Share

Bab 7

Penulis: Novi R
last update Tanggal publikasi: 2025-11-10 15:02:47

"DI MANA ANAKKU?!”

Jeritan itu menggema di seluruh lorong rumah sakit.

Anggi terbangun dari koma dengan napas terengah, tubuhnya lemah, selang oksigen menghalangi geraknya. Namun tatapan matanya tajam—penuh kepanikan liar. Ia mencoba bangkit dari ranjang, tapi rasa sakit di perut akibat operasi membuatnya meringis.

Perawat menahan bahunya.

“Ibu belum boleh bangun, jahitannya baru—”

“Aku mau anakku! Sekarang!”

Pintu kamar terbuka. Raka masuk tergesa.

“Anggi, kamu bangun… puji Tuhan.” Ia mendekat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Luka di Ujung Senja   Bab 116

    Beberapa minggu berlalu tanpa terasa. Perubahan yang dulu terasa besar, kini menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sudut Napas tetap ada, kelompok kecil tetap berjalan, dan papan emosi di rumah terus bertambah tulisan—kadang satu kalimat, kadang hanya satu kata. Rafa tidak lagi menghitung hari sejak ia mulai belajar “tidak selalu harus ada”. Ia hanya menjalani. Dan justru karena itu, ia mulai melihat hal-hal yang dulu terlewat. — Suatu pagi di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada kejadian besar, tapi karena pengumuman di papan mading. Ada tulisan dari pihak sekolah: “Minggu depan akan diadakan Hari Ekspresi Diri.” Di bawahnya ada penjelasan: siswa boleh menampilkan karya apa pun—tulisan, gambar, musik, atau bentuk ekspresi lainnya. Rafa membaca cukup lama. Dika muncul di sampingnya. “Kamu bakal ikut?” tanyanya. Rafa mengangkat bahu. “Belum tahu.” “Kamu kan punya banyak yang bisa ditulis.” Rafa tersenyum kecil. “Banyak yang dirasain, iya. Tapi n

  • Luka di Ujung Senja   Bab 115

    Hari-hari berikutnya Rafa mulai menyadari bahwa hidupnya tidak lagi berputar hanya di sekitar Sudut Napas atau cerita orang lain. Ada ruang lain yang perlahan kembali muncul: tugas sekolah, obrolan ringan dengan teman, bahkan rasa bosan yang dulu terasa asing. Suatu sore, ia duduk di kamar, menatap buku matematika yang terbuka sejak tadi. Belum disentuh. Ia menghela napas. “Dulu aku pengen punya waktu kosong,” gumamnya pelan. “Sekarang dikasih… malah bingung mau ngapain.” Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Di luar kamar, Anggi mengetuk pelan. “Masuk ya?” “Masuk.” Anggi membuka pintu, membawa dua gelas teh. “Kamu kelihatan lagi mikir,” katanya sambil duduk di kursi. “Aku lagi nggak ada yang harus dikerjain… tapi malah nggak tenang,” jawab Rafa jujur. Anggi mengangguk. “Karena kamu terbiasa sibuk dengan orang lain.” Rafa menatapnya. “Terus sekarang harus gimana?” “Belajar diam tanpa merasa bersalah,” jawab Anggi sederhana. Rafa menyandarkan punggungnya ke dinding. “K

  • Luka di Ujung Senja   Bab 114

    Beberapa hari setelah itu, sesuatu berubah lagi—pelan, hampir tidak terasa kalau tidak diperhatikan baik-baik. Bukan juga pada papan emosi di rumah. Tapi pada Rafa sendiri. Ia mulai punya jeda. Jeda sebelum merespons. Jeda sebelum merasa harus melakukan sesuatu. Dan di dalam jeda itu, ia menemukan hal baru: pilihan. — Suatu siang di sekolah, Rafa sedang berjalan menuju kantin ketika ia mendengar suara ribut dari belakang gedung. Bukan teriak besar. Lebih seperti suara yang ditahan-tahan, tapi tajam. Ia berhenti. Dua anak laki-laki berdiri saling berhadapan. Salah satunya Arman. Yang satu lagi Rafa tidak terlalu kenal. “Udah gue bilang, jangan ikut campur!” kata anak itu. Arman tidak menjawab. Rahangnya tegang. Rafa berdiri cukup jauh. Dulu, ia mungkin langsung masuk, mencoba menenangkan, menjadi penengah. Sekarang, ia tetap di tempat. Mengamati. Menunggu. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena ia belajar: tidak semua situasi butuh dia. Beberapa detik berlalu. Gu

  • Luka di Ujung Senja   Bab 113

    Hari berikutnya dimulai dengan sesuatu yang tidak biasa: Rafa terlambat bangun. Bukan karena ia lupa pasang alarm, tapi karena tubuhnya benar-benar tidak ingin bangun lebih cepat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidur tanpa mimpi yang penuh potongan suara orang lain. Ia membuka mata perlahan, melihat cahaya matahari sudah masuk cukup jauh ke dalam kamar. “Yah,” gumamnya pelan. Di luar, suara Anggi terdengar. “Rafa, bangun. Udah jam segini.” “Udah bangun,” jawabnya, meski masih berbaring. Ia duduk, mengusap wajah, lalu menarik napas panjang. Tidak ada rasa panik. Tidak ada perasaan dikejar sesuatu. Hanya sedikit terburu, seperti anak sekolah biasa. Dan itu terasa… normal. — Di meja makan, Rendra sudah siap berangkat kerja. “Kamu telat,” katanya singkat, tapi tidak menghakimi. “Iya,” jawab Rafa sambil mengambil roti. Anggi menyodorkan segelas susu. “Nggak apa-apa sesekali.” Rafa menatapnya sebentar. “Aku nggak mimpi aneh semalam.” “Bagus,” kata Anggi. Re

  • Luka di Ujung Senja   Bab 112

    Langit masih abu-abu, tapi tidak berat. Seperti dunia sedang menarik napas panjang setelah semalam menangis pelan. Rafa bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa saat, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa-apa. Earphone yang diberikan anak itu masih tergeletak di meja kecil di sampingnya. Ia meraihnya. Tidak langsung dipakai—hanya digenggam, seperti memastikan sesuatu itu benar-benar ada. Di luar kamar, suara piring dari dapur terdengar ringan. Tidak tergesa. Tidak tegang. Rafa berdiri, membuka pintu, dan berjalan keluar. Anggi sedang menuang teh. Rendra duduk sambil membaca sesuatu di ponselnya, kacamata bertengger di ujung hidung. “Pagi,” kata Rafa. “Pagi,” jawab Anggi, menoleh dengan senyum kecil. “Hari ini jadwal jaga kamu?” Rafa mengangguk. “Iya… tapi gantian sama Dika.” “Bagus,” sahut Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Jangan ambil semua shift lagi.” Rafa mengangkat alis. “Aku nggak pernah—” “Pernah,” potong Anggi rin

  • Luka di Ujung Senja   Bab 111

    Pagi itu Rafa duduk di lantai ruang tengah dengan tas sekolah masih di punggung. Ia tidak melepas sepatu. Anggi yang baru keluar kamar langsung tahu: ada sesuatu. “Di luar dulu atau di dalam dulu?” tanyanya pelan—pertanyaan yang biasa ia pakai saat Rafa membawa cerita berat. “Di dalam,” jawab Rafa. Ia membuka tas, bukan mengeluarkan buku, tapi secarik kertas yang sudah diremas lalu dirapikan lagi. “Itu dari papan di sekolah,” katanya. “Ada yang masukin ke kotak saran.” Anggi tidak mengambil kertas itu. Ia menunggu. Rafa membacanya pelan. “Aku nulis di papan, tapi orang yang rumahnya ribut tiap malam nggak bisa napas cuma dengan nulis.” Sunyi jatuh, berat tapi jujur. Rafa menatap lantai. “Aku merasa… kita ngajarin orang ngomong, tapi nggak selalu bisa ngubah keadaan mereka.” Anggi duduk di depannya. “Itu benar.” Rafa mengangkat wajah, kaget. “Kita memang nggak bisa memperbaiki semua rumah,” lanjut Anggi lembut. “Tapi kita bisa jadi tempat orang ingat bahwa yang mereka rasa

  • Luka di Ujung Senja   Bab 88

    Hujan turun lebih deras menjelang malam, seperti langit ikut memutuskan bahwa hari ini belum selesai. Anggi berdiri di dapur, menatap air yang mengalir di kaca jendela. Pantulan wajahnya terlihat tenang, tapi di dalamnya ada sesuatu yang lama bergerak lagi—bukan luka terbuka, melainkan bekas jahit

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Luka di Ujung Senja   Bab 83

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap di sela tirai, menyentuh dinding kamar seperti tangan yang ragu-ragu membangunkan seseorang. Anggi terjaga sebelum alarm, kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia berbaring beberapa detik, mendengarkan napas Rendra di sampingnya—teratur

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Luka di Ujung Senja   Bab 87

    Hujan malam itu tidak berhenti sampai dini hari. Bukan deras, tapi cukup lama untuk membuat udara pagi terasa berat, seperti dunia belum sepenuhnya bangun. Anggi sudah duduk di meja makan dengan secangkir teh ketika ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Ia hampir membiarkannya, tapi entah kenap

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Luka di Ujung Senja   Bab 89

    Akhir pekan datang dengan matahari yang terlalu cerah untuk ukuran hati yang masih pelan-pelan menyesuaikan. Rafa sudah berdiri di depan jendela sejak pagi, seperti satpam kecil yang menunggu tamu penting. “Jam berapa Dito sampai?” tanyanya untuk ketiga kali. “Kalau kamu tanya lagi, mobilnya mun

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status