LOGIN“Ayo sini…” panggil Mirah pada Satrio yang masih berdiri dengan bagian bawahnya sudah menegang sempurna. Satrio sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, ia berjalan perlahan mendekati Mirah sambil mengarahkan bagian bawah tubuhnya pada pangkal paha wanita yang terbaring dengan pasrah itu. “Bersiaplah…” batinnya saat akan menusuk tubuh Mirah.Tok…tok… tok…! tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Mirah dan Satrio refleks menghentikan aksinya yang baru saja akan dimulai, keduanya bergegas mengenakan pakaian yang tergeletak di lantai. “Kamu tunggu di sini saja,” ucap Mirah pada Satrio saat ia akan menemui orang yang datang. “Ada apa ya?” tanya Mirah pada kedua lelaki berpakaian seragam yang datang.“Mana lelaki yang tadi bikin kekacauan itu?” tanya salah satu lelaki bertubuh tinggi dan kekar itu. “Dia sudah pergi, memangnya kenapa?” “Jangan lindungi dia. Perlu kamu tahu ya, baru saja dia mengganggu salah satu pengunjung PIV,” jelas si petugas.Mendengar masalah yang sedang terjadi pa
Di dalam bar yang sepi pengunjung, Aizar menunggu Satrio yang pastinya sedang bersenang-senang di dalam Red Night Club, ia kembali meneguk minuman hingga kepalanya terasa mulai pusing. Tidak berapa lama menunggu, tampak Satrio keluar dari RNC, ia tampak kebingungan, lalu berjalan mendekati mobil Aizar yang masih terparkir di sana. Melihat Satrio datang Aizar keluar dari bar lalu mendekatinya, “Rio, kenapa cepat sekali keluarnya?” tanya Aizar menyapa Satrio.“Lho, aku cari-cari Pak Aizar, kenapa tiba-tiba menghilang dari kamar?” jawab Satrio.“Ayolah, masuk, nanti aku ceritakan di dalam,” ucap Aizar lalu menyerahkan kunci mobil menyuruh Satrio yang memandu karena kepalanya mulai pusing setelah meneguk beberapa gelas minuman saat di bar.Setelah mobil melaju di jalan raya yang sepi, Aizar mulai menceritakan perihal Sony yang dilihatnya bersama seorang wanita masuk ke dalam private room, “Aku terpaksa pergi karena ingin menangkap basah suami mamaku itu, tapi rupanya dia sudah mengetahu
Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Aizar mencari celah untuk kabur meninggalkan kamar itu. Akhirnya, ia menemukan jalan keluar melalui jendela, lalu pergi menyelinap ke dalam ruang karyawan yang kebetulan sekali sedang tidak ada siapa-siapa di sana. Di dinding Aizar melihat ada beberapa seragam petugas sedang tergantung. Ia pun langsung berpikir untuk melakukan penyamaran dengan menggunakan salah satu dari baju seragam berwarna merah itu. Tidak lupa ia mengenakan makser yang biasa digunakan penjaga keamanan untuk melengkapi penyamarannya.Sret! Sret!Dengan cepat Aizar sudah mengganti pakaian, lalu ia bergegas masuk ke dalam lorong menuju kamar private yang disewa Sony. Di dalam sana, dia pasti sedang bersenang-senang bersama selingkuhannya, batin Aizar sambil tetus berjalan dengan tergesa.“Hei, Bro… mau kemana kamu?” Jantung Aizar berdebar, saat ia berpapasan dengan salah seorang petugas bertubuh tegap yang berseragam sama dengannya. Aizar pun hanya menunjukan jari ke arah sebuah
“Permisi, Pak…!” tiba-tiba pelayan yang tadi menemaniku datang menghampiri para petugas keamanan. “Bapak-bapak dia tamuku, tolong lepaskan dia,”pintanya.“Kalau dia bikin onar lagi bagaimana?” tegas salah seorang petugas keamanan coba menegasi Mirah.“Tenang saja, aku jamin tidak akan terjadi lagi. Iya kan, Pak?”Aizar pun terpaksa mengangguk demi menghargai upaya Mirah yang ingin membelanya dari para petugas keamanan itu.“Beritahu padanya jangan bikin keributan di sini. Kalau sekali lagi bikin onar terpaksa kami harus mengeluarkannya,” ucap si petugas, lalu mereka pun bersedia melepaskan Aizar.“Ayo, Pak, kita masuk ke kamar, teman Bapak sudah menunggu,” ajak Mirah sambil menggandeng lengan Aizar untuk kembali ke kamarnya. Tentu saja Aizar tidak ingin mengecewakan pelayan yang sudah baik hati menolongnya, maka ia pun memilih masuk ke dalam kamar bersamanya. Di dalam kamar yang setara dengan suite room hotel bintang lima itu, semua interiornya berwarna serba merah. Mulai dari cat di
“Manager saya mengizinkan untuk menggunakan salah satu kamar private, hanya saja waktunya dibatasi karena sebenarnya semua kamar sudah full booking,” ucap Mirah saat datang kembali menemui Aizar dan Satrio di tempat duduknya. “Tidak masalah,” jawab Aizar, sementara Satrio hanya duduk terdiam dan merasa berdebar-debar dengan apa yang akan ia lakukan bersama Aizar dan pelayan seksi itu.“Bapak-bapak masih mau saya temani minum dulu, atau mau langsung beristirahat di kamar?” tanya Mirah coba memastikan, meskipun dalam hati ia sudah tak sabar ingin melayani dua pemuda gagah yang malam ini menjadi tamunya itu.“Bagaimana, Rio?” tanya Aizar coba meminta pendapat Satrio yang duduk di sampingnya.“Terserah Pak Aizar saja,” balas Satrio.“Ayolah…” Aizar pun bangkit dari duduknya, lalu berdiri di samping Mirah. Satrio tampak ragu, “Aku tunggu di sini saja ya, Pak,” ucapnya meminta persetujuan Aizar.“Nggak… nggak… ayo…!” ajak Aizar sambil menarik lengan Satrio agar bangun dari duduknya. “Aku m
Aizar membawa Satrio ke tempat yang sudah lama ingin ia sambangi, namun belum kesampaian. Kini ia tidak sendirian, jadi tidak ada alasan lagi untuk menahan semua keinginannya. Sebuah club malam mewah yang berada di tengah kota, Red Night Club, menjadi tujuannya untuk bersenang-senang malam ini.“Kamu pernah masuk ke RNC, Rio?” tanya Aizar saat menghentikan mobilnya persis di depan bangunan yang dominasi warna merah itu, serta dihiasi lampu-lampu aneka warna di setiap sudutnya.“Belum pernah, Pak, memangnya ini tempat apa?” “Katanya sih club malam. Aku juga pertama kali ke sini. Ayolah kita masuk!”Setelah keluar dari mobil yang terparkir di parkiran VIP bersama mobil-mobil mewah lainnya, Aizar berjalan beriringan dengan Satrio menuju pintu masuk. Tampak ada dua orang penjaga berpakaian serba merah sedang berdiri menunggunya di depan pintu.“Selamat malam, boleh saya check kartu membernya?” sapa lelaki bertubuh tinggi dan gempal sambil menyilangkan lengan kanan di dadanya dan sedikit







