Home / Rumah Tangga / Luka Yang Tak Pernah Selesai / BAB 10 – ANTARA LUKA DAN RINDU

Share

BAB 10 – ANTARA LUKA DAN RINDU

Author: Adeliaraaa
last update Last Updated: 2025-10-15 07:00:06

Malam sudah larut ketika Nira masih menatap layar laptopnya di ruangan kecil tempatnya bekerja. Semua orang sudah pulang sejak sejam lalu, tapi pikirannya tak berhenti berputar. Bukan karena laporan yang belum selesai, tapi karena Raka.

Sejak kejadian di ruang rapat sore tadi — ketika Raka menatapnya lama tanpa bicara apa-apa — jantungnya tak mau tenang. Tatapan itu... tajam tapi juga penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.

Nira menutup laptopnya perlahan, menarik napas panjang. Ia berjalan menuju lift, tapi langkahnya terhenti ketika melihat lampu di ruang direktur masih menyala. Raka masih di sana.

Ia sempat ragu. Haruskah ia menyapa? Atau pura-pura tak melihat?

Namun sebelum sempat memutuskan, suara berat itu terdengar dari balik pintu kaca.

> “Masuk saja kalau memang dari tadi menatap, Nira.”

Suara itu membuat tubuhnya membeku. Raka tidak melihat ke arah pintu, tapi entah bagaimana ia tahu Nira berdiri di sana.

Dengan langkah gugup, Nira mendorong pintu dan masuk. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan — aroma yang sama seperti dulu, aroma yang selalu menenangkan sekaligus menyakitkan.

Raka duduk di balik meja, lengan kemejanya tergulung, memperlihatkan urat di lengannya. Tatapan dinginnya tak banyak berubah, tapi ada lelah di sana — lelah yang entah karena pekerjaan atau karena sesuatu yang lebih dalam.

> “Masih lembur?” tanyanya tanpa menatap.

> “Iya, sedikit lagi selesai.”

“Bagus. Kamu selalu rajin, dari dulu juga begitu.”

Nada suaranya datar, tapi kalimat terakhir itu membuat dada Nira terasa sesak. “Dari dulu juga begitu.” Kalimat sederhana, tapi penuh kenangan.

> “Kamu masih suka kopi hitam?” tanya Raka tiba-tiba.

“Sudah jarang,” jawab Nira pelan. “Sekarang lebih suka yang manis.”

Raka tersenyum tipis — senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya kini.

> “Manis, ya… padahal dulu kamu bilang nggak suka yang manis, karena hidupmu sudah cukup pahit.”

Nira terdiam. Kata-kata itu seperti peluru yang menembus balik kenangan lama. Ia masih ingat hari itu — lima tahun lalu — saat ia meninggalkan Raka di bawah hujan tanpa sempat menjelaskan apapun.

> “Raka…” suara Nira bergetar. “Kamu masih marah?”

Raka akhirnya mendongak. Matanya tajam, tapi kali ini tak ada kebencian di sana — hanya luka yang tak sempat disembuhkan.

> “Marah?” Ia tertawa lirih. “Kalau aku marah, mungkin aku sudah nggak akan biarkan kamu kerja di sini. Tapi aku cuma... belum bisa lupa.”

Ruangan mendadak terasa sempit. Nira ingin bicara, menjelaskan, mengatakan semua hal yang ia pendam selama ini. Tapi lidahnya kelu. Ia tahu, belum saatnya.

> “Maaf, Raka.”

> “Jangan minta maaf, Nira. Cuma… jangan buat aku berharap lagi.”

Hening.

Hanya suara detik jam yang terdengar, perlahan memecah kesunyian di antara dua hati yang belum sembuh.

Nira menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.

> “Aku nggak akan buat kamu berharap,” katanya pelan. “Tapi aku juga nggak bisa pura-pura kalau aku sudah lupa.”

Raka menatapnya lama — kali ini lebih lembut, seperti ada sesuatu yang hampir runtuh di balik dinding dinginnya.

> “Pulanglah. Sudah malam,” ujarnya akhirnya.

“Kamu juga.”

Nira melangkah keluar, menutup pintu perlahan. Begitu ia sampai di lift, air matanya benar-benar jatuh.

Yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan lima tahun lalu, tapi kenyataan bahwa mereka masih saling mencintai — dan tak tahu harus bagaimana.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 28 – Fragmen yang Hilang

    Raka menatap langit yang baru saja berhenti menangis. Bau tanah basah menyelinap di udara malam yang dingin. Di genggamannya, darah mengering di ujung jarinya — bukan darah siapa pun yang bisa ia pastikan. Tapi ia tahu satu hal: ia terlambat.Apartemen di depannya berantakan. Pintu utama rusak, separuh kusen terhempas seperti dihantam sesuatu yang sangat kuat. Di lantai, pecahan kaca berserakan, bercampur jejak langkah yang menuju keluar… dan hilang begitu saja di lorong yang basah.“Nira…” gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menatap sekeliling, mencari tanda-tanda kehidupan. Tapi yang tersisa hanya laptop yang masih menyala di meja — satu-satunya sumber cahaya di tengah ruangan gelap itu.Raka berjalan mendekat. Di layar, file baru muncul secara otomatis.> Mirror_04.mp4Tangannya bergetar saat menekan tombol play.Layar menampilkan rekaman kabur. Di dalamnya, Nira terlihat berdiri di depan Alena. Suara mereka tak terdengar jelas, hanya gemuruh listrik dan denyut jantung dari

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   Bab 27 — Cermin Ketiga

    Udara dingin masih tertinggal, menyelusup lewat celah jendela apartemen yang setengah terbuka. Bau tanah basah bercampur aroma logam dan listrik terbakar—sisa dari gangguan yang mematikan lampu beberapa menit lalu.Nira berdiri mematung di tengah ruangan. Tatapannya terpaku pada sosok di depannya.Alena. Hidup. Nyata. Basah kuyup, tapi matanya penuh api.“Jangan takut,” suara Alena nyaris seperti bisikan.Namun tak ada yang menenangkan dalam nada itu—lebih seperti peringatan.“Gimana… bisa?” Nira berbisik, langkahnya mundur tanpa sadar. “Aku lihat sendiri datanya… kamu sudah—”“Mati?” Alena memotong, suaranya dingin. “Itu yang mereka ingin kau percayai.”Ia berjalan perlahan, setiap langkahnya memantulkan suara air dari lantai.“Raka yang menandatangani surat itu. Tapi dia pikir dia menyelamatkanku. Padahal… dia menghapusku.”Nira terdiam. Di dadanya, napasnya memburu.“Apa maksudmu, menghapusmu?”Alena berhenti satu meter di depannya. “Kesadaranku disalin. Mereka simpan duplikat piki

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 26 — SUARA DARI BALIK GELAP

    Suara gemuruh dari mesin tua menggema di lorong sempit itu. Lampu neon berkedip, menciptakan bayangan aneh di dinding yang lembap.Alena berdiri di depan layar besar, wajahnya diterangi cahaya biru pucat dari monitor. Di layar, dua wajah yang dulu ia kenal begitu baik — Raka dan Nira — kini tampak tegang, saling mencurigai.Ia menyentuh permukaan kaca monitor pelan, seperti membelai sesuatu yang rapuh.“Sudah mulai, ya…” gumamnya lirih, bibirnya membentuk senyum tipis yang entah sedih, entah puas.Di belakangnya, seorang pria bertubuh tinggi masuk ke ruangan. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan.“Semua sistem sudah jalan. Sinyal pengawasan dari gedung pusat terkunci. Mereka nggak akan sadar kau masih hidup.”Alena menatapnya sekilas. “Itu bagus. Tapi waktu kita nggak banyak. Raka udah mulai curiga.”Pria itu diam beberapa saat, lalu bertanya pelan, “Kau yakin masih mau lanjutkan ini, Alena? Setelah semua yang terjadi?”Alena menoleh, sorot matanya tajam. “Aku nggak punya pilihan. M

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 25 — Bayangan yang Tak Pernah Pergi

    Suara hujan semakin deras malam itu. Nira masih duduk di lantai, matanya tak lepas dari jendela tempat siluet tadi berdiri. Tapi kini, bayangan itu telah menghilang.Yang tersisa hanyalah gemericik air dan pantulan lampu kota yang remang di kaca.Tangannya gemetar ketika meraih ponsel lagi. Nomor yang tadi menelepon sudah tak bisa dilacak—tidak ada riwayat, tidak ada panggilan keluar atau masuk. Seolah… panggilan itu tidak pernah terjadi.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi jantungnya tetap berdegup tak beraturan.“‘Aku seseorang yang seharusnya sudah mati…’” gumamnya lirih, mengulang kata-kata itu.Suara itu—terdengar terlalu nyata untuk sekadar halusinasi. Terlalu dekat. Terlalu familiar.Alena.Nama itu berputar di kepalanya, seperti gema yang tak mau berhenti.Apakah mungkin… Alena masih hidup?Keesokan paginya, kantor terasa seperti labirin dingin. Semua orang berjalan terburu-buru, mata mereka menunduk, seolah ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan.Raka

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 24 — BAYANGAN DI BALIK KACA

    Pagi itu udara terasa berat. Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi suasana kantor sudah dipenuhi tekanan yang tak terlihat. Nira datang lebih pagi dari biasanya, namun entah kenapa langkahnya terasa ragu.Begitu memasuki lobi, ia melihat Reno—kepala keamanan—berbicara dengan dua orang berseragam hitam di depan ruang server. Begitu menyadari kehadirannya, Reno menunduk sopan.“Pagi, Bu Nira.”“Pagi. Ada apa di ruang server?” tanyanya pelan, mencoba terdengar tenang.Reno menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Ada beberapa rekaman yang hilang, Bu. Tepat malam sebelum email itu masuk.”Nira menegang. “Maksud kamu diretas lagi?”Reno menggeleng. “Bukan. Seseorang menghapusnya langsung dari sistem utama. Tapi yang aneh, file backup-nya juga lenyap. Seolah... orang itu tahu semua jalur penyimpanan.”Nira menatapnya dalam-dalam. “Kamu udah bilang Raka?”“Sudah, Bu. Tapi beliau minta saya nggak heboh dulu, takut bikin kepanikan di tim.”Nira hanya mengangguk. Tapi dalam hati, ia tahu—sesuatu

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 23 — BAYANGAN YANG TAK PERNAH PERGI

    Pagi datang dengan sunyi yang ganjil.Langit tampak kelabu, seolah sisa hujan semalam masih menggantung di udara. Nira berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri — mata sembab, bibir kering, dan tatapan yang kehilangan arah.Raka masih di ruang kerja, menatap layar laptopnya dengan wajah keras. Sejak semalam, mereka hampir tak bicara. Hanya ada diam yang menggantung, menyimpan ratusan pertanyaan yang belum berani diucapkan.“Nira,” panggil Raka akhirnya, suaranya berat. “Aku butuh kamu hari ini ikut aku ke gedung arsip lama.”Nira menoleh. “Untuk apa?”“Ada dokumen merger lima tahun lalu yang baru ditemukan. Data itu bisa jelaskan kenapa nama Alena muncul lagi di sistem.”Nira menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk.Ia tahu — kalau mau menemukan jawaban, satu-satunya jalan adalah kembali ke masa lalu yang mereka hindari.Gedung arsip lama berdiri di pinggiran kota, di antara pohon-pohon tinggi dan tembok berlumut. Bangunannya sudah lama tak digunakan, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status