로그인Clara tidak percaya dengan ini, namun pakaiannya dengan yang terjadi di masa lalu sangatlah mirip.
Namun, ia segera bersikap lebih tegas meskipun bingung, "Tanggal berapa sekarang?"
"Ini tanggal 20 Februari tahun 20XX dan kau mengajakku mendaftarkan pernikahan," jelas Erick yang juga heran karena Clara terlihat kebingungan. Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan melihat area sekitarnya, tak lupa mencubit lengannya sendiri dan sedetik kemudian dirinya menyadari satu hal. Ini bukan mimpi, ia kembali ke masa lalu, masa di mana belum ada janji suci pernikahannya bersama Erick. Artinya, ia bisa mengubah keadaan dan tidak menikah dengan pria ini. Kemudian, Clara menutup mulutnya dan matanya mulai berair. Ia tidak akan mati sia-sia karena kebodohannya sendiri yang memaksakan diri membuat Erick menikahinya, apalagi pria ini juga terlihat tidak mencintainya. "Ayo!" Erick menggandeng wanitanya daripada membuang waktu, meskipun terpaksa dan dirinya akan terjerat seumur hidup. Digandeng sedikit kasar, Clara rasakan dadanya berdegup kencang dan jika dirinya tidak mengambil langkah hari ini, maka takdir akan menyiksanya di kemudian hari. Hal itu tidak boleh terjadi. Clara yang sudah diberikan kesempatan untuk kembali memperbaiki semuanya lantas menghentikan langkahnya ketika kini keduanya berada di depan pintu utama kantor catatan sipil. "Hentikan!" ujarnya seraya melepaskan tautan tangan dan memberikan sikap tegas. Erick yang menerima sikap tegas Clara lantas mengerutkan keningnya, "Kenapa lagi? Kau mau merajuk?" Seolah Clara tahu bahwa semenjak awal Erick memang malas menanggapi sikap manja dalam dirinya, ia segera mengambil keputusan dengan cepat. Kemudian, Clara mundur selangkah dan memberi jarak karena dirinya tidak mau mengulangi takdir bengis yang menghampirinya, "Kita batalkan saja pernikahan ini!" Pria itu terkejut mendengarnya. Baru beberapa saat yang lalu Clara memaksanya untuk kemari, sekarang wanita ini bertindak sesuka hati dan ingin membatalkannya. "Kau mau membatalkannya?" Kembali Erick yang tidak paham. Semuanya sangat tiba-tiba, bahkan pria itu juga menyadari bahwa Clara terlihat jauh lebih labil dibandingkan sebelumnya. Melihat ekspresi Erick yang terheran-heran dengan sikapnya, Clara menjawab, "Ya. Aku merasa bahwa kita tidak cocok." Benar-benar berbeda dengan sikap Clara beberapa saat yang lalu, padahal kekasihnya ini akan marah jika tidak dituruti. Mana mungkin semuanya berubah hanya karena wanita tersebut baru bangun tidur. "Aku tidak mengerti maksudmu, Clara. Kau sendiri yang memintaku untuk datang hari ini dan mendaftarkan pernikahan kita, tapi kau sendiri juga ingin membatalkannya. Apa maumu?" Mendapatkan kalimat seperti itu, Clara tidak perlu berpikir panjang untuk menjawabnya. Dirinya harus segera mengambil keputusan untuk mengubah hidupnya, masalah tentang kakeknya akan ia pikirkan ulang nanti saja. "Aku juga sudah memikirkannya tentang hubungan kita ke depannya. Mari jalani semuanya masing-masing dan kuharap tidak ada satu masalah pun yang tersisa di antara kita!" jelasnya lagi. Clara yakin tidak salah mengambil langkah karena ini menyangkut dengan kehidupannya. Lagi pula, siapa yang ingin mati konyol hanya karena cinta? Setelah mengatakan itu, Clara melanjutkan, "Kurasa kita memang tidak berjodoh dan kau bisa menjalani hidupmu tanpa paksaan dariku ataupun Kakek." Merasa dipermainkan oleh Clara, Erick menahan wanita itu dan menunjukkan wajah tidak terima, "Apa maksudnya?" Wanita tersebut melepaskan tangan Erick dari lengannya dan menarik napas, "Kita akhiri saja!" "Clara!" Erick terlihat marah, nada bicaranya meninggi karena kekasihnya terlihat tidak mau berdebat. "Bukannya kau sendiri yang tidak mau menikah denganku? Aku mengabulkannya sesuai permintaanmu. Lalu, apa gunanya kau marah sekarang?" Clara membalasnya dengan nada bicara yang lebih tinggi. Erick bukannya tidak mau hubungan mereka berakhir, namun ia masih membutuhkan jasa Clara tentang jenjang kariernya karena wanita ini memenuhi kriteria dalam menjalankan bisnis. "Kenapa putus? Kita masih bisa menjalin hubungan dan membicarakan tanggal pernikahan lain kali," ujarnya lagi. Kini Clara malah bingung. Seharusnya Erick senang karena ia telah memutuskan hubungan, tetapi, kenapa pria ini ingin bertahan? "Kita putus saja!" Clara yang sudah bertekad langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan pria itu. "Clara!" Melangkah gesit ke arah jalanan, ia akan menghentikan taksi dan pulang sendiri. Sayangnya, Erick masih mengejarnya dan mencoba meminta penjelasan. "Clara, tunggu!" Tidak fokus melihat jalanan, kebetulan tempat pemberhentian khusus taksi berada di seberang. Kakinya melangkah, namun sebuah mobil tiba-tiba datang ke arahnya hingga membuat matanya melebar dan langkahnya terkunci karena terkejut. CKIIIT! Nyaris tertabrak, Clara memandang ke arah mobil tersebut dan muncullah dua pria yang menghampirinya. Dalam hati, ia bersyukur karena tidak mati konyol di hari yang sama. "Anda tak apa, Nona?" Matanya terbelalak bukan main ketika tahu siapa orang yang menanyakan keadaannya, "Azael?" "Clara?" Tidak berjumpa selama bertahun-tahun, namun keduanya masih saling mengingat dan akhirnya pria itu menghampirinya dengan wajah khawatir, "Kau tidak apa-apa?" Belum sempat menjawabnya, sosok Erick muncul dan pria itu sedikit terengah, bahkan suaranya terdengar keras seperti hendak menyalahkan Clara, "Apa kau cari mati?!" Mendengar pertanyaan penuh kekesalan itu, Clara langsung berlindung di balik punggung kokoh Azael sembari berbisik, "Bisakah kau mengantarku pulang dan membantuku lepas dari Erick?" Bingung setelah mendengarnya, namun, Azael tidak merasa keberatan sehingga dirinya mengangguk, "Tentu." Mata Azael menatap ke arah pria tadi, menyadari bahwa dirinya juga mengenal sosok di depannya setelah mengamatinya, "Erick, apa kabar?" Sama-sama terkejut, Erick balas memandangnya, "Azael?" ***Marah dengan hal tersebut, namun pria itu segera mengecek di mana lokasi terakhir sang istri hingga ia menemukan bahwa lokasi yang tersambung di ponselnya tiba-tiba terputus dan tidak ada koneksi.Pria tersebut tersenyum miring ketika menyadari bahwa wanita itu sedang mencoba untuk bermain-main dengannya, "Kau sengaja ingin bermain denganku, Clara?"Hanya ingin berkomunikasi saja sesulit ini, namun pria tersebut sama sekali belum berpikiran jika istrinya kabur. Hal yang ada dalam pikirannya adalah tenang saja dan mencari tahu alasan tentang kenapa Clara menjual perusahaannya karena sampai saat ini wanita itu tidak mau jujur padanya. "Baiklah, Clara. Aku menunggumu sampai kau muncul di hadapanku dengan sendirinya!"***"Huekkk!"Mual kembali menyerangnya dan membuat wanita itu menyadari bahwa ia memang harus memeriksakan diri sesegera mungkin. Di dalam tasnya juga ada sebuah alat tes kehamilan yang sudah lama sekali terletak di sana namun sempat dirinya bahwa, masih bersikap positif d
Azael tidak menjawabnya karena pria itu sudah tak peduli dengan perkataan sang ibu tentang kehidupan pernikahannya, meskipun ia juga tidak masalah jika tak dipedulikan."Apakah hanya itu yang ada di pikiranmu, Bu?" Pria tersebut memandang ke arah ibunya dengan tatapan begitu kecewa karena tidak menyangka jika sampai sekarang dan bahkan hampir setahun pernikahannya tidak ada kelegaan yang diberikan oleh wanita itu. "Tentu saja. Kau menikah tanpa persetujuan dariku!" balasnya.Azael tidak mau memikirkannya lagi dan pria tersebut segera bergegas meninggalkan wanita itu karena tidak mau bertengkar. Semua percuma saja karena sang ibu tidak akan pernah mengerti dengan posisinya, wanita yang melahirkannya itu terus bersikap menyebalkan dan membuat Azael kesal."El?" Monica memanggil putranya yang kini meninggalkannya dan membuat wanita itu semakin jengkel saja. Sembari berjalan meninggalkan sang ibu, Azael berkata, "Mau menikah dengan wanita mana pun, Ibu tidak akan setuju denganku. Jadi,
"Ada apa, Nyonya?"Clara terdiam saja ketika tiba-tiba saja perutnya seperti terkocok. Wanita itu berpendapat jika dirinya mungkin kekenyangan setelah turun dari pesawat karena nafsu makannya lumayan naik beberapa hari ini, padahal biasanya ketika wanita itu sedih, tak akan ada makanan yang berhasil masuk ke perutnya. "Tidak ada apa-apa," balasnya kemudian. Bersikap biasa saja, namun wanita itu pernah merasakan mual seperti ini beberapa bulan yang lalu dan tiba-tiba saja dirinya teringat dengan kapan terakhir kali ia mendapatkan tanggal merah. Mendadak jantungnya berdegup kencang dan mungkin setelah dari bandara dirinya harus segera memeriksa apakah kecurigaannya benar atau memang hanya tebakannya saja. Mungkin sekitar dua mingguan dirinya tidak mendapatkan tanggal merah seperti biasanya, hal itu bisa ia cek melalui kalender yang ada di dalam ponsel. Kegiatannya dengan Azael juga semakin lancar kemarin, membuatnya tersadar bahwa dirinya terlalu bodoh.Tiba-tiba saja Clara merasa ta
Banyak hal yang kembali ia pikirkan, namun kali ini tangannya mengepal untuk menguatkan perasaannya sendiri. "Nona Anya sudah menunggu Anda di bandara, Bu Clara."Clara yang mendengar hal itu langsung mengangguk, "Baik, Paman."Melangkah dan meninggalkan semuanya seperti apa yang telah ia rencanakan bersama sahabat masa kecilnya. Tahu bahwa keputusannya ini cukup mendadak dan juga seperti tidak pernah menganggap Azael, namun ia tidak akan menyesalinya sampai kapan pun.Perjalanan malam adalah yang terbaik karena ia bisa lebih leluasa menikmati suasana perjalanan yang tenang, dan yang terpenting tidak ada orang yang mengganggunya. Mungkin beberapa tahun lagi dirinya akan datang setelah merapikan seluruh perasaannya, tersadar bahwa apa yang dirinya lakukan saat ini merupakan tindakan dari seorang pengecut. Clara menarik napas dan mencoba mengembuskannya perlahan, meskipun di antara ribuan sesak yang menghujam perasaannya, ia tetap akan bangkit dengan caranya sendiri. ***Sampai di b
Entah semacam obsesi atau apa, semakin hari semakin banyak waktu terlewati dengan banyak sekali malam yang tidak terpisahkan. Azael merasakan hatinya yang begitu kacau hingga akhirnya ia berdiri dengan raut wajah yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi. PRANGGG!Pria itu membanting vas bunga yang ada di depannya dan rasanya semakin hari semakin sakit pula perasaannya. Clara bahkan tidak lagi memperhatikannya ataupun bersikap lembut terhadapnya, hanya ada tatapan mata penuh manipulasi dan membuatnya semakin bingung harus bagaimana. Berada di ruangannya sendirian malam ini, seluruh karyawan telah pulang karena jam sore sudah terlewati. Hanya ada sekretarisnya yang masih menunggu di luar dan juga asisten yang tidak berani mengganggunya kali ini. Melihat pecahan vas bunga di atas lantai yang dingin, Azael mencoba untuk merapikan lagi perasaannya, namun kali ini pria itu sama sekali tidak bisa tenang ataupun bersikap seperti biasa. "Sebenarnya apa yang kau mau, Clara?"Dirinya marah kare
Bersiap berangkat ke kantor seperti biasanya, mereka berdua terlihat tidak berbicara sama seperti semalam setelah mengeluarkan banyak sekali kalimat-kalimat sindiran. Biasanya mereka selalu terbangun dengan ungkapan penuh cinta, namun kali ini semuanya telah berubah dan akan menjadi asing dari waktu ke waktu. Azael terlihat memasang dasinya dengan kasar dan pada akhirnya simpul dari dasi tersebut justru tersangkut hingga membuatnya emosi sendiri. Sementara Clara yang melihatnya segera memberikan bantuan dan mendekat ke arah pria itu, mencoba membenarkan dasi tersebut karena dirinya tahu bahwa pria di depannya masih emosi dengan masalah mereka semalam. Pria itu bisa memahami betapa perhatiannya sang istri yang mencoba untuk memasangkan dasinya dengan baik, padahal seharusnya wanita tersebut tidak perlu melakukan demikian dan membuat perasaannya semakin tidak karuan. "Untuk apa kau melakukannya?" tanya pria tersebut dengan wajah dingin. Clara yang memang tidak bermaksud apa-apa lan
"Kenapa kaget?" tanya wanita itu sedikit terkekeh. "Bukannya kau suka karena tak ada orang yang mengganggumu lagi?"Azael menarik napas kali ini, ia memandang ke arah Leisse dengan tatapan ingin tahu, "Ada angin apa?""Tidak ada angin, aku lebih baik menikah dengan pria lain daripada menuruti permi
"Aku tidak percaya melihatmu dengan perut yang akan membesar dalam waktu beberapa bulan, padahal kita sudah bersahabat lebih lama dan ternyata orang yang menikah lebih dulu adalah dirimu."Begitulah kalimat yang diucapkan oleh Aretha, seperti tidak ada masalah sebelumnya dan benar-benar mirip denga
"Clara hamil?" Erick yang mendapatkan laporan dari kekasihnya lantas terkejut dan beberapa saat kemudian dirinya terkekeh setelah mendengarnya. Aretha yang melihat kekasihnya seperti itu lantas bertanya, "Apa rencanamu selanjutnya? Bagaimana juga dengan wanita yang kau bawa ketika pesta ulang tahu
"Kau lebih membela wanita asing itu daripada ibumu sendiri yang melahirkanmu dan juga memberikan banyak sekali fasilitas untukmu?" Monica memandang putranya itu dengan kilatan marah karena tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Azael sama sekali tidak sesuai dengan keinginannya. "Bu, aku sudah dewasa







