Share

Bab 8

Penulis: Novi R
last update Tanggal publikasi: 2025-11-11 20:34:02
"STOP! Jangan tanda tangan!”

Suara itu menghantam udara NICU seperti palu godam.

Semua orang menoleh serempak.

Di pintu berdiri seorang perempuan anggun berusia awal empat puluh. Rambutnya terikat rapi, busana mahal, riasan sempurna. Di belakangnya, dua pria bersetelan hitam membawa map hukum dan identitas rumah sakit.

Perempuan itu melangkah masuk penuh wibawa, tumit sepatunya memantul di lantai vinyl.

Raka mematung.

Ardi mengerutkan dahi.

Anggi hanya bisa menatap tanpa suara, tub
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Luka di Ujung Senja   Bab 121

    Hari-hari terus berganti Tidak ada lagi rasa mendesak seperti dulu. Tidak ada lagi perasaan harus segera melakukan sesuatu agar semuanya “baik-baik saja”. Rafa mulai hidup dengan ritme yang lebih tenang—bukan karena semua masalah hilang, tapi karena ia tidak lagi memikul semuanya sendiri. Suatu pagi, sebelum berangkat sekolah, Rafa berdiri agak lama di depan dua papan itu. Ia tidak membaca semua tulisan. Tidak juga mencari sesuatu. Ia hanya berdiri. Melihat. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia tidak lagi datang ke papan itu karena butuh—tapi karena ingin. Itu perbedaan yang kecil. Tapi berarti. — “Ibu,” panggilnya pelan. Anggi keluar dari dapur. “Hm?” “Aku hari ini nggak kepikiran apa-apa.” Anggi tersenyum kecil. “Itu bukan hal buruk.” Rafa mengangguk. “Dulu aku kira kalau kepala kosong itu berarti aku nggak peduli.” “Sekarang?” “Sekarang… mungkin itu berarti aku lagi istirahat.” Anggi mendekat, merapikan kerah baju Rafa sedikit. “Dan kamu berhak untuk

  • Luka di Ujung Senja   Bab 120

    Waktu berjalan Tidak ada peristiwa besar yang menandai perubahan, tidak ada kejadian yang membuat semuanya terasa berbeda dalam satu hari. Tapi justru di situlah sesuatu tumbuh—pelan, diam, dan menetap. Rafa mulai jarang berdiri lama di depan papan. Bukan karena ia tidak peduli lagi. Tapi karena ia tidak lagi butuh memastikan dirinya “baik-baik saja” setiap waktu. Kadang ia hanya lewat, membaca sekilas, lalu lanjut. Dan itu cukup. — Suatu pagi di sekolah, Rafa datang lebih awal. Gerbang masih setengah terbuka, halaman belum ramai. Ia berjalan pelan menuju Sudut Napas. Tempat itu kosong. Seperti biasanya di pagi hari. Ia duduk di kursi, meletakkan tas di sampingnya. Udara masih dingin. Dan untuk beberapa menit, ia hanya duduk tanpa tujuan. Tidak menunggu siapa pun. Tidak memikirkan apa pun. Hanya… ada. Langkah kaki terdengar dari jauh. Rafa menoleh. Ternyata Arman. “Kamu pagi banget,” kata Arman sambil duduk di sebelahnya. “Iya… lagi pengen aja,” jawab Rafa. Mere

  • Luka di Ujung Senja   Bab 119

    Beberapa hari setelah papan kedua mulai terisi, rumah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara drastis, tapi karena kini ada dua arah untuk melihat. Satu papan penuh—dengan tulisan yang saling tumpang tindih, jejak emosi yang sudah pernah dilalui. Satu lagi masih lapang—memberi ruang untuk hal-hal yang belum terjadi. Rafa sering berdiri di tengah-tengahnya. Melihat ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti membaca masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas. — Suatu sore, ia pulang lebih awal dari biasanya. Sekolah selesai cepat karena ada rapat guru. Rumah masih sepi. Anggi belum pulang dari pasar. Rendra masih di kantor. Rafa membuka pintu, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai ruang tengah. Tidak menyalakan TV. Tidak membuka ponsel. Ia hanya duduk. Awalnya terasa canggung. Lalu pelan-pelan… biasa. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap papan lama. Matanya berhenti di satu tulisan yang hampir pudar: “Hari ini aku nggak

  • Luka di Ujung Senja   Bab 118

    Beberapa hari setelah itu, suasana sekolah kembali seperti biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Tapi sesuatu tetap tertinggal. Bukan di aula. Melainkan di cara orang-orang saling memandang. Lebih pelan. Lebih sadar. — Rafa mulai merasakannya dari hal kecil. Saat ia berjalan di koridor, beberapa siswa yang dulu hanya lewat kini mengangguk kecil. Bukan seperti mengenal dekat, tapi seperti tahu—“aku pernah dengar kamu.” Ia tidak merasa jadi pusat perhatian. Dan itu melegakan. Ia tetap Rafa. Hanya saja… sedikit lebih terlihat. — Di Sudut Napas, perubahan itu juga terasa. Tidak drastis. Tapi ada lebih banyak kertas di kotak. Lebih banyak yang datang—meski tidak selalu untuk bicara. Hari itu, Rafa duduk bersama Dika saat jadwal jaga. Seorang anak laki-laki kelas bawah datang. Ia duduk, tidak bicara. Lalu berkata pelan, “Aku denger kamu waktu itu.” Rafa menoleh. Anak itu tidak menatapnya. “Aku pikir… cuma aku yang mikir kayak gitu.

  • Luka di Ujung Senja   Bab 117

    Hari Ekspresi Diri akhirnya tiba. Sekolah terasa berbeda sejak pagi. Ada semacam getaran kecil di udara—bukan tegang, tapi penuh antisipasi. Beberapa siswa membawa alat musik, beberapa memegang kertas berisi tulisan, dan ada juga yang hanya berjalan seperti biasa, memilih menjadi penonton. Rafa datang seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung. Langkah tidak terburu. Tapi ada satu hal yang berbeda: ia membawa kertas kecil di saku. Bukan karena sudah memutuskan untuk tampil. Hanya… berjaga-jaga. — Di aula sekolah, kursi-kursi sudah disusun rapi. Panggung sederhana di depan, dengan mikrofon berdiri di tengah. Tidak megah. Tapi cukup. Rafa duduk di barisan tengah bersama Dika. “Deg-degan?” tanya Dika. Rafa mengangkat bahu. “Aku kan nggak tampil.” Dika tersenyum. “Belum tentu.” Rafa tidak menjawab. Ia menatap panggung. Satu per satu siswa mulai tampil. Ada yang menyanyi. Ada yang membaca puisi. Ada yang bercerita tentang pengalaman pribadi. Beberapa suara bergeta

  • Luka di Ujung Senja   Bab 116

    Beberapa minggu berlalu tanpa terasa. Perubahan yang dulu terasa besar, kini menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sudut Napas tetap ada, kelompok kecil tetap berjalan, dan papan emosi di rumah terus bertambah tulisan—kadang satu kalimat, kadang hanya satu kata. Rafa tidak lagi menghitung hari sejak ia mulai belajar “tidak selalu harus ada”. Ia hanya menjalani. Dan justru karena itu, ia mulai melihat hal-hal yang dulu terlewat. — Suatu pagi di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada kejadian besar, tapi karena pengumuman di papan mading. Ada tulisan dari pihak sekolah: “Minggu depan akan diadakan Hari Ekspresi Diri.” Di bawahnya ada penjelasan: siswa boleh menampilkan karya apa pun—tulisan, gambar, musik, atau bentuk ekspresi lainnya. Rafa membaca cukup lama. Dika muncul di sampingnya. “Kamu bakal ikut?” tanyanya. Rafa mengangkat bahu. “Belum tahu.” “Kamu kan punya banyak yang bisa ditulis.” Rafa tersenyum kecil. “Banyak yang dirasain, iya. Tapi n

  • Luka di Ujung Senja   Bab 65

    Hari-hari berikutnya tidak membawa kejutan besar, tapi justru di situlah Anggi menemukan sesuatu yang dulu selalu ia cari tanpa sadar: kestabilan yang tidak membosankan. Hidupnya tidak menjadi datar—ia tetap naik turun—namun ia tidak lagi terombang-ambing. Suatu pagi, Anggi menerima pesan suara da

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Luka di Ujung Senja   Bab 57

    Waktu terus berjalan, dan Anggi mulai menyadari sesuatu yang halus namun penting: hidupnya tidak lagi dibangun dari reaksi, melainkan dari niat. Ia tidak menunggu masalah datang baru bergerak. Ia juga tidak menghindari kemungkinan buruk dengan menutup diri. Ia berjalan—dengan mata terbuka, langkah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Luka di Ujung Senja   Bab 61

    Waktu bergerak tanpa menunggu kesiapan siapa pun, tapi Anggi kini tidak lagi merasa tertinggal olehnya. Setelah menerima promosi dengan batasan yang ia tetapkan sendiri, hari-harinya menjadi lebih padat, namun tidak lagi terasa menelan dirinya bulat-bulat. Ia belajar satu hal penting: sibuk tidak s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Luka di Ujung Senja   Bab 59

    Beberapa minggu setelah hari di taman itu, hidup Anggi kembali diuji dengan cara yang lebih sunyi—tanpa ledakan, tanpa drama besar, hanya tekanan yang datang perlahan dan menetap. Suatu sore, saat Anggi sedang menyusun laporan di rumah, ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Ia hampir mengabaikann

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status