Share

Darah di Atas Ombak

Author: Pena itu
last update publish date: 2026-03-16 18:44:19

Suara mesin perahu yang mati mendadak menyisakan kesunyian yang mengerikan, hanya menyisakan suara ombak yang menghantam lambung kayu dengan ritme yang terdengar seperti lonceng kematian. Di tengah kegelapan Samudra Hindia, di bawah langit yang tanpa bintang, Kinan merasa dunia menyempit hanya seluas dek perahu yang anyir bau ikan ini.

​"Sera..." desis Kinan. Nama itu keluar dari tenggorokannya yang kering, pahit seperti empedu.

​Sera—atau sosok yang memakai kulit nelayan itu—melepaskan topeng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Garis Baru di Aspal

    ​Suara deburan ombak Labuan Bajo pagi ini terasa berbeda. Tidak lagi terdengar seperti ancaman atau bisikan konspirasi, melainkan seperti nyanyian tua yang menenangkan. Aku berdiri di ambang pintu warung kami yang baru, menghirup aroma kayu jati yang masih segar bercampur dengan uap kopi tubruk yang baru saja kuseduh. Matahari baru saja mengintip dari balik bukit, menyirami aspal di depan warung dengan warna keemasan yang berkilau.​Di sudut warung, Fajar sedang sibuk menata kursi. Langkahnya masih sedikit menyeret, dan tongkat kayu jati dengan ukiran komodo—hadiah dari warga kampung—selalu menemaninya. Namun, sorot matanya tidak lagi kosong. Setiap kali ia melihatku, ada binar yang dulu sempat padam, kini menyala lebih terang daripada lampu mercusuar.​"Nan, kopinya jangan terlalu kental. Nanti perutmu makin mulas," tegur Fajar sembari tersenyum kecil. Ia menghampiriku, meletakkan tangannya yang kasar namun hangat di atas perutku yang kini sudah mencapai puncaknya.​"Anak ini suka ko

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Jejak yang Tertinggal

    Suara sirine pemadam kebakaran terdengar jauh, meredam oleh deburan ombak yang menghantam karang Labuan Bajo. Aku masih bersimpuh di atas aspal yang panas, memandangi api yang mulai mengecil, menyisakan kerangka bambu gubuk kami yang hitam arang. Asapnya membumbung tinggi, berwarna kelabu pekat, membawa aroma kayu terbakar dan—aku tidak sanggup memikirkannya—bau sisa kehidupan suamiku.​Hujan sudah berhenti, menyisakan genangan air di lubang-lubang aspal yang memantulkan cahaya merah dari sisa api. Aku merangkak maju, mengabaikan teriakan Pak Haji yang baru saja turun dari bukit bersama Bumi. Lututku bergesekan dengan batu-batu tajam, daster batikku robek di bagian bawah, tapi aku tidak peduli.​"FAJAR!" suaraku hilang, hanya menyisakan bisikan parau yang tertelan angin laut.​Aku sampai di depan reruntuhan pintu. Hawa panasnya masih menyengat wajahku, membuat bulu kudukku meremang. Aku mulai menggali abu panas itu dengan tangan kosong. Aku tidak butuh sekop. Aku ingin merasakan sisa-

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Negosiasi di Ujung Maut

    Hujan di Labuan Bajo malam ini turun seperti tangisan yang dipaksakan—deras, kasar, dan menghantam atap seng gubuk kami dengan bunyi yang memekakkan telinga. Aku duduk di sudut ruangan yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menerobos celah dinding bambu. Di depanku, bungkusan ikan mati dengan mulut dijahit itu masih tergeletak, baunya amis busuk, menyengat hingga ke ulu hati.​Fajar tertidur di samping Bumi, napasnya berat, sesekali kakinya berkedut hebat—reaksi saraf yang mencoba menyambung kembali namun terus gagal. Aku mengusap perutku. Ada pergerakan kecil di sana, sebuah protes bisu dari nyawa yang belum lahir atas ketegangan yang kuhadapi.​"Ibu akan menyelesaikannya, Nak," bisikku pelan. "Ibu tidak akan membiarkanmu lahir di atas aspal yang berlumuran darah."​Tepat pukul dua pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel tuaku yang layarnya sudah retak seribu. Hanya sebuah koordinat: Dermaga Tua, Titik Nol. Sendiri.​Aku berdiri per

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Harapan Baru

    Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.​Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa.​"Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar.​"Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Fajar yang Berdarah

    Hutan Simarjarunjung malam itu tidak lagi sunyi. Suara tembakan menyalak, memantul di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi seperti raksasa hitam yang mengepung kami. Bau belerang dari mesiu bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang anyir. Aku berlari merayap di antara semak berduri, memeluk kotak besi itu seolah-olah itu adalah jantungku sendiri.​"Fajar! Di mana kamu?!" teriakku, suaranya parau, tenggorokanku terasa seperti terbakar karena air sungai yang tadi tertelan.​"Nan... di sini..."​Suara itu lemah, muncul dari balik gundukan batu besar di dekat aliran sungai kecil. Aku bergegas mendekat, mengabaikan rasa perih di lututku yang terus menghantam akar pohon. Di sana, aku menemukan Fajar. Ia tergeletak dengan posisi miring, tangan kanannya masih memegang pistol tua yang asapnya masih mengepul, sementara kaki kirinya—kaki yang selama ini lumpuh—tampak tertekuk dengan posisi yang tidak wajar.​"Dit!" aku menjatuhkan diriku di sampingnya. Tanganku gemetar

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Likuidasi Moral di Dasar Sungai

    ​Dingin. Itu adalah hal pertama yang menyambutku. Dingin yang tidak hanya menyentuh kulit, tapi merasuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah sungai di bawah jurang Pematangsiantar ini adalah cairan es yang langsung membekukan aliran darahku. Suara teriakan Maria yang histeris dan raungan Fajar di atas sana seketika lenyap, digantikan oleh gemuruh air yang memekakkan telinga di bawah permukaan.​Aku tidak mencoba untuk berenang. Tubuhku terasa berat, bukan hanya karena pakaian yang basah kuyup, tapi karena beban dosa masa lalu yang baru saja kubaca di Buku Hitam itu. Aku memeluk perutku dengan kedua tangan. Di sana, di dalam kegelapan rahimku, ada sesosok nyawa yang belum sempat melihat dunia, namun sudah membawa kutukan dari kakeknya—seorang pembunuh.​“Maafkan Ibu, Nak,” bisikku di dalam hati. Air sungai yang amis masuk ke dalam mulutku, menyesakkan paru-paruku.​Pandanganku mulai mengabur. Cahaya obor di atas jurang tadi kini hanya tampak seperti kunang-kunang kecil yang perlahan pa

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Perjamuan di Mulut Naga

    Mobil hitam itu berhenti tepat di depan Kinan, seperti sebuah peti mati mewah yang menunggu isinya. Aroma aspal panas yang terpanggang matahari siang ini bercampur dengan bau kulit jok mobil yang sangat mahal saat kaca jendelanya turun perlahan. Di dalamnya, Tuan Besar—pria yang menjadi sumber dari

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Lidah Kecil yang Menagih Kebenaran

    Malam di rumah persembunyian itu terasa sangat berat. Rumah ini terletak di pinggiran Sukabumi, jauh dari keramaian, dikelilingi oleh kebun teh yang hamparannya tampak seperti samudera hijau yang gelap di bawah sinar bulan. Udara pegunungan yang dingin merayap masuk lewat celah jendela kayu, membaw

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Meja Makan yang Berduri

    Angin malam di desa itu berdesir masuk melalui celah-celah kayu dinding, membawa aroma petrikor dan melati yang mendadak terasa mencekik. Kinan berdiri mematung di balik pintu. Tangannya yang menggenggam gagang parang terasa licin oleh keringat dingin. Di luar, Adrian Pratama—atau monster yang dulu

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Kabut di Ujung Landasan

    Malam itu Kinan tidak memejamkan mata sedetik pun. Ia duduk di samping ranjang Bapak, memperhatikan lampu merah kecil di atas lemari yang masih berkedip—sebuah pengingat bisu bahwa nyawa orang tuanya sedang dipertaruhkan di ujung jari seorang sosiopat. Kinan menggenggam tangan Bumi yang mungil. Ia

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status