kusangka, dia mengulurkan kaos cokelat polos itu padaku, keadaanya sudah cukup lusuh mungkin karena sering ia pakai. Tubuh maskulin atletisnya menyapa mataku.

"Pakailah!"

Aku memandangnya heran.

"Aku tidak punya jaket untuk menutupi bajunya yang sudah tidak layak itu." Katanya. " ang ku punya hanya ini, kaos lusuh tapi ini adalah kesayanganku dan satu-satunya di dunia." Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Memakai untuk menutup seragamku.

Tangannya terulur, menawarkan bantuan untukku bangkit. Aku menerimanya, tangannya cukup besar dan hangat, jantungku berdebar dengan kencang mungkin karena kejadian hari ini.

Kenapa lelaki asing ini, terasa begitu hangat bagiku. Gelenyar aneh menyelubunginya diriku.

"Tak apa." Katanya mengusap pipiku yang bengkak. "Hanya perlu di kompres air es." Suaranya seperti menghantarkan rasa hangat yang membuat kakiku lemas.

Dia mengusap rambutku, "Gadis hebat seperti mu memang tak pantas untuk cowok yang tidak menghargai prinsip kekasihnya."

Aku memandangnya dalam hening, seolah-olah diriku lumpuh akan pesona lelaki dewasa ini. Yah dewasa, tinggi yang menjulang, jambang tipis-tipis menyelubungi rahangnya, mungkin ia berumur 21 atau 23 tahun.

"Aku akan memesankan taksi untukmu." Katanya sambil lalu membelakangi ku, berbicara lewat hp yang ia kantongi.

Mataku semakin terpaku pada sepasang sayap berwarna hitam di punggungnya, bukan sayap sesungguhnya, melainkan sebuah tatto. Punggung maskulin ala 'Thor' yang berhiaskan sebuah tatto sepasang sayap berwarna hitam, bukankah itu sebuah estetika yang indah? Atau sejak kapan iblis bersayap bisa seindah itu?

"Taksinya sedang otw ke sini, sebentar lagi sampai depan." Katanya yang memandangku dari kejauhan. Dia meraih tanganku, menuntunku menuju depan gedung, membuatku kembali merasakan hangat nyaman dan juga gelenyar aneh yang ku tahu setelah dewasa, gelenyar aneh itu adalah sebuah gairah.

Meski dia menggenggam tangan ku, aku melangkah sedikit ke di belakangnya, memandangnya yang tegap dengan sayap yang... Haruskah ku katakan indah?

Haruskah ku bertanya berapa nomor hpnya?

Haruskan ku tanya dimana ia tinggal?

Atau paling tidak namanya?

Benar saja, sebuah taksi dengan merek burung biru telah terparkir di sana.

"Lho siapa ini mas Bara?" Tanya sopir itu heran.

'Oh namanya Bara?' batinku.

"Biasa anak SMP ada yang usil pak!" Jawabnya tenang. Ia mengeluarkan selembar merah dan selembar biru. "Tolong anter rumahnya sampai selamat ya. Kalau kurang, bapak tahu saya dimana, kalau lebih, buat bapak."

"Siap mas!" Ucap sopir itu senang. Nampaknya mereka berdua akrab.

Pria yang kini ku ketahui namanya Bara itu membuka pintu taksi di kursi penumpang, membantuku masuk dengan perlahan.

"Te... Terimakasih." Kataku dengan terpatah karena bibirku masih terasa kelu.

"Sama-sama." Ucapnya ketika aku telah duduk di dalam taksi dan ia menutup pintunya.

Taksi perlahan pergi meninggalkan gedung tua kosong itu dan juga dia yang berjalan bertolak dengan taksi. Sayap hitamnya semakin kecil tak terlihat, sepasang sayap hitamnya, seolah mengatakan 'kita adalah takdir' padaku.

"Dek?"

"I..i..iya pak?" Aku tersentak kaget.

"Alamat rumahnya dek?"

"Oh..." Segera aku menyebutkan alamatku di kawasan perumahan elit.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 19

    Sejujurnya aku sedang menghindari Reno, sejujurnya aku tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Reno. Antara kecewa karena ia begitu saja menyerahkanku pada cowok lain, ah bahkan melemparkanku pada banyak cowok tapi, di sisi lain ini adalah hal yang telah aku putuskan sendiri. Ini adalah keputusanku. Memiliki pengalaman dengan banyak cowok sekaligus.Tapi, setidaknya ia bisakan bertanya padaku sebagai basa-basi terlebih dulu? Tapi walaupun ia berbicara padaku pun, mana mungkin aku mengiyakan secara gamblang, sebagai cewek gengsi ku terlalu tinggi untuk itu. Lalu, yang paling membuatku ilfeel dengannya adalah, permainannya dalam proses kami bersenggama. Dia benar-benar buruk. Terlebih, bagaimana bisa ia menyudahi permainan tanpa memperdulikan kepuasanku?Ah lupakan, toh sebentar lagi aku akan memutuskannya. Tapi, seingatku hubungan kami tidak bisa di sebut hubungan pacaran. Kami tidak memiliki status itu.Hingga mat

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 18

    "Kalau kakak nanti malam tidak ikut, bolehkah..." Aku langsung duduk di pangkuan nya. Mengalungkan tanganku pada lehernya yang kokoh, menciumnya dengan ganas. Dan syukurnya adalah kak Roby menyambut semua perbuatan ku itu dengan antusias.Kami berciuman dengan sangat buas, lidah saking melilit. Kaos yang tadinya bisa menutupi setengah pahaku kini tersingkap. Membuat bibir vaginaku terbelai oleh angin padang berbunga. "Eghhmmm..." Desahan tertahan kami menggema diantara ladang bunga lavender ini.Kami terus melumat dan meraba, berhenti hanya untuk mengisi ulang oksigen di paru-paru kami lalu melumat dan menghisap kembali. Dengan tubuh tegapnya kak Roby menggendongku, tanganku semakin erat berkalung padanya. Aku di sandarkan nya pada sebuah pohon dekat bangku, kakiku pun masih terkait pada pinggangnya.Karena beban tubuhku yang digendongnya kini terbagi pada pohon, tangan kirinya yang bebas mulai menyapa gund

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 17

    Mataku terbuka, perlahan retina ku menangkap cahaya. Rasa lelah dan puas ku rasakan disaat bersamaan. Masih malas untuk bergerak, terlebih hanya menemukan satu kaos besar yang menutupi hingga pahaku. Hanya itu, hanya itu yang melekat ditubuh ku. Udara dingin berhembus, menyapa vagina ku yang tak tertutup apa-apa."Sudah bangun?" Kak Roby masuk ke dalam tenda."Untung saja tubuhmu mungil." Katanya melihatku, mungkin lebih tepatnya melihat kaos besar yang sedang melekat pada diriku. Mungkin miliknya. Tapi, bagaimana bisa ia menyebutku mungil dengan dada ukuran 36B dan pantat ku yang membulat?"Terimakasih." Kataku, -terimakasih atas nikmat yang telah ia berikan dan terimakasih atas kaosnya-. Aku berusaha untuk bangun."Mmm..." Gumannya sambil membantuku untuk duduk. Ah, bukan guman, tapi itu jawaban atas kata terimakasihku."Mau mandi?" Tawarnya singkat. Aku mengangguk, bagaimanapu

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 16

    "Diamlah!" Aku mencengkram kerahnya. Kepalaku yang pusing karena klimaksku yang tertunda semakin pusing karena ocehannya itu. "Kak... Ahh... Kak Roby.. Hmm.. Benar hh... Benar... Mauhhh membantu hh... Dilla?" Tanyaku dan dia mengangguk, masih dengan menatap lurus mataku. Membuatku bingung apakah cowok ini baik ataukah sama saja dengan yang lain? Aku akan mengetahuinya setelah ini."Lepasss... Hh.. Pakaianmuhh... " Rasa ingin segera tertuntaskan itu membuatku sulit berkata."Tapi..." Aku segera menubruk tubuhnya hingga terjengkang kebelakang. Aku benar-benar menginginkan kak Roby sekarang. Aku menindihnya dengan tubuh telanjangku dan menciumnya secara brutal. Bibirnya kenyal dan caranya memagut bibitku terasa menyenangkan, lembut namun penuh hasrat kelelakian. Tubuh tegapnya yang aku grayangi semakin membuatku bergairah.Pagutan kami terpisah karena aku meloloskan kaos yang ia kenakan. Sama seperti Reno, tubuh kak Roby be

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 15

    Suara jangkrik mengisi kesunyian malam ini, selepas maghrib kami membuat api unggun, tidak besar hanya sebagai penghangat kami di luar. Oh sebenarnya yang ku sebut kami itu, aku tak termasuk ke dalamnya, karena aku hanya ongkang-ongkang kaki. Seperti ratu lebah yang dilayani oleh para pekerjanya. Layaknya ratu lebah, selayaknya Reno selalu memanggilku. Sedikit banyak kami saling mengobrol, kecuali kak Roby yang sedari diam. Hingga jam tujuh, aku memutuskan untuk masuk ke dalam tenda."Kamu nggak sakit kan queen bee?" Tanya Reno yang menyusulku masuk ke dalam tenda."Aku sehat kok." Jawabku."Eh ini, minum biar anget." Katanya memberiku segelas air yang berwarna putih keruh. Seperti legen."Apa ini Ren?" Tanyaku yang menerima gelas itu."Legen, kak Yona yang bawa. Katanya buat anget-anget, dari pada minuman keras mending legen. Lebih enak, apalagi legen tuban." Jelas Reno&

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 14

    "Bee...!!!" Reno berseru dan menghampiriku, lihatlah wajah gantengnya dan senyuman ramahnya, siapa yang menyangka bahwa dia memiliki niat terselubung padaku. Sedang Zee dan Fina mendengus di sampingku. Saat ini kami sedang berkumpul di halaman yang cukup luas di sebuah bumi perkemahan, bis antar fakultas berangkat secara terpisah, fakultas teknik sepertinya berangkat setengah jam lebih lambat dari fakultasku."Semoga kita nanti satu kelompok ya bee." Ucapnya yang menunjukkan senyum ramahnya. Kalau orang lain yang melihat, aku yakin mereka pasti mengira bahwa perasaannya tulus padaku, sayangnya itu semua hanyalah topeng kamuflase. Tentu saja aku hanya memberikan senyumku, senyum terbaikku. Memang hanya dia yang bisa berkamuflase.'NGIIINNGGG..' Suarana dengungan sirene dari pengeras suara terdengar di telinga kami, membuat kamii mahasiswa baru yang berjumlah sekitat 100 mahasiswa langsung berkumpul pada sumber suara. Kak Mayo, ket

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status