Se connecterAdriel tidak langsung menjawab.“Keputusan apa, Adriel? Hari itu aku ngapain?”Adriel menurunkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatap Vio. “Kamu bilang kamu butuh waktu sendiri.”“Itu bukan keputusan besar. Aku cuma bilang begitu?” tanyanya.Adriel tidak menjawab.Vio menatap wajah suaminya lama. “Aku sempat buka satu hal dari hape lama. Riwayat panggilan terakhir.” Vio menelan ludah. “Banyak panggilan masuk sama keluar dari kamu. Jamnya deketan, durasinya pendek-pendek.”Rocky yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari mereka menggeser berat badan, jelas ikut menegang. Elsa melirik ke arah Adriel, lalu kembali ke Vio.“Aku tanya sekarang,” kata Vio, matanya tak lepas dari Adriel. “Kita waktu itu sering teleponan kenapa?”Adriel menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan jawaban itu sejak tadi. “Kerjaan.”Vio mengangkat alis. “Kerjaan?”“Iya.”“Kerjaan sampai puluhan kali? Dengan durasi satu menit, dua menit, tiga menit?” Vio tertawa kecil, “Kita dokter, Adriel. Kala
Rahang Adriel mengeras.Ia berbalik perlahan. Tatapannya jatuh ke wajah Vio—lelah, berat, dan untuk pertama kalinya, Vio melihat sesuatu yang nyaris menyerupai rasa takut di sana.“Vio, aku harus masuk sekarang.”“Jawab dulu.”“Pasiennya udah siap di meja.”“Aku cuma nanya satu hal.” Vio menahan napas. “Iya atau enggak?”Adriel memandangnya lama. Terlalu lama untuk sebuah jawaban sederhana."Iya." Adriel akhirnya menjawab.“Seberapa parah?”Adriel menutup mata sebentar. “Vio—”“Seberapa parah, dokter Adriel?”Nada formal itu membuat Adriel membuka mata lagi. Ada sesuatu yang retak di ekspresinya.“Cukup parah.” jawabnya jujur.Vio menelan ludah. “Karena apa?”Pertanyaan itu membuat Adriel diam lagi. Dan diamnya kali ini sudah cukup menjadi jawaban.Tatapan Vio turun ke ponsel di tangan Adriel. “Karena isi hape itu?” tanyanya pelan.Adriel tidak menyangkal. Jantung Vio seperti jatuh bebas. Belum sempat ia bicara lagi, pintu OK di belakang Adriel terbuka. Seorang perawat
"Menurut lo Adriel nyembunyiin sesuatu gak dari gue? Dia punya rahasia?"Rocky menoleh. Untuk beberapa detik dia hanya memandang adiknya tanpa menjawab. "Semua orang punya rahasia."Vio mengerucutkan bibir. "Jawaban lo gak membantu.""Gue emang gak niat membantu.""Bang!"Rocky menghela napas. Ia duduk di ujung ranjang. "Vi, gue mau nanya satu hal.""Apa?""Lo percaya Adriel sayang sama lo?"Vio terdiam sesaat. "Percaya.""Yakin?"Vio mengangguk pelan."Terus kenapa lo mikir yang aneh-aneh?""Karena tingkah dia aneh."Rocky tertawa pendek. "Ya, itu gue setuju. Tapi kalo lo nanya apa dia nyimpen sesuatu dari lo, jawabannya mungkin iya."Vio langsung menegakkan badan.Rocky tersenyum tipis. "Gue tahu Adriel lagi gak baik-baik aja. Itu doang yang bisa gue bilang."Vio mengernyit. "Maksudnya?"Rocky berdiri. "Maksudnya, selama beberapa bulan terakhir hidup Adriel gak semudah yang lo kira." "Lo tahu sesuatu?"Rocky tersenyum tipis. "Gue tahu banyak hal. Tapi itu bukan
Vio menyalakan ponsel. "Masih hidup hapenya."Rocky melongokan kepalanya. "Oh iya, datanya pasti masih ada yang lo butuhin tuh."Vio membuka ponsel. Fitur pertama yang ia buka adalah aplikasi chat."Dok Vio, kita visit dulu. Saya tunggu di bangsal." Adriel berjalan cepat kearah loker untuk mengganti baju."Oh iya." Vio memasukkan ponsel ke dalam kotak lagi, "Sus, ini nitip dulu, ya.""Oh iya, dok."Pagi itu sejak visit, Adriel tidak seperti biasanya. Ia lebih banyak diam. Jika ada residen atau anak koas yang membuat kesalahan pun ia tidak sadar. "Dok Adriel?" Panggil Vio saat visit selesai.Adriel membalikkan badan. "Kenapa?"Vio menatap Adriel lama. "Kamu kenapa?""Gak papa. Kita gak punya banyak waktu. Pasien pasti udah nunggu.""Dari kemaren aku tugas di Fertilitas, kamu lupa ya?"Adriel menunduk. "Iya, aku gak inget."Vio menyentuh dahi Adriel. "Kamu sakit?"Adriel menggeleng. "Atau...bpermainan tadi pagi gak bikin kamu seneng?"Adriel tersenyum. "Seneng. Cuma ke
Mobil sudah sampai depan rumah eyang, tapi Adriel dan Vio tak kunjung keluar dari mobil."Sayang?" Vio menoleh. "Hm?""Jadi 'kan besok kita pulang ke rumah kita?"Vio mengangguk. Tangannya melingkar di lengan Adriel. "Besok aku juga ada kejutan."Vio mendongak antusias. "Apa?""Kita liat besok. Pulang dari rumah sakit aku langsung bawa kamu ke kesana."Vio mengangguk.Mereka turun dari mobil dan berjalan sambil bercanda. Adriel menggelitiki Vio."Udah-udah, geli tahu." Vio berlari menghindar sampai tidak sengaja menabrak eyang yang baru keluar dari kamar."Aduh eyang ditabrak bidadari." Eyang pura-pura kesakitan.Vio memeluk eyang. "Eyang gak papa? Maaf, yang, Adriel gelitikin aku soalnya."Eyang melirik Adriel, dan meyakini sesuatu sudah terjadi diantara mereka. "Eyang gak papa. Eyang 'kan kuat kayak abangmu."Vio pura-pura marah. "Kok kayak dia sih. Aku juga kuat."Eyang tertawa. Adriel berdehem. "Yang, sekalian mau pamit. Besok kita... Mau pulang ke rumah."Eyan
Rocky melirik wajah Adriel yang memerah. Tangannya dengan pelan menyentuh dada. "Tuhan, akhirnya kau mengabulkan doa hamba. Dua sejoli ini akhirnya kembali."Adriel mengangguk. "Boleh."Vio melendot manja dilengan Adriel. "Oke, sayang."Rocky melangkah lebih dulu dengan gaya paskibraka, tapi tangannya tetap nempel di dada. "Ponakan kedua om, im coming."Vio dan Adriel tertawa. Mereka menyusul Rocky.Di meja kantin yang hampir penuh, Vio akhirnya mendapatkan meja di tengah. Adriel mendesah pelan."Kayaknya kita makan di ruangan aja."Rocky dan Vio menoleh bersamaan. "Disini." Kata mereka kompak.Adriel menyerah. Satu lawan dua, tentu dia akan kalah.Mereka makan. Adriel makan cepat seperti dikejar sesuatu, sedangkan Rocky dan Vio sibuk melirik Adriel."Tenang dong. Lo ada hutang sama pinjol mana?" Ledek Rocky.Vio tertawa. "Pelan-pelan, sayang. Kalo keselek nanti kita gak bisa dinas malam."Rocky menutup mulutnya. "Kalian udah go publik.""Daripada keceplosan." Kata Vio ri
Dari subuh, Vio sudah siap ke RS, saat Rocky baru saja menguap dan mengumpulkan nyawa di ambang pintu kamarnya, dan Adriel yang baru selesai berenang dibelakang rumah."Nyubuh banget, Vi. Lo cuma balik PPDS, bukan mau jualan ayam sayur." Kata Rocky santai sambil mencium bau keteknya sendiri."G
Malam itu kamar Vio lebih sunyi dari biasanya. Lampu tidur menyala redup. Vio duduk di ujung ranjang sambil memutar-mutar ujung selimut. Pintu kamar terbuka pelan. Adriel masuk tanpa suara. Ia berhenti di ambang pintu.“Kamu bilang… aku boleh di kamar kamu.”Vio mengangguk kecil. “Iya.”Adr
Hari minggu, semua berkumpul sarapan dengan santai.Vio tak banyak bicara sejak keluar dari kamar. Perutnya agak mual."Tambah lagi?" Adriel menawari.Vio menggeleng. Ia malah menjauhkan piring yang masih terisi penuh. "Aku mual."Adriel minum sebelum bicara. "Berarti hari ini gak jadi ke r
Sabtu pagi, hari yang seharusnya tenang, sunyi, dan bebas dari stres—bagi Vio demi menunjang kehamilan yang sehat. Tapi kenyataannya? Vio duduk di sofa sambil menatap tak percaya ke arah dapur. Di sana, dua makhluk sedang ribut soal telur dadar.“Lo kebanyakan garem!” Adriel melirik tajam sepe







