تسجيل الدخولRahang Adriel mengeras.Ia berbalik perlahan. Tatapannya jatuh ke wajah Vio—lelah, berat, dan untuk pertama kalinya, Vio melihat sesuatu yang nyaris menyerupai rasa takut di sana.“Vio, aku harus masuk sekarang.”“Jawab dulu.”“Pasiennya udah siap di meja.”“Aku cuma nanya satu hal.” Vio menahan napas. “Iya atau enggak?”Adriel memandangnya lama. Terlalu lama untuk sebuah jawaban sederhana."Iya." Adriel akhirnya menjawab.“Seberapa parah?”Adriel menutup mata sebentar. “Vio—”“Seberapa parah, dokter Adriel?”Nada formal itu membuat Adriel membuka mata lagi. Ada sesuatu yang retak di ekspresinya.“Cukup parah.” jawabnya jujur.Vio menelan ludah. “Karena apa?”Pertanyaan itu membuat Adriel diam lagi. Dan diamnya kali ini sudah cukup menjadi jawaban.Tatapan Vio turun ke ponsel di tangan Adriel. “Karena isi hape itu?” tanyanya pelan.Adriel tidak menyangkal. Jantung Vio seperti jatuh bebas. Belum sempat ia bicara lagi, pintu OK di belakang Adriel terbuka. Seorang perawat
"Menurut lo Adriel nyembunyiin sesuatu gak dari gue? Dia punya rahasia?"Rocky menoleh. Untuk beberapa detik dia hanya memandang adiknya tanpa menjawab. "Semua orang punya rahasia."Vio mengerucutkan bibir. "Jawaban lo gak membantu.""Gue emang gak niat membantu.""Bang!"Rocky menghela napas. Ia duduk di ujung ranjang. "Vi, gue mau nanya satu hal.""Apa?""Lo percaya Adriel sayang sama lo?"Vio terdiam sesaat. "Percaya.""Yakin?"Vio mengangguk pelan."Terus kenapa lo mikir yang aneh-aneh?""Karena tingkah dia aneh."Rocky tertawa pendek. "Ya, itu gue setuju. Tapi kalo lo nanya apa dia nyimpen sesuatu dari lo, jawabannya mungkin iya."Vio langsung menegakkan badan.Rocky tersenyum tipis. "Gue tahu Adriel lagi gak baik-baik aja. Itu doang yang bisa gue bilang."Vio mengernyit. "Maksudnya?"Rocky berdiri. "Maksudnya, selama beberapa bulan terakhir hidup Adriel gak semudah yang lo kira." "Lo tahu sesuatu?"Rocky tersenyum tipis. "Gue tahu banyak hal. Tapi itu bukan
Vio menyalakan ponsel. "Masih hidup hapenya."Rocky melongokan kepalanya. "Oh iya, datanya pasti masih ada yang lo butuhin tuh."Vio membuka ponsel. Fitur pertama yang ia buka adalah aplikasi chat."Dok Vio, kita visit dulu. Saya tunggu di bangsal." Adriel berjalan cepat kearah loker untuk mengganti baju."Oh iya." Vio memasukkan ponsel ke dalam kotak lagi, "Sus, ini nitip dulu, ya.""Oh iya, dok."Pagi itu sejak visit, Adriel tidak seperti biasanya. Ia lebih banyak diam. Jika ada residen atau anak koas yang membuat kesalahan pun ia tidak sadar. "Dok Adriel?" Panggil Vio saat visit selesai.Adriel membalikkan badan. "Kenapa?"Vio menatap Adriel lama. "Kamu kenapa?""Gak papa. Kita gak punya banyak waktu. Pasien pasti udah nunggu.""Dari kemaren aku tugas di Fertilitas, kamu lupa ya?"Adriel menunduk. "Iya, aku gak inget."Vio menyentuh dahi Adriel. "Kamu sakit?"Adriel menggeleng. "Atau...bpermainan tadi pagi gak bikin kamu seneng?"Adriel tersenyum. "Seneng. Cuma ke
Mobil sudah sampai depan rumah eyang, tapi Adriel dan Vio tak kunjung keluar dari mobil."Sayang?" Vio menoleh. "Hm?""Jadi 'kan besok kita pulang ke rumah kita?"Vio mengangguk. Tangannya melingkar di lengan Adriel. "Besok aku juga ada kejutan."Vio mendongak antusias. "Apa?""Kita liat besok. Pulang dari rumah sakit aku langsung bawa kamu ke kesana."Vio mengangguk.Mereka turun dari mobil dan berjalan sambil bercanda. Adriel menggelitiki Vio."Udah-udah, geli tahu." Vio berlari menghindar sampai tidak sengaja menabrak eyang yang baru keluar dari kamar."Aduh eyang ditabrak bidadari." Eyang pura-pura kesakitan.Vio memeluk eyang. "Eyang gak papa? Maaf, yang, Adriel gelitikin aku soalnya."Eyang melirik Adriel, dan meyakini sesuatu sudah terjadi diantara mereka. "Eyang gak papa. Eyang 'kan kuat kayak abangmu."Vio pura-pura marah. "Kok kayak dia sih. Aku juga kuat."Eyang tertawa. Adriel berdehem. "Yang, sekalian mau pamit. Besok kita... Mau pulang ke rumah."Eyan
Rocky melirik wajah Adriel yang memerah. Tangannya dengan pelan menyentuh dada. "Tuhan, akhirnya kau mengabulkan doa hamba. Dua sejoli ini akhirnya kembali."Adriel mengangguk. "Boleh."Vio melendot manja dilengan Adriel. "Oke, sayang."Rocky melangkah lebih dulu dengan gaya paskibraka, tapi tangannya tetap nempel di dada. "Ponakan kedua om, im coming."Vio dan Adriel tertawa. Mereka menyusul Rocky.Di meja kantin yang hampir penuh, Vio akhirnya mendapatkan meja di tengah. Adriel mendesah pelan."Kayaknya kita makan di ruangan aja."Rocky dan Vio menoleh bersamaan. "Disini." Kata mereka kompak.Adriel menyerah. Satu lawan dua, tentu dia akan kalah.Mereka makan. Adriel makan cepat seperti dikejar sesuatu, sedangkan Rocky dan Vio sibuk melirik Adriel."Tenang dong. Lo ada hutang sama pinjol mana?" Ledek Rocky.Vio tertawa. "Pelan-pelan, sayang. Kalo keselek nanti kita gak bisa dinas malam."Rocky menutup mulutnya. "Kalian udah go publik.""Daripada keceplosan." Kata Vio ri
Ruang fertilitas masih sepi. Rocky berdiri di sisi meja sambil membaca berkas pasien dari tablet yang dipegang perawat. Wajahnya serius sampai pintu terbuka. Adriel masuk. Di belakangnya ada Vio. Dan yang bikin Rocky berhenti membaca adalah, Adriel mengantarkan Vio sampai ke dalam. Sampai Vio berdiri tepat di samping mejanya."Aku tinggal dulu?" Vio mengangguk tersenyum. Wajahnya sedikit memerah.Tidak ada yang aneh. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kata sayang. Tapi Rocky langsung mengernyit. Dia menutup berkas. Mengendus pelan seperti anjing pelacak."Gue mencium bau sesuatu."Adriel pura-pura santai. “Pagi.”Vio langsung fokus ke papan tulis seolah hidupnya bergantung di sana.Rocky menatap mereka bergantian. “Ada yang maju tapi buka barisan."Adriel langsung berdiri tegak. “Gue harus siap-siap praktek.”Belum sempat Rocky menjawab, Adriel sudah jalan cepat keluar ruangan.Rocky menatap pintu yang tertutup, lalu berpindah melirik Vio yang berdiri menghadap papan tulis. Papa
Vio membawa map pasien. Wajahnya terlihat normal tapi pikirannya jelas tidak. Sepanjang berjalan, otaknya muter satu kejadian ciuman yang disaksikan banyak orang.Baru saja Vio membuka pintu ruang rapat, Rocky masuk duluan. “Siang, anak hilang ingatan!”Vio mendengus. Rocky langsung menyipi
Adriel punya alasan untuk tak membalas ucapan mami. Ponselnya berdering. Perawat hanya bertanya mengenai berkas laporan, tapi Adriel mengatakan ia dan Vio harus segera ke rumah sakit. Menghindar dari mami berhasil dilakukan.Mobil melaju pelan di jalanan yang cukup macet. Vio duduk di kursi penum
Vio mulai punya rutinitas baru yang terasa aneh tapi pelan-pelan membuatnya nyaman. Pagi hari kadang ada telpon dari mami.“Lagi sibuk gak, sayang? Temenin mami ke butik, yuk.”Atau,“Mami mau ke salon. Ikut ya biar sekalian me time.”Awalnya Vio selalu menatap layar ponsel lama sebelum men
Sudah beberapa hari Vio tidak pulang. Alasannya sibuk. Padahal Adriel tahu betul poli obgyn sedang tidak ramai. Dia rindu Vio yang tidak lagi mengirim pesan random tengah malam, tidak lagi refleks mencari matanya saat mereka berada di ruangan yang sama. Seperti orang yang baru saja menemukan puzzle







