Startseite / Rumah Tangga / MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI / Labirin Besi dan Pilihan yang Patah

Teilen

Labirin Besi dan Pilihan yang Patah

last update Veröffentlichungsdatum: 17.03.2026 11:20:00

Suara pintu besi yang tertutup itu masih menyisakan dengung di telinga Kinan. Di dalam ruang kerja Maria yang mewah namun menyesakkan itu, keheningan mendadak menjadi musuh baru. Kinan bisa mendengar deru napas Fajar yang tidak beraturan di sampingnya. Suaminya itu tampak seperti pria yang baru saja dipuliti kulitnya hidup-hidup—hancur, telanjang secara emosional, dan penuh luka trauma masa kecil yang kembali menganga.

​"Nan... kamu benar-benar melakukan itu?" bisik Fajar. Matanya yang merah me
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Garam di Atas Luka Baru

    Suara mesin pesawat baling-baling yang membawa mereka kembali ke Labuan Bajo terdengar seperti dengung lebah yang marah di telinga Kinan. Di sampingnya, Fajar duduk di kursi roda khusus yang dipasang di kabin, wajahnya pucat pasi, matanya menatap kosong ke hamparan laut biru di bawah sana yang dulu adalah "kantornya". Bahunya masih dibalut penyangga, namun yang paling menyakitkan bagi Kinan bukan luka tembak itu, melainkan kaki Fajar yang kini hanya bisa terkulai diam, tak lagi mampu merasakan getaran lantai pesawat.​Bumi tertidur di pangkuan Kinan, jemari kecilnya mencengkeram daster batik ibunya seolah takut jika ia melepasnya, ia akan kembali ke vila mawar hitam yang dingin itu.​"Nan..." suara Fajar lirih, nyaris tenggelam oleh deru mesin. "Kenapa kita balik ke sini? Aku... aku nggak bisa jadi nelayan lagi. Aku cuma bakal jadi beban di atas perahu Pak Haji."​Kinan menggenggam tangan Fajar, merasakan dinginnya kulit suaminya yang tak lagi terbakar matahari. "Kita nggak balik buat

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Kebangkitan Sang Penguasa

    Lampu lobi Rumah Sakit Medika Sentul terasa terlalu terang, menyakitkan mata Kinan yang sudah sembap dan merah karena terus-menerus terpapar angin badai dan air mata. Bau di sini bukan lagi antiseptik yang menenangkan, melainkan bau kematian yang tertunda. Kinan berdiri mematung di samping brankar Fajar yang sedang didorong tergesa-gesa oleh empat perawat menuju ruang bedah trauma.​"Dit... Fajar..." bisik Kinan, tangannya yang gemetar terlepas dari pinggiran brankar saat pintu ganda otomatis itu tertutup dengan bunyi suuutt yang final.​Ia sendirian di koridor yang dingin itu. Bumi sudah diamankan oleh Bima di ruang tunggu anak, meski bocah itu terus memanggil "Ibu" dengan suara yang menyayat hati. Kinan menunduk, menatap daster batiknya. Kain itu bukan lagi berwarna cokelat sogan, melainkan merah tua kehitaman. Darah Fajar. Darah suaminya yang selama ini ia kira adalah saudara sedarahnya.​Lalu, sebuah suara roda yang berderit memecah kesunyian koridor.​Kinan menoleh. Di ujung loro

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Darah di Atas Boneka

    Suara letusan itu tidak menggelegar seperti di film-film aksi. Bunyinya pendek, kering, dan diikuti oleh kesunyian yang mencekam selama beberapa detik—seolah-olah hujan dan badai di luar sana pun ikut terhenti karena terkejut. Asap tipis berbau belerang keluar dari moncong pistol emas di tangan Maria, meliuk-liuk di bawah cahaya lampu kristal yang bergoyang pelan.​Kinan merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia masih mendekap Bumi, merasakan tubuh kecil anaknya itu bergetar hebat di dalam pelukannya. Mata Kinan terpejam rapat, ia menunggu rasa sakit, ia menunggu dinginnya maut yang akan menembus punggungnya. Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.​"Dit...?" bisik Kinan, suaranya nyaris tidak keluar.​Ia membuka matanya perlahan. Fajar berdiri tepat di depan Kinan dan Bumi. Tubuhnya yang tinggi kini tampak seperti tiang yang sudah rapuh. Fajar tidak bersuara. Ia hanya menatap Maria dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada rasa kasihan, ada kebencian, dan ada kelegaan yang aneh di

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Vila Kabut dan Tangisan di Balik Pintu

    Hujan di perbukitan Sentul malam ini tidak turun seperti berkah; ia jatuh seperti ribuan jarum es yang menghujam bumi tanpa ampun. Kabut putih yang tebal merayap di antara pohon-pohon pinus, menelan cahaya lampu mobil sewaan perak yang dikendarai Bima. Jalanan setapak menuju Vila Mawar Hitam itu licin, berlumpur, dan sangat sempit—sebuah jalur yang sengaja dirancang agar tidak ada tamu yang datang tanpa diundang.​Di kursi belakang, Kinan mendekap tubuh Fajar yang menggigil hebat. Panas tubuh suaminya kini sudah melampaui batas kewajaran. Napas Fajar pendek-pendek, berbunyi ngik yang menyakitkan setiap kali paru-parunya mencoba menghirup udara yang lembap. Perban di bahunya sudah tidak lagi berwarna putih; ia merah kehitaman, mengeluarkan bau anyir yang bercampur dengan aroma obat-obatan murah yang sempat diberikan Bima di jalan tadi.​"Nan... dingin..." bisik Fajar. Kelopak matanya bergetar, hanya memperlihatkan bagian putihnya saja.​"Tahan, Dit. Sebentar lagi. Kita jemput Bumi, lal

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Aspal Jakarta yang Membara

    Bunyi ledakan di parkiran bawah tadi masih berdenging di telinga Kinan, menciptakan sensasi tuli sesaat yang mengerikan. Asap hitam mulai merayap naik melalui celah-celah lift yang mati, berbau plastik terbakar dan karet hangus. Di lorong rumah sakit yang biasanya tenang, kini pecah oleh teriakan histeris perawat dan langkah kaki pasien yang berlarian tanpa arah.​Kinan merangkul pinggang Fajar, membiarkan suaminya itu menyandarkan seluruh berat tubuhnya yang jangkung pada bahunya yang kecil. Ia bisa merasakan panas tubuh Fajar yang sedang demam tinggi menembus baju tipisnya. Perban di bahu Fajar kembali basah oleh darah segar—merah yang sangat pekat di bawah lampu darurat yang berkedip-kedip merah.​"Nan... tinggalkan aku... aku cuma jadi beban," desis Fajar, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang tenggelam.​"Diam, Dit! Kalau kamu mati, aku nggak punya alasan lagi buat lari!" Kinan membentak, bukan karena marah, tapi karena ketakutan yang luar biasa. Air matanya menetes, namun

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Lorong Putih dan Kebenaran Pahit

    Lampu neon di langit-langit Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat berkedip-kedip dengan irama yang menyiksa saraf, menciptakan bunyi nging rendah yang seolah-olah sedang menggerogoti sisa kewarasan Kinan. Bau antiseptik di sini begitu kuat, begitu steril, sampai-sampai Kinan merasa oksigen yang ia hirup pun sudah dicampur dengan bahan kimia.​Ia duduk di kursi plastik biru di depan ruang ICU, tangannya masih memegang erat kemeja Fajar yang kini sudah basah oleh keringat dingin. Di depannya, Bima—si jurnalis yang rambutnya sudah berantakan—sedang menempelkan ponselnya ke telinga, berbicara dengan nada rendah namun penuh tekanan.​"Bim... tolong katakan padaku kalau Maria cuma gertak sambal," bisik Kinan. Suaranya pecah, matanya yang sembap menatap ubin putih yang sangat bersih di bawah kakinya. "Katakan padaku kalau Bumi bukan hasil dari... dari dosa itu."​Bima menurunkan ponselnya. Wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun hanya dalam satu malam. "Tim forensik sedang memeriksa lapisan terse

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Di Titik Nadir Kehancuran

    Rumah Sakit Medika pukul dua dini hari. Lorongnya tampak seperti koridor panjang menuju alam lain—dingin, remang, dan hanya diisi oleh suara mesin pendingin ruangan yang mendengung rendah. Kinan berjalan perlahan. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menghasilkan gema yang seo

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-20
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Benalu yang Kehilangan Pohon

    Pagi itu, apartemen kecil yang biasanya sunyi dan hanya diisi suara gesekan pulpen Kinan di atas kertas, mendadak berubah menjadi neraka kecil. Kinan baru saja selesai mandi, rambutnya masih dibalut handuk putih, dan ia baru saja akan menyeduh kopi saat suara gedoran di pintu unitnya terdengar sepe

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-20
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Arang di Wajah Bapak

    Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-18
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sayap yang Coba Dipatahkan

    Pagi itu, rumah terasa seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Sisa-sisa "sidang keluarga" semalam masih tertinggal dalam bentuk gelas-gelas kopi yang berkerak di meja tamu dan bau puntung rokok Pakde Mulyo yang menempel di gorden. Kinan bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak s

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-17
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status