Share

Bab 2

Author: Evi
Akhirnya, Lina tetap saja menggendong putrinya meninggalkan aula.

Di perjalanan pulang, Alicia terisak dan bertanya, "Ibu, ayah mau menikah dengan orang lain. Itu artinya dia nggak menginginkan kita lagi, 'kan?"

Lina membelai wajah putrinya yang dingin, hatinya dipenuhi rasa perih.

Sejak kecil, Alicia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.

Kini, begitu bertemu, Sam sudah memiliki calon istri yang siap dinikahinya.

Sam justru makin menghindari Alicia, takut orang lain mengetahui bahwa anak itu adalah darah dagingnya.

Alicia telah menanggung terlalu banyak kepedihan.

Lina menempelkan wajahnya pada wajah putrinya dan berbisik, "Alicia, maafkan Ibu. Sam bukanlah ayah yang baik. Mari kita tinggalkan dia, ya?"

Sebenarnya, Lina sendiri pun tidak mengerti. Bagaimana mungkin pria yang dalam ingatannya jujur dan baik, bisa berubah menjadi seperti sekarang?

Lina tumbuh besar hanya bersama kakeknya.

Dia memiliki wajah yang cantik. Sejak berusia 15 tahun, para pemuda di desa suka mendekatinya.

Namun, Sam berbeda dengan para pemuda yang hanya pandai berbasa-basi.

Diam-diam, dia sering datang membantu di Rumah Keluarga Watson.

Mengangkat air, membelah kayu, mencuci pakaian, memasak, bahkan pekerjaan berat di ladang, semuanya Sam kerjakan.

Ketika kakek Lina terjatuh saat mencari obat di gunung, Sam segera menggendongnya dan berjalan puluhan kilometer menuju klinik.

Karena itu, ketika Lina berusia 20 tahun dan Keluarga Houston datang melamar, Lina tidak menolak.

Tiga bulan kemudian, dia menikah dengan Sam.

Saat itu, Sam sudah menjadi tentara. Pernikahan mereka berlangsung ketika dia pulang dengan cuti mengunjungi keluarga.

Lina masih mengingat jelas, pada malam pernikahan, Sam menggenggam tangannya dan bersumpah akan memperlakukannya dengan baik seumur hidup.

Lina pun memercayainya.

Sam berjuang di luar, sementara dia di desa melahirkan dan membesarkan anak-anak, serta merawat orang tua.

Waktu pun berlalu, putra mereka, Alan, sudah berusia lima tahun.

Ketika Sam keluar dari tentara dan beralih pekerjaan, dia menjadi kepala pabrik kendaraan berat di Alverton.

Hal pertama yang dilakukan Sam adalah menjemput Alan. Katanya, dia ingin bertanggung jawab sebagai ayah, membimbingnya agar rajin bersekolah, agar kelak menjadi orang yang sukses.

Sam membawakan Lina hadiah sebuah cangkir teh, satu handuk baru, dan sepuluh pasang sarung tangan kerja.

Sam memandangi tangan kasar Lina dengan sedih, lalu berkata bahwa selama beberapa tahun ini di desa, Lina telah menggantikannya berbakti kepada orang tua serta membesarkan anak-anak dengan susah payah.

Lina tidak pernah berpikir bahwa Sam akan berpindah hati.

Hanya dalam dua tahun.

Setelah ibu mertuanya meninggal, Lina membawa putrinya yang berusia lima tahun menempuh perjalanan jauh ke Alverton.

Kata pertama yang diucapkan Sam padanya justru sebuah pertanyaan dingin, "Untuk apa kamu datang?"

Seakan mendapat tamparan keras, hati Lina yang penuh sukacita seketika terasa setengah beku.

Lina hanya terdiam, membiarkan Sam memberinya status sebagai seorang pembantu.

Orang-orang di kompleks perumahan mengatakan bahwa Pak Sam adalah orang yang baik. Dia sudah berhasil, tetapi tidak lupa menolong wanita malang dari desanya.

Lina hanya bisa tersenyum getir.

Genggaman tangan putrinya yang dingin membuatnya kembali tersadar.

Alicia menghapus air mata di wajah ibunya dengan hati-hati, lalu dengan suara polos berkata, "Ibu, ayah membuat kita berdua menangis. Dia bukan orang baik, ayo kita tinggalkan dia."

Lina mengangguk. "Benar, kita nggak butuh dia lagi."

Dia menyuruh putrinya duduk di dekat jendela, sementara dirinya mulai membereskan barang-barang.

Kali ini, Lina ingin membuang semua kenangan lama yang dibawanya dari desa, termasuk pria itu.

Tiba-tiba, suara Alan terdengar dari luar pintu.

"Ayah! Tarian Tante Lili benar-benar bagus! Setengah bulan lagi dia akan menjadi ibuku, 'kan?"

Lina seketika terhenti.

Langkah kaki Sam dan Alan terdengar makin dekat.

Tidak lama, suara Lili juga menyusul, "Sam, Alan, tunggu!"

Lili berlari kecil ke pintu, lalu berkata, "Kalian tadi hanya sibuk menonton pertunjukan dan hampir nggak makan apa pun. Kalian pasti lapar, 'kan? Aku sudah membawa kue kacang sama bolu kukus. Cepat makan."

Tiga orang itu masuk bersama.

Alan tampak gembira sekali. "Tante Lili, kamu baik banget! Aku paling suka makan kue kacang sama bolu kukus."

Lili tersenyum pada Lina dan Alicia, lalu berkata, "Lina, kamu sama Alicia mau ikut makan?"

Alan langsung meraih kantong berisi kue kacang dan bolu kukus, lalu menatap Lina dan putrinya dengan jijik. "Nggak boleh! Mereka orang kampung, nggak pantas makan kue kacang sama bolu kukus!"

Lina hanya diam menatap Sam.

Sam pura-pura marah dan menegur Alan, "Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Alan, cepat minta maaf."

Alan tampak tidak terima. "Aku nggak salah, kenapa harus minta maaf! Mereka memang orang kampung, pembawa sial! Semua orang juga bilang begitu!"

"Tante Lili, aku benar, 'kan?"

Lili mengusap kepalanya. "Sekalipun benar, kamu nggak boleh bicara seperti itu. Mengerti, Alan?"

Alan menjawab dengan enggan, "Kalau Tante Lili bilang begitu, ya sudah, lain kali aku nggak bilang seperti itu lagi."

Alan memeluk erat kantong plastik. "Tapi kue kacang sama bolu kukus ini tetap nggak akan kukasih ke mereka!"

Lili dan Sam berdiri berdampingan, wajah mereka memamerkan senyum basa-basi. "Lina, maaf ya, Alan memang terlalu dimanjakan. Kamu sudah dewasa, harap maklum."

Lina sudah terbiasa dengan sikap Alan. Dia hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. "Nggak apa-apa, kami memang nggak pantas memakannya."

Dia segera menggendong Alicia dan masuk ke kamar kecil, meninggalkan ruang tamu untuk mereka.

Setelah menenangkan Alicia di tempat tidur, dia melanjutkan membereskan barang-barang.

Di luar, ketiganya berbincang sebentar. Setelah itu, Lili pergi, sementara Alan dengan enggan mengantarnya.

Sam kemudian mendorong pintu dengan keras, lalu menuding dengan marah. "Lina, kamu sengaja, ya? Di aula pabrik tadi kamu membuatku kesal, pulang malah cemberut dan bicara dengan nada sinis. Sebenarnya apa maumu?"

"Kamu tiba-tiba datang dengan Alicia tanpa bilang apa-apa. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kalian, kalian juga nggak perlu bekerja sedikit pun, aku yang menafkahi kalian berdua. Apa lagi yang membuatmu nggak puas?"

"Kamu mau aku berhenti jadi kepala pabrik, lalu ikut denganmu kembali ke desa terpencil, menjadi petani tua yang kerja membanting tulang di sawah sepanjang hidup, baru kamu senang?"

Alicia yang ketakutan, memeluk erat ibunya.

Lina menggendongnya putrinya dan berkata dengan datar, "Itu salahku. Nggak akan terulang lagi."

Mata Sam sempat menunjukkan sedikit keterkejutan. Lalu, dia berkata dengan canggung, "Bagus kalau kamu tahu siapa yang menafkahimu. Mulai sekarang, bersikaplah baik. Jangan cari masalah."

Lina tidak membantah.

Setengah bulan kemudian, Sam menikah dengan Lili.

Sementara itu, Lina membawa putrinya pergi ke ibu kota.

Antara dirinya dan Sam, tidak ada lagi masa depan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 15

    Wajah David tampak tenang, setiap ucapan Lina selalu dia iyakan.Lina tahu, meskipun David mengangguk setuju, saat membeli sesuatu David tetap saja tidak ragu mengeluarkan uang.Beberapa kali sebelumnya dia juga begitu."Jangan cuma bilang iya, tapi tetap nggak dilakukan..."Kalimat itu belum selesai, Lina sudah melihat Sam dan Alan yang tampak jauh lebih kurus.Dia terhenti sesaat, lalu kembali bersikap biasa dan melanjutkan ucapannya, "Kalau nggak, uangnya kamu titip saja ke aku. Nanti setelah pulang baru kukembalikan. Kalau nggak begitu, aku nggak ikut pergi."David tersenyum ramah. "Oke."Dia langsung merogoh dompetnya.Saat berpapasan, bibir Sam bergetar, suara seraknya memanggil nama yang telah terpatri dalam jiwanya, "Lina."Alan juga ikut memanggil lirih, "Ibu."David menoleh ke arah Lina, tetapi Lina bertingkah seakan tidak mendengar dan malah mendesak David, "Cepat, nanti bukunya keburu habis."David menjawab singkat, lalu menyambar kesempatan untuk menggenggam tangan Lina da

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 14

    Alisa jatuh sakit karena marah dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.Sam lalu pulang ke rumah untuk mengemas barang-barangnya, bersiap pergi ke ibu kota.Dia berniat membawa serta Alan. Dalam hatinya, Sam berpikir, sekalipun Lina marah padanya, begitu melihat putra mereka, hatinya pasti akan luluh dan bersedia ikut pulang.Asal Lina bisa kembali, Sam yakin masih punya banyak waktu untuk perlahan-lahan membuatnya berubah pikiran.Pada akhirnya, mereka bisa kembali menjadi keluarga harmonis beranggotakan empat orang.Soal masa depan ataupun impian besar, semua itu tidak lagi penting baginya.Alan tampak lesu dan diliputi rasa takut. "Ayah, kalau ibu nggak mau memaafkan kita, bagaimana?"Beberapa waktu terakhir, sikap Lili terhadapnya berubah drastis, dia sering memukul dan memarahi Alan.Barulah saat itu, Alan benar-benar mengerti apa yang dimaksud teman-teman sekolahnya ketika berkata bahwa ibu tiri selalu jahat.Ditambah lagi, di kompleks perumahan, semua orang tahu Alan itu anak durhaka

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 13

    David yang bekerja di bidang bisnis, memiliki relasi yang cukup luas.Beberapa hari setelah tahun baru, dia diam-diam meminta orang untuk membantu mengurus administrasi kependudukan dan pendidikan. Lina pun bisa mulai sekolah dan mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.Setelah diterima di universitas, Lina akan memiliki ijazah.Bahkan pendaftaran izin praktik kedokteran pun sudah diuruskan, sehingga saat ujian dimulai Lina bisa langsung mengikutinya.Semua ini tidak pernah diminta oleh Lina, tetapi Keluarga Hopper telah memikirkan semuanya untuknya.Masa depan Lina hanya akan makin baik, mustahil menjadi lebih buruk.Lina tidak tahu harus bagaimana membalas semua itu. Dia hanya bisa bekerja lebih keras serta belajar lebih tekun demi menghadapi ujian.Baru sebentar dia dan putrinya berada di klinik, Alicia perlahan kembali seperti saat tinggal di desa tempat Keluarga Houston tinggal.Ceria dan suka tertawa.Lina merawat kedua anaknya dengan sangat baik.Meskipun Sam jarang pulang, k

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 12

    Seusai makan, Keluarga Hopper mengajak Lina dan putrinya ke Klinik Pengobatan Tradisional Keluarga Hopper.Kamar untuk ibu dan anak itu sudah lama disiapkan, begitu juga dengan pekerjaan."Aku dan istriku sudah tahu kemampuan pengobatanmu. Kamu tinggal bekerja dengan tenang di sini. Klinik akan memberimu gaji setiap bulan. Jumlahnya nggak banyak, dua puluh ribu lebih rendah dari gaji Johan."Kak Johan mewarisi usaha orang tuanya dan juga menjadi dokter pengobatan tradisional. Sekarang, dia membuka praktik di klinik pengobatan tradisional, sementara istrinya bertugas meracik obat.Hanya David yang tidak berminat pada dunia pengobatan, beberapa tahun terakhir dia menekuni dunia bisnis.Mendengar perkataan Melissa, David langsung tertawa. "Ibu ini bagaimana, sih? Waktu Lina belum datang, tiap hari Ibu selalu memujinya dan bilang dia jauh lebih hebat dari kakak. Sekarang, Lina sudah datang, gajinya malah dua puluh ribu lebih rendah dari kakak! Aku ini tipe orang yang membela yang benar, bu

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 11

    Perpisahan itu berlangsung hampir sepuluh tahun.Saat Lina masih tinggal di desa tempat Keluarga Houston tinggal, Peter dan istrinya sesekali mengirimkan barang-barang yang hanya ada di ibu kota seperti buku, pakaian, makanan, dan minuman.Lina pun membalas dengan menulis surat serta mengirimkan hasil bumi khas desa dan ramuan obat.Meskipun jarak jauh dan transportasi tidak mudah, hubungan mereka tidak pernah terputus.Namun, dua bulan lalu, ketika Lina pergi ke pabrik kendaraan untuk mencari Sam, dia justru mendapati bahwa Sam sudah memiliki pasangan dan hendak menikah lagi.Sejak saat itu, Lina hanya menjadi seorang pembantu tanpa sandaran.Dalam dua bulan tersebut, Peter dan istrinya tidak berhasil menghubungi Lina dan merasa sangat khawatir.Mereka berusaha keras mencari tahu kabarnya di Alverton. Setelah mengetahui ada yang tidak beres, mereka segera memintanya datang ke ibu kota.Sekarang, akhirnya mereka dapat berkumpul kembali.Peter dan istrinya begitu gembira. "Ayo, kami aja

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 10

    Lina alergi terhadap ubi, tetapi Sam dengan sengaja menyuruhnya membuat kue ubi.Kemarin, peninggalan kakeknya hancur, Lina mengambil batu bata untuk memukul Lili, tetapi Sam mencegahnya.Tenaga Lina terlalu besar, jadi Sam pun menggunakan seluruh kekuatannya.Sam tahu betul seberapa besar tenaga yang dimilikinya.Apa pergelangan tangan Lina terluka karena ulahnya?Sam mengangkat tangan dan menampar dirinya sendiri dengan keras.Evan terkejut. "Pak Sam? Apa yang sedang kamu lakukan?"Sam menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa. Om Evan yakin mendengar dengan jelas, dia bilang mau mengejar kereta?"Evan mengangguk. "Saat aku bertugas semalam, aku hanya bertemu ibu dan anak itu. Hanya itu yang aku bicarakan dengannya, nggak mungkin aku salah ingat."Dia menambahkan, "Kalau bukan untuk mengejar kereta, mana mungkin dia berangkat dini hari sekitar pukul tiga atau empat."Kening Sam yang semula berkerut pun mengendur. "Om Evan, kamu benar. Terima kasih. Aku pergi mencari orang dulu, nanti aku

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status