Share

Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an
Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an
Penulis: Evi

Bab 1

Penulis: Evi
"Lina, apa sudah kamu pikirkan baik-baik, setengah bulan lagi kita berangkat ke ibu kota?"

Lina Watson menjawab pelan, tetapi tegas, "Ya."

"Baguslah! Guru dan nyonya guru sudah menunggumu di ibu kota."

Di seberang telepon, guru tidak tahan untuk bertanya lagi, "Tapi kudengar kamu sudah berkeluarga di sana selama delapan tahun, apa kamu benaran rela meninggalkan ayah dan anak itu? Lalu bagaimana dengan Alan? Kudengar anak itu lebih dekat dengan ayahnya. Apa dia mau ikut denganmu?"

Lina tersenyum getir. "Alan sudah nggak mengakui aku sebagai ibunya, mana mungkin dia mau ikut denganku. Aku akan membawa Alicia."

Sang guru di seberang hanya bisa menghela napas. "Kalau begitu, karena kamu sudah memutuskan, kita bertemu setengah bulan lagi di stasiun kereta ibu kota."

Setelah kembali mengucapkan terima kasih, Lina menutup telepon dan menggendong putrinya menuju rumah yang terasa asing.

Begitu memasuki kompleks perumahan, dia langsung ditahan tetangganya.

"Eh, acara kumpul-kumpul pabrik sudah dimulai. Lina, kenapa kamu malah pulang? Ayo, ikut lihat, banyak yang sudah menyiapkan penampilan."

Lina refleks ingin menolak, "Pekerjaan rumahku belum selesai..."

"Ah, pekerjaan apa? Acara kumpul-kumpul pabrik cuma setahun sekali. Meskipun kamu nggak mau menonton, Alicia pasti ingin lihat keramaian, bukan begitu, Alicia?"

Lina menatap putrinya yang kecil dan kurus.

Dia teringat bahwa Alicia yang tumbuh bersamanya di desa, tidak pernah melihat dunia luar.

Hatinya terasa perih. "Kalau begitu, ayo kita lihat sebentar."

Lina menggendong putrinya dan mengikuti tetangganya yang memimpin jalan. Belum juga masuk ke aula, suara riuh dari dalam sudah terdengar.

"Pak Sam dan Lili benar-benar pasangan serasi!"

"Lili, kapan Pak Sam mengundang kita ke pesta pernikahannya? Mumpung hari ini banyak orang, suruh saja dia bilang padamu di depan semua orang!"

"Pak Sam, kalian sudah berpacaran cukup lama, kapan mengundang kami makan di pesta pernikahan kalian?"

Lina memeluk erat putrinya dan berniat berbalik keluar.

Namun, tetangganya segera menariknya. "Lina, mau ke mana? Cepatlah, ayo kita juga lihat keseruan kepala pabrik dengan pacarnya!"

Lina menundukkan kepala, wajahnya menampilkan senyum getir.

Seluruh orang di pabrik kendaraan berat itu tahu bahwa Lili Fraser adalah kekasih Sam Houston.

Sementara dirinya hanyalah seorang wanita malang yang tidak bisa bertahan hidup di kampung halaman, lalu datang bersama putrinya untuk bergantung pada Sam.

Semua itu berkat kebaikan Sam. Dia memberi Lina pekerjaan sebagai pembantu di Rumah Keluarga Houston, sehingga memberi Lina jalan untuk bertahan hidup.

Tidak ada yang tahu bahwa dia dan Sam sebenarnya sudah menikah selama delapan tahun.

Di desa, Lina melahirkan dan membesarkan anak-anak, serta merawat mertuanya.

Baru setelah kedua mertuanya meninggal dunia satu per satu dan putrinya Alicia sudah cukup umur untuk bersekolah, Lina membawa anaknya datang menemui Sam.

Di dalam aula, Lili menundukkan kepala dengan wajah memerah.

Suara riuh orang-orang makin keras. "Ayo cepat katakan! Lili adalah putri mantan kepala pabrik, jadi para pekerja di pabrik kendaraan ini bisa dianggap keluarganya. Kalau hari ini kamu nggak mengatakan dengan jelas, jangan harap bisa lolos!"

Sam tertawa lebar dan berkata dengan lantang, "Lili, aku berencana mengadakan perjamuan pernikahan di kantin pabrik pada tanggal 22 bulan dua belas. Kita menikah, lalu bersama-sama merayakan tahun baru. Bagaimana menurutmu? Setelah menikah, kita hidup bahagia selamanya!"

Aula seketika bergemuruh dengan sorak-sorai.

Wajah Lili makin memerah, dia memandang Sam dengan malu-malu.

Kemudian, Sam berdiri di atas bangku dan berkata, "Hari ini semua orang jadi saksi. Kalau suatu hari nanti aku, Sam, melakukan sesuatu yang menyakiti Lili, kalian boleh langsung menghukumku. Aku nggak akan melawan bila dipukul, dan nggak akan membalas bila dimaki."

"Bagus!"

"Mendengar ucapanmu, kami jadi tenang."

"Lili, kamu pasti senang, 'kan? Pak Sam benar-benar baik padamu, dia memberimu pekerjaan ringan, di rumah juga ada pembantu supaya kamu nggak perlu bekerja. Pria sebaik ini bisa-bisanya kamu yang mendapatkannya."

Lina memeluk erat putrinya dan hendak pergi.

Alicia yang kini berusia lima tahun, sejak tiba di pabrik kendaraan selalu merasa takut.

Sekarang, melihat ayahnya hendak menikahi wanita lain, dia tidak sanggup lagi menahan diri dan langsung menangis keras.

Suara tangis anak itu membuat semua orang menoleh.

Di tengah kerumunan, Sam melototi Lina dan berkata dengan marah, "Untuk apa kamu membawanya ke sini? Hari ini semua orang sedang bahagia, kenapa kalian berdua malah sengaja bikin orang jengkel?"

Lina sibuk menenangkan putrinya dan tanpa sadar menjelaskan, "Alicia belum pernah lihat acara kumpul-kumpul, makanya kubawa ke sini."

Wajah Sam sekelebat menunjukkan rasa bersalah, tetapi itu segera lenyap.

Dia mengerutkan kening dan menegur dengan nada kesal, "Kalau datang ya datang saja, kenapa malah menangis! Di hari besar kayak gini malah membawa sial. Kalau kamu nggak bisa mengurus anak, jangan bawa dia ke tempat ramai untuk mempermalukan diri. Cepat pulang, sapu lantai dan lap meja!"

Apa Sam benar-benar tidak tahu alasan anaknya menangis?

Hati Lina terasa beku. Harapan terakhirnya terhadap Sam pun benar-benar sirna.

Masih ada setengah bulan lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 15

    Wajah David tampak tenang, setiap ucapan Lina selalu dia iyakan.Lina tahu, meskipun David mengangguk setuju, saat membeli sesuatu David tetap saja tidak ragu mengeluarkan uang.Beberapa kali sebelumnya dia juga begitu."Jangan cuma bilang iya, tapi tetap nggak dilakukan..."Kalimat itu belum selesai, Lina sudah melihat Sam dan Alan yang tampak jauh lebih kurus.Dia terhenti sesaat, lalu kembali bersikap biasa dan melanjutkan ucapannya, "Kalau nggak, uangnya kamu titip saja ke aku. Nanti setelah pulang baru kukembalikan. Kalau nggak begitu, aku nggak ikut pergi."David tersenyum ramah. "Oke."Dia langsung merogoh dompetnya.Saat berpapasan, bibir Sam bergetar, suara seraknya memanggil nama yang telah terpatri dalam jiwanya, "Lina."Alan juga ikut memanggil lirih, "Ibu."David menoleh ke arah Lina, tetapi Lina bertingkah seakan tidak mendengar dan malah mendesak David, "Cepat, nanti bukunya keburu habis."David menjawab singkat, lalu menyambar kesempatan untuk menggenggam tangan Lina da

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 14

    Alisa jatuh sakit karena marah dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.Sam lalu pulang ke rumah untuk mengemas barang-barangnya, bersiap pergi ke ibu kota.Dia berniat membawa serta Alan. Dalam hatinya, Sam berpikir, sekalipun Lina marah padanya, begitu melihat putra mereka, hatinya pasti akan luluh dan bersedia ikut pulang.Asal Lina bisa kembali, Sam yakin masih punya banyak waktu untuk perlahan-lahan membuatnya berubah pikiran.Pada akhirnya, mereka bisa kembali menjadi keluarga harmonis beranggotakan empat orang.Soal masa depan ataupun impian besar, semua itu tidak lagi penting baginya.Alan tampak lesu dan diliputi rasa takut. "Ayah, kalau ibu nggak mau memaafkan kita, bagaimana?"Beberapa waktu terakhir, sikap Lili terhadapnya berubah drastis, dia sering memukul dan memarahi Alan.Barulah saat itu, Alan benar-benar mengerti apa yang dimaksud teman-teman sekolahnya ketika berkata bahwa ibu tiri selalu jahat.Ditambah lagi, di kompleks perumahan, semua orang tahu Alan itu anak durhaka

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 13

    David yang bekerja di bidang bisnis, memiliki relasi yang cukup luas.Beberapa hari setelah tahun baru, dia diam-diam meminta orang untuk membantu mengurus administrasi kependudukan dan pendidikan. Lina pun bisa mulai sekolah dan mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.Setelah diterima di universitas, Lina akan memiliki ijazah.Bahkan pendaftaran izin praktik kedokteran pun sudah diuruskan, sehingga saat ujian dimulai Lina bisa langsung mengikutinya.Semua ini tidak pernah diminta oleh Lina, tetapi Keluarga Hopper telah memikirkan semuanya untuknya.Masa depan Lina hanya akan makin baik, mustahil menjadi lebih buruk.Lina tidak tahu harus bagaimana membalas semua itu. Dia hanya bisa bekerja lebih keras serta belajar lebih tekun demi menghadapi ujian.Baru sebentar dia dan putrinya berada di klinik, Alicia perlahan kembali seperti saat tinggal di desa tempat Keluarga Houston tinggal.Ceria dan suka tertawa.Lina merawat kedua anaknya dengan sangat baik.Meskipun Sam jarang pulang, k

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 12

    Seusai makan, Keluarga Hopper mengajak Lina dan putrinya ke Klinik Pengobatan Tradisional Keluarga Hopper.Kamar untuk ibu dan anak itu sudah lama disiapkan, begitu juga dengan pekerjaan."Aku dan istriku sudah tahu kemampuan pengobatanmu. Kamu tinggal bekerja dengan tenang di sini. Klinik akan memberimu gaji setiap bulan. Jumlahnya nggak banyak, dua puluh ribu lebih rendah dari gaji Johan."Kak Johan mewarisi usaha orang tuanya dan juga menjadi dokter pengobatan tradisional. Sekarang, dia membuka praktik di klinik pengobatan tradisional, sementara istrinya bertugas meracik obat.Hanya David yang tidak berminat pada dunia pengobatan, beberapa tahun terakhir dia menekuni dunia bisnis.Mendengar perkataan Melissa, David langsung tertawa. "Ibu ini bagaimana, sih? Waktu Lina belum datang, tiap hari Ibu selalu memujinya dan bilang dia jauh lebih hebat dari kakak. Sekarang, Lina sudah datang, gajinya malah dua puluh ribu lebih rendah dari kakak! Aku ini tipe orang yang membela yang benar, bu

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 11

    Perpisahan itu berlangsung hampir sepuluh tahun.Saat Lina masih tinggal di desa tempat Keluarga Houston tinggal, Peter dan istrinya sesekali mengirimkan barang-barang yang hanya ada di ibu kota seperti buku, pakaian, makanan, dan minuman.Lina pun membalas dengan menulis surat serta mengirimkan hasil bumi khas desa dan ramuan obat.Meskipun jarak jauh dan transportasi tidak mudah, hubungan mereka tidak pernah terputus.Namun, dua bulan lalu, ketika Lina pergi ke pabrik kendaraan untuk mencari Sam, dia justru mendapati bahwa Sam sudah memiliki pasangan dan hendak menikah lagi.Sejak saat itu, Lina hanya menjadi seorang pembantu tanpa sandaran.Dalam dua bulan tersebut, Peter dan istrinya tidak berhasil menghubungi Lina dan merasa sangat khawatir.Mereka berusaha keras mencari tahu kabarnya di Alverton. Setelah mengetahui ada yang tidak beres, mereka segera memintanya datang ke ibu kota.Sekarang, akhirnya mereka dapat berkumpul kembali.Peter dan istrinya begitu gembira. "Ayo, kami aja

  • Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an   Bab 10

    Lina alergi terhadap ubi, tetapi Sam dengan sengaja menyuruhnya membuat kue ubi.Kemarin, peninggalan kakeknya hancur, Lina mengambil batu bata untuk memukul Lili, tetapi Sam mencegahnya.Tenaga Lina terlalu besar, jadi Sam pun menggunakan seluruh kekuatannya.Sam tahu betul seberapa besar tenaga yang dimilikinya.Apa pergelangan tangan Lina terluka karena ulahnya?Sam mengangkat tangan dan menampar dirinya sendiri dengan keras.Evan terkejut. "Pak Sam? Apa yang sedang kamu lakukan?"Sam menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa. Om Evan yakin mendengar dengan jelas, dia bilang mau mengejar kereta?"Evan mengangguk. "Saat aku bertugas semalam, aku hanya bertemu ibu dan anak itu. Hanya itu yang aku bicarakan dengannya, nggak mungkin aku salah ingat."Dia menambahkan, "Kalau bukan untuk mengejar kereta, mana mungkin dia berangkat dini hari sekitar pukul tiga atau empat."Kening Sam yang semula berkerut pun mengendur. "Om Evan, kamu benar. Terima kasih. Aku pergi mencari orang dulu, nanti aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status