LOGIN
New York City 11.30 AM
Aiko memperhatikan seorang pria yang sedang berbincang bincang dengan beberapa temannya. Mata Aiko tidak sedikitpun bergeser dari pria tersebut. Pria dengan sejuta pesona, namun mampu mematahkan hati wanita sebanyak yang dia mau. Cleosa Nicolas Ivander, pria dengan perawakan tinggi, tegap, gagah dan segala macam kesempurnaan ada padanya. Cukup banyak wanita yang rela bertekuk lutut demi mendapatkan perhatiannya. Namun Aiko cukup tahu diri siapa dirinya, perbedaan Aiko dengan Ivander bagaikan bumi dan langit, bagaikan hitam dan putih. Terlalu banyak hal yang membuat Aiko berkecil hati untuk bisa dekat dengan pria tersebut. Berbagai macam cara Aiko lakukan untuk menarik perhatian Ivander, namun semua hasilnya nihil. Aiko sudah memasuki tahun ketiga bekerja di perusahaan fashion milik keluarga Ivander, COO di perusahaan tersebut. Namun selama itu pula Aiko bagaikan butiran debu di mata Ivander, tidak dianggap. "YA! Berhenti menatapnya seperti itu! Kau seperti akan mengulitinya dengan tatapanmu!", Mic wanita dengan kulit putih cerah mendekati Aiko. Aiko hanya menanggapinya dengan mendengus, tidak berharap bertemu dengan Michelle saat ini. "Aku tidak menatapnya kalau kau tahu. Aku hanya sedang melamun,"Aiko mengalihkan tatapannya dari Ivander. Gadis dengan rambut hitam legam di samping Aiko mencebik. "Dimana mana, ekspresi orang melamun itu datar, sedangkan tatapanmu barusan seperti mengisyaratkan, 'Lihat aku! Lihat aku Cleosa Nicolas Ivander!'". "Aduuhh!!" Aiko memukul lengan Michelle cukup keras, ini benar benar di luar dugaan. "Bodoh! Pelankan suaramu! Kau lihat, kita menjadi pusat perhatian!" Aiko sedikit berbisik, mengabaikan rasa malu yang mulai membuat wajahnya panas. "Siapa suruh kau memukulku! Hei! Dia berjalan ke arah sini! Astaga! Apa yang akan kau lakukan?". Aiko mengangkat pandangannya dan melihat ke arah yang dimaksud Michelle. Pria dengan tinggi 190 sentimeter itu mendekati meja mereka. "Apa kalian baru saja menyebut namaku?" suara bariton sexy itu membuat bulu kuduk Aiko meremang. Astaga! Suaranya sexy sekali, batinnya. "Ah, tidak tidak! Mungkin Anda salah dengar Mr. Ivander. Kami baru saja berbincang tentang keponakanku yang memiliki peliharan bernama Cleopatra, ya benar Cleopatra. Nama kucing peliharaannya Cleopatra", Michelle berdiri sambil berusaha mengarang cerita mengenai kucing peliharaan atau apapun itu. Ivander menatap tidak percaya, tatapannya tidak lepas dari Aiko. "Apa kau karyawan di sini?", Ivander bertanya pada Aiko tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya. Aiko mengangguk, bibirnya terlalu kelu untuk bersuara, wajahnya panas, Aiko pasti sudah seperti kepiting rebus saat ini. "Aku baru melihatmu. Gayamu kurang menunjukkan bahwa kau bekerja di perusahaan fashion terbesar di NY." Ivander melihat Aiko dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan ekspresi alis terangkat sebelah. Terlihat sangat meremehkan orang lain. Setelah mengatakan hal itu Ivander pergi meninggalkan meja dengan Aiko yang masih berdiam di tempat tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan dari Ivander. "Jangan kau ambil hati. Kau tahu jika dia memang selalu kasar dalam berbicara. Em, maafkan aku Ai, aku tidak bermaksud mempermalukanmu" Michelle mengelus lembut pundak Aiko, Mic merasa bersalah. "Kesan pertama yang cukup buruk. Aku rasa, aku akan selalu mengingat kejadian ini. Ayo! Waktu istirahat sudah mau habis", Aiko berjalan meninggalkan Michelle dengan perasaan yang tak tergambar. Aiko butuh menyendiri. *** Waktu menunjukkan pukul 08.16 PM, dan seharusnya Aiko sudah pulang dari satu jam yang lalu, tapi atasan dari bagian sketsa meminta bantuan padanya untuk memperbaiki beberapa bagian yang akan diajukan sebagai rancangan musim dingin. Suasana kantor sudah cukup sepi, hanya beberapa karyawan saja yang masih dengan serius menekuni pekerjaannya. Aiko bertekad untuk tidak membawa pekerjaannya ke rumah. Aiko harus menyelesaikannya dan bisa beristirahat dengan tenang. Ddrrtt...ddrrtt...ddrrttt Aiko melirik handphone di sampingnya, tertera nama Michelle di sana. "Ada apa lagi?!" Aiko menjawab dengan sedikit ketus, membuat orang di seberang sana tertawa. "Jangan marah-marah nona burung hantu. Cepatlah pulang! Aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu. Aku tahu kau belum makan. Aku tunggu di rumah. Aku sayang padamu", sebelum Aiko menjawabnya, sambungan tersebut sudah diputuskan, senyum di bibir tipisnya mengembang. Aiko kembali melirik jam tangan Casio di tangannya, sudah melebihi jam makan malam, batinnya. Dan pekerjaannya tinggal sedikit lagi. Setelah menghabiskan 2 cup kopi espresso, pekerjaan Aiko selesai, lalu bergegas membereskan lembaran lembaran yang berhamburan di meja dan menyimpannya di dalam laci kemudian menguncinya. "Sepertinya membeli sedikit cemilan bukan ide yang buruk", Aiko berjalan menuju pintu keluar ruangan. Namun pemandangan di depannya cukup membuat hatinya perih. Pria yang Aiko kagumi sedang bercumbu dengan seorang wanita berambut pirang dengan pakaian ekstra minim di sana sini. Aiko terpaku sesaat, tidak ada jalan keluar selain melewati ruangan tersebut, dan otomatis Aiko harus melewati manusia manusia itu. Aiko berjalan pelan sambil menundukkan pandangan. Aiko tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aiko bukan anak remaja yang malu melihat adegan dewasa di depannya, hanya saja ini kali pertama Aiko melihat pria yang selama tiga tahun ini menjadi idolanya bercumbu dengan sangat panas. "Apa dia salah satu karyawanmu? Dandanannya sangat jauh dari karyawan yang bekerja di perusahaan fashion. Kuno!", Aiko memutar bola matanya dengan jengah mendengar suara wanita berpakaian minim itu. "Beberapa waktu lalu ada team HR yang mengatakan bahwa ada beberapa karyawan yang masuk ke sini dengan cara yang tidak pantas. Kuharap dia bukan salah satu dari itu. " Ivander mengucapkan kata kata kasar tersebut tanpa filter, terlalu kejam. Aiko berhenti, menatap tajam dua manusia di depannya. "Aku bisa saja melakukannya! Tapi aku bukan tipe wanita seperti itu. Dan yang Anda katakan barusan, untuk wanita pirangmu yang kekurangan bahan itu yah? Menyedihkan! Kasian sekali tuan Alex, jika perusahaan yang beliau bangun, diteruskan oleh cucunya yang menerima karyawannya hanya dengan kedipan mata saja", Aiko tidak memperhatikan kemarahan yang siap meledak dari Ivander dan wanita berambut pirang dengan lipstik yang sudah berantakan. "Aku menyesal pernah menaruh hati pada pria seperti dia. Maniak! Kejam!", Aiko memberhentikan taksi tepat melintas di depannya, niat awalnya membeli beberapa cemilan musnah sudah. Sepanjang perjalanan Aiko sibuk dengan pikirannya sendiri, bahkan saat sampai di apartment-pun Mic menyadari sikap Aiko yang tidak banyak bicara, walaupun pada dasarnya Aiko adalah seorang introvert. "Apa terjadi sesuatu? Kau terlihat kurang sehat", Mic mencoba memegang dahi Aiko saat sudah duduk di sampingnya. Aiko menggeleng ringan, dan mengerutkan alisnya. "Apa kau masih memikirkan kejadian siang tadi?" Mic masih tidak berhenti menatap Aiko dengan wajah khawatir. Aiko menelungkupkan kepalanya di atas meja makan, kemudian berujar lirih "Aku melihatnya bercumbu dengan seorang wanita pirang kekurangan bahan. Dia juga mengatakan sesuatu yang sangat kejam", Aiko mengangkat kepala dan melihat Mic yang dengan setia mendengarkannya. Alis Aiko semakin berkerut ketika melihat ekspresi Mic yang biasa saja. "Apa kau sudah biasa melihatnya seperti itu?!", matanya membulat sempurna saat melihat anggukan kecil dari Mic. Hening... "Ini sudah tahun ketiga kau menyukainya. Kau lihat? Tidak ada tanda tanda dia akan membalas perasaanmu. Lihatlah dirimu Ai! Kau cantik, tubuhmu bagus, dan yang lebih utama, kau terlalu baik. Dia tidak pantas untukmu." Mic berharap kata-katanya bisa sedikit saja memberi kekuatan untuk Aiko yang merasa terpuruk.Ivander dengan telaten benar benar mengurus istrinya, mengambilkan makanan dan minumannya, membantunya ke toilet, membantunya memilih pakaian. Bukan karena Aiko tidak bisa melakukannya, namun karena itu merupakan bentuk tanggung jawab dan kasih sayang Ivander sehingga ingin Aiko benar benar bedrest. "Kau memperlakukanku seperti orang sakit. Padahal aku bisa melakukannya sendiri." Aiko memanyunkan bibirnya, dan dikecup singkat oleh Ivander. Ivander sengaja mengurus Aiko lebih cepat, karena pukul 6 nanti Ivander akan keluar - walaupun faktanya bukan untuk bekerja. "Jangan jauh jauh dari handphone-mu, aku juga sudah menyiapkan beberapa buku yang mungkin akan kau sukai. Jika ingin ke kamar mandi tekan bel ini, pelayan akan datang untuk membantumu. Aku berharap kau mendengar kata kataku, jangan melakukannya sendirian. Kau mengerti sayangku?" Ivander telah siap dengan pakaian semi formalnya, dan selalu terlihat menawan. Aiko mengangguk patuh mendengarkan kata kata Ivander, lalu membu
Setelah pemulihan 3 hari di rumah sakit, Aiko akhirnya diperbolehkan pulang. Dengan catatan tidak boleh melakukan pekerjaan rumah tangga, istirahat bercinta selama 2 pekan, tidak boleh stress berlebih. Ivander yang mendengar peringatan dari Cass, memilih untuk mengurungkan niatnya memberitahu Aiko mengenai proses pencarian keluarganya saat ini. Hal ini pasti pernah menjadi mimpi Aiko, walaupun Aiko tidak menyatakannya secara terang terangan. Namun, karena sebelumnya Ivander memberinya harapan akan mencari keberadaan ayahnya, sehingga Aiko berharap suatu hari nanti akan ada kabar mengenai siapa ayah kandungnya sebenarnya. Ivander dan Aiko tidak kembali ke rumahnya, melainkan ke rumah orang tuanya. Karena entah mengapa, untuk saat ini Ivander ingin Aiko lebih dekat dengan pemantauan Cass. Berhubung saat ini Cass tinggal di rumah orang tua Ivander, sehingga lebih mudah baginya jika ada hal yang ingin ditanyakan. Aiko kembali ke rumah disambut raut bahagia Hannah. Rasanya sangat senan
Aiko sudah berada di ruang rawat inap, kondisinya sudah membaik, namun belum sadarkan diri. Ivander sudah meminta Rita untuk menyiapkan beberapa pakaian untuk dirinya dan Aiko. Ivander masih menunggu Cass dan memberikan penjelasan mengenai kondisi Aiko saat ini. Sedangkan Jade, sudah kembali ke rumah karena harus ke kantor untuk melakukan beberapa pertemuan. Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Ivander, lalu berdiri dan menghampiri Cass yang datang dengan kotak obat di tangannya. “Cass, bagaimana kondisi Aiko saat ini?” Cass mendekati kasur Aiko, menyuntikkan obat penguat kandungan. “Kak, kau hampir saja membahayakan istri dan calon anakmu.” Ivander terduduk lesu, menatap sang istri. “Kelelahan, luka akibat gesekan dan perdarahan walaupun tidak parah. Lebih seringnya peningkatan libido pada Ibu hamil dimulai pada trimester kedua, tapi kakak sebagai suami harus bisa mengontrol dan mengingatkan, bukan justru menyerang istrimu dengan nafsu yang tidak terkontrol. Aku tidak me
Ivander menepati janjinya dengan membantu Aiko mandi, membantu Aiko mengeringkan rambutnya dan membantunya menutupi kiss mark di leher belakangnya dengan memberikannya foundation. Setelah itu mereka bersama menuju ke ruang makan, berbagai jenis makanan yang kemungkinan akan disukai oleh Aiko tersedia di sana, dan sebuah catatan. Terlihat sebuah tulisan tangan yang indah di sana, dari sang Ibu mertua, Hannah. "Ai, Ibu tidak tahu makanan apa yang sedang ingin kau makan. Tapi ini adalah beberapa makanan yang bisa Ibu buatkan untukmu, semoga menantu dan cucu kesayanganku menyukainya. Ibu mencintaimu dan terima kasih telah hadir dalam kehidupan Nico." Aiko membaca catatan tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan kehangatan dan bahagia. Ivander yang berada di sampingnya, mencium kening Aiko dan mempersilahkannya duduk. Aiko takjub dengan beberapa makanan berat yang tersedia, diantaranya ada meatball cheese, chicken mushroom, dan pasta. Semuanya hampir menggugah selera Aiko, namun p
Ivander benar benar tidak membiarkan Aiko pergi begitu saja setelah percintaan yang panas pagi itu. Ivander memeluk Aiko dari belakang, merasakan panas tubuh masing masing, tanpa sekat, tanpa perantara. Aiko menyukai bagaimana Ivander sangat mendambakan dirinya, tahu kapan harus bergerak dengan tegas dan kapan harus bergerak dengan lembut. Selama kehamilan ini, Aiko merasa lebih mudah terangsang, terasa lebih mudah mengimbangi permainan Ivander. Hangat nafas Ivander yang menyentuh punggung belakang Aiko memberinya desiran halus, sesuatu dari dirinya menginginkan lebih. Dan Aiko menyukai jika Ivander mencium punggungnya, menyukai bagaimana sentuhan lembut dan panas Ivander menyatu jadi satu. Aiko masih berusaha menahan desahannya agar tidak keluar, menahannya agar perasaan itu hanya sampai pada dirinya. Aiko malu jika suara desahannya terdengar, Aiko merasa terlalu nakal, dan Aiko merasa itu bukan seperti dirinya. Ivander justru tahu apa yang diinginkan oleh sang istri. Aiko mengge
Ivander memarkirkan mobilnya di depan pintu utama rumah kedua orang tuanya, Aiko yang terlelap di sampingnya dengan mata sembab membuat Ivander tidak tega membangunkannya. Ivander lalu turun dari mobil, dan beralih ke tempat Aiko, menggendongnya keluar dari mobil. Pelayan yang melihat Ivander segera membantu membawakan barang bawaan dan mengarahkan Ivander untuk menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah. Ivander membaringkan Aiko di kasur, melepaskan sepatu dan menyelimutinya. Ivander menatap dalam sang istri, hatinya sedih mengetahui Aiko menyimpan harapan akan bertemu dengan keluarga kandungnya. Apa jalan yang diambilnya dalam pencarian keluarga Aiko salah? Apakah dirinya harus jujur dan menjelaskan semuanya pada Aiko? Ivander akan meminta bantuan Cass dan kedua orang tuanya, memendamnya sendiri membuatnya bingung. Ivander mencium pelan puncak kepala Aiko sebelum akhirnya mematikan lampu utama dan keluar dari kamar. Di ruang tamu sudah ada Hannah dan Braxton yang menikm
Aiko keluar dari kamar setelah memastikan dirinya terlihat menarik walaupun hanya mengenakan baju kaos oblong kebesaran milik Ivander. Aiko bisa melihat Ivander menata meja makan, dan segelas susu hangat sudah tersaji di meja. "Minumlah dulu susunya, mumpung masih hangat. Aku khawatir kau kedingin
"Cleosa Nicolas Ivander." Aiko meraih tangan Ivander dan menggenggamnya dengan erat. Aiko menatap Ivander dalam, Aiko tidak pernah menyangka bahwa Ivander benar benar menjadi kekasihnya saat ini. "Jika sekali lagi aku mendengarmu memanggilku dengan sebutan Anda, maka aku akan menghukummu," Ivander
Ivander menemani Aiko kembali ke apartmentnya, dan siap menerima berbagai macam pertanyaan yang tentu saja sudah disiapkan oleh Mic. Aiko bisa merasakan bahwa Ivander sedikit gugup, Aiko tahu bahwa Mic adalah orang yang tegas dan berani. Tapi Mic tidak mungkin tidak setuju dengan hubungan Aiko dan
Selama beberapa waktu Aiko dibuat tidak fokus oleh informasi yang diberikan oleh Sam sebelumnya. Aiko merasa Sam terlalu banyak memberikan informasi pribadi tentang Ivander padanya. Aiko jadi memikirkan bagaimana dirinya harus bersikap pada Ivander setelah mengetahui kebenaran di balik sikap kasarny







