LOGINArif, yang selalu merasa logikanya di atas segalanya, kini dihancurkan oleh logika emosional putrinya yang tak terbantahkan. Dia melihat rasa sakit dan kebencian yang nyata di mata Alesha. Pandangan itu menusuknya lebih dalam daripada kritik tajam Dewan Direksi."Papa hanya ingin kamu kembali! Papa akan memberimu yang terbaik!" bantah Arif, suaranya mulai goyah, kehilangan ketenangan yang selama ini ia pertahankan."Yang terbaik bagiku adalah Om Rayhan!" jawab Alesha tegas, kepalanya terangkat, menantang. "Dan jika kamu mengambil satu-satunya pria yang berani berkorban untukku, maka kamu tidak akan pernah melihatku lagi! Atau cucumu! Om Rayhan tidak bersalah! Aku mencintainya, dan aku akan melahirkan anak ini bersamanya, meskipun kau harus menghancurkan seluruh dunia! Aku akan berjuang mati-matian, dan aku akan melindunginya seperti dia melindungi ku!"Laura, yang menyaksikan pertengkaran hebat ini, tahu ini adalah momen yang menentukan. Ia harus mendukung Alesha sepenuhnya. Ini a
Laura duduk di samping ranjang, memeluk Alesha erat. Air matanya menetes di bahu Alesha. "Papamu ... dia hanya takut kehilanganmu, Sayang. Dia melihatmu sebagai satu-satunya piala yang bisa dia pamerkan. Tapi kali ini, dia bertindak terlalu jauh, Alesha. Menghancurkan karier seseorang adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar. Papa terlalu egois."Pengakuan Laura ini, datang dari wanita yang selalu memuja suaminya, menguatkan keyakinan Alesha. Penyebab utama hancurnya Rayhan adalah Arif. Bukan kesalahan Rayhan, bukan kesalahan kehamilan, melainkan keegoisan dan kekuasaan Arif. Kebencian dan rasa marah Alesha kini memuncak, melampaui rasa bersalahnya sendiri. Ia harus membela Rayhan. Pemberontakan terasa mendesak, sebuah kebutuhan untuk mengembalikan kehormatan Rayhan.Tepat setelah Rayhan kembali, sudah berpakaian rapi dan tampak lebih terkendali, ia duduk di samping Alesha. Pintu suite itu kembali dibuka paksa. Bukan oleh bodyguard yang patuh, melainkan oleh Arif sendiri, yang
"Kamu aman di sini, Sayang. Ahhh ... Jangan takut. Aku akan menjagamu ... Mmmh ....""Ya ... Ray ... Ohhh ... Jangan lepaskan aku.... Aku butuh ini ... Eughhh ... Lebih dalam! Jangan berhenti!""Aku di dalammu, Sayang. Aku tidak akan ke mana-mana. Kita akan melawan mereka bersama. Ahhh ... Ini adalah sumpah kita."Setiap desahan, setiap erangan, setiap gesekan kulit mereka adalah penegasan kembali ikatan mereka di tengah semua kekacauan.Ritme yang cepat dan kuat itu membawa mereka ke klimaks kedua yang menghancurkan. Alesha menjerit panjang, memanggil nama Rayhan, sebuah desahan kemenangan.Rayhan mengikutinya, menjatuhkan dirinya ke dada Alesha, erangannya tertahan di leher Alesha. Ia merasa dirinya benar-benar kosong, tetapi hatinya penuh.Mereka berdua terengah-engah, tubuh mereka kelelahan, tetapi jiwa mereka terasa damai, kembali pada titik nol, bebas dari rasa bersalah.Rayhan menunggu sejenak, menahan dirinya. Setelah beberapa saat, ia menarik dirinya keluar dan berbari
“Ohhh … Sayang …,” desah Rayhan, tangannya hanya memeluk erat pinggang Alesha, memberikan dukungan.Alesha memiringkan kepalanya, menghirup aroma Rayhan yang bercampur dengan keringat gairah mereka sebelumnya. Ia menciumi setiap inci kulit Rayhan, seolah menandai kepemilikan, seolah setiap ciuman adalah sumpah yang mengikat.Alesha melepaskan ciumannya dan kembali ke bibir Rayhan. Kali ini, ciuman itu adalah badai yang penuh gairah, kekalutan, dan air mata yang tidak tumpah. Ia mencium Rayhan seolah ini adalah ciuman terakhir sebelum Arif berhasil memisahkan mereka.Tubuh mereka menempel erat, keringat mulai membasahi kulit mereka lagi di tengah suhu kamar yang dingin. Rayhan membalikkan Alesha dengan lembut, mengambil alih kendali agar posisi mereka lebih aman dan nyaman untuk janin.Napas Alesha memburu, lebih cepat dan lebih putus asa dari ronde pertama. Ia merasakan desakan fisik yang luar biasa, sebuah kombinasi hormon dan ketakutan akan kehilangan."Ray ... Eughhh ... Aku
"Ku milikku, Alesha. Hanya milikku. Selamanya …," desis Rayhan, suaranya berat dan serak.“Ohhh … Ya … Aku tahu … Aku tahu … Hmmmm .…”"Katakan kamu mencintaiku .…""Aku mencintaimu, Ray! Eughhh … Aku mencintaimu! Jangan berhenti!"Rayhan menahan pinggul Alesha, memosisikan diri untuk klimaks. Mereka berdua mencapai titik puncak bersamaan, ledakan hasrat yang menggetarkan seluruh tubuh mereka.Alesha menjerit panjang, sebuah perpaduan antara kesenangan dan pelepasan semua ketakutan dan rasa bersalah yang ia rasakan. Semua energi emosional negatifnya terlepas dalam gelombang kebahagiaan yang dahsyat.Rayhan menjatuhkan kepalanya di leher Alesha. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar karena kelelahan emosional. Ia telah mengosongkan dirinya di dalam Alesha, meninggalkan semua kekalutan di luar kamar. Ia telah memenangkan pertempuran kecil ini.Rayhan menahan diri di tempatnya sejenak, napasnya beradu dengan napas Alesha yang masih tersengal-sengal. Ia menunggu, memastikan i
Rayhan menanggapi permintaan Alesha dengan kecepatan yang jarang ia tunjukkan. Ia melepas kancing kemejanya dengan kasar, membiarkan kain itu jatuh ke lantai. Rayhan ingin menanggalkan semua identitasnya—dokter, profesor, menantu tiri yang dihormati—dan hanya menjadi kekasihnya.Tangannya kini fokus pada tubuh Alesha. Dengan lembut, ia menyingkirkan blazer rumah sakit dan pakaian atas Alesha. Rayhan menatap Alesha, tubuhnya yang kini telanjang di bawah cahaya remang-remang, lekuk tubuhnya yang mulai berubah karena kehamilan, menjadi pemandangan paling indah dan rapuh yang pernah ia lihat. Rayhan mencium setiap inci kulitnya, sebuah pernyataan bahwa kehamilan itu adalah berkat, bukan aib.Alesha mendesah panjang saat Rayhan mencium lehernya, turun ke bahunya, dan berhenti di dadanya. Ia merasakan Rayhan memuja tubuhnya, memuja kehidupan yang ada di dalamnya.“Ahhh … Rayhan …,” panggil Alesha, suaranya serak. Ia mengangkat pinggulnya, mendesak Rayhan untuk menghilangkan batas terakh







