Share

Bab 3

Author: Dian Wahyu
last update Last Updated: 2026-01-21 14:37:13

Lama tidak bertemu, keduanya bertatapan beberapa saat sampai akhirnya sebuah suara memecah momen itu. 

"Clara, apa kau gila? Hampir saja kau tertabrak!"

Mendengar omelan dari Erick, Clara diam karena pikirannya sendiri masih kacau, namun di saat seperti ini dirinya malah menemukan ide.

Azael melihat ke arah Erick dan dirinya menyadari bahwa mereka adalah sahabat saat masih berada di sekolah menengah atas, tak menyangka akan bertemu di kala genting seperti ini, entah apa masalahnya.

Tak ada jawaban dari Clara, Erick memperbaiki ekskresinya karena inilah momen pertama kalinya ia bertemu dengan Azael lagi setelah sekian lama.

"Apa kabar, Azael?"

Orang yang dimaksud langsung memberikan senyuman simpul dan keduanya berjabat tangan meskipun merasa asing karena sudah lama tak bersua.

"Aku baik. Bagaimana denganmu?"

"Seperti inilah," balas Erick seraya mengarahkan lagi pandangannya pada Clara yang masih bersembunyi di balik punggung Azael.

"Clara, sampai kapan kau bersembunyi di sana dan tidak mau menjelaskan alasanmu padaku?" lanjutnya lagi.

Azael masih belum berbicara lagi, namun ia lihat Clara tidak terluka sehingga ia pun mulai tenang.

Wanita itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Azael sembari berkata, "Azael, kau berjanji mengantarku pulang, bukan?"

Erick yang mendengar hal itu lantas menarik lengan Clara sedikit kasar, ia juga marah karena calon istrinya bertindak impulsif hingga membuatnya kebingungan, "Kita datang bersama dan harus pulang bersama!"

Azael yang melihat hal itu lantas berkata kepada Erick, "Aku hampir menabraknya tadi dan tidak masalah juga bagiku untuk mengantarnya pulang."

Namun, Erick menolaknya, "Kami harus mendaftarkan pernikahan terlebih dahulu."

Mendengar hal tersebut, Azael terkejut bukan main karena ternyata kedua sahabatnya ini telah merencanakan pernikahan, "Kalian akan menikah?"

Clara segera menggelengkan kepalanya, "Tidak! Aku sudah putus dengannya!"

Tidak suka dengan reaksi yang diberikan oleh Clara, Erick kembali menarik wanita itu namun Clara semakin menolaknya hingga membuat keduanya bertengkar tepat di depan Azael.

"Ayo kita pulang!" paksa Erick yang semakin kesal dengan sikap calon istrinya.

Melihat Clara yang dipaksa seperti itu, hati Azael lantas tergerak, "Ah, tidak apa-apa. Biarkan aku yang mengantar Clara pulang!" 

Ucapan dari Azael membuat Erick menghentikan perlakuannya terhadap Clara yang memang terkesan kasar saat ini, "Maaf, El. Aku akan menyelesaikan masalah ini hanya berdua dengan Clara!"

"Tidak ada yang perlu diselesaikan karena kita memang sudah selesai!" potong Clara lebih tegas.

Ingatannya juga melayang pada perlakuan Erick yang benar-benar membuatnya merasa terbuang, apalagi selama pernikahan pria itu tidak pernah membuatnya merasa dicintai. 

Hanya sakit hati yang ia rasakan selama dua tahun, belum lagi perselingkuhan yang dilakukan, serta pengkhianatan yang baru dirinya ketahui dari bibir Aretha.

Azael kemudian berucap, "Erick, kita sudah lama tidak bertemu dan aku tahu jika kalian sedang bertengkar. Untuk kali ini izinkan aku mengantarkan Clara pulang!"

Akhirnya Erick hanya setuju karena malu juga jika terlihat bertengkar di pinggir jalan, ditambah lagi Azael adalah sahabat lamanya sehingga pria di depannya ini lebih bisa dipercaya. 

"Baiklah."

Tak hanya Azael yang lega, namun Clara juga. Setidaknya hari ini wanita tersebut ingin menata ulang hatinya dan memikirkan kembali apa yang kemarin terjadi, berusaha sekuat tenaga mengubah takdirnya agar tidak berakhir menyedihkan seperti apa yang telah terjadi.

Setelah melihat punggung Erick meninggalkan area tersebut, Azael mengisyaratkan kepada sekretarisnya untuk kembali ke mobil lalu mengantarkan Clara pulang terlebih dahulu. 

Kemudian, Azael berucap dengan nada tenang, "Aku akan mengantarmu pulang. Ayo!"

Merasa benar-benar bersyukur dan menganggap jika Azael adalah malaikat penyelamatnya, Clara berucap, "Terima kasih!"

"Sama-sama, Clara."

Hari pertama pria itu pulang ke negaranya setelah bertahun-tahun mengenyam pendidikan dan disiapkan menjadi seorang pewaris, kini pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sahabat lamanya.

Kini keduanya duduk berdampingan dan Clara yang masih menyesuaikan diri dengan keadaan hanya terdiam. Ada ide gila dalam otaknya, ia tahu bahwa tindakannya ini mungkin terlalu cepat, namun ia tidak tahu lagi harus bagaimana.

"Aku baru tahu jika kau akan menikah dengan Erick," ucap Azael membuka topik yang membuat wanita itu menatapnya spontan.

"Aku sudah membatalkannya dan kami tidak akan menikah," jelasnya.

Azael termenung mendengarnya. Tak menyangka jika di hari pertamanya akan disambut dengan kabar seperti itu, meskipun mereka telah berteman lama namun tak ada kabar terbaru, tiba-tiba saja kedua sahabatnya menikah tanpa memberikan undangan padanya.

"Padahal aku ingin mengucapkan selamat," ujarnya.

Clara tersenyum tipis, "Ah, simpan dulu ucapan selamatmu itu. Aku sudah berpikir ulang untuk tidak melanjutkan hubungan kami."

Azael mengerti, mungkin ini adalah urusan pribadi yang tidak boleh melibatkan dirinya sebagai orang luar. Setidaknya dirinya bisa lega karena tidak sedang membawa lari calon istri pria lain. 

"Membicarakan tentang pertemuan kita yang tidak sengaja ini, aku cukup terkejut karena tiba-tiba saja kau muncul di depan mobilku."

"Maafkan aku, El. Aku tidak fokus dan kurang berhati-hati," balasnya meminta maaf.

Namun, Azael tak mempermasalahkannya, "Tidak apa-apa. Aku paham."

"Apa kau sedang memiliki keperluan? Kau bisa menurunkanku di tempat pemberhentian taksi," ujar Clara.

Namun, Azael menggeleng, "Aku baru pulang dari bandara dan akan menetap di sini. Tidak sedang terburu-buru juga, jadi tidak masalah jika mengantarmu pulang. Kita juga satu arah."

Beberapa saat hening setelah kalimat itu terucap, sementara Clara lantas menarik napas dan bertanya, "Apa kau sudah punya kekasih, El?"

Dipanggil akrab seperti dulu, Azael menggeleng dan tersenyum tipis, "Tidak."

Jantung Clara berdegup kencang, ada satu hal yang harus ia katakan sekarang karena keadaan yang cukup mendesak. Namun, ia bingung harus mengatakannya mulai dari mana.

"El?" 

"Ya?"

Suara Azael masih lembut seperti dulu, pria ini sama sekali tidak berubah dan lidah Clara terasa kel untuk sekedar berucap. Wanita itu merasa gila dalam waktu sejenak, pikirannya kacau dan akhirnya ia meremas ujung rok pendek yang dirinya kenakan sekarang, bersiap mengatakan keperluannya.

"Kau ingat jika aku pernah menolongmu sebanyak dua kali, bukan?"

Tak perlu mengingat-ingat, Azael jelas selalu mengingatnya karena ia telah berutang nyawa pada wanita di sampingnya, "Tentu saja. Aku akan membayar utang budi padamu, Clara."

Wanita itu tersenyum samar dan menelan ludah kembali untuk mengatakannya, "Kau bisa membantuku?"

"Jika bisa akan kulakukan," balas Azael enteng, padahal Clara bingung harus menjelaskannya dari mana.

"Napas buatan yang kuberikan dua kali padamu saat kebakaran dan saat kau alergi susu kacang kedelai itu... Bolehkah kau bayar dengan cara menikahiku?" tanyanya lancar, meskipun bibir Clara sedikit bergetar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 5

    Keesokan harinya setelah menunggu dari pagi, kini sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya yang luas dan membuat Clara yang telah berpakaian rapi lantas menuruni tangga dengan cepat.Melihat cucunya yang seperti itu, Harris lantas mengikutinya dan melihat siapa yang menjadi cucu menantunya nanti, berjaga-jaga juga kalau saja Erick yang datang karena kemarin pria tua itu sudah mengusirnya lebih dulu sebelum menjelaskan."Kakek, ini Azael. Apa Kakek masih ingat?" tanya Clara sesaat setelah membiarkan Azael masuk."Azael?""Temanku saat masih di bangku sekolah menengah atas!" ujar Clara menjelaskan.Berpikir sebentar, Harris lantas teringat dan melebarkan matanya, "Oh, Azael! Iya-iya aku ingat!""Apa kabar, Kek?" sapa pria itu sembari memberikan sebuah bingkisan.Diterimanya bingkisan tersebut dan Harris bertanya, "Lama tak melihatmu, Azael."Pria tinggi itu memberikan senyumannya dan bertanya, "Bagaimana kabar Kakek?""Aku sangat baik!" balas Harris.Clara mengangguk dan menjawab, "Kam

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 4

    Azael terlihat terkejut dan merasa jika dirinya mungkin salah dengar, "Ya? Bisa kau ulangi?"Clara tidak tahu lagi, mungkin sekretaris di depan mereka juga berpikir bahwa ia sudah gila karena memaksa seseorang untuk menikahinya secara spontan.Namun, harus bagaimana lagi? Ada banyak hal yang harus dirinya perbaiki, termasuk takdir hidupnya yang tidak adil."Lunasi hutangmu dan nikahi aku! Aku tahu bahwa ini gila, tapi aku serius, El. Aku tidak punya cara untuk menghindari Erick, aku..."Melihat Clara yang terlihat belum stabil, Azael langsung paham karena sejak dulu ia sudah mengenal seperti apa Clara, meski mereka sudah lama tak bertemu."Aku mengerti, Clara. Maksudmu seperti pernikahan bisnis, bukan?" tanyanya memastikan, nada suaranya masih lembut sama seperti sebelumnya.Clara mengangguk, matanya berair namun tak sampai menangis. Semua itu terjadi karena dadanya terasa begitu sesak, banyak emosi yang ingin ia tumpahkan, bahkan ia tidak bisa menatap Erick lebih lama sehingga memili

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 3

    Lama tidak bertemu, keduanya bertatapan beberapa saat sampai akhirnya sebuah suara memecah momen itu. "Clara, apa kau gila? Hampir saja kau tertabrak!"Mendengar omelan dari Erick, Clara diam karena pikirannya sendiri masih kacau, namun di saat seperti ini dirinya malah menemukan ide.Azael melihat ke arah Erick dan dirinya menyadari bahwa mereka adalah sahabat saat masih berada di sekolah menengah atas, tak menyangka akan bertemu di kala genting seperti ini, entah apa masalahnya.Tak ada jawaban dari Clara, Erick memperbaiki ekskresinya karena inilah momen pertama kalinya ia bertemu dengan Azael lagi setelah sekian lama."Apa kabar, Azael?"Orang yang dimaksud langsung memberikan senyuman simpul dan keduanya berjabat tangan meskipun merasa asing karena sudah lama tak bersua."Aku baik. Bagaimana denganmu?""Seperti inilah," balas Erick seraya mengarahkan lagi pandangannya pada Clara yang masih bersembunyi di balik punggung Azael."Clara, sampai kapan kau bersembunyi di sana dan tida

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 2

    Clara tidak percaya dengan ini, namun pakaiannya dengan yang terjadi di masa lalu sangatlah mirip. Namun, ia segera bersikap lebih tegas meskipun bingung, "Tanggal berapa sekarang?" "Ini tanggal 20 Februari tahun 20XX dan kau mengajakku mendaftarkan pernikahan," jelas Erick yang juga heran karena Clara terlihat kebingungan. Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan melihat area sekitarnya, tak lupa mencubit lengannya sendiri dan sedetik kemudian dirinya menyadari satu hal. Ini bukan mimpi, ia kembali ke masa lalu, masa di mana belum ada janji suci pernikahannya bersama Erick. Artinya, ia bisa mengubah keadaan dan tidak menikah dengan pria ini. Kemudian, Clara menutup mulutnya dan matanya mulai berair. Ia tidak akan mati sia-sia karena kebodohannya sendiri yang memaksakan diri membuat Erick menikahinya, apalagi pria ini juga terlihat tidak mencintainya. "Ayo!" Erick menggandeng wanitanya daripada membuang waktu, meskipun terpaksa dan dirinya akan terjerat seumur hidup. D

  • Lunasi Hutangmu dan Nikahi Aku!   Bab 1

    Entah sejak kapan wanita itu dibohongi, namun kali ini satu persatu hal yang tidak dirinya ketahui lantas membuatnya tersadar; bahwa hidupnya terajut dalam kebohongan. Navierra Clarabelle, wanita itu tidak pernah menyangka jika pada akhirnya cinta yang dirinya pupuk dengan mengorbankan seluruh hidupnya menjadi kehancuran besar. "Aku bisa jelaskan!" Itulah kalimat yang diucapkan suaminya tatkala dirinya membuka pintu kamar hotel setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa sang suami berada di sini. Bibir wanita itu tersenyum miring menyadari ada banyak sekali hal yang tidak dirinya sadari, salah satunya adalah perselingkuhan yang entah sudah sejak kapan berlangsung. Matanya memerah marah dan memandang ke arah wanita yang menghabiskan waktu bersama suaminya itu, kecewa juga dengan kepercayaannya yang malah disalahgunakan. "Aku berusaha mempercayaimu sepenuhnya, tapi kenapa harus dia?" Erick Anderson tahu bahwa malam ini dirinya sudah terpergok, mau tak mau harus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status