FAZER LOGINJakarta di jam empat pagi adalah sebuah kota yang sedang mencuci dirinya sendiri. Hujan gerimis yang turun sejak semalam menyisakan uap tipis di atas aspal Menteng yang hitam mengkilap. Aku duduk di kursi depan mobil van Bima, menyandarkan kepalaku yang berdenyut hebat pada kaca jendela yang dingin. Bahu kananku sudah dibebat perban darurat oleh Bima, rasanya seperti disulut api setiap kali mobil menghantam lubang jalanan. Namun, rasa perih itu justru membuatku merasa hidup. Ia menjadi bukti fisik bahwa malam ini bukan sekadar mimpi buruk yang panjang.Di kaca spion tengah, aku bisa melihat bayangan Fajar. Ia duduk di lantai mobil, memeluk Bumi dan Langit yang tertidur lelap di atas tumpukan selimut kumal. Wajah Fajar tampak sepuluh tahun lebih tua dalam semalam; ada garis-garis kelelahan yang dalam di keningnya, dan jelaga hitam masih membekas di sudut bibirnya. Tangannya yang kasar tak henti-hentinya mengusap rambut Bumi, seolah-olah ia sedang memastikan bahwa putra sulungnya itu b
Jakarta malam ini tidak menyambut kami dengan pelukan, melainkan dengan taring-taring neon yang berkilau di balik kabut polusi. Mobil van butut Bima merayap pelan di aspal Menteng yang halus—aspal yang dulu pernah kujejaki dengan sepatu hak tinggi merk luar negeri, namun kini kulewati dengan sandal jepit dan daster batik yang warnanya sudah memudar. Di kursi belakang, Bumi merintih pelan dalam tidurnya. Bau antiseptik dari perban kakinya memenuhi ruang sempit mobil, bercampur dengan bau keringat dingin Fajar yang duduk kaku di sampingnya."Nan, lihat itu," bisik Bima sembari menunjuk ke arah gerbang raksasa berlapis emas di ujung jalan.Rumah besar keluarga Subroto. Rumah yang seharusnya menjadi saksi bisu kejatuhan Maria, kini justru berpendar terang benderang. Ratusan lampion mawar hitam digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya merah yang menyeramkan ke arah jalanan. Deretan mobil mewah—Rolls-Royce, Bentley, hingga Maybach—terparkir rapi, dikawal oleh pria-pria berbadan teg
Jakarta malam ini tidak menyambut kami dengan pelukan, melainkan dengan taring-taring neon yang berkilau di balik kabut polusi. Mobil van butut Bima merayap pelan di aspal Menteng yang halus—aspal yang dulu pernah kujejaki dengan sepatu hak tinggi merk luar negeri, namun kini kulewati dengan sandal jepit dan daster batik yang warnanya sudah memudar. Di kursi belakang, Bumi merintih pelan dalam tidurnya. Bau antiseptik dari perban kakinya memenuhi ruang sempit mobil, bercampur dengan bau keringat dingin Fajar yang duduk kaku di sampingnya."Nan, lihat itu," bisik Bima sembari menunjuk ke arah gerbang raksasa berlapis emas di ujung jalan.Rumah besar keluarga Subroto. Rumah yang seharusnya menjadi saksi bisu kejatuhan Maria, kini justru berpendar terang benderang. Ratusan lampion mawar hitam digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya merah yang menyeramkan ke arah jalanan. Deretan mobil mewah—Rolls-Royce, Bentley, hingga Maybach—terparkir rapi, dikawal oleh pria-pria berbadan teg
Layar televisi di ruang tunggu Rumah Sakit Umum Daerah Labuan Bajo itu tidak pernah berhenti berkedip. Berita sela demi berita sela muncul dengan latar belakang musik yang menegangkan. Wajah-wajah yang selama ini hanya muncul di kolom opini koran atau di balik meja-meja eksekutif Jakarta, kini terpampang sebagai tersangka. Nama "Mawar Hitam" menjadi tren nomor satu di media sosial. Dan di tengah pusaran badai informasi itu, ada satu nama yang terus disebut oleh para analis: Kinan Dirgantara.Aku duduk di kursi plastik yang keras, memandangi pantulan wajahku di kaca jendela yang buram. Aku tampak seperti hantu. Lingkaran hitam di bawah mataku menceritakan lebih banyak daripada yang bisa diungkapkan kata-kata. Di sampingku, Langit tertidur pulas dengan kepala bersandar di pahaku, tidak sadar bahwa ibunya baru saja menekan tombol "hancurkan" pada sebuah dinasti yang telah berkuasa selama tiga dekade."Nan, minumlah," Fajar menyodorkan segelas air mineral yang sudah terbuka tutupnya. Ta
Labuan Bajo tahun 2031 bukanlah lagi pelabuhan sepi yang dulu menyembunyikan luka-lukaku. Kini, deru mesin kapal pesiar dan tawa turis asing menjadi musik latar setiap pagi. Namun, di sudut warung kami, "Warung Aspal & Madu", waktu seolah berjalan lebih lambat. Aku berdiri di ambang pintu, memandangi uap kopi yang menari-nari di udara lembap sisa hujan semalam. Lima tahun telah berlalu sejak api itu melalap gubuk lama kami, namun setiap kali aku mencium aroma kayu terbakar dari panggangan ikan, jantungku masih berdesir hebat. Trauma itu seperti noda tinta di atas kertas putih; ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya memudar menjadi abu-abu.Aku mengusap sudut mataku yang kini dihiasi garis-garis halus. Jejak dari ribuan malam yang kuhabiskan untuk menghitung angka-angka kecil agar kami bisa makan, dan ribuan siang yang kuhabiskan untuk mengawasi setiap orang asing yang turun dari dermaga. Di sampingku, Langit yang kini berusia lima tahun, sedang asyik di atas lantai semen yang din
Suara deburan ombak Labuan Bajo pagi ini terasa berbeda. Tidak lagi terdengar seperti ancaman atau bisikan konspirasi, melainkan seperti nyanyian tua yang menenangkan. Aku berdiri di ambang pintu warung kami yang baru, menghirup aroma kayu jati yang masih segar bercampur dengan uap kopi tubruk yang baru saja kuseduh. Matahari baru saja mengintip dari balik bukit, menyirami aspal di depan warung dengan warna keemasan yang berkilau.Di sudut warung, Fajar sedang sibuk menata kursi. Langkahnya masih sedikit menyeret, dan tongkat kayu jati dengan ukiran komodo—hadiah dari warga kampung—selalu menemaninya. Namun, sorot matanya tidak lagi kosong. Setiap kali ia melihatku, ada binar yang dulu sempat padam, kini menyala lebih terang daripada lampu mercusuar."Nan, kopinya jangan terlalu kental. Nanti perutmu makin mulas," tegur Fajar sembari tersenyum kecil. Ia menghampiriku, meletakkan tangannya yang kasar namun hangat di atas perutku yang kini sudah mencapai puncaknya."Anak ini suka ko
Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah dinding kayu rumah Bapak, membawa aroma embun dan tanah basah yang biasanya menenangkan. Tapi bagi Kinan, setiap berkas cahaya itu terasa seperti lampu sorot interogasi. Ia berdiri di dapur, tangannya gemetar saat memegang pisau untuk mengiris b
Bandara Internasional Soekarno-Hatta malam itu terasa begitu dingin, atau mungkin hanya hati Kinan yang sudah membeku. Bau parfum mahal, deru koper yang ditarik di atas lantai pualam, dan suara pengumuman jadwal penerbangan yang monoton menciptakan simfoni perpisahan yang ganjil. Kinan menggandeng
Dinginnya angin Wellington yang menyusup lewat celah jendela tidak ada apa-apanya dibanding rasa dingin yang merayapi sumsum tulang belakang Kinan. Ia masih mematung di dapur, ponselnya tergeletak di lantai dengan layar yang retak seribu, persis seperti hatinya saat ini. Suara Ratih di telepon tadi







