LOGIN
Entah sejak kapan wanita itu dibohongi, namun kali ini satu persatu hal yang tidak dirinya ketahui lantas membuatnya tersadar; bahwa hidupnya terajut dalam kebohongan.
Navierra Clarabelle, wanita itu tidak pernah menyangka jika pada akhirnya cinta yang dirinya pupuk dengan mengorbankan seluruh hidupnya menjadi kehancuran besar. "Aku bisa jelaskan!" Itulah kalimat yang diucapkan suaminya tatkala dirinya membuka pintu kamar hotel setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa sang suami berada di sini. Bibir wanita itu tersenyum miring menyadari ada banyak sekali hal yang tidak dirinya sadari, salah satunya adalah perselingkuhan yang entah sudah sejak kapan berlangsung. Matanya memerah marah dan memandang ke arah wanita yang menghabiskan waktu bersama suaminya itu, kecewa juga dengan kepercayaannya yang malah disalahgunakan. "Aku berusaha mempercayaimu sepenuhnya, tapi kenapa harus dia?" Erick Anderson tahu bahwa malam ini dirinya sudah terpergok, mau tak mau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, "Clara, jangan salahkan aku kenapa berbuat seperti ini. Semua juga salahmu!" Clara tahu bahwa pria ini tidak akan pernah mengakui kesalahannya meskipun sudah terpergok di depan mata, bahkan berani memutarbalikkan fakta untuk menyalahkannya. "Awalnya aku hanya ingin menanyakan apa benar kau melakukan penggelapan dana perusahaan, tapi apa ini? Kau berselingkuh?" ujar wanita itu dengan kilatan emosi yang memuncak. Erick mencoba tenang dan mendekat, sementara wanita yang bermalam bersamanya hanya berdiam diri di depan pintu kaca balkon yang terbuka. "Dengarkan penjelasanku!" Erick terlihat memaksa untuk memberikan penjelasan. Namun, Clara tidak sebodoh itu untuk percaya lagi. Selama dua tahun pernikahan mereka, ia sangat percaya, bahkan tidak pernah berpikir jika suaminya akan seperti ini. Kini ia tahu bahwa tak selamanya perasaan itu berbalas, suaminya telah mengkhianatinya dan memilih Aretha, sesosok sahabat baik yang selalu dirinya banggakan. "Apa dana perusahaan yang kau gelapkan itu dipakai untuk membahagiakan Aretha?" tanya Clara dengan suara bergetar. Suaminya ini bukan apa-apa tanpanya, mereka menikah karena Clara yang menginginkannya dan berharap keduanya bisa bahagia. Sayangnya, hanya ia yang bahagia dan suaminya tidak sama sekali. Erick tidak bisa menjawabnya untuk kali ini, namun sorot matanya menunjukkan bahwa dirinya sedang tidak ingin bertengkar, "Tenanglah!" "Tenang katamu? Dana perusahaan kacau balau, aku hampir bangkrut karena ulahmu! Sekarang kau bermesraan dengan wanita ini alih-alih memperbaiki semuanya, di mana otakmu?!" Emosi itu dirinya dikeluarkan bersamaan dengan kekecewaan tanpa arah. Clara lantas mengambil sebuah vas bunga di atas meja kamar hotel itu, hendak melemparkannya ke arah mereka. "Clara!" Erick menahannya, namun tenaga Clara yang keras kepala dibanding biasanya hingga pria itu berusaha mengeluarkan usaha lebih. Duk! Vas yang tadinya Clara hendak lempar ke arah Aretha justru dihalangi oleh kepala Erick hingga dahi suaminya itu terluka. Pria ini bahkan sanggup terluka demi melindungi selingkuhannya, membuat hati Clara semakin sakit. Erick pegang dahinya yang berdenyut, ternyata istrinya bisa bersikap seperti ini juga. Namun, ia tidak bisa membiarkan Clara melukai Aretha, bahkan kini ia berusaha merebut vas kaca tersebut. "Lepaskan!" Clara semakin tidak terkendali. Prang! Tidak mengenai Aretha yang sudah menghindar, Erick dengan dahi yang berdarah tetap menghentikan Clara sampai akhirnya wanita tersebut terdorong sedikit keras. "Aku bilang berhenti, Clara! Inilah kenapa aku memilih berselingkuh!" Bukannya merasa bersalah, Erick justru meminta pembenaran atas kelakuan buruknya, sementara Clara dengan mata yang masih berkilat marah itu menegakkan tubuhnya lagi. Dadanya sakit sekali, teringat jika dulunya sang kakek menyuruhnya untuk segera menikah, nyatanya menikah justru membawanya ke lubang neraka tanpa akhir. "Aku membenci kalian berdua! Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku!" Clara menghempaskan genggaman Erick dengan sekuat tenaga, lalu dengan air mata berlinang mencengkram lengan Aretha di belakangnya. “Aretha! Bukankah kau temanku?” serunya sambil mengguncang Aretha. “Kau sudah gila! Lepaskan aku!” teriak Aretha, mendorong Clara menuju balkon yang terbuka. Tenaga Aretha yang kuat itu membuat Clara tidak bisa berkutik. Tiba-tiba saja Clara sudah ada di tepi balkon, punggungnya menyentuh pembatas itu, sedikit lagi saja akan jatuh. Jemari lentiknya menyentuh leher Clara dan menekannya, membuat napas Clara sesak. “E-Erick …” rintihnya, berharap suaminya itu menolongnya. "Aretha, hentikan!" teriak Erick panik. Lengan Clara menggapai ke arah Erick saat pria itu mendekat, dan … Erick justru menarik Aretha ke dalam pelukannya. Pegangan Aretha pada Clara terlepas. Pemandangan terakhir yang dilihat Clara adalah pelukan protektif Erick pada wanita selingkuhan itu, sebelum tubuhnya jatuh dari tepi balkon. Mata Clara terpejam saat ia merasa terhempas ke udara. BRUK! Selanjutnya Clara tidak tahu, tubuhnya menghantam sesuatu yang keras dan rasanya sakit sekali. Apa ia akan mati malam ini? Di atas sana Erick dan Aretha melihat ke arahnya, darah mengucur dengan deras dari kepala, menandakan kesadarannya yang semakin minim sampai akhirnya ia tidak bergerak lagi. ***"Clara?"
Terbangun ketika seseorang memanggil namanya, wanita itu membuka mata dan kemudian terkejut saat kini mendapati dirinya berada di dalam mobil.
Seorang pria di sampingnya lantas memandang ke arahnya dengan tatapan biasa, "Kita sudah sampai."
Sampai? Clara melihat ke sekitar dan ia tersadar bahwa mereka berdua sudah berada di area parkir kantor catatan sipil.
Namun, bukannya menanggapi pria tersebut, dirinya lantas melihat keadaannya sendiri dan menyentuh kedua pipinya lalu melihat pantulan wajahnya pada kaca mobil.
Bukankah ia baru saja jatuh dari ketinggian karena Aretha yang mendorongnya?
Kenapa sekarang ia berada di mobil bersama Erick?
Sementara pria itu tiba-tiba berucap, "Aku sudah memikirkannya, Clara. Aku tidak bisa menikah denganmu sekarang, tapi kakekmu terus menekanku dan kau memaksaku."
Mendengar hal itu, Clara yang masih bingung lantas mengerutkan kening, "Apa?"
Melihat Clara yang memandangnya tak paham, Erick ikut bingung karena sebelumnya mereka membicarakan hal ini dan bertengkar, "Aku sudah menjelaskannya tadi, tapi kau marah dan memilih tidur. Kau tidak ingat?"
Wanita itu yakin bahwa dirinya tidak sedang bermimpi, apalagi kejadian yang menimpanya terkait Aretha sama sekali bukan sesuatu yang kebetulan.
Ia tidak tahu, namun adegan di dalam mobil sama persis saat ia dan Erick mendaftarkan pernikahan mereka kala itu.
Apa dirinya kembali ke masa lalu?
Keesokan harinya setelah menunggu dari pagi, kini sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya yang luas dan membuat Clara yang telah berpakaian rapi lantas menuruni tangga dengan cepat.Melihat cucunya yang seperti itu, Harris lantas mengikutinya dan melihat siapa yang menjadi cucu menantunya nanti, berjaga-jaga juga kalau saja Erick yang datang karena kemarin pria tua itu sudah mengusirnya lebih dulu sebelum menjelaskan."Kakek, ini Azael. Apa Kakek masih ingat?" tanya Clara sesaat setelah membiarkan Azael masuk."Azael?""Temanku saat masih di bangku sekolah menengah atas!" ujar Clara menjelaskan.Berpikir sebentar, Harris lantas teringat dan melebarkan matanya, "Oh, Azael! Iya-iya aku ingat!""Apa kabar, Kek?" sapa pria itu sembari memberikan sebuah bingkisan.Diterimanya bingkisan tersebut dan Harris bertanya, "Lama tak melihatmu, Azael."Pria tinggi itu memberikan senyumannya dan bertanya, "Bagaimana kabar Kakek?""Aku sangat baik!" balas Harris.Clara mengangguk dan menjawab, "Kam
Azael terlihat terkejut dan merasa jika dirinya mungkin salah dengar, "Ya? Bisa kau ulangi?"Clara tidak tahu lagi, mungkin sekretaris di depan mereka juga berpikir bahwa ia sudah gila karena memaksa seseorang untuk menikahinya secara spontan.Namun, harus bagaimana lagi? Ada banyak hal yang harus dirinya perbaiki, termasuk takdir hidupnya yang tidak adil."Lunasi hutangmu dan nikahi aku! Aku tahu bahwa ini gila, tapi aku serius, El. Aku tidak punya cara untuk menghindari Erick, aku..."Melihat Clara yang terlihat belum stabil, Azael langsung paham karena sejak dulu ia sudah mengenal seperti apa Clara, meski mereka sudah lama tak bertemu."Aku mengerti, Clara. Maksudmu seperti pernikahan bisnis, bukan?" tanyanya memastikan, nada suaranya masih lembut sama seperti sebelumnya.Clara mengangguk, matanya berair namun tak sampai menangis. Semua itu terjadi karena dadanya terasa begitu sesak, banyak emosi yang ingin ia tumpahkan, bahkan ia tidak bisa menatap Erick lebih lama sehingga memili
Lama tidak bertemu, keduanya bertatapan beberapa saat sampai akhirnya sebuah suara memecah momen itu. "Clara, apa kau gila? Hampir saja kau tertabrak!"Mendengar omelan dari Erick, Clara diam karena pikirannya sendiri masih kacau, namun di saat seperti ini dirinya malah menemukan ide.Azael melihat ke arah Erick dan dirinya menyadari bahwa mereka adalah sahabat saat masih berada di sekolah menengah atas, tak menyangka akan bertemu di kala genting seperti ini, entah apa masalahnya.Tak ada jawaban dari Clara, Erick memperbaiki ekskresinya karena inilah momen pertama kalinya ia bertemu dengan Azael lagi setelah sekian lama."Apa kabar, Azael?"Orang yang dimaksud langsung memberikan senyuman simpul dan keduanya berjabat tangan meskipun merasa asing karena sudah lama tak bersua."Aku baik. Bagaimana denganmu?""Seperti inilah," balas Erick seraya mengarahkan lagi pandangannya pada Clara yang masih bersembunyi di balik punggung Azael."Clara, sampai kapan kau bersembunyi di sana dan tida
Clara tidak percaya dengan ini, namun pakaiannya dengan yang terjadi di masa lalu sangatlah mirip. Namun, ia segera bersikap lebih tegas meskipun bingung, "Tanggal berapa sekarang?" "Ini tanggal 20 Februari tahun 20XX dan kau mengajakku mendaftarkan pernikahan," jelas Erick yang juga heran karena Clara terlihat kebingungan. Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan melihat area sekitarnya, tak lupa mencubit lengannya sendiri dan sedetik kemudian dirinya menyadari satu hal. Ini bukan mimpi, ia kembali ke masa lalu, masa di mana belum ada janji suci pernikahannya bersama Erick. Artinya, ia bisa mengubah keadaan dan tidak menikah dengan pria ini. Kemudian, Clara menutup mulutnya dan matanya mulai berair. Ia tidak akan mati sia-sia karena kebodohannya sendiri yang memaksakan diri membuat Erick menikahinya, apalagi pria ini juga terlihat tidak mencintainya. "Ayo!" Erick menggandeng wanitanya daripada membuang waktu, meskipun terpaksa dan dirinya akan terjerat seumur hidup. D
Entah sejak kapan wanita itu dibohongi, namun kali ini satu persatu hal yang tidak dirinya ketahui lantas membuatnya tersadar; bahwa hidupnya terajut dalam kebohongan. Navierra Clarabelle, wanita itu tidak pernah menyangka jika pada akhirnya cinta yang dirinya pupuk dengan mengorbankan seluruh hidupnya menjadi kehancuran besar. "Aku bisa jelaskan!" Itulah kalimat yang diucapkan suaminya tatkala dirinya membuka pintu kamar hotel setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa sang suami berada di sini. Bibir wanita itu tersenyum miring menyadari ada banyak sekali hal yang tidak dirinya sadari, salah satunya adalah perselingkuhan yang entah sudah sejak kapan berlangsung. Matanya memerah marah dan memandang ke arah wanita yang menghabiskan waktu bersama suaminya itu, kecewa juga dengan kepercayaannya yang malah disalahgunakan. "Aku berusaha mempercayaimu sepenuhnya, tapi kenapa harus dia?" Erick Anderson tahu bahwa malam ini dirinya sudah terpergok, mau tak mau harus







