แชร์

Bab 12 - Merayu Adriel

ผู้เขียน: Rahmani Rima
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-24 08:16:40

Malam itu kamar Vio lebih sunyi dari biasanya. Lampu tidur menyala redup. Vio duduk di ujung ranjang sambil memutar-mutar ujung selimut.

Pintu kamar terbuka pelan. Adriel masuk tanpa suara. Ia berhenti di ambang pintu.

“Kamu bilang… aku boleh di kamar kamu.”

Vio mengangguk kecil. “Iya.”

Adriel masuk perlahan. Tapi ia tidak mendekat ke ranjang. Ia duduk di sofa, jaraknya tetap aman. Seolah ia sendiri tahu batas yang belum boleh di lewati.

Vio menarik napas panjang. “Aku mau balik PPDS.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 46 - Tak Sabar

    Adriel punya alasan untuk tak membalas ucapan mami. Ponselnya berdering. Perawat hanya bertanya mengenai berkas laporan, tapi Adriel mengatakan ia dan Vio harus segera ke rumah sakit. Menghindar dari mami berhasil dilakukan.Mobil melaju pelan di jalanan yang cukup macet. Vio duduk di kursi penumpang, sibuk membaca jadwal di ponselnya, sekalian menghindari obrolan tadi pagi.“Aku hari ini jaga malam.” gumamnya.Adriel mengangguk sambil fokus menyetir. “Aku juga ada operasi jam sembilan.”Mobil berhenti di lampu merah. Tanpa sadar—tangan Vio mencari sesuatu di dekatnya. Ia menemukan tangan Adriel. Dia menggenggamnya, refleks. Seperti kebiasaan lama yang muncul tanpa izin.Adriel langsung membeku di kursi sopir. Matanya tetap ke depan. Perlahan sudut bibirnya naik sedikit. Padahal tadi pagi Vio menolak pelukannya. Sekarang ia tidak berani menoleh, takut gerakan sekecil apa pun akan membuat Vio sadar.Tepat tiga detik kemudian Vio sadar. Matanya turun ke tangan mereka yang sa

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 45 - Tuntutan Mami

    Vio mulai punya rutinitas baru yang terasa aneh tapi pelan-pelan membuatnya nyaman. Pagi hari kadang ada telpon dari mami.“Lagi sibuk gak, sayang? Temenin mami ke butik, yuk.”Atau,“Mami mau ke salon. Ikut ya biar sekalian me time.”Awalnya Vio selalu menatap layar ponsel lama sebelum mengangkat telpon. Apalagi ia masih ingat betul ucapan mami tempo hari di ruangan Adriel. Setiap kata “Mami” terasa seperti sepatu baru—cantik, tapi masih kaku dipakai berjalan. Namun dia tetap datang. Entah hanya perasaan saja, mami selalu terlihat sangat senang melihatnya datang. Vio jujur senang. Dia punya alasan untuk berjarak dengan Qairo, apalagi jika ingat perkataan terakhirya.Hari itu mereka duduk berdampingan di kursi salon. Rambut Vio sedang dipijat lembut oleh terapis, sementara mami sibuk memilih warna cat kuku untuk sang menantu.Suasana hening beberapa detik, lalu mami mulai membuka topik yang selalu sama.“Ingetan kamu masih belum ada yang kembali, sayang?”Vio tersen

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 44 - Masih Mengharap?

    Di pagi yang tak begitu tenang, residen junior berlari mengejar Vio yang baru selesai visit."Dok, gak ada konsulen dan dokter madya yang ready. Ada pasien darurat di ponek. Dok Vio jadi DPJP, ya?"Vio sangat terkejut mendengar permintaan itu. Tapi ia tak punya pilihan lain.Lampu ruang operasi terlalu terang, sunyi dan menekan. Vio berdiri di sisi meja operasi dengan sarung tangan yang terasa lebih dingin dari biasanya.“Scalpel.”Perawat menyerahkan alat itu ke tangannya. Gerakannya otomatis dan cukup terlatih. Tapi jantungnya tidak. Ini pertama kalinya dia jadi DPJP utama untuk operasi Caesar pasien pre-eklampsia berat. Dan Adriel tidak ada. Ia sedang konferensi ke luar kota. Rocky juga masih terjebak operasi lain. Dokter lain banyak yang cuti dan sibuk dengan sesuatu hal yang tidak bisa ditinggal. Artinya—tidak ada tempat berlindung.“Tekanan darah drop, dok!” lapor dokter Anastesi.Suara monitor berubah cepat. Bunyi beep jadi makin tajam.Vio menelan ludah. "Su

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 43 - Penawaran Langka

    Sudah beberapa hari Vio tidak pulang. Alasannya sibuk. Padahal Adriel tahu betul poli obgyn sedang tidak ramai. Dia rindu Vio yang tidak lagi mengirim pesan random tengah malam, tidak lagi refleks mencari matanya saat mereka berada di ruangan yang sama. Seperti orang yang baru saja menemukan puzzle yang potongannya tidak cocok. Mereka bahkan baru dekat lagi. Sekarang malah berjarak lebih jauh.Vio jelas rindu Adriel. Perhatiannya yang dingin, tingkahnya yang kekanak-kanakan, galak tapi selalu dapat pemakluman. Tapi di kepalanya hanya ada satu pikiran yang berulang. Mungkin dari awal pernikahan ini memang tidak baik-baik saja.Baru saja mereka mulai akur. Baru saja dia mulai mencoba percaya. Tapi selalu ada sesuatu yang meruntuhkan semuanya lagi. Dan kali ini… yang runtuh bukan logika, tapi hatinya.Hari ini Vio akhirnya melakukan sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak sangka. Dia mencari Sarah. Bukan untuk marah. Hanya ingin tahu sesuatu lebih dalam.Sarah terlihat cukup kaget

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 42 - Nasib Amnesia

    Jam baru menunjukan pukul sembilan, tapi poli obgyn sudah sangat sibuk. Semua staf kelelahan karena terdengar alarm kode biru dan panggilan darurat sejak pagi.Vio terduduk di lantai meja jaga karena semua kursi terisi. “Ya ampun, berkas!”Dia menepuk kening. Berkas yang sudah ditanda tangani Adriel masih tersimpan di meja ruang pribadinya, sedangkan laporan itu harus segera di berikan pada ketua departemen obgyn.Dengan langkah cepat Vio berjalan menuju ruang Adriel. Pintunya sedikit terbuka. Dia mengetuk pelan lalu masuk dan langsung berhenti di tempat. Ada seorang lelaki paruh baya duduk santai di sofa sambil membaca koran.Vio berkedip. "Maaf, pak?”Beliau menurunkan korannya pelan. Wajahnya tenang sekali. “Iya, dok?”“Bapak sudah buat janji dengan dokter Adriel?”Bapak itu menahan senyum. “Belum.”Vio langsung menarik napas panjang, ekspresinya berubah serius—mode residen galak aktif. “Wah, kalau belum bikin janji biasanya beliau nggak mau ketemu, pak.”Bapak

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 41 - Nyaris!

    Vio tidak jadi jaga malam. Dia masih diberi kelonggaran waktu sampai besok. Jadinya ia pulang bersama Rocky.Vio berbaring menatap langit-langit kamar. Matanya lelah. tapi kantuk tidak datang. Rumah eyang sudah sunyi sejak lama. Bahkan suara jangkrik dari halaman belakang terdengar lebih jelas daripada biasanya.Vio membalik badan. Lalu membalik lagi. Tetap tidak bisa tidur. Tangannya meraih ponsel. Pukul 00.27 wib.Ia mendesah panjang. "Kok gue kepikiran terus sih soal omongan Rocky?"'Lo dipanggil sayang aja nolak.''Emang lo udah siap?'Vio menarik selimut sampai dagu. Jawabannya : tidak siap. Itu jawaban yang bahkan tidak bisa ia bantah. Tapi bukan berarti ia tidak ingin. Justru itu masalahnya.Vio menutup mata, lalu membukanya lagi beberapa detik kemudian."Adriel udah pelung belum, ya?" Ia duduk, mengacak rambutnya sendiri, lalu turun dari ranjang."Cuma lihat dia udah pulang apa belum."Vio membuka pintu kamarnya perlahan. Koridor gelap. Kamar Adriel bera

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status