LOGINRebellious Olivia Macdonald is being raised by her single father Alexander Macdonald after his wife dies from small pox with the help of the servants. Her youthful crush on Johnathan Campbell who is 4 years older than her gets put on hold. As she almost gets herself killed. Alexander sends Olivia to live with his sister and husband in France to return 6 year’s latter. Trying not to fall back into her childish romantic notions she avoids Johnathan attention as he seems to be involved but their common Jacobite beliefs influences events. The dangers are very real. The events they find themselves thrown in brings them together. It is as if they are destined to be together after all.
View MoreJordie berkeringat dingin saat masuk ke dalam ruang HRD di maskapai swasta tempat dia bekerja. Hari ini adalah hari penentuan perpanjangan kontrak kerjanya. Dia sudah bekerja satu tahun sebagai pilot di maskapai itu.
Memang status Jordie masih karyawan kontrak. Namun, hatinya berharap bahwa akan ada keajaiban terkait perpanjangan kontrak kerja dan penetapannya sebagai pilot tetap di maskapai itu.“Sore, Pak,” Jordie menjabat tangan Kepala HRD maskapainya. Di sana juga ada mentor timnya selama menjadi pilot.“Silakan duduk,” Kepala HRD mempersilakan Jordie duduk.Jordie duduk. Telapak tangannya terasa basah. Ada kecemasan dalam hatinya jika kontraknya tidak akan diperpanjang.Kecemasan Jordie beralasan. Semuanya karena banyak teman-teman satu angkatannya yang diputus kontrak karena alasan efisiensi tenaga kerja di masa pandemi. Sudah beberapa tahun pandemi berjalan. Meski aktivitas penerbangan sudah mulai meningkat, tapi stabilitasnya secara bisnis memang masih dipertanyakan.Beberapa maskapai sudah ada yang gulung tikar. Maskapai tempat Jordie bekerja terhitung masih bagus karena bisa survive di masa pandemi. Namun, jumlah pengurangan tenaga kerja di maskapai selalu dilakukan secara berkala.“Jordie, ini keputusan kami untuk kontrak kerjamu,” Kepala HRD memberikan amplop putih pada Jordie.Jordie menerimanya. Belum sempat Jordie membacanya, Kepala HRD sudah melanjutkan wicaranya.“Kami minta maaf padamu karena tidak bisa memperpanjang masa kerjamu di sini,” tutur Kepala HRD menerangkan keputusan yang diambil perusahaan atas nasib Jordie. “Kinerjamu bagus. Kamu termasuk salah satu pilot muda berbakat kami. Namun, perusahaan kami memang masih dalam masa berbenah diri dan harus melakukan pengetatan budget. Karena itulah, kami memutuskan untuk memberhentikanmu.”Pandangan Jordie tercengang menatap keputusan Kepala HRD maskapainya yang menyedihkan itu. Kecemasannya berubah jadi kenyataan. Dia tergabung dalam 100 karyawan maskapai yang akhirnya diputus kontrak kerjanya.“Ini adalah keputusan final,” lanjut Kepala HRD. “Sekali lagi kami mohon maaf atas keputusan ini. Semoga di lain kesempatan, kita masih bisa bekerja sama.”Jordie menganggukkan kepala kaku. Perasaannya hancur karena dia diputus kontrak kerjanya.Langkah Jordie gontai saat memasuki kontrakannya. Dia sama sekali tak bersemangat dan langsung mengurung diri di kamar.“Die! Jordie!” Hakim, teman Jordie yang senasib dengan Jordie, menerobos masuk ke dalam kamar. Dia mendekati Jordie yang tengah bersedih hati karena pemutusan kontrak kerja.“Jordie, jangan sedih kamu,” tutur Hakim menghibur Jordie. “Aku juga kena pecat kok.”“Argh, tapi bulan depan, aku berjanji datang ke rumah orang tua Aster buat ngelamar dia!” timpal Jordie kesal sekaligus sedih.“Ya udah. Dilamar aja. Kan kalian udah pacaran dari SMA. Udah saling kenal sejak kecil. Kan kamu juga disekolahin sama orang tua Aster, kan? Kalau dikomunikasikan, mereka bakal paham kayaknya,” terang Hakim menyemangati Jordie.“Nggak bisa, Kim,” balas Jordie. “Aku sudah banyak berutang budi pada keluarga Aster. Kalau aku ngelamar Aster dengan kondisi pengangguran begini, mau ditaruh mana mukaku?!”Jordie menghela napas gelisah. “Apalagi, Aster kan lagi terkenal banget. Dia influencer kuliner kesukaan anak muda. Kamu bayangin aja berapa banyak gaji dia tiap bulannya. Pengangguran kayak aku nggak pantes banget bersanding sama dia.”Hakim berdecak. “Terus apa rencanamu? Mau batalin rencanamu ngelamar Aster? Kamu nggak pertimbangin gimana perasaan Aster nantinya?” cerocos Hakim memberikan perspektif lain pada Jordie.“Aku nggak bakal batalin rencana lamaran itu,” ucap Jordie. “Aku hanya akan menundanya. Aku bakal fokus cari pekerjaan yang stabil.”“Kamu mau lamar jadi pilot lagi? Yakin bakal ada maskapai yang mau terima?”Jordie menatap kesal Hakim. “Kamu kok nggak memotivasiku sih, Kim?” protes Jordie.“Aku hanya ingin kamu realistis aja,” ujar Hakim. “Kamu tahu sendiri kan? Sebelum ada pandemi, udah banyak ribuan pilot nganggur. Ini karena jumlah orang yang mengambil pendidikan pilot jauh lebih banyak dari lowongan kerja pilot yang dibutuhkan. Ditambah lagi, sekarang masih masa pandemi. Kamu yakin beneran bisa kerja jadi pilot lagi?”“Kalau belum dicoba kan nggak mungkin tahu gimana hasilnya,” timpal Jordie tetap menyimpan asa dalam hatinya. “Aku mau usaha dulu, Kim. Aku yakin usahaku sekarang belum maksimal. Aku bakal usaha lebih baik dari sekarang.”“Oke deh,” ucap Hakim. “Kabari aku kalau kamu butuh bantuan.”Jordie menatap Hakim penasaran. “Kamu sendiri mau ngapain habis ini?” tanya Jordie ingin tahu.“Aku ada rencana mau bikin usaha geprekan ayam,” jawab Hakim ringan. “Tabunganku masih bisa dipakai buat sewa rumah dan aku mau jualan di sana. Aku rasa itu pilihan realistis buat sekarang. Bisnis kuliner kan nggak akan mati karena semua orang butuh makanan.”Hakim tersenyum simpul menatap Jordie. “Rencanaku sebenarnya aku pengen ajak kamu join bisnis ini. Seenggaknya kalau bisnis kita sukses, kamu kan bisa buka cabang di Bandung. Kalaupun kamu menikah, kamu masih bisa mengandalkan bisnis geprek ayam itu buat jadi penghasilan utamamu. Tapi, kayaknya bisnis geprek ayam bukan pilihan menarik buatmu.”Hakim menghela napas berat. Dia melangkah keluar kamar Jordie dan menutup pintu kembali dengan rapat.Jordie termenung memandangi Hakim. Entah mengapa, hatinya merasa bersalah karena sudah berdebat dengan Hakim tadi. Padahal, Hakim membawa rencana yang cukup bagus untuk mereka jalankan setelah ini.Buru-buru Jordie berlari keluar dari kamarnya. Dia mengejar Hakim. “Kim! Hakim!” teriak Jordie.“Woi!” balas Hakim. “Aku nonton TV di ruang tengah!”Jordie menyusul Hakim ke sana. Tampak Hakim duduk di sofa lusuh berwarna cokelat dan tengah menyalakan televisi.Jordie duduk di sisi Hakim. Dia menepuk bahu Hakim. “Kim, aku nggak bermaksud bilang kalau pekerjaan selain pilot itu adalah pekerjaan yang buruk,” ucap Jordie. “Aku hanya ingin mencoba mendaftar lagi ke beberapa maskapai. Siapa tahu aku bisa kembali jadi pilot. Soalnya Aster sangat menyukai pria dengan profesi pilot. Aku pengen jadi pria yang diidamkan Aster.”“Hei, santailah. Aku paham kok itu. Lagian, kita udah temenan dari SMA, kan? Kamu udah cerita soal ini berulang kali padaku,” balas Hakim.“Aku bakal coba selama tiga bulan,” ungkap Jordie menerangkan rencananya. “Kalau selama tiga bulan ini aku nggak dapat balasan dari sama sekali dari maskapai-maskapai yang aku daftari, aku bakal ikut bisnis kulinermu. Bisa, kan?”Jordie menatap penuh harap pada Hakim. Dia tetap ingin memperjuangkan semuanya dalam kehidupannya. Meskipun, Jordie sangat tahu bahwa kondisi di masa pandemi seperti ini sangatlah sulit bagi semua orang.“Oke,” jawab Hakim dengan senyum lebar di wajahnya. “Warung geprek ayamku selalu terbuka untukmu. Tapi, kamu harus investasi yang banyak ya?”Tawa Jordie terdengar. “Oke,” jawab Jordie penuh semangat.Jordie menyimpan banyak asa dalam hatinya. Dia terus membuat surat lamaran sebagai seorang pilot dengan harapan akan ada maskapai yang mau menerimanya.Six years passed and Olivia grew more and more beautiful by the year. She already had handsome men interested in her but she would not give them the time of day. She planned to go home before even thinking about marriage. She was in no hurry. “ The debut season is almost over and we will travel back to Scotland soon. “ Brielle told OliviaThe thought of it pleased her so much. Six years away from her father was far to long. She loved her aunt very much. She was blessed by the life she was able to live over the last six years. She was an accomplished painter and her riding had won her many competitions. She was educated in politics and literature. She could carry a conversation and was eloquent enough to charm everyone she came in contact with. . Though most people didn’t talk about things that really mattered. “How many more events will we attend before we leave? I love you and I am enjoying my debut season but I am ready to go see my father and Finely. “ Olivia told her anxiously.
As the years went by she settled into her life and did her best to do as her aunt and uncle instructed. Eventually they went to stay at her uncles mansion on the outskirts of Paris. Her days were filled with tutors and lessons. Etiquette, literature, art, riding, politics, theology as time went on Olivia became engrossed in it all. She loved to learn new things. Sculpting was like creating life itself. Only God could breath life into the images though. Her masterpiece was the image of aunt Brielle twin toddlers Camille and Claude. The beautifully happy childrens likeness reflecting the originals to a T. Monsieur Jean Pierre was a marvel in teaching the techniques to produce a masterpiece. He had also been commissioned to build Arc de Triomphe in honor of French Revolution that he worked on taking up most of his time. She would make little excursions to see how the majestic Arc de Triomphe was coming along. The tall stone arches were perfectly placed. The monument itself reaching re
The trip from Macdonald castle to Edinburgh was a little jolting as the wagon followed along the country road. As the castle fell away the trip offered many sights and sounds. Eventually Edinburg came into view Olivia excitement and apprehension came in waves. As Edinburgh was the capital of Scotland it was as dizzy as a beehive. People of every shape and color were all about. They finally came to a stop at the dock. Stepping down from the wagon Olivia’s senses were in overload. The smell of fish and open ocean filled her nostrils. The vision of ruff faced sailors and beautiful ships against the ocean backdrop were all about.“Come Olivia, I want to introduce you to the captain and show you where we will be sleeping while we are on the ship. “ Brielle turned towards a three masted heavy frigate. “Yes mamma,.” Olivia trying her best to be well behaved which wasn’t an easy task at the moment because all of her instincts were saying run, run for your life. This is your absolute last c
Her aunt was nothing if not punctual. She arrived exactly a fortnight from the arrival of her letter. The house was all a buzz as soon as s they got word she was approach.“Go get Olivia and Finely.” Alexander told a maid. Alexander’s excitement was palpable. As the two children stood by his side. Brielle entered with the most beautiful smile from ear to ear. “Mon petit Freire, I have missed you so much.” Embracing each other so tightly. Both stepping apart and taking a good look at each other.Smiling she turned and looked at the two children before her. “Well hello there jeune maitre Finely.” With a bow and a flourish of her hand. Finely loved the attention as it was usually Olivia that got the attention. Only it was negative attention. He thought to himself. “Madame Beaumont, welcome home. It is my pleasure to finally meet you.” In a return bow. He smiled big and brightly attempting the flourish of the hand as well. “Madame Olivia, I am excited for us to get to know each other.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.