Share

Abu yang Berbisik

Author: Pena itu
last update publish date: 2026-03-16 09:18:31

Dunia seolah berhenti berputar sesaat setelah dentuman itu memekakkan telinga. Galunggung yang tadinya sunyi mendadak menderu oleh suara api yang melahap kayu kering dan rongsokan besi. Langit malam yang hitam pekat berubah menjadi jingga kemerahan, seolah-olah awan di atas sana sedang ikut berdarah.

​Aditya tersungkur di atas tanah yang lembap, sekitar seratus meter dari vila. Tubuhnya terlempar oleh gelombang panas yang dahsyat. Telinganya berdenging hebat, hanya ada suara nging yang panjang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Negosiasi di Ujung Maut

    Hujan di Labuan Bajo malam ini turun seperti tangisan yang dipaksakan—deras, kasar, dan menghantam atap seng gubuk kami dengan bunyi yang memekakkan telinga. Aku duduk di sudut ruangan yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menerobos celah dinding bambu. Di depanku, bungkusan ikan mati dengan mulut dijahit itu masih tergeletak, baunya amis busuk, menyengat hingga ke ulu hati.​Fajar tertidur di samping Bumi, napasnya berat, sesekali kakinya berkedut hebat—reaksi saraf yang mencoba menyambung kembali namun terus gagal. Aku mengusap perutku. Ada pergerakan kecil di sana, sebuah protes bisu dari nyawa yang belum lahir atas ketegangan yang kuhadapi.​"Ibu akan menyelesaikannya, Nak," bisikku pelan. "Ibu tidak akan membiarkanmu lahir di atas aspal yang berlumuran darah."​Tepat pukul dua pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel tuaku yang layarnya sudah retak seribu. Hanya sebuah koordinat: Dermaga Tua, Titik Nol. Sendiri.​Aku berdiri per

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Harapan Baru

    Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.​Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa.​"Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar.​"Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Fajar yang Berdarah

    Hutan Simarjarunjung malam itu tidak lagi sunyi. Suara tembakan menyalak, memantul di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi seperti raksasa hitam yang mengepung kami. Bau belerang dari mesiu bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang anyir. Aku berlari merayap di antara semak berduri, memeluk kotak besi itu seolah-olah itu adalah jantungku sendiri.​"Fajar! Di mana kamu?!" teriakku, suaranya parau, tenggorokanku terasa seperti terbakar karena air sungai yang tadi tertelan.​"Nan... di sini..."​Suara itu lemah, muncul dari balik gundukan batu besar di dekat aliran sungai kecil. Aku bergegas mendekat, mengabaikan rasa perih di lututku yang terus menghantam akar pohon. Di sana, aku menemukan Fajar. Ia tergeletak dengan posisi miring, tangan kanannya masih memegang pistol tua yang asapnya masih mengepul, sementara kaki kirinya—kaki yang selama ini lumpuh—tampak tertekuk dengan posisi yang tidak wajar.​"Dit!" aku menjatuhkan diriku di sampingnya. Tanganku gemetar

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Likuidasi Moral di Dasar Sungai

    ​Dingin. Itu adalah hal pertama yang menyambutku. Dingin yang tidak hanya menyentuh kulit, tapi merasuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah sungai di bawah jurang Pematangsiantar ini adalah cairan es yang langsung membekukan aliran darahku. Suara teriakan Maria yang histeris dan raungan Fajar di atas sana seketika lenyap, digantikan oleh gemuruh air yang memekakkan telinga di bawah permukaan.​Aku tidak mencoba untuk berenang. Tubuhku terasa berat, bukan hanya karena pakaian yang basah kuyup, tapi karena beban dosa masa lalu yang baru saja kubaca di Buku Hitam itu. Aku memeluk perutku dengan kedua tangan. Di sana, di dalam kegelapan rahimku, ada sesosok nyawa yang belum sempat melihat dunia, namun sudah membawa kutukan dari kakeknya—seorang pembunuh.​“Maafkan Ibu, Nak,” bisikku di dalam hati. Air sungai yang amis masuk ke dalam mulutku, menyesakkan paru-paruku.​Pandanganku mulai mengabur. Cahaya obor di atas jurang tadi kini hanya tampak seperti kunang-kunang kecil yang perlahan pa

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Akar yang Saling Membunuh

    Tangan saya bergetar hebat. Buku tua bersampul kulit hitam itu terasa lebih berat daripada beban Bumi di punggung saya. Di bawah siraman cahaya obor yang dibawa si pengacara, nama itu terpampang nyata, ditulis dengan tinta merah yang sudah menghitam dimakan usia: FAJAR ADITYA SUBROTO.​"Apa... apa maksudnya ini?" suara saya nyaris hilang, tertelan gemericik air sungai yang deras di bawah jurang Pematangsiantar. "Kenapa nama suamiku ada di buku sejarah kelam keluargaku sendiri?"​Pengacara itu, pria tua dengan kacamata yang salah satu lensanya retak, menatap saya dengan rasa iba yang membuat perut saya semakin mual. "Nyonya Kinan, Anda pikir pernikahan Anda dengan Tuan Fajar adalah sebuah kebetulan yang manis di Labuan Bajo? Anda pikir Maria Subroto memilihkan menantu 'orang aspal' hanya untuk menghina Anda?"​Ia membuka halaman tengah buku itu. Di sana, tertempel sebuah foto hitam putih yang sudah kusam. Foto dua orang pria muda sedang berdiri di depan sebuah dermaga lama—dermaga yang

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Pusaran Rahasia di Pematangsiantar

    Udara Pematangsiantar pagi itu tidaklah ramah. Dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah di pinggir jalan. Aku turun dari bus antarkota dengan menggendong Bumi yang masih terlelap, sementara Bima membantu Fajar turun dari pintu belakang bus dengan kursi roda lipatnya. Wajah Fajar pucat, bibirnya membiru karena AC bus yang bocor sepanjang malam, namun matanya menatap deretan pohon sawit di kejauhan dengan tatapan waspada.​"Kita benar-benar melakukan ini, Nan?" bisik Fajar, suaranya parau tertelan deru mesin bus yang menjauh. "Kita datang ke tempat yang bahkan ibu kamu sendiri tidak berani sebut namanya?"​Aku membetulkan letak kain jarik yang menyangga Bumi. "Kita tidak punya pilihan, Dit. Maria sudah di sini. Jika 'Buku Hitam Nelayan' itu benar-benar ada di kota ini, kita harus menemukannya sebelum dia menggunakan buku itu untuk membumihanguskan Labuan Bajo secara hukum."​Kami menyewa sebuah angkutan kota tua yang berbau bensin t

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Buah yang Jatuh Tak Jauh dari Akarnya

    Lima Tahun Kemudian...​Desa itu masih sama, namun rumah kayu Bapak kini sudah lebih kokoh. Terasnya sudah diubin dengan tegel abu-abu yang sejuk, tempat favorit seorang anak laki-laki berusia lima tahun untuk menyusun balok-balok kayunya menjadi gedung-gedung tinggi yang megah. Anak itu bernama Bu

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Palu Keadilan di Atas Sandiwara

    Pagi itu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tampak lebih sibuk dari biasanya. Udara di luar pengadilan terasa gerah, namun di dalam Ruang Sidang Utama, pendingin ruangan yang mendengung rendah menciptakan suasana dingin yang menusuk tulang. Kinan duduk di kursi kayu panjang barisan terdepan. Di sam

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Bayang-bayang di Persimpangan

    Pagi itu, langit Jakarta seolah enggan menampakkan wajahnya. Mendung menggantung rendah, membuat suasana kota terasa seperti lukisan kusam yang hampir luntur. Kinan melangkah keluar dari lobi apartemennya dengan perasaan yang tidak menentu. Di tasnya, tersimpan rapi berkas-berkas tambahan untuk sid

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sandiwara di Ujung Botol

    Angin malam di atas jembatan penyeberangan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di bawah sana, arus kendaraan Jakarta masih menderu, lampu-lampu mobil membentuk garis panjang yang tak putus-putus. Namun, bagi Kinan, dunia seolah berhenti berputar tepat di depan anak tangga terakhir.​Mbak

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status